Terungkap Misteri Keberadaan Nabi Khidir


Mengutip wikipedia, Khadir Al-Khadir (Arab:الخضر, Khadr, Khader) adalah nama yang diberikan kepada seorang nabi misterius dalam Surah Al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang Nabi Khadir yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa, asal usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khadir tidak banyak disebutkan.

khidirDalam bukunya yang berjudul “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khadir dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Idris, Ilyas, dan Isa….

Al-Khadir secara harfiah berarti ‘Seseorang yang Hijau’ melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khadir memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān

“ Lalu keduanya bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami..(Qs Al kahfi : 65)

Menurut jumuhul mafassirin (mayoritas ahli tafsir) sejak dari Ibnu Abbas, Al Thabari, Al Qurthubi, Ibnu Katsir sampai penafsir kontemporer Ahmad Musthafa al Maraghi bahwa yang dimaksud keduanya pada ayat ini adalah Nabi Musa Alaihi Salam dan anak muda pengiringnya (pembantunya) Yusya’ bin Nun. Sementara yang dimaksud seorang diantara hamba-hamba Kami adalah Nabi Khidr Alaihi Slama. Tetapi penafsir kontemporer yang lain yaitu as Syahid Sayid Quthb, penyusun tafsir fi dzilalil Qur’an tidak menyebut nama Khidr ketika menafsirkan ayat ini. Dia hanya menyebut-nyebut al abdus shalih (hamba yang shalih) saja. Dia berpendirian demikian sebab di dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah ini (QS Al Kahfi 65-82) tidak pernah disebut nama Khidr dan karenanya beliau merasa lebih baik membiarkan sosok ini tetap rahasia seperti yang termaktub dalam Al Qur’an

Tentang Nabi Khidir


Kisah tentang Khidr Allah sebutkan dalam al-Qur’an di surat al-Kahfi,

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. Al-Kahfi: 65).

Ulama berbeda pendapat, apakah Khidr itu nabi ataukah orang sholeh yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Mayoritas ulama mengatakan bahwa beliau adalah seorang nabi. Inilah pendapat yang kuat, dan banyak dalil yang mendukungnya, diantaranya,

Alasan pertama : Allah perintahkan Musa ‘alaihis salam untuk belajar kepada Khidr, sebagaimana yang Allah ceritakan dalam surat al-Kahfi.

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا…. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” … (QS. Al-Kahfi: 66).

Hingga Khidr memberikan syarat,

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (QS. Al-Kahfi: 70).

Jika Khidr bukan nabi, tentu ada orang yang bukan nabi, yang dia lebih tahu dari pada nabi. Karena dalam persitiwa di atas, Khidr lebih tahu dari pada Musa. Dan bagaimana mungkin ada nabi yang dia diperintahkan untuk belajar kepada selain nabi.

Alasan kedua: Khidr mengatakan di akhir pertemuannya dengan Musa,

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ، وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي Itu semua dilakukan karena rahmat dari Tuhan-Mu, dan aku tidaklah melakukannya karena murni keinginanku…(QS. Al-Kahfi: 82).

Artinya, Khidr melakukan semua perbuatan itu atas perintah Allah dan wahyu dari-Nya, bukan kemauan beliau sendiri. Dan orang yang mendapatkan wahyu khusus seperti yang dilakukan Khidr, hanya mungkin didapatkan seorang nabi.

Alasan ketiga: Syaikh Syuaib al-Arnauth mengutip sebuah keterangan,

وكان بعض أكابر العلماء يقول: أول عقد يحل من الزندقة اعتقاد كون الخضر نبياً، لأن الزنادقة يتذرعون بكونه غير نبي إلى أن الولي أفضل من النبي، كما قال قائلهم: مقام النبوة في برزخ … فويق الرسول ودون الولي Sebagian ulama besar mengatakan, ‘Ikatan pertama yang dirusak oleh orang zindiq (munafik) adalah status Khidr sebagai nabi. Karena orang munafik memanfaatkan status Khidr ‘bukan nabi’ untuk beralasan bahwa wali lebih afdhal dari pada nabi. Sebagaimana mereka mengatakan, Kedudukan nabi di barzakh… sedikit di atas rasul, di bawah wali… (Tahqiq Shahih Ibnu Hibban, 14/110).

Siapakah N. Kidhir ?


Khidr adalah nama gelar dan julukan. Mengapa dinamai Khidr?, Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا سُمِّيَ الخَضِرَ أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ، فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاءَ “Beliau dinamai Khidr karena beliau duduk di atas tanah putih, tiba-tiba berguncang di belakang beliau berwarna hijau.” (HR. Bukhari 3402, Turmudzi 3151, dan Ibnu Hibban 6222).

Yang dimaksud ‘tanah putih’: tanah kering tanpa tumbuhan. Mengenai nama aslinya, ada perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah. Kamaluddin ad-Damiri (w. 808 H.) mengatakan,

إن اسم الخضر مضطرب فيه اضطرابا متباينا والأصح -كما نقله أهل السير وثبت عن النبى صلى الله عليه وسلم كما نقله البغوى وغيره -أن اسمه “بليا”، وأن أباه يسمى “ملكان”، وكان من بنى إسرائيل ومن أبناء الملوك ، وفر من الملك وانصرف إلى العبادة Nama Khidr diperselisihkan. Dan yang benar, sebagaimana yang dinukil ahli sirah, dan berdasarkan hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dinukil oleh al-Baghawi dan yang lainnya, bahwa nama beliau adalah Balyan. Dan ayahnya bernama Malkan. Termasuk bani Israil dan keturunan kerajaan. Beliau lari dari kerajaan dan menghabiskan waktunya untuk ibadah. (Hayat al-Hayawan al-Kubro, 1/271).

Apakah N. Khidir Masih Hidup ?


Sebagian ulama dan tokoh sufi meyakini bahwa Khidr masih hidup.Beberapa hal yang perlu dijelaskan adalah : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hadapan para sahabat,

ا يبقى على رأس مائة سنة ممن هو على وجه الأرض أحد “Tidak akan tersisa seorang-pun di muka bumi ini pada seratus tahun yang akan datang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sosok nabi Khidir Alaihi Salam yang menurut Jumhurul Mufasirin sebagi nabi yang dijadikan oleh Nabi Musa Alaihi Salam sebagai gurunya, telah menimbulkan kontroversi di kalangan ulama sejak dahulu samapai sekarang. Khidr atau khadhir atau Khidhir berasal dari bahasa Arab yang artinya hijau. Menurut riwayat Mujahid apabila dia shalat rumput-rumput kering yang disekelililngnya akan menjadi hijau. Segolongan orang terutama dari kalangan kaum shufi mengatakan bahwa dia masih hidup sampai sekarang.  Imam Bukhari dan beberapa perawi hadis yang lain menegaskan Nabi Khidr Alaihi Salam telah wafat, firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?”. [Al-Anbiya/21: 34]

Terungkap Misteri Keberadaan Nabi Khidir


Nabi Khidir merupakan kisah yang populer, baik di kalangan Sufi, maupun kalangan lain, bahwa Allah swt menempatkan kisah ini, dimulai pada surat Al-Kahfi, surat ke 18 ayat ke 65 dan di Akhir pada Ayat ke 82 adalah sebuah makna yang indah dan terangkai dalam keteraturan yang memiliki makna tinggi, dimulai kisah ditemukannya keberadaan Nabi Khidir

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا – 18:65 Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami .

Kemudian di akhiri perjumpaan itu :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا – 18:82 Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Adalah sebuah kisah yang sarat makna, dimana dimulai ayat ke 65 sampai dengan 82 ayat, yang artinya mulai ditemukan sampai di akhiri adalah 17 ayat, sebuah memori 17 ini ada pada keseharian perintahNya dalam sehari sholat 17 raka’at dan wajib membaca surat al-fatihah yang salah satunya berisi doa

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – 1:6 Tunjukilah kami jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ – 1:7 Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat.

Sebagaimana kisah N.Musa yang Mencari N. Khidir, hingga akhirnya ditunjukkanNya keberadaan N.Khidir, hingga didapatkan sebuah ilmu hikmah yang tiada tara akan kejadian demi kejadian yang diluar kemampuan manusia untuk dapat memahaminya, dan hanya dari petunjukNya mampu menyibak ilmu peristiwa demi peristiwa, itulah setiap doa bagi muslim agar ditunjukkan jalanNya dan diberi nikmat, salah satunya seperti  awal perjumpaan musa “seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami “

Didalam memahami alam semesta ini, tidak boleh tergesa-gesa dan bersabar terhadap sebuah peristiwa yang terjadi, baik senang maupun susah karena pada hakikatnya semua peristiwa ada hikmahnya.

Sebuah keteraturan terjadi yaitu Surat Al-Kahfi adalah surat ke 18, dan awal berjumpa sampai akhir kisah N. Khidir adalah 65 sampai dengan 82 sehingga dengan membentuk deretan sederhana 18+65+82=165 sebagai deretan 99 yang unik yaitu 165=99+66, sebagai bentuk sederhana 9+9+6+6=30, terukir dalam firman Allah swt yang tersusun dalam 30 juz, sebagai Al-Quran bagian dari pegangan Hidup Manusia di Muka bumi untuk melangkah, hal ini diulangi lagi dalam susunan sederhana 18, 65 dan 82 sebagaimana kisah awal dan akhir adalah 1+8+6+5+8+2=30 juga!.cover_keajaiab_quran

Artinya pencarian N.Musa dalam Kisah N.Khidir, di simbolkan oleh Allah swt dalam keteraturan deretan awal perjumpaan hingga akhir, adalah sebenarnya, semuanya merujuk pada pencarian kitab suci Al-Quran, yang dengan hal itu manusia tiada tersesat dalam hidupnya.

Tiga Kisah N.Khidir


Kisah pertama diawal adalah tiba-tiba saja perahu dilubangi oleh N.Khidir

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar (Qs 18:71)

Hingga berikutnya, kisah kedua tiba-tiba ada anak yang ‘dibunuh’

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. (QS 18:74)

Dan Terakhir, tiba-tiba bangunan di bangun lagi

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. (QS 18:77)

Hingga akhirnya N.Musa pun tiada bisa menerima peristiwa demi peristiwa yang terjadi:

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (QS 18:78)

dan kemudian diterangkan kejadian/peristiwa dalam visi kedepan yang tidak mampu dijangkau oleh manusia biasa:

Peristiwa ke satu :

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. (QS 18:79)

Peristiwa ke dua:

Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya . (QS 18:80)

Peristiwa ke tiga:

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (QS 18:85)

Berpikir Out of TheBox


Dimensi dan daya jelajah pikir dari kedua tokoh, dalam nuansa yang berbeda sehingga titik temu dari tiga perisitwa agak susah ‘menyambung’, kisah N. Khidir yang berpikir dimensi jauh kedepan (beberapa tahun yad), telah mengetahui tiga peristwa yang akan terjadi, sehingga beliau melakukan antisipatif. Pengetahuan jauh ke depan memang jamak terjadi, kisah N. Khidir yang diberi Karunia oleh Allah swt ttg dimensi waktu dan menjadikan pengetahuan itu adalah bentuk sarana keta’atan kepada Allah swt, hal yang berbeda dilakukan oleh syetan, golongan syetan berusaha mencari dimensi waktu bahkan mencurinya, untuk dipakai kepentingannya sendiri yaitu menyesatkan manusia, hal ini, usaha untuk mencari dimensi waktu di beritakan oleh Allah dalam firman Allah:

[15:18] kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.

[37:10] akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.

Beberapa peristwa dunia yang telah nyata ada, misalnya Lumpur Lapindo, Tsunami Aceh, Gempa Jogja dll adalah merupakan sarana yang kuat untuk melihat secara jernih akan sebuah makna tanpa dibatasi oleh dimensi waktu saat ini, namun berpikir jauh kedepan lewat hati nurani yang bersih sebagaimana kisah diatas, dan meminta kepadaNya apa maksud ini semua terjadi, niscaya pintu-pintu tersebut akan terbuka lebar sebagaimana kisah N.Khidir yang melakukan antisipasi sebelum hal itu benar terjadi. Kisah N. Nuh adalah sebagai contoh lain yang melewati dimensi waktu sedangkan kaummnya masih berpikir saat ini sehingga tiada sadar akan banjir besar yang akan terjadi sebagai akibat dari kesombongan

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari . Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya dan mereka tetap dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS 71:5-7)

Kisah N.Musa saat menenggelamkan firaun “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS 26:63)

Sekiranya Firaun mampu berpikir melewati dimensi waktu, sehingga firaun berpikir bahwa akan musnah, tentu dia tidak akan berlaku sombong terhadap N.Musa, Sebenarnya Firaun sadar akan manfaat melompat dimensi waktu, sayangnya dimesi waktu di depan, diperoleh dari tukang sihir, sehingga tidak mendatangkan manfaat melainkan kemudharatan, memerintahkan untuk membunuh anak2x bani Israel karena percaya akan ramalan tukang sihir, Pada masanya Firaun menganggap dirinya adalah Tuhan. Suatu malam Firaun bermimpi akan kerajaannya yang hangus di lalap api. Menurut ramalan mimpinya, kelak akan ada bayi dari Bani Isroil yang akan menghancurkan kekuasaannya.

Firaun pun memerintah untuk membunuh setiap bayi Bani Isroil yang lahir. Pada saat Nabi Musa lahir, dia diselamatkan oleh ibundanya yang bernama Yukabad dengan dimasukkan ke dalam kotak dan dihanyutkan di sungai Nil. Kemudian Nabi Musa ditemukan oleh istri Firaun yang bernama Asyiah dan diangkat menjadi anak. Ketika Asyiah mencari ibu untuk menyusui Musa, dengan kebesaran Allah SWT, Yukabad terpilih untuk menyusui Musa. Setelah disapih, Yukabad pun mengembalikan lagi Musa ke istana Firaun.

Dan , ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah ni’mat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”. (QS 14:6)

Allah swt mengirimkan Nabi yakni N. Musa untuk memberi peringatan kepada Firaun akan kebinasaannya karena perbuatan firaun sendiri, selain itu Allah swt memberikan tanda-tanda lewat fenomena alam yang terjadi:

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu . Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. (QS 7:133:136)

Sekiranya dimensi waktu ke-depan yang telah dibawa oleh N.Musa tetap diyakini oleh Firaun dan tidak pula di lalaikan, maka sejarah akan berubah, namun sudah menjadi ketetapanNya:

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas ; hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri “. Apakah sekarang , padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS 10 : 90-92)

Bagaiamana dengan kondisi saat ini ? perlukah dimensi waktu ke depan di ‘buka’ cover_gempa_jogjasebagaimana kisah N. Khidir yang pada akhirnya dapat di antisipasi ? sehingga menyadarkan ‘firaun’2x masa kini ? beberapa kisah telah berusaha di lewati dimensi waktu ini, seperti gambaran pada vidio disamping, salah satunya adalah GempaJogya

Ada apakah ini semua terjadi ?

Berikutnya Halaman Ke Misteri Ilahi: Siklus SEBELAS:

sebelumnya

Apa yang Terjadi Setelah itu Semua ?

berikutnya
Iklan