Antara Gunung Merapi Meletus dan Gempa Di Yogya

Gunung Merapi, mengutip wikipedia,

gunung_merapi_Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa

Kota Yogyakarta mengutip wikipedia,

yogyakarta_mapDaerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia….. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah terparah akibat bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 dan erupsi Gunung Merapi pada medio Oktober-November 2010.

Antara Gunung Merapi Meletus dan Gempa Di Yogya


  1. Tahun 2005 :Aktivitas Kegunungapian,Gunung Aktif karena Gerak Lempeng Indoaustralia,Kebumen, Kompas – Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Karangsambung, Kebumen Dr Munasri, Selasa (18/4/05), mengatakan, meningkatnya aktivitas gunung api di Pulau Jawa, terutama Gunung Merapi, Dieng, dan Semeru berkorelasi dengan penajaman atau pergerakan lempeng Indoaustralia yang berada di bawah Pulau Jawa. Setiap tahun lempeng bagian dari lempeng Asia Tenggara itu bergerak sepanjang 10 sentimeter. Pada bagian lempeng yang menajam dengan dasar Pulau Jawa terjadi peleburan. Air yang dibawa partikel lempeng akan terpanaskan hingga menimbulkan uap yang membawa material magma ke atas permukaan bumi…. Ini_Foto_Lestusan_Gunung_Merapi_Pagi_IniGempa Goyang Yogya dan Pacitan,Selasa, 19 Juli 2005 | 22:46 WIB,TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya dikejutkan dengan getaran yang terasa dalam beberapa detik. Sekitar pukul 19.20 WIB, terjadi gempa bumi yang berpusat di samudra Hindia. Dikhawatirkan, terjadinya gempa tektonik itu bisa mempengaruhi aktivitas gunung Merapi yang sekarang berstatus Waspada Kepala Stasiun BMG Yogyakarta, Tiar Prasetyo saat dikonfirmasi menyatakan, pusat gempa terjadi di 9,77 Lintang Selatan dan 110,71 Bujur Timur. “Pusat gempa, terjadi di 220 kilometer sebelah selatan Yogyakarta dengan kedalaman 33 kilometer di dalam tanah,”katanya.Gempa tektonik itu, terjadi pada pukul 19.21 WIB dengan kekuatan 5,5 skala Richter. “Kami juga sudah mendapat laporan dari beberapa daerah. Yang jelas memang gempa ini sangat terasa di Yogyakarta dan daerah Pacitan,”kata Tiar.Hingga berita ini ditulis, tidak ada laporan kerusakan yang terjadi di Yogyakarta akibat gempa tersebut. Sebagian warga Yogya bahkan tidak menyadari telah terjadi gempa.   merapi_2014Di tempat terpisah, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subadriyo, membenarkan gempa yang terasa di kota Yogyakarta gempa tektonik. Menurut Subandriyo, gempa yang terjadi Selasa (19/7) malam itutidak ada kaitannya dengan aktivitas gunung Merapi.Menurut Subadriyo, gempa tektonik yang bersumber di Samudera Indonesia itu bisa saja mempengaruhi aktivitas Merapi. “Dalam kondisi Merapi yang aktif saat ini, gempa tektonik bisa saja memicu peningkatan aktivitas, namun bisa juga tidak. Makanya, kami akan cermati efek gempa itu terhadap aktivitas Merapi,”katanya.Gempa tektonik seperti itu, bisa berpengaruh terhadap gerakan magma gunung Merapi. BPPTK, sejak adanya peningkatan aktivitas Merapi telah menyiagakan seluruh karyawannya, baik di kantor pusatnya di kawasan JlCendana Yogya maupun di seluruh pos-pos pengamatan Merapi. Sementara status aktivitas Merapi sampai saat ini masih Waspada. ….. Jateng Selatan Juga Daerah Rawan Gempa ; Oleh: Chusni Ansori26 Jan, 2005 – 07:50 suaramerdeka.com ~ MINGGU, 26 Desember 2004 lalu Aceh diguncang gempa bumi berskala 8,9 skala Richter yang diikuti oleh gelombang besar tsunami…. Gempa bumi tersebut yang merupakan gempa tektonik besar akibat adanya patahan pada posisi 3.30 o N, 95.78 o E yang berada di Samudera Indonesia. …..Sumber gempa … adalah adanya pertemuan lempeng Samudera Hindia – Australia dengan lempeng benua Asia. .. yang berbeda berat jenisnya tersebut membentuk zona subduksi/tunjaman.. Jawa Tengah bagian selatan bukan merupakan daerah bebas gempa. Hanya, ia merupakan daerah yang tetap mempunyai potensi gempa dengan frekuensi yang berbeda dari Sumatera. Jika kita lihat morfologi selatan Jawa Tengah dari Cilacap hingga Parangtritis, daerah ini merupakan dataran rendah dengan kemiringan lebih dari 5 derajat dan ketinggian 5 – 30 meter di atas laut. Bentangan dataran ini ke utara bisa mencapai 12 km tanpa pembatas rangkaian pegunungan kecuali di sekitar Karangbolong.Jawa Tengah selatan bukan daerah yang bebas gempa. Walaupun frekuensi gempanya tidak sesering di Sumatera ataupun Jawa Barat, bukan berarti tidak akan terjadi gempa bumi tektonik besar di kawasan ini.
  2. Tahun 2006 : bahwa ketika merapi beraktifitas, maka gempa bumi terjadi tgl 27 mei 2006, dan merapi meletus dahsyat tgl 14 juni 2006 atau berjarak 18 hari saja. [
  3. Tahun 2010 : bahwa saat itu gempa di yogyakarta terjadi 21-agustus-2010, maka 66 hari berikutnya terjadi letusan merapi yang sangat dahsyat
  4. Tahun 2014 : bahwa terjadi gempa besar di yogya 25 januari 2014 dan gempa-gempa kecil, kini merapi juga meningkat aktifitasnyaMisteri Letusan Merapi Yang Tidak Biasanya  , Dentuman Gempa Gunung Merapi Sering Terjadi  Jumat, 02/05/2014 13:08 WIB Mbah Rono: Merapi Sudah Berubah, Bukan Yang Dulu Lagi sebuah pesan Mbah Rono: Tak Tahu Kapan Merapi Meletus, Lebih Baik Kita Waspada  dan semakin mengkuatirkan Suara Dentuman Makin Sering sejak Merapi Waspada

MAGELANG, KOMPAS.com — Sejak status Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta meningkat menjadi Waspada pada Selasa (29/4/2013) pukul 23.50 WIB, muncul fenomena suara dentuman yang terdengar hingga jarak tertentu. Menurut Subandrio, Kepala Balai Penelitian dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, dentuman itu diduga karena adanya arus konveksi atau turbulensi gas di dalam perut Merapi sehingga terjadi benturan antara bebatuan dan gas. “Terdengar suara dentuman dari Pos Pemantauan Babadan, Rabu sore kemarin. Terdengar terus-menerus sebanyak 24 kali, lebih banyak dari hari sebelumnya. Ini membuktikan bahwa aktivitas gas Merapi cukup tinggi,” katanya seusai meninjau Pos Pemantauan Babadan di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Kamis (1/5/2014).Dari Pos Pemantauan Babadan yang berjarak sekitar 4,4 kilometer dari puncak Merapi, tercatat sejak 29 April 2014, terdengar dentuman 17 kali, lalu meningkat pada 30 April 2014 sebanyak 24 kali yang terdengar hingga jarak 8 kilometer dari puncak. Selain itu, pada 30 April 2014 juga tercatat 35 kali gempa low frequency dan enam kali gempa tektonik.

Kegempaan Merapi Meningkat

merapi_meningkat_2_5_2014Metrotvnews.com, Magelang: Aktivitas kegempaan Gunung Merapi terus mengalami peningkatan dengan dominasi gempa berfrekuensi rendah, Jumat (2/5/2014). Selain itu, suara dentuman masih terus terdengar setiap hari hingga radius sebelas kilometer dari puncak Merapi.”

Antara Gempa Jogja dan Merapi Meletus


Sebuah pertanyaan dari berbagai macam aktifitas diatas, mengapa tahun 2006 dan 2010 menjadi bencana atau musibah dengan korban baik jiwa maupun harta ? mengapa tidak tahun tahun sebelumnya secara runtun dalam arti gempa + letusan ?, sebagai catatan saja gempa+letusan terjadi :

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik. Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang

Catatan:[Penting] Sebelum melihat,  membaca atau menonton vidio yang ada di situs  ini, perlu memahami bahwa situs ini bukanlah situs Ramalan, gotak gatik matuk atau Paranormal,detil penjelasan sbb  Beda Paranormal VS Hamba Allah


Gempa Jogja 27-5-2006, kemudian letusan besar merapi 14-6-2006 dalam rentang waktu 18 hari merupakan makna yang dalam karena begitu cepat datangnya dalam rentang 18 hari, sebagai bagian dari peringatanNya di dunia, bahwa semua bentuk jumlah angka 99 digitnya berjumlah 18, Catatan penting akan keteraturanNya bahwa jumlah surat yang berpola jumlah digitnya =11 terdapat SEBELAS surat, sedangkan pola yang jumah digitnya berjumlah=22 terdapat TUJUH surat, sehingga semua jumlah surat yang berpola 11 dan 22 adalah SEBELAS+TUUH=18, Quran Surat ke 18 berisi 110 ayat yang membentuk jumlah digit 1+8+1+1+0=11 (SEBELAS) sebagai salah satu dari SEBELAS surat yang memiliki keteraturan. Subhanallah … tidak mungkin jaman dahulu dapat mengatur keteraturn ini, kecuali memang bahwa al-quran adalah kitab suci yang datang dariNya dengan ketepatan dan keteraturan yang tinggi.

Bentuk 18 yang dijelaskan sebagai jumlah SEBELAS dan TUJUH adalah makna yang dalam karena 18 adalah bentuk dasar dari bilangan numerik yang berpola 99, sebagai bilangan ajaib dunia, semua penyusuna 99 selalu berjumlah digit 18, contoh

  1. bilangan 1+98 membentuk 1+9+8=18
  2. bilangan 2+97 membentuk 2+9+7=18
  3. …. begitu seterusnya hingga semua perkalian dengan 99 juga jumlah digitnya berjumlah 18
  4. 99×1=99 membentuk 9+9=18
  5. 99×2=198 membentuk 1+9+8=18 …. dst

Quran surat ke 18 berisi 110 ayat yang membentuk 1+8+1+1+0=11 (SEBELAS) dan jika 18+110=128 juga membentuk 1+2+8=11, hingga sebuah manifestasi 11 ini ditunjukkan pada jumlah pola terbanyak di al-quran adalah sebelas

sebelas_11_Sekali lagi hitung keteraturan ini, bahwa no surat  digitnya di jumlahkan 1+0+1+3+1+7+1+8+2+0+3+1+6+3+9+0+1+0+2+1+0+5+1+0+6=62 dan jika ayatnya dijumlahkan keseluruhan berjumlah 59 yang terdiri dari semua jumlah ayatnya, 1+0+9+4+3+1+1+1+1+1+0+1+3+5+3+4+1+1+2+0+8+5+4=59, sehingga keseluruhan digit yang membentuk 62 dan 59 adalah 6+2+5+9=22.

Ingat bahwa jumlah digit terbanyak berpola 11 sejumlah 11 surat (11×11=121) yang akhirnya merujuk pada 22, hingga keteraturan demi keteraturan yang telah di terangkan diatas, bahwa digit surat berjumlah 62 dan ayat nya berjumlah digit 59, maka 6+2+5+9=22 yang terbentuk lagi … sekali lagi … numerikal 1+2+3+… sd 22 semuanya berjumlah 253 sebagai 2+5+3=10 (sama dengan 154=>1+5+4=10) tiada lain memori quran surat ke 10 berisi 109 ayat sehingga 1+0+1+0+9=11 (yang berjumlah sebelas surat) atau quran surat ke 10 mewakiliki 4 surat yang berpola no+jumlah ayat 10+109=119 sebagai 1+1+9=11 juga. Dan akhirnya menuju pada bilangan 99 sebagai Asmaul Husna dari 4 surat yang berpola 119119_menjadi_99

Quran surat ke 11 sendiri memiliki pola di awal mengandung huruf AlifLamRa bersama lima surat lain, sehingga semuanya berjumlah 62 … ingat jumlah digit surat dari pola sebelas juga berjumlah 62alif_lam_raa_62Quran yang memiliki pola jumlah digit berjumlah 11 adalah bahwa no surat  digitnya di jumlahkan 1+0+1+3+1+7+1+8+2+0+3+1+6+3+9+0+1+0+2+1+0+5+1+0+6=62, surat ke 10, surat ke 13, surat ke 17, surat ke 18, surat ke 20, surat ke 31, surat ke 63, surat ke 90, surat ke 102, surat ke 105, dan surat ke 106, semuanya berjumlah 62, sebagai sesuatu yang teratur bahwa surat ke 62 berisi 11 surat, dan huruf penyusun tulisan muhammad berjumlah 62 dan surat ke 62 adalah surat al-jumuah sebagai hari khusus umat islam hari jumat dan penempatan surat ke 62 berisi 11 ayat menujukkan 6+2+1+1=10 sebagai pembahasan jumlah 11 berjumlah 11 dan 119 yang berjumlah 4, tiada lain 11+4=15, sebagai satu-satunya surat quran yang berisi 99 ayat sehingga 15+99=114 yang pola seperti ini berjumlah 5 surat … membentuk 1+1+4+5=11 lagi.

119_menjadi_99

Nomor surat dari bentuk pola 119 menujukkan keteraturan sebagai iktibar, yaitu 10,36,83,89 kesemuanya membentuk 1+0+3+6+8+3+8+9=38 yang kembali ke bentuk 3+8=11 (lagi) dan surat ke 38 adalah surat shod.

Huruf Shod adalah huruf yang ke 14, angka ini merujuk pada Surat ke 14 (Ibrahiim) berisi 52 ayat hingga 66=14+52 yang pada banyak pelajaran sebagai bapak Tauhid. Inilah muncul pada tahun 2010 dan tahun 2014

Contoh angka 14 yang lain adalah ketika Al-Quran di bakar di tgl 11, tepatnya 11-9-2010 yang membentuk 1+1+9+2+0+1+0=14, maka terdapat balasanNya

Sebagai numerikal yang khusus numerikal 11, bahwa semua bilangan sampai 11 berjumlah 66 = 1+2+3+4+5+6+7+8+9+10+11,dan 66 adalah bentuk pokok penting dari ketuhanan, sebagai satu-satunya surat yang memiliki pola nosurat+jumlah ayat=66 adalah surat ke 14 berisi 52 ayat, surah ibraahiim sebagai bapak Tauhid di tempatkan di no surat ke 14 dan berisi 52 ayat, sehingga 66=14+52 merupakan salah satu konsep ketuhanan yang penting akan arti Tauhid. Arti 66 sebagai Numerikal yang berarti bahwa dengan memurnikan Tauhid, maka manusia akan selamat, tertuang dalam vidio dalam era modern sebagai kisah nyata dengan bukti lengkap di abad modern


Gempa Jogja tertanggal 27-5-2006 memuat 2+7+5+2+0+0+6=22 dan saat merapi meletus dahsyat dari waktunya memuat 22 yang sama, 26-10-2010 pkl 17.02 memuat 2+6+1+0+2+0+1+0+1+7+0+2=22,
gempa_bumi_yogya_27_mei_2006_simbol_22merapi_22

 

Tahun 2006


awan_panas_merapi_14_6_2006_mbah_marijan_selamatPerhatikan dengan seksama gambar diatas, sebuah awan panas merapi tgl 14/6/2006 menyapu bungker kaliadem, dan rumah mbah marijan selamat, ingat tgl 14-juni-2006

Tahun 2010


Memasuki tahun 2010, kode 55 spt diatas semakin menjadi-jadi, perhatikan gambar dibawah ini, yang tepat tgl 14-juni-2010 (empat) tahun berselang kode 55 muncul lagi, Tahun 2010 sebagai perbandingan  dengan gambar dibawah ini 26-oktober-2010, tercatat 1626 hari selang waktu terjadinya antara dua awan panas tsb, dimana rumah mbah marijan tersapu awan panas yang secara tiba-tiba awan tersebut berbelok, tidak seperti tahun 2006.

ANEH .... AWAN PANAS MERAPI 26-OKTOBER-2010 SENGAJA MENGINCAR MBAH MARIJANMengapa awan panas tahun 2010 tersebut berbelok ? hingga menewaskan mbah marijan ? apakah mbah marijan tiada diberi peringatan sebelumnya ? Sebuah akibat dari sesuatu sebab yang dapat diambil hikmah dan pelajaran sebagai bagian tanda-tanda kekuasaanNya

merapi_meletus_Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872 dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010)[9], meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan “tipe Merapi” karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20-30 km.Merapi meletus dahsyat tgl 26-10-2010, dengan operasi yang sama dengan gempa bumi sehingga 2+6+1+0+2+0+1+0=12.

 

Periodisasi Letusan Merapi


Gunung merapi mulai terkenal dalam catatan modern (wikipedia), erupsi tahun 2006 dan 2010, sebuah catatan letusan gunung merapi, seperti berikut ini:

ERUPSI 2006


  1. Erupsi 2006, April dan Mei 2006, muncul tanda Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Tanggal 15 Mei 2006 Merapi meletus. Tanggal 4 Juni, aktivitas Gunung Merapi kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik – artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi. Tanggal 1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.wedus-gembel-saat-letusan-gunung-merapi-tahun-2006_ Tanggal 8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.

    Selasa, 13/06/2006

    merapi_2006

    1. [S]  18:07  Status Merapi Turun Jadi Siaga,Bagus Kurniawan – detikcom, Yogyakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menurunkan status Merapi menjadi Siaga pada pukul 11.00 WIB, Selasa (13/6/2006). Sebelumnya, selama sebulan Merapi berstatus Awas. Penurunan status itu dilakukan setelah hasil pengawasan dan evaluasi menunjukkan kondisi aktivitas Merapi terus mereda sejak mengeluarkan awan panas besar pada Jumat, (9/6/2006). Selama tiga hari terakhir ini jarak luncuran awan panas juga semakin pendek dan mereda. Hal itu diungkapan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Ratdomo Purbo kepada wartawan di kantornya, Jl Cendana Yogyakarta, Selasa sore.Penurunan status Merapi tersebut dikeluarkan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Bandung melalui surat no 879/42.02/PVG/2006 yang ditandatangani ketuanya, Yousana OP Siagian. Alasan penurunan status tersebut karena aktivitas Merapi dalam empat hari terakhir terus menurun dan tidak lagi fluktuatif berdasarkan hasil rapat evaluasi pada hari Senin kemarin. Meski statusnya turun, Purbo akan terus memantau perkembangan Merapi. Saat ini awan panas memang masih terjadi dengan intensitas semakin mengecil. Saat dilakukan evaluasi, petugas berkesimpulan aktivitas memang menurun dan tidak fluktuatif pasca-runtuhnya kubah lava 2006 pada hari Jumat 9 Juni. “Itu alasan penurunan status. Tetapi jika dalam perkembangannya dinilai membahayakan atau menimbulkan ancaman bencana bagi warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana, status siaga akan ditinjau kembali,” katanya. Dia mengatakan setelah mendapat surat dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geolog, Bandung, BPPTK langsung memberitahukan kepada semua pemerintah Kabupaten baik Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang. Pemerintah Provinsi DIY dan Jawa Tengah juga mendapat tembusan surat tersebut. Menurut Purbo, meski statusnya telah turun menjadi Siaga, Merapi masih dinilai rawan untuk pendakian baik melalui jalur selatan Kinahrejo, Cangkringan, maupun dari utara melalui Selo, Boyolali. Demikian pula dengan penambangan pasir serta kegiatan seperti bertani dan berladang di sekitar alur Kali Gendol, Boyong, Krasak dan Sat dalam radius 6 km dari puncak Merapi tetap harus dikosongkan. “Kami masih akan memantau perkembangan aktivitas Merapi. Jika dinilai membahayakan atau menimbulkan ancaman bencana bagi warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana, status siaga akan ditinjau kembali,” katanya. (nrl)
    2. [L] 11:45 Luncuran Wedhus Gembel Merapi Semakin Pendek

    Rabu, 14/06/2006

    letusan_merapi

    [R]  11:19 Ribuan Pengungsi Merapi Tinggalkan Barak

    Setelah gelombang pengungsian kembali ke rumah masing-masing, maka sehari beriktunya, [ L] 15:33 Luncuran Awan Panas Panikkan Warga Lereng Merapi [ A] 16:02 Awan Panas Merapi Dekati Pemukiman, Warga Diungsikan Lagi [S16:46 Siaga Merapi Berumur Sehari, Sekarang Awas Lagi, Bagus Kurniawan – detikcomYogyakarta – Status Gunung Merapi kembali berubah dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Setelah kemarin dinyatakan berstatus Siaga, mulai pukul 15.00 WIB, status Gunung Merapi kembali menjadi Awas. Kenaikan status ini disampaikan oleh Kepala Seksi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyarakarta Subandrio, Rabu (14/6/2006) saat dihubungi melalui sambungan telepon. “Sekitar pukul 12.05 WIB terjadi lagi luncuran awan panas. Luncuran diperkirakan 5 km menuju Kali Gendol. BPPTK menaikkan lagi statusnya menjadi Awas,” kata Subandrio. Hingga saat ini, luncuran awan panas masih terus terjadi, meki tidak sebesar siang tadi. Warga di sejumlah desa di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, dan warga di Desa Belerante kembali diungsikan. Warga yang baru saja tiba dari pengungsian tadi pagi kembali panik dengan datanganya awan panas secara tiba-tiba dengan ukuran besar ini. Tim SAR sampai saat ini masih sibuk melakukan koordinasi. (jon)

     Ramalan Mbeleset


    Setelah membawa korban jiwa, maka satu demi satu alasan ramalan mbleset dikemukakan oleh para ahli, dan anehnya tidak ada yang bertanggung jawab terhadap ramalan mbleset ini. [G] 17:04  Geolog: Aktivitas Merapi Memang Sangat Fluktuatif, [I17:20  Indonesia ‘Terikat’ Sabuk Gunung Berapi Aktif. [A]  17:22  Abu Merapi Mencurah Pekat, Jarak Pandang Hanya 1 Meter, [ P] 17:43  Pengungsi Merapi Balik ke Barak dengan Bungkusan Seadanya. Akhirnya pihak peramal menyerah dengan alasan : [A]  17:47  Aktivitas Gunung Berapi Memang Unpredictable, [A18:29  Awan Panas Merapi Capai 6 Km Hingga Dusun Kalitengah, [L]  19:48  Listrik Mati, Evakuasi Warga Merapi Terhambat, [A20:31  Awan Panas Meluncur, Hutan di Lereng Merapi Terbakar, [A20:46  Awan Panas Merapi Bergulung-gulung dan Bergemuruh, [R]  20:47  Rumah Mbah Marijan Nyaris Dihantam Lahar Panas Merapi, [M21:15  Mbah Marijan Bertahan di Kinahrejo, Dikawal 15 Orang, [ D] 21:57  Dikepung Lahar Panas, 2 Orang Terjebak di Bunker Kaliadem
     

    Kamis, 15/06/2006

    [M] 06:06 Merapi Masih Luncurkan Awan Panas, [T06:34 Terjebak di Bunker Kaliadem, 2 Orang Belum Berhasil Dievakuasi,[ A]  06:46 Awan Panas Skala Besar Meluncur Setiap Setengah Jam,  [A09:39 Alat Berat Evakuasi 3 Warga yang Terjebak di Bunker Merapi, [K]   09:54 Kaliadem dan Bebeng Porak – poranda Diterjang Lahar Panas, [L10:30  Lahar Membara Sulitkan Evakuasi Warga Kaliadem

    bungker_merapi[ A]  11:46  Awan Panas Berukuran Besar Meluncur 4,5 Km ke Kali Gendol, [B]  12:05  BPPTK Harus Hati-hati Putuskan Status Merapi, [S]  12:06  Status Merapi Meleset, DPR Minta BPPTK Dibekali Alat Canggih, [E]  14:00  Evakuasi Warga Terjebak, 2 Backhoe Keruk Bunker Kaliadem, [A]  15:04  Awan Panas Besar Meluncur ke Kali Gendol, Tim SAR Kaliadem Panik, [E]  15:27   Evakuasi 2 Orang Terjebak dalam Bunker Kaliadem Dihentikan Sementara, [ L]  17:09  Lahar di Kaliadem Panas, Sepatu Anggota Tim SAR Meleleh, [M]  17:27  Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Besar, Relawan Berlarian, [2]  18:31   2 Orang Terjebak di Bungker Kaliadem Diduga Tewas


    18675

    Jumat, 16/06/2006

    [A]  06:14  Awan Panas Merapi Muncul Lagi, [K]  08:23  Kedua Relawan di Bungker Kaliadem Ditemukan Tewas, [B]  08:58  Bungker Kaliadem Salah Desain, [S11:42   ‘Selamat Datang di Wisata Bebeng’ Hilang Tersapu Material Merapi

    evakuasi_korban

    Sabtu, 17/06/2006

    [M]  12:01 Merapi Luncurkan 7 Kali Awan Panas & 49 Kali Lava Pijar, [L]   10:25 Luncuran Awan Panas Merapi Meningkat Lagi

ERUPSI 2010


Peningkatan status dari “normal aktif” menjadi “waspada” pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta . Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi “siaga” sejak pukul 18.00 WIB, Status Gunung Merapi Naik Jadi Siaga . Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan.

Status Gunung Merapi Naik Jadi Siaga_21_10_2010(sumber gembar detik.com)

Karena aktivitas yang semakin meningkat, Aktivitas Merapi Meningkat, Gempa Vulkanik 3 SR Mulai Menggelitik  kemudian,  Gempa Timbul Karena Dapur Merapi Terus Beraktivitas, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi “awas” dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.

merapi_awas_25_oktober_2010(sumber gambar detik.com)

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober, Selasa, 26/10/2010 17:49 WIB, Merapi Muntahkan ‘Wedhus Gembel’ 2 Kali

Jakarta – Erupsi terjadi di Gunung Merapi. Dua kali gunung berapi memuntahkan awan panas atau wedhus gembel. Hingga sekarang muntahan awan panas masih terus terjadi. “Ada indikasi awan panas, terjadi dua kali pukul 17.02 WIB dan 17.23 WIB,” kata Kepala Vulkanologi Surono, saat dihubungi detikcom, Selasa (26/10/2010). Surono menjelaskan, dia sudah mengontak seluruh bupati yang wilayahnya ada di sekitar lokasi Gunung Merapi agar berhati-hati. “Sampai sekarang masih terjadi. Kita tidak tahu bergerak ke mana awan panasnya,” tambahnya. Suasana di lokasi gelap gulita. Surono hanya bisa melihat dari stasiun pemantauan. “Ini erupsi, keluar material dari dalam gunung,” tutupnya.Sementara itu Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Andi Arief pun sudah mengetahui dan mendapat laporan peristiwa ini. Andi sudah melaporkannya ke SBY.

Sleman – Semburan awan panas (wedhus gembel) Gunung Merapi membuat warga Kaliurang, Kabupaten Sleman panik. Sirine early warning system (EWS) berbunyi meraung-raung. Sementara hujan abu semakin pekat dan bau belerang semakin menyengat. Merapi mulai memuntahkan awan panas sekitar pukul 17.02 dan 17.30 WIB, Selasa (26/10/2010). Hingga pukul 18.45 WIB, semburan wedhus gembel masih terjadi.  Debu vulkanik yang menyembur sebelumnya juga telah beterbangan di daerah Kaliurang, sekitar 5 KM dari puncak Merapi. Dengan turunnya wedhus gembel, hujan debu semakin pekat. Bau belerang juga semakin menyengat. ….

wedhus_gembel_26_10_2010(sumber gambar detik.com)

Kondisi Mbah Maridjan, kuncen Gunung Merapi masih simpang siur. Namun menurut pengakuan putra Mbah Mardijan yang bernama Asih, rumahnya terbakar habis. “Rumah Mbah Mardijan terbakar,” kata sesepuh Desa Kinahrejo, Mulyono di lokasi pengungsian di Harjobinangun, Sleman, Senin (26/10/2010).Namun diakui Mulyono kondisi di sekitar masjid sudah terbakar. “Di luar panas, semua terbakar, saya tidak tahu persis kondisi yang di sana,” tutupnya.

Akhirnya kondisi Mbah Maridjan kuncen Gunung Merapi bisa dipastikan. Dia selamat dari awan panas muntahan Gunung Merapi. Kini Mbah Maridjan masih berada di atas di lereng Merapi, dalam kondisi lemas. “Mbah Maridjan selamat, tapi dalam kondisi lemas,” kata anggota TNI, Kolonel (Laut) Pramono di lokasi pengungsian di Hargobinangun, Sleman, Senin (26/10/2010). Pramono merupakan salah satu personel tim evakuasi yang ikut menyisir rumah Mbah Maridjan sekitar pukul 22.00 WIB tadi.  Tim evakuasi akhirnya menemukan Mbah Maridjan dalam kondisi lemas dan memberikan pertolongan. Namun Mbah Maridjan masih belum mau dibawa turun ke bawah. “Sekarang masih di atas,” tutup Pramono. Pramono datang bersama tim evakuasi ke lokasi rumah Mbah Maridjan di Desa Kinahrejo. Jalan menuju rumah Mbah Maridjan mencekam, karena terbakar. Di sana masih ada titik api. Hawa juga terasa panas. Banyak pohon bertumbangan dan mayat bergelimpangan di dekat rumah Mbah Maridjan. Saat tim naik ke atas, lokasi masih panas, api masih terlihat di beberapa sudut. Kondisi rumah Mbah Maridjan sendiri hancur terbakar.

foto_akibat_awan_panas_merapi_26_10_2010(sumber gambar detik.com)

Jakarta – Korban jiwa akibat letusan Gunung Merapi makan korban banyak dibandingkan letusan pada 2006 silam. Berikut kronologi Letusan Gunung Merapi 26 Oktober 2010 menurut Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian EDSM Dr Surono, seperti dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (27/10/2010):

1. Pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit.
2. Pukul 17.18 terjadi awan panas selama 4 menit.
3. Pukul 17.23 terjadi awan panas selama 5 menit.
4. Pukul 17.30 terjadi awan panas selama 2 menit.
5. Pukul 17.37 terjadi awan panas selama 2 menit.
6. Pukul 17.42 terjadi awan panas besar selama 33 menit.
7. Pukul 18.00 sampai dengan pukul 18.45 terdengar suara gemuruh dari Pos pengamatan G. Merapi Jrakah dan Selo.
8. Suara dentuman sebanyak 3 kali terjadi pada pukul 18.10, pukul 18.15, dan pukul 18.25.
9. Pukul 18.16 terjadi awan panas selama 5 menit.
10. Pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit.
11. Dari Pos Pengamatan G. Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membumbung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak G. Merapi.
12. Pukul 18.54 aktivitas awan panas mulai mereda.
13. Luncuran awan panas mengarah ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara.

Merapi

Merapi

evakuasi_mbah_marijan_3

Jakarta – Sunyi sepi. Kampung mati. Itu situasi di tiga dusun di lereng Merapi, Kinahrejo, Pelemsari, dan Ngrangkah, Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (27/10/2010) pada pukul 10.45 WIB. Sapi-sapi pun terpanggang. Tiga dusun itu tersapu awan panas Merapi, Selasa, 26 Oktober sore. Rumah-rumah penduduk di tiga dusun itu rusak berat. Bangunan yang terbuat dari kayu, ludes terbakar. Jadi arang. Pemandangan begitu mengenaskan. Ternak-ternak, di antaranya sapi-sapi mati terpanggang. Sebagian sapi sapi itu dalam keadaan sekarat. Sekujur tubuh sapi sapi itu sudah melepuh.

hutan_mbah_marijan(sumber gambar detik.com)

Sleman – Sangat panasnya material Merapi terlihat di hutan Pethit Opak yang berada di lereng Merapi, sekitar 3 KM dari puncak. Hutan yang biasa digunakan Mbah Maridjan melakukan ritual labuhan itu benar-benar hangus. Lereng yang sebelumnya menghijau itu kini menjadi sangat gersang, tak ada pohon yang hidup. Pethit Opak yang merupakan hulu sungai Opak ini dinilai sebagai kawasan yang paling mengerikan. Kondisi Pethit Opak ini terlihat jelas dari Dusun Kinahrejo. Tempat yang berjarak sekitar 2 KM dari dusun Kinahrejo, Kecamatan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman itu seperti padang tandus. Pemantauan detikcom, Rabu (27/10/2010), semua pohon di hutan ini terbakar. Namun, hutan ini memang tidak dihuni oleh warga. Hutan ini sering dianggap sebagai pintu gerbang roh halus Gunung Merapi. Karena itulah, Mbah Maridjan selalu menggelar ritual labuhan di tempat ini. Sementara itu, data yang didapatkan detikcom, desa yang mengalami kerusakan paling berat akibat awan panas Merapi adalah Desa Umbulharjo dan Desa Kepuharjo, yang sama-sama berada di Kecamatan Cangkringan. Desa Umbulharjo, antara lain terdiri dari dusun Kinahrejo, Ngrangkah, dan Palemsari. Sedangkan di Desa Kepuharjo, dusun Kaliadem yang mengalami kerusakan parah. Dusun-dusun yang dihujani material Merapi itu tampak porak-poranda. Bisa dipastikan semua bangunan rumah warga mengalami kerusakan. Perlu renovasi terhadap rumah-rumah warga agar bisa digunakan kembali.

Tim SAR telah melakukan penyisiran di dua desa ini untuk mengecek kembali adanya korban tewas akibat letusan Merapi. Sejumlah warga juga disertakan oleh Tim SAR dalam rangka penyisiran itu. Tim SAR memasuki rumah-rumah warga untuk memastikan ada tidaknya korban. Rumah-rumah warga di Dusun Kinahrejo, misalnya, dipenuhi dengan debu. Semua sudut rumah tidak lepas dari tumpukan debu. Rumah-rumah di sekitar rumah Mbah Maridjan, tumpukan debu terlihat sangat tebal. Tidak hanya debu, tapi juga tumpukan pasir halus. Akibat awan panas Merapi ini, 28 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan, yang selama ini disebut sebagai kuncen spritiual Merapi. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi sujud di dalam rumahnya yang porak-poranda.

Simpulan Letusan Merapi 2010


Mengutip wikipedia :

Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan.

Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB. Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Namun demikian, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor.

Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus “awas” (red alert).  Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap “Awas”. Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.