~[Misteri Ilahi] Penampakan Halo Matahari Saat Pemakaman Angeline ~

Halo Matahari muncul di Surabaya-Sidoarjo tgl 17-6-2015

IMG-20150617-WA0003Peristiwa ini bersamaan dengan berita yang menjadi nasional, yaitu tgl pemakaman Angeline saat pemakaman, dan membentuk simbol yang khas 22 sebagai bagian dari memori yang teratur. Keteraturan yang tampak, adalah saat itu kisah yang me-nasional- Angeline adalah potret anak kecil yang menjadi perhatian tersendiri bagi penguasa, karena ketidakmampuan ekonomi orang tua kandung, maka Angeline kecil di ‘adopsi’ dan justru membawa petaka, adalah ANG yang memiliki nilai= 22, dan … ajaib 22 ini tercatat pada kitab suci Al-quran yang memiliki jumlah 7 surat

tujuh_surat_22Sebagai Presiden ke 7, peristiwa Angeline adalah merupakan peringataNya untuk kaum berada, penguasa atas peristiwa real di masyarakat, sehingga keadilan dapat tercapai dan tidak ada lagi orang tua kandung yang merelakan anaknya di ambil oleh yang lain dengan cara yang tidak manusiawi hanya karena faktor ekonomi semata. Sebuah tulisan sambung menyambung terjadi, Misteri Aneh Setelah Pemakaman Kematian Angeline, Halo Matahari Muncul Di Langit dan setelahnya Kantor Komnas Perlindungan Anak Terbakar, Empat Ruangan Komnas Perlindungan Anak Terbakar, Termasuk Gudang Data

Halo Matahari muncul di tgl pemakaman Angeline saat pemakaman

IMG-20150617-WA0003Dan akhirnya peringatanNya kepada orang orang yang mampu nan kaya di dunia lewat simbol 99 yang nyata

traged_mina_simbol_99_hari_dari_simbol_22

Sebuah kisah pilu dan tragis (baca Misteri Aneh Kematian Angeline Bagian dari Lonceng Alam Semesta) dan dijelaskan sebelumnya (baca Di Balik Kematian Angeline Memuat Misteri Tanda Tuhan yang Aneh), hingga muncul berita terbaru, “Namanya Engeline, Bukan Angeline”

  • Bocah berumur delapan tahun yang tewas dan dikubur di pekarangan rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, selama ini dikenal bernama Angeline. Namun, ternyata huruf awalnya bukan A, melainkan E, atau Engeline. Nama lengkap bocah perempuan itu adalah Engeline Margriet Megawe. Hal ini sudah sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP) saat menetapkan Agus sebagai tersangka pelaku pembunuhan, ketika nama korban disebut Engeline.
  • “Nama huruf awal korban pakai E (Engeline). Nama ini didapat keterangan dari ibu angkatnya (Margriet) dan juga keterangan dari sekolahnya (SD Negeri 12 Sanur). Jadi namanya Engeline, bukan Angeline,” kata Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Nengah Sadiartha kepada Kompas.com, Denpasar, Bali, Rabu (17/6/2015)….

Teriakan Terakhir Engeline Memanggil Margriet

  • JAKARTA — Engeline Margriet Megawe, gadis mungil delapan tahun ditemukan tewas dalam lobang di pekarangan belakang rumah ibu angkatnya pada 10 Juni 2015. Engeline awalnya dilaporkan hilang pada 16 Mei 2014…. Pada 10 Mei 2015 atau seminggu sebelum Engeline dibunuh, lubang kuburan di belakang rumah sudah digali. Berdasarkan pengakuan Agus, Margriet lah yang menyuruhnya menggali lubang tersebut, tepat di pekarangan belakang rumah dekat kandang ayam.
    “Ya, tersangka mengaku disuruh menggali lubang oleh Margriet dengan alasan untuk membuang sampah. Akhinya dia melakukan itu,” kata Haposan. Lubang itu tak terlalu dalam, hanya 50 sentimeter. Bahkan, ketika mengubur Engeline, Agus tidak menambah kedalaman lubang itu…
  • Pada 16 Mei 2015, Agus menganiaya, memperkosa, dan membunuh Engeline dalam kamarnya sekitar pukul 13.00 WITA. “Saat itu, Agus sempat memanggil Engeline dan mengajak ke kamarnya. Lalu di dalam kamarnya Engeline ingin diperkosa,” ungkap Haposan. Saat ingin diperkosa, Engeline berontak hingga membuat Agus naik pitam. “Engeline sempat berontak dan teriak Mammaaaa.. mammaaa (Margriet),” kata Haposan. Kalap, Agus membenturkan kepala bocah itu ke tembok sebanyak dua kali hingga pingsan. Di situlah Agus menuntuskan nafsu bejatnya. Kejahatan Agus semakin meningkat karena takut ketahuan telah menganiaya dan memperkosa korban. Sebab, saat itu Margriet sedang berada di rumah. Agus memutuskan membunuh Engeline dengan cara mencekik, lalu menghilangkan jejak. Setelah Engeline tewas, Agus menggeletakan jasad Engeline di lantai. Ia kemudian mengambil sprei dan boneka. Sebelum dibungkus, Agus mengikatkan tubuh dan leher korban dengan tali. “Saat setelah prarekonstruksi saya tanya sama dia, kenapa mengikat Engeline. Dia hanya menjawab tujuannya mengikatkan tali dan menaruh boneka agar arwah Engeline tetap berada di tubuh dan tidak mencari dia. Itu berdasarkan kepercayaan adatnya katanya,” jelas Haposan. Pada pukul 15.00 WITA, Margriet menyuruh Agus untuk mencari Engeline. Margriet tidak mencari anak itu ke kamar Agus. Padahal, mayat korban masih berada di lantai kamar Agus. “Agus pura-pura mencari Engeline di luar dan melaporkan tak ada.” Pada malam harinya, kedua anak kandung Margriet datang ke rumah Margriet. Sekitar pukul 20.00, Margriet dan kedua anaknya pergi melaporkan kehilangan Engeline kepada polisi. “Sekitar pukul 20.00 itu lah Agus mengubur Engeline di lubang yang sempat ia gali seminggu sebelumnya di belakang rumah dekat kandang ayam. Di rumah juga tidak ada orang kan,” ungkap Haposan. Setelah dikubur, ibu angkat Margriet dan anak kandungnya sibuk mencari Engeline. Bahkan, mereka menggunakan media sosial untuk membantu menemukan bocah itu. Pada 25 Mei 2015, Agus dipecat oleh Margriet karena dianggap tidak bisa menjinakan anjing peliharaannya. “Agus saat itu memilih untuk melepas anjingnya Margriet agar tidak berisik, namun malah dituduh memukul Anjingnya,” kata Haposan. Selain itu, Margriet mengancam Agus dengan parang. Agus pun keluar rumah itu dengan gaji terakhir sebesar Rp 1 juta. Agus kembali ke kontrakannya yang beralamat di Jl. Raya Sesetan Gg. Ceningan Sari, Denpasar, Bali. Anehnya, setelah pemecatan tersebut Agus menerima teror melalui teleponnya berkali-kali. “Dia sih mengakunya yang menelepon untuk meneror itu suaranya laki-laki dengan ancaman untuk tidak membeberkan rahasia kepada orang lain,” tutur Haposan. Namun, Agus mengaku tidak mengetahui rahasia apa yang dimaksud peneror. Frustasi karena sering diteror, Agus mematahkan dan membuang sim card-nya. “Bahkan, Agus mengaku sehari sebelum ia ditangkap oleh Kepolisian, ia masih menerima teror telepon tersebut. Kamu (Agus) kalau tidak merahasiakan, akan mati di Bali. Begitu kata dia,” jelas Haposan….Ini Pengakuan Terbaru Agustinus Tae
  • Agus diperiksa di ruangan Direskrimum Polda Bali. “Agus memakai baju oranye,” ucap sumber tersebut. Selain itu, Agus memberikan keterangan bahwa dirinya dijanjikan uang oleh Margriet sebesar Rp 200 juta. “Katanya Ibu M tahu pembunuhan itu,” kata sumber ini. Sumber tersebut mengatakan, Agus mengaku saksi AA tidak ada ketika pembunuhan itu terjadi. Agus diperiksa selama 10 jam.Dalam pemeriksaan tersebut, Agus sempat menitikkan air mata sambil berkata dirinya menyesal telah membunuh Engeline….Bidan Ungkap Rahasia di Balik Kelahiran Angeline
  • TEMPO.CO, Denpasar – Bidan yang membantu persalinan Hamidah, Ni Luh Gede Sukerni, membenarkan bahwa Angeline Margriet Megawe dilahirkan di klinik swasta miliknya di kawasan Tibubeneng, Kuta Utara, Bali. “Mereka datang ke sini pada Sabtu, 19 Mei 2007,” kata Ni Luh kepada Tempo, Rabu, 17 Juni 2015… “Waktu itu, saya sempat bertanya tanya ke suaminya, ‘Kamu tinggal di mana?'” ucap Ni Luh. Rosidi kemudian menjawab bahwa keluarga kecil yang merantau ke Bali itu tinggal di kosan di kawasan Lingkungan Banjar Tandeg, Desa Tibubeneng, Kuta Utara. “Dia juga bilang kerja di proyek (bangunan).”…Menurut Ni Luh, setelah membantu proses persalinan, dia memproses administrasi pembayarannya. Totalnya sekitar Rp 800 ribu. Tapi biaya tersebut tidak langsung dibayarkan pada malam itu juga. “Tapi esok harinya atau pada Minggu, 20 Mei 2007,” ujar Ni Luh.
  • Dalam sebuah kesempatan, Rosidi, 29 tahun, ternyata menyerahkan Angeline kepada Margriet saat masih berusia 3 hari. Konsekuensinya, orang tua kandung Angeline harus mengikhlaskan putri kedua mereka untuk diadopsi Margriet….Rosidi mengaku menyerahkan Angeline karena tidak memiliki uang untuk biaya persalinan. Rincian uang yang dikeluarkan Margriet untuk mengadopsi Angeline senilai total Rp 1,8 juta: Rp 800 ribu untuk biaya persalinan dan Rp 1 juta biaya perawatan Hamidah. …Agar Arwah Angeline Tenang, Warga Bali Gelar Upacara Pecaruan
  • DENPASAR – Desa Adat Gumi Kebon Kuri Kesiman, menggelar upacara pecaruan (pembersihan alam) di rumah Margriet Christina Megawe (Margareta), ibu angkat Engeline Margriet Megawe (Angeline), di Jalan Sedap Malam, Denpasar. ‎Putu Indrawan, Kelian Banjar Kebon Kuri Kelod, Kesiman, Denpasar, mengatakan bahwa upacara pecaru ditujukan untuk menetralisir segala kedukaan dan kekotoran alam.
  • “Peristiwa ini tentu ada darah yang tercecer di bumi. Apalagi kematian yang tidak wajar, dirasa perlu bagi kami desa adat untuk menggelar upacara pecaruan atau pembersihan,” jelasnya, kepada wartawan…. Mangku Wayan menjelaskan, pihaknya menyiapkan persembahan lima ekor ayam berbagai warna (brumbun, hitam, merah, putih, dan buik). Dijelaskannya, upacara ini hanya awal dan harus digelar paling lambat 12 hari setelah peristiwa ditemukannya jasad. Setelah itu, harus ada upacara pecaruan Panca Kelud (lebih besar dari panca Sata). Dia menambahkan, bahwa akan ada upacara yang lebih besar lagi, tapi itu butuh waktu karena butuh dana yang besar. “Paling tidak menghabiskan dana kurang lebih Rp20 juta, kemungkinan dana itu akan kami ambilkan dari kas desa. Seharusnya pemilik rumah yang melakukan hal tersebut,” pungkasnya…Kisah Mistis Saat Upacara Mecaru Mengantar Angeline Pulang ke Tanah Jawa
  • Ritual mecaru ini sengaja dibuat oleh warga untuk mengantarkan Angeline pulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Kuasa. Banten yang sebelumnya sudah disucikan pemangku di Banjar Kebon Kuri dibawa masuk ke dalam rumah Angeline. Banten atau sesaji ini diletakkan di atas lubang di mana Angeline dikubur. Selepas itu, sesaji dibawa oleh pemangku ke sebuah pura persimpangan batu bolong kecil yang letaknya berdempetan di pojok utara rumah ibu angkatnya, Margriet.
  • Aroma wangi dupa yang dibakar saat sembahyang menjadikan upacara ini semakin sakral dan mengundang mistis. Tak sedikit warga yang ikut mecaru juga alami kesurupan dan mengeluarkan teriakan melengking seperti merasakan kesakitan. “Waaaaa….. sakiiiiiiittttt,” teriakan salah satu warga laki-laki yang kesurupan saat mecaru, Selasa (16/6/2015) malam. Selepas teriakan itu, seorang ibu mengambil boneka beruang berwarna merah muda dan meletakkannya di depan pura sambil mengantarkan Angeline untuk pulang. “Nak..pulang ya nak ya.. Pulang ke Jawa,” imbuh perempuan sambil tersenyum…. Sebuah parit lebar memisahkan antara pura persimpangan batu bolong dengan jalanan. Di bawah pohon beringin besar tepat pura ini berdiri, Wayan Wiranata, Pelingsir atau Sesepuh Banjar Kebon Kuri usai mecaru menambahkan, upacara ini ditujukan untuk menetralisir wilayahnya dari suatu musibah dan pembersihan dari arwah-arwah yang masih tinggal di dalam rumah ini….Guru Sekolah Angeline Meletakkan Baju Seragam di Dekat Jenazah Sang Siswa
  • DENPASAR, KOMPAS.com – Guru dan Kepala SD 12 Sanur membawa baju seragam merah dan putih serta baju adat Bali untuk diletakkan di dekat jenazah Angeline. Kegiatan ini merupakan ritual pamitan agar arwah Angeline tenang berada di sisi Tuhan. “Yang dibawa ke sini (kamar jenazah)adalah baju seragam merah dan putih untuk Angeline dan dari sekolah juga memberikan pakaian adat Bali untuk sembahyang. Karena dia ada di Bali dan diemban penguasa Bali (leluhur di Bali), makanya diberikan pakaian adat Bali,” kata Ketut Ruta, kepala SD 12 Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu (13/6/2015). Ketut Ruta juga menyampaikan bahwa ritual pemberian baju untuk Angeline adalah sebagai bekal di alam kubur sesuai pemahaman dan kepercayaan Hindu agar dia nantinya dia dapat melanjutkan sekolah dan bisa melanjutkan hidupnya walaupun di alam lain….Isak Tangis Iringi Pemakaman Jenazah Angeline hingga Ribuan Orang Berdesakan Antar Jasad Angeline ke Makam dan pejabat juga, Ibu dan Nenek Angeline Pingsan, Mensos Khofifah Berurai Air Mata
  • Sekira pukul 19.20 WIB, Selasa 16 Juni, jenazah Angeline tiba di rumah Misyah, yang tak lain nenek almarhumah. Tangis pun terdengar dari rumah Misyah. Seluruh keluarga berusaha menguatkan Misyah yang tak pernah melihat cucunya itu. Hamida pun tak mampu menahan kesedihan atas kematian tragis yang menimpa Angeline. Sama dengan ibunya, Hamida pingsan. Beberapa kerabat perempuan berusaha membuat Hamida sadar. Kesedihan pun tampak di wajah Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Air matanya mengalir melihat peti jenazah berselubung kain hijau di tengah-tengah rumah.

Sebuah berita yang aneh kerap membumbui, Dibalik Pembunuhan Angeline

  1. Suara Memanggil “Mama”, Saat guru-guru SD Negeri 12 Sanur menggelar persembahyangan bersama di depan rumah ibu angkat Angeline, terdengar suara bocah Angeline memanggil mamanya. “Mama.. mama…” Suara itu menggema dari balik pohon besar di depan rumah ibu angkat Angeline di Jalan Sedap Malam No 26, Denpasar, Bali, Selasa (9/6/2015).
  2. Tangisan “Sakit, Bu…”, Setelah jenazah Angeline ditemukan, para guru SDN 12 Sanur menggelar upacara ngupalin untuk melepas arwah Angeline. Upacara itu digelar karena sehari sebelumnya seorang spiritualis bernama Jro Dasa. Dalam kesempatan itu, arwah korban yang masuk ke dalam badan wadag Jro Dasa hanya bisa menangis dan bicara pendek ketika ditanya siapa pelaku pembunuhan. “Sakit Bu, sakit.” Tidak sempat mengungkapkan siapa pembunuh dirinya, tiba-tiba Kepala Sekolah I Ketut Ruta kesurupan. Pada upacara tersebut pula, para guru membawa seragam sekolah
  3. Sementara itu, sehari sebelum jenazahnya ditemukan, Kepala Sekolah SD Negeri 12 Sanur, Ketur Ruta mengatakan berdasarkan pada petunjuk yang didapatkannya dari orang pintar, Angeline masih hidup dan gembira.
  4. Angeline Minta Maaf dan Pamit dari Rumah, Saat para guru SDN 12 Sanur menggelar upacara ngupalin untuk melepas arwah Angeline, sebenarnya bukan tanpa alasan. Sehari sebelumnya, seorang spiritualis bernama Jro Dasa mengaku “didatangi” Angeline untuk pamitan “Kami menggelar upacara ngupalin, karena semalam saya didatangi arwah Angeline. Ia minta mepamit dari rumah ini,” jelas Jro Dasa Sedap Malam. Dalam ritual tersebut para guru membawa bungkusan berisi baju seragam sekolah. “Angeline minta dibawakan baju. Ia minta maaf kalau punya kesalahan. Selama ini kan arwahnya masih berada di dalam rumah dijaga sama penunggu Pura Batu Bolong,” ucapnya.
  5. Boneka yang Dikubur Bersama Angeline untuk Tolak Bala

Sampai kemudian di makamkan, Haru Biru Pemakaman Angeline: Gitar Pak Ogah dan Boneka Itu

  • TEMPO.CO, Banyuwangi – Ribuan pelayat mengantarkan jenazah Angeline pulang ke peristirahatan terakhir di pemakaman umum Desa Tulungrejo, Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. Jenazah bocah malang itu dimakamkan sekitar pukul 20.00…. Pemakaman bocah 8 tahun itu disaksikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, pejabat setempat, guru Angeline, dan kerabat. Bahkan seorang pelayat datang langsung dari Denpasar sambil membawa gita

simbol_44_pada_kematian_angelinePerhatikan dengan seksama gambar diatas, termuat simbol 44 yang khas, dan ketika nama Angelina berubah menjadi Engelina, simbol 44 juga kembali muncul, perhatikan,

fakta_kematian_engelineKematian Engeline membawa pesan 143 yang merupakan 99+44 yang khas, bahwa Engeline=71 dan Agus=48, hingga 71+48=119, yang sering muncul pada peristiwa sebelumnya, seperti misalnya kejadian sebelum Air Asia Jatuh (baca Misteri Aneh Pesawat Garuda Tergelincir di Makassar)

pesawat_air_asia_hilang_28_12_2014_terhitung_119_hari_sebelumnya_pilot_garuda_meninggal_31_8_2014play_vidio_youtubeLihat Vidio Misteri Ilahi , Klik Gambar Diatas

Kejadian peristiwa kisah pilu engeline di BALI =24 adalah 119+24=143 yang merupakan 99+44 yang khas. Perhatikan bagaimana Engeline di kuburkan di banyuwangi tgl 16-juni-2015, Hujan Airmata di Pemakaman Angeline di Banyuwangi

  • WARTA KOTA, BANYUWANGI — Jenazah Angeline akhirnya tiba di tanah kelahirannya di Wadung Pal Desa Tulungrejo, Glenmore, Banyuwangi, Selasa (16/6/2015) pukul 19.20 WIB…..

Mengapa harus di kuburkan tepat tgl 16-juni-2015 ? sebuah deretan pesan tanda alam yang terjadi 11 hari sebelumnya tepat tgl 5-6-2015, Gempa besar landa Malaysia(baca Misteri Gempa Malaysia Bagian Awal Lonceng Alam Semesta) yang sama-sama memuat kelipatan 99 digambar bawah ini

gempa_malaysia_5_6_2015_99_22Sebelumnya Angeline adalah bocah yang disebut dengan Angeline, hingga simbol 22 juga muncul

simbol_aneh_kematian_angeline_22Dengan Inisial ANG dimana A=1,N=14 dan G=7, maka 1+14+7=22) hingga ditemukan namanya adalah ENGELINE, hingga berubah menjadi 24 dan tewas di bali=24 juga (sebuah 24+24=48), perhatikan, Bocah ini lahir tgl 19-mei-2007 dan hilang, dibunuh tgl 16-mei-2015 dalam rentang hari 2919 hari saja, ENGELINE hidup di dunia, sebagai sebuah kelipatan 99 yang khas yakni 2919=99×29+48. Sebuah 48 yang pernah terjadi sebelumnya sebagai pengingat

simbol_99_pada_gempa_nepal_25_4_2015Hal senada diungkapkan Wali Kelas II-B SDN 12, Sanur, Denpasar, Putu Sri Wijayanti. Dia mengatakan, muridnya bernama Engeline, bukan Angeline yang selama ini disebut dalam pemberitaan media ataupun pemberian karangan bunga. “Nama huruf awal pakai huruf E, Engeline, bukan huruf A ya (Angeline),” kata Wijayanti.

Halaman 1

Berikutnya Halaman Ke 2: …

sebelumnya

Apa yang Terjadi Setelah itu Semua ?

berikutnya
Iklan