~[Misteri Ilahi] Mbah Marijan Meninggal, Posisi Sujud Atau Disujudkan ?~

Mengutip wikipedia:

  • “Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Surakso Hargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, 5 Februari 1927 – meninggal di Sleman, 26 Oktober 2010 pada umur 83 tahun adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando darinya untuk mengungsi.mbah_marijan_tv_oneIa mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982. Sejak kejadian Gunung Merapi akan meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi Pada tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim. Jasad Mbah Maridjan ditemukan beberapa jam kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya telah meninggal dunia, umumnya kondisi korban yang ditemukan mengalami luka bakar serius. Jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai jenazah Mbah Maridjan pada tanggal 27 Oktober 2010..”

Anak Bertanya Pada Bapaknya


Seorang anak bertanya kepada bapaknya ketika menonton siaran TV yang menyiarkan jenasah mbah marijan yang ikut menjadi korban awan panas merapi, dimana oleh penyiar TV itu disebutkan mbah marijan ditemukan tewas dengan posisi bersujud. Anak itu bertanya: “Pak mbah marijan masuk surga pak ya … khan mbah marijan meninggal dalam posisi sedang sholat dan bersujud”, begitu sang anak bertanya kepada bapaknya.mbah_marijan_tewas_2

Si Bapak agak bingung menjawab pertanyaan anak yang cukup cerdas ini, dikarenakan kalau si bapak menjawab “Benar”, maka ketika si anak mencari referensi keagamaan, utamanya agama islam, maka si anak akan menemukan dua sisi yang sulit dicampurkan. Tiada lain beliau adalah Mbah Marijan Pimpin Labuhan Alit di Gunung Merapi

Mbah Marijan Pimpin Labuhan Alit di Gunung MerapiAcara Labuhan Alit di Gunung Merapi (sumber okezone)

YOGYAKARTA – Juru kunci Gunung Merapi, RP Suraksohargo atau yang lebih dikenal oleh masyarakat umum Mbah Marijan memimpin prosesi labuhan alit di Gerbang Srimanganti atau Pos 2 Merapi. Upacara labuhan alit yang jatuh setiap tanggal 30 Rejeb penanggalan Jawa. Upcara labuhan alit di gunung Merapi ini dilakukan untuk memperingati jumenengan dalem atau naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Upacara adat Labuhan Merapi, Jumat (24/7/2009) di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta yang juga merupakan kediaman juru kunci Merapi, Mbah Marijan. Sebelum dilakukan prosesi, pada Kamis kemarin telah dilakukan upacara serah terima ubarampe labuhan dari utusan kraton Yogyakarta kepada pejabat Kabupaten Sleman di Kecamatan Cangkringan. Dari kecamatan, barang-barang yang akan dilabuh ini pada sore harinya akan diserahkan kepada kepada juru kunci Merapi, untuk disemayamkan.Baru pada hari Jumat pagi sekira pukul 05.00 WIB, prosesi labuhan dimulai dipimpin Mbah Marijan bersama beberapa abdi dalem kraton lainnya. Ratusan warga turut hadir memadati halaman rumah Mbah Marijan untuk menyaksikan prosesi tahunan ini. Sebelum prosesi arak-arakan dimulai, warga yang ingin ngalap berkah sudah ada yang mendaki lebih dulu melalui jalur pendakian bagian selatan.mbah_marijan_tv_one_2Menjelang subuh sudah banyak warga yang berkumpul di pendopo Srimanganti tempat prosesi labuhan dimulai yakni di Pos 2 di wilayah Kendhit yang merupakan batas hutan vegetasi Merapi. Beberapa barang atau uba rampe yang akan dilabuh meliputi, kain sinjang cangkring, semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, selendang cindhe, kain kampuh poleng, minyak wangi, kemenyan ratus, uang kepeng, dan beberapa sesaji di antaranya nasi ingkung lengkap dan lain-lain.

iklan_mbah_marijan(in memoriam mbah marijan, sumber kompas.com)

Semua ubarampe labuhan dibawa oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta. Mbah Marijan langsung memimpin sendiri jalannya prosesi sebagai pembuka jalan. Turut mendampingi selama berlangsung prosesi hingga menuju tempat acara di Pos 2 beberapa anggota Tim SAR Pemkab Sleman dan relawan lainnya. Setelah berjalan mendaki selama lebih kurang 3 jam, rombongan tiba di tempat upacara. Ratusan orang yang sudah datang lebih dulu maupun yang datang bersamaan rombongan Mbah Marijan langsung duduk di sekitar tempat prosesi. Setelah dilakukan wilangan atau pengecekan satu-persatu barang yang akan dilabuh.

Setelah dinyatakan lengkap semua ubarampe labuhan kemudian di tempat yang telah disediakan. Bersamaan dengan dibakarnya kemenyan dilakukan doa bersama memohon keselamatan. Usai dilakukan doa bersama barang-barang yang dilabuh kemudian diperebutkan warga yang ingin ngalap berkah.

Labuhan-merapiLabuhan itu juga sebagai persembahan kepada penguasa Gunung Merapi yang dipimpin Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dwi Supriyatno mengatakan labuhan Gunung Merapi merupakan event tahunan yang cukup besar dan melegenda sehingga diperkirakan akan mendatangkan ribuan wisatawan nusantara maupun mancanegara. ritual_merapi_Bram_1“Upacara adat ini selalu menarik minat wisatawan yang akan melihat secara langsung ritual upacara adat yang masih kental kesakralannya di kalangan masyarakat setempat,” katanya. Dia mengatakan, menurut legenda pelaksanaan labuhan Merapi berkaitan erat dengan latar belakang cerita rakyat setempat yaitu Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi. (Daru Waskita/Trijaya/mbs)

Adanya upacara persembahan inilah yang membuat si bapak pusing tujuh keliling, sebab ketika meng-iyakan atas pertanyaan si anak tsb, maka ketika si anak menemukan sisi dari mbah marijan yang erat dengan persembahan seperti diatas, maka si anak pasti bertanya lagi pada sang bapak “Pak kalo begitu dalam islam, persembahan itu diperbolehkan pak ya …, begitu sang anak terus bertanya kepada sang bapak”Karena sang bapak juga tidak begitu paham agama islam, maka bapak dengan enteng menjawab “ah itu khan bukan ibadah, itu hanya ritual budaya saja, ndak apa-apa nak”. Si anak lalu bertanya lebih lanjut kepada si bapak, “kalo begitu ritual itu boleh pak ya …, di jaman rasul masih hidup apa ada juga yang melakukan itu pak ya …”

Bapak Bertanya …


Si bapak tambah pusing tujuh keliling, maka bertanyalah si bapak kepada seorang ustad, “pak ustad bolehkah kita melakukan ritual budaya dengan persembahan seperti yang dilakukan oleh banyak masyarakat kita ?” Si ustad menjawab:”coba bapak buka di internet yang memuat hal yang mirip ini, PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP RITUAL PRA DAN PASCA NIKAH BAGI KEDUA MEMPELAI (STUDI KASUS DI DESA KATEKAN NGADIREJO TEMANGGUNG). Disitu dijelaskan secara lugas arti dari sesaji, mirip dengan yang di lalukan oleh mbah marijan, berikut ini kutipan artikel itu

  • asap_dupa…..Maka menurut pandangan hukum Islam tujuan ritual tersebut diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan hukum Islam. Pelaksanaan ritual pra dan pasca nikah itu diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan hukum Islam. Tetapi dalam pelaksanaan ritual pra dan pasca nikah ada yang menggunakan sesaji, yaitu pada ritual sajen ambenian. Dalam ritual tersebut mengandung unsur mubazir karena menyia-yiakan makanan bahkan sampai membuangnya kemudian juga ada unsur syirik karena dalam ritual tersebut mempunyai kepercayaan bahwa sesaji itu untuk persembahan kepada leluhur, dan ketika tidak dilakukan atau kurang salah satu macam sesaji akan mendapat balak. Syirik adalah menyekutukan Allah dan itu sangat tidak diperbolehkan. Apalagi dalam penggunaan sesaji terdapat unsur mubaźirnya, karena menyia-nyiakan makanan. Maka penggunaan sesaji dalam ritual pra dan pasca nikah tidak diperbolehkan karena tidak sejalan dengan hukum Islam……

Dua alasan dari kutipan diatas atas sesaji yang dilakukan yaitu, mubazir dan sesaji untuk persembahan, itulah dua kunci dari persoalan sesaji persesajian, begitu pak ustad menerangkan pada si bapak yang ditanya oleh si anak.

Bapak Menjawab …


Akhirnya si bapak memberanikan diri untuk menjawab kepada si anak, “Nak, posisi mbah marijan pada saat meninggal dalam posisi sujud, bukan jaminan bahwa beliaunya masuk surga, namun karena beliau telah tiada, maka kita doakan saja agar Allah swt menerima amalan dan arwah beliau di alam baka … amin”. Si anak pun menyela “Lho kalo gitu, kita doa-juga, tidak hanya mbah marijan, juga korban-korban lain akibat bencana ini … amien”

gunung_merapi_meletus_dahsyat_26_10_2010Si bapak masih penasaran dengan posisi sujud dari mbah marijan yang menganggu pikiran anaknya, dia berpikir bisa jadi di semua benak orang indonesia, akan tercamkan hal yang sama dengan si anak, sehingga timbulah sebuah mitos atau legenda pada mbah marijan. Si bapak akhirnya mencari-cari di internet, maka ketemulah sebuah artikel menarik yaitu, [Misteri Ilahi] Sebelum Mbah Marijan Meninggal

Si bapak-pun dengan cermat dan rajin mengkliping berita meninggalnya mbah marijan, sebab jika posisi sujud ini menjadi pembenar dari arti persembahan itu, maka sungguh, kita akan menanggung kepada generasi penerus akan sebuah mitos atau legenda yang berbelok arah. Si bapak teringat pada kisah n.Isa atau di kalangan non muslim dikenal sebagai yesus, maka berbagai macam tafsir atas kejadian penyaliban tersebut. Agar hal itu tidak menjadi buah bibir dan beban pada generasi penerus, maka si bapak mulai penyelidikan keanehan yang terjadi pada posisi sujud dari mbah marijan. Akhirnya penyelidikan itu dimulai yaitu:

Bapak Menyelidiki …


Awan panas merapi yang menyembur tgl 26-oktober-2010, sampai saat ini telah menyebabkan korban Jumat, 29/10/2010 16:11 WIB BNPB: Korban Tewas Merapi 36 Orang maka diantara korban itu adalah sebuah sosok yang dikagumi dan sangat terkenal di indonesia yaitu mbah marijan). Sempat beredar sebelumnya bahwa beliuanya selamat dari awan panas, yaitu Rumahnya Hancur, Mbah Maridjan Selamat

Kinahrejo_3(sumber gambar internet)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Setidaknya 11 korban meninggal dunia ditemukan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Tiga di antara mereka adalah seorang dokter, editor VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho, dan warga setempat bernama Sugiman. Sementara itu, rumah Mbah Maridjan diketahui hancur diterpa awan panas yang biasa disebut sebagai wedus gembel. Namun, Mbah Maridjan dikabarkan justru selamat. Dusun Kinahrejo masih tertutup hingga saat ini. Untuk sementara, evakuasi dihentikan karena dinilai terlalu berbahaya.

Diberitakan sebelumnya, Yuniawan Wahyu Nugroho akan menjemput Mbah Maridjan ke rumahnya untuk membujuk agar lelaki sepuh itu bersedia mengungsi. Namun, Yuniawan justru menjadi korban amuk Merapi.

Mbah Marijan Tidak Mau Ikut Mengungsi


Maklum, dia adalah bagian dari abdi dalem keraton, yang hidupnya memang hanya mengabdi kepada raja.Alasan Mbah Maridjan Tak Mau Mengungsi

mbah_marijan_jangan(sumber gambar tempo.co.id)

……Jadi kalau diminta pemerintah untuk mengungsi bagaimana Mbah? Lha saya ini kerasan tinggal di sini. Saya pilih tinggal di masjid. Ndonga (berdoa). Karena tamu-tamu saya banyak. Waktu saya ke Bekasi, banyak tamu yang kecele. Coba lihat di buku tamu itu. Kalau ketemu tamu-tamu kan saya tidak melamun, malah menghibur saya. Bisa tertawa. Karena kalau saya diam, itu bisa ditandai stres…..

Selain itu, ternyata dia tidak mau mengungsi karena menunggu wangsit dari mbah petruk, tetapi akhirnya tewas menjadi korban keganasan awan merapi. Itulah makna kehendak Allah swt atas diri mbah marijan yang di tutup usia pada 83 yang ketika itu mbah-petruk-masih menunggu wangsit mbah petruk, padahal bayangan ‘mbah petruk’ sudah menampakkan diri sebelumnya,Kronologi Detik-detik Wedhus Gembel Sergap Rumah Mbah Maridjan

Selain Mbah Marijan, dua orang lain yang terjebak dan tidak bisa dievakuasi adalah Mbah Poniman dan istrinya, tokoh masyarakat Desa Kepuhardjo. Seperti juga Mbak Marijan, Mbah Poniman juga enggan dievakuasi sejak dini karena menunggu wangsit dari Petruk.

Pada tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim. Jasad Mbah Maridjan ditemukan beberapa jam kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya telah meninggal dunia, umumnya kondisi korban yang ditemukan mengalami luka bakar serius. Jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai jenazah Mbah Maridjan pada tanggal 27 Oktober 2010.

Mbah Marijan ‘Selamat’


Berita selamatnya mbah marijan menghiasi di hampir semua berita media cetak, detik.com memberitakan, Mbah Maridjan Selamat, Tapi Dalam Kondisi Lemas , media metrotvnews memberitakan Mbah Maridjan Selamat dan tempo interaktif memberitakan pula Mbah Maridjan Selamat

  • TEMPO Interaktif, SLEMAN – Ki Surakso Hargo alias Mbah Maridjan, juru kunci hutan_mbah_marijan Gunung Merapi ternyata ditemukan selamat meski kondisi fisiknya lemah. Mbah Maridjan ditemukan tak jauh dari kediamannya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. ” Mbah Maridjan ditemukan selamat oleh salah seorang anggota tim pencari (SAR),” kata Komandan Pangkalan TNI AL Yogyakarta Kolonel Laut Aloysius Pramono, di Sleman, Rabu 27 Oktober 2010 dini hari. Pramono menyebut, kuncen Merapi itu ditemukan di lereng, tidak jauh dari rumahnya di Dusun Kinahrejo. Sementara di kawasan itu, setidaknya 13 korban ditemukan tewas terkena awan panas Merapi. Salah satunya dokter dari Kepolisian, seorang lagi wartawan Vivanews, Yuniawan Wahyu Nugroho di dekat rumah Mbah Maridjan.Pantauan Tempo, kondisi kampung Mbah Maridjan di radius 5 kilometer dari puncak Merapi terhalangi pohon, debu dan air panas. Pohon-pohon di dusun itu tumbang dan semua rumah hancur dan tertutup debu dan material Merapi. Sementara itu, di Rumah Sakit Umum Pusat dr Sardjito telah ada 12 mayat korban keganasan awan panas Merapi. Dari 12 korban itu tidak ada mayat yang teridentifikasi sebagai Mbah Marijan. “Tidak ada (Mbah Marijan), kalau kabarnya dia selamat,” kata Banu Hernawan, Humas Sadjito. WDA | ANT | M. SYAIFULLAH

Selamat saat itu walaupun dalam posisi lemas, begitu menurut salah satu sumber didetik.com yang memberitakan Mbah Maridjan Selamat, Tapi Dalam Kondisi Lemas dimana secara menyakinkan bahwa memang mbah marijan itu selamat:

  • Jakarta – Akhirnya kondisi Mbah Maridjan kuncen Gunung Merapi bisa dipastikan. Dia selamat dari awan panas muntahan Gunung Merapi. Kini Mbah Maridjan masih berada di atas di lereng Merapi, dalam kondisi lemas. “Mbah Maridjan selamat, tapi dalam kondisi lemas,” kata anggota TNI, Kolonel (Laut) Pramono di lokasi pengungsian di Hargobinangun, Sleman, Senin (26/10/2010). Pramono merupakan salah satu personel tim evakuasi yang ikut menyisir rumah Mbah Maridjan sekitar pukul 22.00 WIB tadi. Tim evakuasi akhirnya menemukan Mbah Maridjan dalam kondisi lemas dan memberikan pertolongan. Namun Mbah Maridjan masih belum mau dibawa turun ke bawah. “Sekarang masih di atas,” tutup Pramono. Pramono datang bersama tim evakuasi ke lokasi rumah Mbah Maridjan di Desa Kinahrejo. Jalan menuju rumah Mbah Maridjan mencekam, karena terbakar. Di sana masih ada titik api. Hawa juga terasa panas. Banyak pohon bertumbangan dan mayat bergelimpangan di dekat rumah Mbah Maridjan. Saat tim naik ke atas, lokasi masih panas, api masih terlihat di beberapa sudut. Kondisi rumah Mbah Maridjan sendiri hancur terbakar. (ndr/asy)

Mbah Marijan Selamat !!!


Entah siapa yang mengkomando dari berita ini, ketika berita ini muncul, maka hampir ribuan simpatisaniklan_mbah_marijan mbah marijan mengucapkan keheranan atas kejadian ini yang kalau boleh ini, meyakinkan pada simpatisan beliau bahwa itulah salah satu karomah / kelebihan beliau.Barulah kemudian, terbetik kabar koreksi dari kondisi selamat namun lemas diatas, muncul sebagai mbah marijan ikut menjadi korban dan ditemukan di kamar mandi, Mbah Maridjan Tewas Dalam Rumahnya

evakuasi_mbah_marijanSleman – SURYA- Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan menjadi korban dan ikut tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.”Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi,” katanya. Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.”Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.”Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” katanya. Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta. “Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung. ant

Hal yang berbeda, disebutkan oleh anggota SAR lainnya, kalau beliau meninggal di dapur, berikut ini beritanya, Mbah Maridjan Ditemukan Meninggal Dunia dalam Posisi Sujud di Dapur

mbah_marijan_tewas_2Jakarta – Akhirnya misteri keberadaan Mbah Maridjan terpecahkan. Kuncen Gunung Merapi itu ditemukan Tim SAR telah meninggal dunia. Mbah Maridjan meninggal dalam posisi sujud. “Ditemukan di dapur dalam posisi sujud,” kata anggota Tim SAR, Suseno, saat ditemui di RS Sardjito, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Tim evakuasi segera membawa jenazah Mbah Maridjan ke tempat yang aman. Jasad Mbah Maridjan yang lahir pada 1927 ini kini tengah diidentifikasi di rumah sakit. “Tim mengevakuasi Mbah Maridjan sekitar pukul 05.00 WIB,” tambah Suseno. Pada Senin (26/10) malam sempat tersiar kabar Mbah Maridjan masih hidup. Namun kini setelah tim evakuasi melanjutkan pencarian dipastikan Mbah Maridjan meninggal dunia. Di kawasan rumah Mbah Maridjan, ada 16 orang yang ditemukan tewas. Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu pun sebelumnya mendapatkan kabar bahwa Mbah Maridjan meninggal dunia karena ada jenazah yang mirip dengan pembantu setia (alm) Sultan HB IX itu. Kabar terbaru ini berarti juga meluruskan informasi yang berkembang sebelumnya bahwa pria bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu telah diselamatkan dalam kondisi lemas semalam. (ndr/nrl)Marijan

Barulah setelah ramai didiskusikan oleh media tentang posisi penemuan jasad mbah marijan, yang sebagian besar heran dengan penemuan ini, sebab jika di kamar mandi atau dapur, maka hal itu tidak-lah lumrah untuk melakukan sholat, akhirnya koreksi mengenai posisi ditemukannya mbah marijan yaitu di kamar beliau, Jenazah Mbah Maridjan Ditemukan Dalam Posisi Sujud

…. Slamet, seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar rumahMbah Maridjan…..

 


Ada apa kah ini semua ? ikuti penjelasan berikutnya

Halaman 1

Berikutnya Halaman Ke 2: …

sebelumnya

Apa yang Terjadi Setelah itu Semua ?

berikutnya
Iklan