~Terungkap Dibalik Legenda Penunggu Gunung Merapi~

Mengutip wikipedia

marijan_old_2003Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.930 m dpl, per 2010) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

 

papanNamaMarijanDua nama yang saat ini menjadi buah bibir dikarenakan beliau ikut menjadi korban keganasan merapi . Pada banyak media, hampir semua menyebut beliaunya adalah Mbah Maridjan, hanya sedikit sekali yang menyebut Marijan (tanpa huruf d). Setelah penulis telusuri berdasarkan foto-foto di internet, maka asal nama terdahulu adalah mbah marijan (tanpa d), hingga suatu saat sekitar tahun 2008, maka terjadi perubahan pada papan nama di rumah beliau, sehingga menjadi mbah maridjan dengan d. Apakah makna dari dua nama yang berbeda tsb ?


Konon penggantian plang nama di rumah mbah marijan yang dulu tanpa d, sehingga beberapa waktu yang dekat berganti dengan maridjan itulah yang membuat jalan cerita berbeda. Konon di dunia mistis (para penghuni merapi, Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi) tidak ‘merestui pergantian nama ini sehingga beliau tidak selamat, seperti halnya tahun 2006 lalu. Hal ini, konon juga terjadi ketika mbah marijan tidak menjadi pemimpin pada labuhan tahun 2010, sehingga membuat para penghuni merapi marah, Mbah Marijan Batal Pimpin Labuhan Merapi

Mbah Marijan Pimpin Labuhan Alit di Gunung MerapiSleman (ANTARA News) – Juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Marijan, Selasa pagi batal memimpin upacara adat labuhan Gunung Merapi karena kondisinya belum memungkinkan untuk mendaki setelah sakit beberapa bulan lalu. “Acara ritual di rumah tetap dipimpin Mbah Marijan, sedangkan untuk labuhan di Kendit 2 Merapi beliau tidak dapat ikut naik karena kondisinya belum memungkinkan pascaoperasi hernia beberapa waktu lalu,” kata putra Mbah Marijan yang menggantikan memimpin labuhan, Asih.

Menurut dia, Prosesi Labuhan Gunung Merapi diawali pada Senin (12/7) pukul 09.00 WIB berupa “srah-srahan ubarampe” secara simbolis dari Kraton Ngayogyakarta oleh utusan Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X kepada Camat Cangkringan, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan kepada juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo. Kemudian Senin Pukul 15.00 WIB dilaksanakan Kirab Budaya oleh prajurit Gandungarum dari Kaliadem, Dusun Ngrangkah menuju rumah juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo dan pada malam harinya dilaksanakan kenduri wilujengan di rumah juru kunci dilanjutkan dengan macapatan oleh paguyuban Sekar Cangkring Manunggal.

“Hari ini Selasa (13/7) pukul 06.00 WIB dilakukan acara resmi Labuhan Merapi yang diawali kirab prajurit yang membawa `uba rampe` diiringi keluarga juru kunci, abdi dalem dan utusan Kraton menuju ke Kendit 2 dilanjutkan dengan doa-doa,” tuturnya menjelaskan. Upacara Adat Labuhan Gunung Merapi merupakan rangkaian upacara yang dilaksanakan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam rangka peringatan “jumenengan Ndalem” (naik tahta) Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diselenggarakan setiap tanggal 30 bulan Rejeb penanggalan Jawa. “Berdasarkan legenda pelaksanaan labuhan Merapi berkaitan erat dengan latar belakang sejarah Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Megantoro yang semuanya penguasa di Gunung Merapi,” paparnya.(V001/C004)

Apakah yang benar ?


Pembahasan konon bin konon boleh saja, namun hal itu hanyalah sebatas konon, sebab mbah marijan tetaplah mbah marijan yang ikut jadi korban keganasan awan panas merapi. Tahun 2006 lalu, beliau selamat dari kejadian yang mirip dengan tahun 2010. Nama beliau terkenal dengan nama mbah marijan tanpa d, kini begitu ramai dan papan di rumah beliau juga diganti menjadi mbah maridjan dengan d, sesungguhnya itulah isyarat huruf d adalah nahas bagi kematian beliau.

Merapi Meletus 14-juni-2006 Mbah Marijan Selamat


awan_panas_merapi_14_6_2006_mbah_marijan_selamatMengapa penambahan d adalah isyarat dari kepergian beliau di akhirat ? tiada lain huruf d adalah huruf ke 4 sesuai urutan a,b,c dan d, sehingga mbah marijan yang tahun 2006 selamat, kini 4 tahun sesudah itu, ketika papan nama di rumah beliau diganti menjadi mbah maridjan, maka itulah akhir dari riwayat beliau. Peningkatan status dari “normal aktif” menjadi “waspada” pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi “siaga” sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi “awas” dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.

ANEH .... AWAN PANAS MERAPI 26-OKTOBER-2010 SENGAJA MENGINCAR MBAH MARIJANErupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.[12] dan menelan korban 43 orang. Kehancuran terjadi, selang 4 tahun berikutnya, Merapi Meletus Dahsyat 26-oktober-2010


Foto-foto papan nama beliau, diambil dari internet adalah, nama baru dengan cat baru…. Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB. Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Nama lama dengan cat yang agak kusam Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, marijan_dan_kode_66Bandung,dan Bogor. Atau pada foto-foto lain yang menuliskan nama beliau adalah yang dikenal sebagai marijan

Lalu apa makna nama beliau tanpa huruf d yaitu mbah marijan ? itulah huruf alfabet yang berjumlah 66. Apakah ada yang aneh dengan 66 itu ? Itulah bentukan dari nama beliau, MARIJAN, dimana tersusun alfabet dari huruf itu adalah M=13, A=1, R=18, I=9, J=10, A=1, N=14, kesemua itu berjumlah 66.

Itulah 66, sebelum beliau wafat tgl 26-10-2010, maka 66 hari sebelumnya terjadi gempa bumi cukup besar di yogyakarta tepatnya tgl 21-agustus-2010, dimana kejadian itu sampai meninggalkan bekas pada keraton yogyakarta,

gempa_yogya_21_8_2010_dan_korban_jktNusantara,[ Senin, 23 Agustus 2010 ] Gempa 5 SR Pecahkan Umpak Keraton Jogja Diyakini Tak Ganggu Konstruksi, Dinas PU Tetap Turunkan Tim JOGJA – Gempa berkekuatan 5,0 skala Richter (SR) yang mengguncang Jogja Sabtu malam (21/8) merusak sejumlah bangunan utama di kompleks Keraton Jogja. Beruntung, kerusakannya ringan.”Kerusakannya tidak berat kok. Tidak mengganggu konstruksi bangunan,” tutur Pengageng Wahon Sarto Kriyo Keraton Jogja KGPH Hadiwinoto kemarin (22/8). Menurut adik Sultan Hamengku Buwono X itu, kerusakan terjadi di Bangsal Kencono dan Bangsal Srimanganti. gempa_yogya_21_8_2010_dan_miras_oplosanDi Bangsal Kencono, salah satu umpak (penyangga tiang) di sisi utara bergeser sekitar 5 sentimeter. Bangsal Kencono merupakan bangsal utama keraton. Di tempat itu, Sultan kerap mengadakan acara. Salah satunya acara ngabekten tiap Idul Fitri. Bangsal Kencono juga biasa dipakai untuk upacara tinggalan dalem (ulang tahun) kelahiran raja.Di Bangsal Srimanganti, tambah Hadiwinoto, ada empat umpak yang pecah. Meski begitu, kekuatan tiang tidak terpengaruh. “Umpak itu lebih bersifat sebagai aksesori. Sebab, tiang di Bangsal Srimanganti menyentuh lantai,” terang pangeran yang dipercaya menjabat semacam menteri pekerjaan umum dan aset bangunan keraton tersebut. Bangsal Srimanganti biasa dipakai Sultan untuk menjamu tamu. Bangsal yang lokasinya berhadap-hadapan dengan Bangsal Trajumas itu kerap dipakai untuk pentas tari bedoyo keraton.

peringatan_sebelum_bencana_besar_2010_semua_terbakar_membentuk_simbol_kembarSementara itu, Bangsal Trajumas yang baru selesai direnovasi setelah ambruk akibat gempa pada 27 Mei 2006 tidak mengalami kerusakan sedikit pun. ”Bangsal Trajumas tetap kukuh, meski memakai umpak lama,” lanjut Hadiwinoto. Setelah meneliti kerusakan, Hadiwinoto memastikan segera memperbaikinya. “Bila tidak parah, kami akan pakai anggaran keraton,” ungkapnya. Kabar rusaknya sejumlah bangunan keraton itu tak urung memancing perhatian Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan ESDM Provinsi DIJ Rani Sjamsinarsi. Kemarin Rani meninjau ke lokasi dengan didampingi Kabid Cipta Karya Gatot Saptadi dan tim ahli bangunan cagar budaya dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Atma Jaya. Rani menyatakan segera menerjunkan tim khusus untuk memeriksa semua kerusakan tersebut. “Kami juga pikirkan biaya renovasi. Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan karena bangunan itu termasuk cagar budaya,” terangnya. Meski tak ada korban jiwa, gempa malam itu membuat warga panik. Maklum, mereka masih trauma gempa hebat pada 2006 lalu. Apalagi, gempa Sabtu malam tersebut cukup terasa. Indikasinya, puluhan rumah di perbatasan Kabupaten Bantul-Gunungkidul rusak, meski ringan. (kus/jpnn/c6/soe)


Tersebutlah disebuah tulisan dari gempa itu yaitu, baca Gempa Yogya, Mengapa Tepat 21Agustus-2010 ?) yang memuat tentang sebuah siklus sebelas, kebakaran dan banjir terjadi, dan ajaib semua membentuk simbol di tanggal kembar

Gempa Jogja 21-Agustus-2010 Sebagai Peringatan Bencana Besar

 


Ada Apakah ini Semua ? Ikuti Pembahasan dan Klik berikut ini

Halaman 1

Berikutnya Halaman Ke 2: …

sebelumnya

Apa yang Terjadi Setelah itu Semua ?

berikutnya
Iklan