~Antara Gempa Jogja, Mbah Marijan & Gunung Merapi

mbah_marijan_tv_oneMengutip wikipedia, Mbah Maridjan: Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Surakso Hargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, 5 Februari 1927 – meninggal di Sleman, 26 Oktober 2010 pada umur 83 tahun) adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando darinya untuk mengungsi. Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982.

Sejak kejadian Gunung Merapi akan meletus tahun 2006, Mbah Maridjanplay_vidio_youtube semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.

Pada tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim. Jasad Mbah Maridjan ditemukan beberapa jam kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya telah meninggal dunia, umumnya kondisi korban yang ditemukan mengalami luka bakar serius. Jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai jenazah Mbah Maridjan pada tanggal 27 Oktober 2010.

G. Merapi dari Tahun 2006 ke Tahun 2010


awan_panas_merapi_14_6_2006_mbah_marijan_selamatPerhatikan dengan seksama gambar diatas, sebuah awan panas merapi tgl 14/6/2006 menyapu bungker kaliadem, dan rumah mbah marijan selamat, ingat tgl 14-juni-2006 Memasuki tahun 2010, maut semakin menjadi-jadi, perhatikan gambar dibawah ini, yang tepat tgl 14-juni-2010 (empat) tahun berselang

Tahun 2010 sebagai perbandingan dengan gambar dibawahplay_vidio_youtube ini 26-oktober-2010, tercatat 1626 hari selang waktu terjadinya antara dua awan panas tsb, dimana rumah mbah marijan tersapu awan panas yang secara tiba-tiba awan tersebut berbelok, tidak seperti tahun 2006.

ANEH .... AWAN PANAS MERAPI 26-OKTOBER-2010 SENGAJA MENGINCAR MBAH MARIJANMengapa awan panas tahun 2010 tersebut berbelok ?


Hingga menewaskan mbah marijan ? apakah mbah marijan tiada diberi peringatan sebelumnya ? (baca Misteri Keanehan Gunung Merapi)Sebuah akibat dari sesuatu sebab yang dapat diambil hikmah dan pelajaran sebagai bagian tanda-tanda play_vidio_youtubekekuasaanNya


play_vidio_youtubeTulisan ini tidak-lah bermaksud menghujat atau berkonotasi jelek terhadap Mbah Marijan, tulisan ini hanyalah meng-kliping perjalanan Kisah Mbah Marijan yang amat terkenal di Indonesia. Ref Bacaan : [‘G]Peringatan Allah sebelum Gempa Yogya, kisah Bacaan [P] eringatan Waspada Gempa Yogya Sebelum Terjadinya

Mbah Marijan Dapat Wangsit


[M] 8/05/2006 12:47 Mbah Marijan Ngaku Dapat Wangsit: Merapi Tidak Anwar Khumaini – detikcom, Sleman – Juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan mengaku mendapat wangsit (petunjuk) setelah melakukan doa dan meditasi selama 2 hari 2play_vidio_youtube malam di lokasi labuhan, Pos II jalur pendakian ke puncak Gunung Merapi.”Wangsit yang saya terima Insya Allah nanti selamat. Tidak akan terjadi apa-apa pada Gunung Merapi,” kata Mbah Marijan saat ditemui detikcom di rumahnya Dusun Kinahrejo, Kelurahan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Kamis (18/5/2006).

mbah_marijan_minta_sesuatuWangsit: Merapi Sedang Membangun


Mbah Marijan tidak menjelaskan detail bagaimana bentuk wangsit yang ia terima. Alasannya, hanya dirinya yang mempu menangkapnya. Inti wangsit: Gunug Merapi tetap aman.”Sekarang ini Merapi sedang membangun. Jadi kami meminta agar masyarakat membantu pembangunan Merapi dengan cara tidak menambang pasir sembarangan dan menjaga Merapi tetap lestari,” katanya. Tokoh masyarakat yang cukup disegani di kawasan lereng Merapi sebelah selatan ini menuturkan, selama dua hari naik ke Merapi, dirinya melakukan meditasi dan doa meminta keselamatan dengan perantara Gunung Merapi. “Saya di sana berdoa, minta kepada Allah dengan ‘lantaran’ Merapi,” katanya. Juru kunci yang mendapat gelar dari keraton Mas Ngabehi Suraksohargo ini naik ke lereng Gunung Merapi pada Selasa 16 Mei pagi bersama dua pemuda. Ia kemudian melakukan meditasi dan doa di lokasi labuhan, yakni Pos II jalur pendakian. Dan Kamis pagi ini, Mbah Marijan telah kembali dengan selamat.

Mbah Marjian Ritual Keliling dengan MemBisu


mbah_marijan_tv_one_2 [M] 18/05/2006 15:46 Mbah Marijan Ritual Keliling Kampung dengan Membisu, Anwar Khumaini – detikcom, Sleman – Setiap malam Jumat, juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan melakukan upacara rutin. Keliling kampung dusun Kinahrejo sebanyak 3 kali dengan cara membisu. Tujuannya agar Dusun Kinahrejo dan sekitarnya selamat dari marabahaya. Demikian juga Kamis (18/5/2006) malam nanti. Mbah Marijan berencana akan keliling kampung dengan membisu. “Acara ritual ini sudah rutin dilakukan setiap malam Jumat. Nanti akan mulai sekitar pukul 23.00 WIB,” kata Mbah Marijan saat ditemui detikcom di Masjid Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Upacara akan dimulai setelah salat magrib, yakni dengan menggelar Yasinan (membaca surat Yasin) di masjid depan rumah Mbah Marijan. Setelah itu, pada tengah malam akan menjalani upacara keliling kampung 3 kali. “Kalau mau ikut monggo. Silakan ramai-ramai. Tetapi tidak boleh ribut. Semua harus bisu,” ajak Mbah Marijan. Ketika detikcom meminta komentar adanya salam dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mbah Marijan mejawab pendek, “Terima kasih.” “Beberapa hari lalu Pak SBY juga sudah menyumbang dana untuk masjid melalui Mbak Yenny (putri Gus Dur, Yenny Wahid),” jelas sesepuh yang mendapat gelar dari keraton Mas Ngabehi Suraksohargo ini. (jon)

Mbah Marijan Bawa Tombak & Keris


murid_mbah_marijan_bawa_keris_bendera[Fenomena TOMBAK & KERIS, ] , Mbah Maridjan Lakukan Ritual Laku Lampah Mbisu , Sleman, Yogyakarta, Jumat Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan sejak Kamis malam hingga Jumat (19/5) dini hari melakukan ritual laku lampah mbisu (berjalan tanpa berbicara atau membisu) mengelilingi wilayah Pedukuhan Kinahrejo, Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk keselamatan warga dari bencana Merapi. Ritual yang dilakukan Mbah Marijan bersama sejumlah warga setempat dan kalangan keluarga serta kerabat dekatnya itu, sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar warga masyarakat Dusun Pelemsari khususnya dan umumnya masyarakat DIY terhindar dari bencana Gunung Merapi. Mbah Maridjan dan para pengikutnya berjalan mengelilingi wilayah Pedukuhan Kinahrejo sebanyak tiga putaran. Setiap putaran jaraknya sekitar lima kilometer, termasuk melewati Pedukuhan Ngrakah dan Kaliadem. Busana yang dikenakan Mbah Maridjan adalah pakaian adat Jawa dan kain batik. Ia memakai alas kaki semacam sandal. Sekitar lima orang pengikutnya juga mengenakan pakaian seperti Mbah Marijan. Sedangkan pengikut lainnya berpakaian biasa.

Salah seorang pengikutnya membawa sebuah tombak yang dibungkus kain berwarna merah putih, dan pengikutnya yang lain membawa sebilah keris dibungkus kain putih. Kegiatan ritual tersebut dimulai sekitar pukul 23.00 WIB, dan sampai berita ini diturunkan masih berlangsung.

mbah_marijan_dan_kerisSebelum kegiatan ritual itu dimulai, dilakukan pembacaan Surat Yasin di Masjid Al Amin Pedukuhan Kinahrejo. Selain Mbah Maridjan, kegiatan di masjid ini juga diikuti sejumlah warga setempat. Pembacaan Surat Yasin berlangung selama satu jam, dimulai sekitar pukul 21.00 WIB. Menurut Lurah Desa Umbulharjo Bejo Mulyono, kegiatan ritual tersebut biasa dilakukan Mbah Marijdan pada setiap malam Jumat. Ia mengatakan laku lampah mbisu ini akan dilakukan terus setiap malam Jumat hingga kondisi atau aktivitas Merapi dirasa aman. Sekitar seratus lebih wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik dari dalam dan luar negeri meliput kegiatan itu. Bahkan sebagian dari mereka ikut mengelilingi wilayah Pedukuhan Kinahrejo bersama rombongan Mbah Maridjan. Kegiatan ritual tersebut dapat pengawalan dari sejumlah aparat kepolisian Polsek Cangkringan, Sleman. Sementara itu, Gunung Merapi yang aktivitasnya masih berstatus awas, hingga Jumat dini hari masih tampak mengeluarkan lava pijar dari puncaknya, dengan jarak luncur tiga hingga empat kilometer ke arah barat daya yakni ke hulu Kali Krasak (Kabupaten Magelang, Jawa Tengah) dan hulu Kali Boyong (Kabupaten Sleman, DIY).

Mbah Marijan Lakukan Laku Lampah Mbisu


mbah_marijan_berperilaku_aneh[Fenomena Ritual Laku Lampah Bisu] Mbah Marijan Melakukan Ritual ‘Laku Lampah Mbisu’ YOGYAKARTA, 19 Mei: Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Marijan (79) sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari melakukan ritual laku lampah mbisu (berjalan tanpa berbicara atau membisu) mengelilingi wilayah Pedukuhan Kinahrejo, Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk keselamatan warga dari bencana Merapi. Ritual yang dilakukan Mbah Marijan bersama sejumlah warga setempat dan kalangan keluarga serta kerabat dekatnya itu sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar warga masyarakat Dusun Pelemsari khususnya dan umumnya masyarakat DIY terhindar dari bencana Gunung Merapi. Mbah Marijan dan para pengikutnya berjalan mengelilingi wilayah Pedukuhan Kinahrejo sebanyak tiga putaran. Setiap putaran jaraknya sekitar lima kilometer, termasuk melewati Pedukuhan Ngrakah dan Kaliadem. Busana yang dikenakan Mbah Marijan adalah pakaian adat Jawa berupa stelan ‘beskap’ dan kain batik. Ia memakai alas kaki semacam sandal. Sekitar lima orang pengikutnya juga mengenakan pakaian seperti Mbah Marijan. Sedangkan pengikut lainnya berpakaian biasa.

Salah seorang pengikutnya membawa sebuah tombak yang dibungkus kain berwarna merah putih, dan pengikutnya yang lain membawa sebilah keris dibungkus kain putih.

Sebelum kegiatan ritual itu dimulai, dilakukan pembacaan Surat Yasin di Masjid Al Amin Pedukuhan Kinahrejo. Selain Mbah Marijan, kegiatan di masjid ini juga diikuti sejumlah warga setempat. Pembacaan Surat Yasin berlangung selama satu jam, dimulai sekitar pukul 21.00 WIB. Menurut Lurah Desa Umbulharjo Bejo Mulyono, kegiatan ritual tersebut biasa dilakukan Mbah Marijan pada setiap malam Jumat. Ia mengatakan laku lampah mbisu ini akan dilakukan terus setiap malam Jumat hingga kondisi atau aktivitas Merapi dirasa aman. Sekitar seratus lebih wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik dari dalam dan luar negeri meliput kegiatan itu. Bahkan sebagian dari mereka ikut mengelilingi wilayah Pedukuhan Kinahrejo bersama rombongan Mbah Marijan. Kegiatan ritual tersebut dapat pengawalan dari sejumlah aparat kepolisian Polsek Cangkringan, Sleman. Sementara itu, Gunung Merapi yang aktivitasnya masih berstatus ‘awas’, hingga Jumat dini hari masih tampak mengeluarkan lava pijar dari puncaknya, dengan jarak luncur tiga hingga empat kilometer ke arah barat daya yakni ke hulu Kali Krasak (Kabupaten Magelang, Jawa Tengah) dan hulu Kali Boyong (Kabupaten Sleman, DIY). (miol/broto)

Mbah Marijan Ritual Bawa Keris


mbah_marijan_shooting_kuku_bima[Mbah Marijan & Kerisnya] 19/05/2006 05:21 WIB, Ritual Keliling Desa Mbah Marijan Khidmat, Mohammad Yanuar Firdaus – detikcom Sleman – Ritual keliling desa yang dilakoni Mbah Marijan dan pengikutnya berlangsung khidmat. Kondisi cuaca di daerah terdekat dari puncak Merapi ini juga terlihat cerah. Dari pantauan Detikcom yang mengikuti jalannya upacara ini, Mbah Marijan berangkat dari rumah tinggalnya pada pukul 23.00 tepat. Bersama lurah Kinahrejo, Bejo Mulyo, dan belasan warga lainnya, Mbah Marijan memulai ritual dengan membaca surah Al Fatihah sebanyak satu kali. Setelah selesai membaca surah tersebut, Mbah Marijan langsung berjalan keliling desa. Juru kunci gunung Merapi ini memakai baju beskap (baju khas Jawa, red) berwarna biru tua dengan blangkon.

Mbah Marijan juga terlihat membawa sebilah keris dengan dibalut kain mori berwarna putih. Pengikut disampingnya membawa tombak dengan dibungkus bendera merah putih. Tidak didapat keterangan mengenai arti dari benda-benda tersebut karena para warga mengikuti syarat ritual ini dengan berjalan keliling kampung dengan membisu.

Menurut informasi yang didapat, Mbah Marijan dan para warga Kinahrejo yang mengikuti ritual ini akan memutari desa sebanyak tiga kali dengan rute yang diambil yaitu daerah Kinahrejo, Ngrakah, Kaliadem dan kemudian kembali ke Kinahrejo. Diperkirakan jarak untuk satu kali putaran terhitung kurang lebih 5 km. Berarti total Mbah Marijan dan pengikutnya akan melakukan perjalanan sepanjang 15 km. Meski demikian Mbah Marijan dan beberapa warga terlihat belum letih meskipun sudah melakukan satu kali perjalanan. Berbeda dengan para wartawan yang mengikuti perjalanannya. Kebanyakan setelah satu kali putaran sudah terlihat capek dan memutuskan untuk kembali ke rumah Mbah Marijan. Hingga berita ini diturunkan Mbah Marijan dan para warga yang mengikuti ritual ini masih melakukan upacara tersebut. Sementara para wartawan sudah banyak yang turun atau pulang. (ahm)

Mbah Marijan Lakukan Ritual Tapa Bisu Keliling Dusun


ki-joko-bodo-dan-mbah-maridjan-[Mbah Marijan & Pengikut aliran Kepercayaan] YOGYAKARTA – Sosok yang selalu mengundang kontroversi selama Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas, Mbah Maridjan, Kamis (18/5) malam melakukan laku prihatin tapa bisu. Dia bersama beberapa orang dari Sanggar Songgo Buwono Yogyakarta berjalan mengelilingi Dusun Kinahrejo tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ritual tapa bisu cukup dikenal di kalangan masyarakat Yogyakarta. Pada malam 1 Sura, misalnya, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya juga melakukan tapa bisu mengelilingi tembok keraton mulai pukul 24.00 sampai menjelang pagi. Tidak ada yang berkata-kata selama ritual tersebut, hanya dengusan nafas yang terdengar.

Proses ritual tradisional itu dimulai dari halaman rumah Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, pukul 21.00 Dia dan empat orang dari Sanggar Songgo Buwono, kelompok aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mengenakan pakaian Jawa lengkap dengan keris terpasang di balik tubuh. Mereka berdoa di masjid yang terletak di sisi barat rumah Mbah Maridjan. Doa-doa dipanjatkan agar masyarakat diberi keselamatan, hidup tenteram dan terhindar dari mara bahaya.

Setelah semua proses doa selesai, mereka kembali ke halaman rumah mempersiapkan diri untuk melakukan ritual tapa bisu.Sebelum ritual dimulai, Mbah Maridjan mengatakan prosesi tersebut merupakan salah satu cara memohon keselamatan pada Tuhan. Tidak hanya untuk dia dan masyarakat sekitar, tetapi juga untuk seluruh warga lereng Merapi. ”Ini untuk mohon pada Yang di Atas agar semua selalu diberi rahmat dan keselamatan. Sebagai manusia, kita wajib berdoa dalam kondisi apa pun dan laku prihatin,” jelasnya. Soal Merapi, dia kembali mengatakan apa yang pernah disampaikan dalam berbagai kesempatan, sudah wajar kalau gunung tersebut batuk. Cukup lama Merapi tidak mengeluarkan isinya, jadi kalaupun sekarang keluar juga tidak masalah.Mbah Maridjan melakukan tapa bisu dengan berjalan kaki mengelilingi Kinahrejo, Kaliadem dan kembali ke rumahnya. Prosesi berkeliling dilakukan tiga kali dan jarak totalnya, sekitar 15 kilometer.

Mbah Marijan Lepas Ayam Putih


mbah_marijan_dan_keris[Mbah Marijan-Bunda Lia Ritual Bersama] Yogyakarta, CyberNews. Juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan dan Pemimpin Pondok Songgo Buwono Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bunda Lia melakukan upacara ritual bersama di kaki Gunung Merapi, Jumat (2/6) dini hari.”Kamis (1/6) siang, Mbah Marijan mendatangi kami di Parangtritis untuk meminjam keris pusaka `cangkung tindik mas` yang digunakan dalam upacara malam ini. Sekarang kami menjumpai Mbah Marijan di Merapi untuk ikut dalam upacara ini,” kata Bunda Lia kepada ANTARA di Yogyakarta, Kamis Malam. Ia menjelaskan sebelum mengikuti upacara ritual bersama itu, dalam perjalan dari pantai Parangtritis, Bunda Lia bersama rombongan melepas seekor ayam putih di setiap perempatan jalan yang dilalui hingga ke tempat tinggal Mbah Marijan di dukuh Kinahrejo, Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Kabupaten Sleman, DIY.

Sekitar 10 orang dengan mengendarai satu mobil dan dikawal sekitar empat sepeda motor bertugas melepas ayam putih tersebut. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa serba hitam. Sebelum melakukan upacara ritual bersama, para peserta dari Kinahrejo maupun Parangtritis yang mengenakan pakaian adat Jawa berkumpul di rumah Mbah Marijan. Mereka melakukan doa bersama kemudian melakukan upacara ritual dengan berjalan mengelilingi dusun-dusun di Desa Umbulharjo. Ritual itu diikuti sekitar 40 peserta. Sepanjang perjalanan mereka tidak berbicara karena memang upacara ritual itu harus dilakukan dengan cara membisu. “Tadi siang, ada kabar yang menyatakan Mbah Marijan mengungsi dari Gunung Merapi. Kami tegaskan, isu itu tidak benar. Mbah masih di sini dan memimpin upacara ini,” kata tokoh di dusun itu yang menjadi salah satu juru bicara rombongan. Beberapa jam sebelum dilakukan upacara ritual bersama, di Yogyakarta beredar isu akan terjadi lagi gempa bumi besar dan Gunung Merapi meletus. Baik Mbah Marijan maupun Bunda Lia menolak menjawab pertanyaan tentang kaitan antara penyelenggaraan upacara tolak bala itu dengan isu yang sempat beredar luas di masyarakat Yogyakarta tersebut. Isu tersebut beredar di tempat-tempat pengungsian korban bencana gempa bumi di DIY.( ant/Cn08 )

Merapi Kembali ‘Berulah’


Selasa, 13/06/2006

merapi_2006[S] 18:07 Status Merapi Turun Jadi Siaga,Bagus Kurniawan – detikcom, Yogyakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menurunkan status Merapi menjadi Siaga pada pukul 11.00 WIB, Selasa (13/6/2006). Sebelumnya, selama sebulan Merapi berstatus Awas. Penurunan status itu dilakukan setelah hasil pengawasan dan evaluasi menunjukkan kondisi aktivitas Merapi terus mereda sejak mengeluarkan awan panas besar pada Jumat, (9/6/2006). Selama tiga hari terakhir ini jarak luncuran awan panas juga semakin pendek dan mereda. Hal itu diungkapan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Ratdomo Purbo kepada wartawan di kantornya, Jl Cendana Yogyakarta, Selasa sore.Penurunan status Merapi tersebut dikeluarkan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Bandung melalui surat no 879/42.02/PVG/2006 yang ditandatangani ketuanya, Yousana OP Siagian. Alasan penurunan status tersebut karena aktivitas Merapi dalam empat hari terakhir terus menurun dan tidak lagi fluktuatif berdasarkan hasil rapat evaluasi pada hari Senin kemarin. Meski statusnya turun, Purbo akan terus memantau perkembangan Merapi. Saat ini awan panas memang masih terjadi dengan intensitas semakin mengecil. Saat dilakukan evaluasi, petugas berkesimpulan aktivitas memang menurun dan tidak fluktuatif pasca-runtuhnya kubah lava 2006 pada hari Jumat 9 Juni. “Itu alasan penurunan status. Tetapi jika dalam perkembangannya dinilai membahayakan atau menimbulkan ancaman bencana bagi warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana, status siaga akan ditinjau kembali,” katanya.

Dia mengatakan setelah mendapat surat dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geolog, Bandung, BPPTK langsung memberitahukan kepada semua pemerintah Kabupaten baik Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang. Pemerintah Provinsi DIY dan Jawa Tengah juga mendapat tembusan surat tersebut. Menurut Purbo, meski statusnya telah turun menjadi Siaga, Merapi masih dinilai rawan untuk pendakian baik melalui jalur selatan Kinahrejo, Cangkringan, maupun dari utara melalui Selo, Boyolali. Demikian pula dengan penambangan pasir serta kegiatan seperti bertani dan berladang di sekitar alur Kali Gendol, Boyong, Krasak dan Sat dalam radius 6 km dari puncak Merapi tetap harus dikosongkan. “Kami masih akan memantau perkembangan aktivitas Merapi. Jika dinilai membahayakan atau menimbulkan ancaman bencana bagi warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana, status siaga akan ditinjau kembali,” katanya. (nrl)

[L] 11:45 Luncuran Wedhus Gembel Merapi Semakin Pendek

Rabu, 14/06/2006


letusan_merapi[R] 11:19 Ribuan Pengungsi Merapi Tinggalkan Barak, Perhatikan dengan seksama gambar diatas, sebuah awan panas merapi tgl 14/6/2006 menyapu bungker kaliadem, dan rumah mbah marijan selamat, ingat tgl 14-juni-2006[ L] 15:33 Luncuran Awan Panas Panikkan Warga Lereng Merapi, [ A] 16:02 Awan Panas Merapi Dekati Pemukiman, Warga Diungsikan Lagi, [S] 16:46 Siaga Merapi Berumur Sehari, Sekarang Awas Lagi, Bagus Kurniawan –

detikcomYogyakarta – Status Gunung Merapi kembali berubah dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Setelah kemarin dinyatakan berstatus Siaga, mulai pukul 15.00 WIB, status Gunung Merapi kembali menjadi Awas. Kenaikan status ini disampaikan oleh Kepala Seksi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyarakarta Subandrio, Rabu (14/6/2006) saat dihubungi melalui sambungan telepon. “Sekitar pukul 12.05 WIB terjadi lagi luncuran awan panas. Luncuran diperkirakan 5 km menuju Kali Gendol. BPPTK menaikkan lagi statusnya menjadi Awas,” kata Subandrio.

awan_panas_merapi_14_6_2006_mbah_marijan_selamatHingga saat ini, luncuran awan panas masih terus terjadi, meki tidak sebesar siang tadi. Warga di sejumlah desa di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, dan warga di Desa Belerante kembali diungsikan. Warga yang baru saja tiba dari pengungsian tadi pagi kembali panik dengan datanganya awan panas secara tiba-tiba dengan ukuran besar ini. Tim SAR sampai saat ini masih sibuk melakukan koordinasi. (jon)

[G] 17:04 Geolog: Aktivitas Merapi Memang Sangat Fluktuatif, [I] 17:20 Indonesia ‘Terikat’ Sabuk Gunung Berapi Aktif, [A] 17:22 Abu Merapi Mencurah Pekat, Jarak Pandang Hanya 1 Meter, [ P] 17:43 Pengungsi Merapi Balik ke Barak dengan Bungkusan Seadanya, [A] 17:47 Aktivitas Gunung Berapi Memang Unpredictable, [A] 18:29 Awan Panas Merapi Capai 6 Km Hingga Dusun Kalitengah, [L] 19:48 Listrik Mati, Evakuasi Warga Merapi Terhambat, [A] 20:31 Awan Panas Meluncur, Hutan di Lereng Merapi Terbakar, [A] 20:46 Awan Panas Merapi Bergulung-gulung dan Bergemuruh, [R] 20:47 Rumah Mbah Marijan Nyaris Dihantam Lahar Panas Merapi, [M] 21:15 Mbah Marijan Bertahan di Kinahrejo, Dikawal 15 Orang, [ D] 21:57 Dikepung Lahar Panas, 2 Orang Terjebak di Bunker Kaliadem

 

Kamis, 15/06/2006


bungker_merapi[M] 06:06 Merapi Masih Luncurkan Awan Panas, [T] 06:34 Terjebak di Bunker Kaliadem, 2 Orang Belum Berhasil Dievakuasi, [ A] 06:46 Awan Panas Skala Besar Meluncur Setiap Setengah Jam, [A] 09:39 Alat Berat Evakuasi 3 Warga yang Terjebak di Bunker Merapi, [K] 09:54 Kaliadem dan Bebeng Porak – poranda Diterjang Lahar Panas, [L] 10:30 Lahar Membara Sulitkan Evakuasi Warga Kaliadem, [ A] 11:46 Awan Panas Berukuran Besar Meluncur 4,5 Km ke Kali Gendol, [B] 12:05 BPPTK Harus Hati-hati Putuskan Status Merapi, [S] 12:06 Status Merapi Meleset, DPR Minta BPPTK Dibekali Alat Canggih, [E] 14:00 Evakuasi Warga Terjebak, 2 Backhoe Keruk Bunker Kaliadem, [A] 15:04 Awan Panas Besar Meluncur ke Kali Gendol, Tim SAR Kaliadem Panik, [E] 15:27 Evakuasi 2 Orang Terjebak dalam Bunker Kaliadem Dihentikan evakuasi_korbanSementara, [ L] 17:09 Lahar di Kaliadem Panas, Sepatu Anggota Tim SAR Meleleh, [M] 17:27 Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Besar, Relawan Berlarian, [2] 18:31 2 Orang Terjebak di Bungker Kaliadem Diduga Tewas,Jumat, 16/06/2006, [A] 06:14 Awan Panas Merapi Muncul Lagi, [K] 08:23 Kedua Relawan di Bungker Kaliadem Ditemukan Tewas, [B] 08:58 Bungker Kaliadem Salah Desain, [S] 11:42 ‘Selamat Datang di Wisata Bebeng’ Hilang Tersapu Material Merapi, Sabtu, 17/06/2006, [M] 12:01 Merapi Luncurkan 7 Kali Awan Panas & 49 Kali Lava Pijar, [L] 10:25 Luncuran Awan Panas Merapi Meningkat Lagi,

Rabu, 12/07/2006 15:45 WIB


Status Merapi Turun Jadi Siaga

18675Merapi diturunkan statusnya dari AWAS ke SIAGA (level III)Berdasarkan analisis dan evaluasi data pemantauan Gunungapi Merapi sepuluh hari terakhir, diketahui telah terjadi penurunan aktivitas Gunung Merapi yang ditunjukkan antara lain:

  1. Data kegempaan secara umum menurun, baik gempa vulkanik, gempa MP, guguran lava, maupun awan panas.
  2. Data SO2 sudah mengalami penurunan.
  3. Intensitas awan panas dan guguran lava pijar menurun, baik jumlah kejadiannya maupun jarak luncurnya. Dalam satu minggu terakhir jarak luncur mencapai maksimum 3 km ke arah K. Gendol.
  4. Kubah lava yang berada di kawah bentukan tanggal 14 Juni 2006, sejak tanggal 25 Juni 2006 tidak lagi mengalami pertumbuhan yang signifikan. Laju pertumbuhan sudah lebih kecil dari 10.000 m³/hari.

Sehubungan dengan hal tersebut maka status aktivitas Gunung Merapi diturunkan dari “AWAS” menjadi “SIAGA” terhitung mulai tanggal 12 Juli 2006, pukul 10.00 WIB. Dengan penurunan status tersebut, maka kepada Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kabupaten Magelang, Pemerintah Kabupaten Klaten, dan Pemerintah Kabupaten Boyolali, berikut Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (SATLAK PB) kami rekomendasikan:

Untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan status SIAGA Merapi.

  1. Selama status masih SIAGA, agar masyarakat tidak melakukan pendakian ke puncak dan kegiatan penambangan pasir, pertanian, perkebunan, dan aktivitas lain di sekitar alur K. Gendol, K. Boyong, K. Krasak, dan K. Sat dalam radius sampai dengan 6 km dari puncak Gunungapi Merapi, karena masih adanya guguran lava pijar dan bahaya awan panas.
  2. Dalam hal terjadi peningkatan kembali aktivitas berdasarkan data hasil pemantauan yang diperkirakan akan menimbulkan ancaman bencana bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana G. Merapi, status “Siaga” ini akan ditinjau kembali.

Mbah Marijan Mendunia


mbah_marijan_janganMinggu, 04/06/2006 07:43 WIB, Mbah Marijan Emoh Diundang ke Piala Dunia :Anwar Khumaini – detikSport, Jakarta – Hampir setiap orang di muka bumi kini memimpikan bisa menonton Piala Dunia langsung dari pinggir lapangan. Tapi tidak buat Mbah Marijan. Juru kunci gunung Merapi itu menolak undangan gubernur Munich untuk hadir di pesta pembukaan Piala Dunia. Tentu saja bukan Christian Ude, sang gubernur Munich, yang datang langsung menyambangi Mbah marijan ke rumahnya di dusun Kinahrejo di lereng Gunung Merapi. Undangan itu dibawa seorang wartawan asal Jerman yang kebetulan sedang dalam tugas liputan, Sabtu (3/6/2006). Menurut pengakuan si wartawan, dirinya mendapat kepercayan khusus dari Ude untuk mengundang Mbah Marijan datang ke Allianz Arena saat pesta pembukaan Piala Dunia tanggal 9 Juni pekan depan.

Tawaran buat pria yang bernama asli Mas Ngabehi Suraksohargo itu juga tak tanggung-tanggung. Bukan cuma tiket stadion yang ditawarkan, tapi juga segala akomodasi selama di Jerman termasuk masalah pengurusan paspor. Jawaban “iya” pasti akan keluar jika tawaran itu diberikan pada Anda. Tapi tidak buat kuncen yang satu ini. Dengan polosnya Mbah Marijan menolak tawaran yang sangat menggiurkan itu. “Aku emoh, ora gelem (tidak mau), aku ini orang kecil, tidak tahu apa-apa, ya emoh. Aku ini orang kecil, sandalku aja sandal jepit, yo hilang keselempit (terselip),” ujar Mbah Marijan ketika ditemui detikcom di serambi Mesjid Al Mubarok, dusun Ketanggo, Bantul, Sabtu (3/6/2006). Wah Mbah, eman-eman (sayang) ditolak. Foto: Mbah Marijan. Tak tertarik lihat langsung Michael Ballack cs. (Bagus Kurniawan/Detikcom) (din/)


Jumat, 30 Juni 2006 – 03:02 wib Gara-gara Ngefans sama Mbah Marijan

iklan_mbah_marijanPT. Sido Muncul, JAKARTA,KCM – Mbah Marijan, Juru Kunci Gunung Merapi, menjadi “Lelaki Pemberani” bersama Chris John, juara tinju dunia versi WBA. Bisa ketemu, bagaimana ceritanya? Gunung Merapi yang sampai kini masih menunjukkan aktivitas vulkaniknya bersamaan dengan gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006 lalu tak disangka membuahkan ide pembuatan variasi iklan minuman berenergi bentuk serbuk Kuku Bima Energi (KBE), salah satu andalan Sido Muncul. Seperti diakui Irwan Hidayat, Presiden Direktur Sido Muncul kepada pers dalam acara peluncuran variasi iklan KBE versi “Lelaki Pemberani” kepada pers di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (29/6), sosok Mbah Marijan tampil dengan keluguan dan kesetiaannya menjaga Gunung Merapi. Mbah Marijan, meski sudah diperingatkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk mengungsi malah kembali lagi ke kediamannya di Kinah Rejo demi menjalankan tugasnya sebagai Juru Kunci gunung setinggi 2914 meter itu. “Sebetulnya, Mbah Marijan itu ya punya rasa takut karena aktivitas Gunung Merapi itu. Gara-gara itulah saya ngefans sama Mbah Marijan,” kata Irwan yang mengaku sempat tak dipedulikan oleh Mbah Marijan saat berkunjung ke kediaman pria bergelar Raden Ngabehi Suraksohargo itu pada Minggu (28/5) lalu. Diperkuat oleh gagasan Harry Tjahjono dalam tulisannya tentang dua lelaki pemberani, inspirasi menampilkan Mbah Marijan sebagai salah satu ikon KBE pun mengemuka.

Sebelumnya, KBE sudah meluncurkan dua variasi iklan televisi komersial bertajuk “Miss Energy” yang dibintangi Aline dan “Bangkitlah Yogya-ku” yang dibintangi Donny Kusuma, Rieke Diah Pitaloka, dan Chris John, juara tinju dunia versi WBA. Sementara, satu variasi lagi yakni versi “Tujuh Belasan” akan tayang mendekati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus mendatang. “Chris John, meski juara dunia juga memiliki rasa takut saat naik ke ring tinju dan ’Lelaki Pemberani’ adalah lelaki yang mampu mengalahkan rasa takutnya sendiri,” kata Irwan seraya menambahkan bakal “Lelaki Pemberani” bakal muncul di layar kaca pada 10 Juli 2006. Pengambilan gambar “Lelaki Pemberani” dilakukan pada 24-25 Juni di lokasi bunker Merapi yang telah porak poranda oleh kekuatan alam. Pengambilan gambar pun dilakukan pula di depan rumah Mbah Marijan.

Di kelas minuman berenergi bentuk serbuk, KBE menguasai 25 persen pasar, menurut Ludwig Brasali, Manajer Produk KBE menjawab pertanyaan KCM, di tempat yang sama. Keberhasilan ini, jelas Ludwig, salah satunya karena variasi iklan yang terus-menerus digarap untuk mengingatkan masyarakat. “Variasi iklan itu memang membantu, khususnya dari segi penjualan,” kata Ludwig seraya menambahkan belanja iklan KBE menembus angka di atas Rp100 miliar. Dalam catatan Ludwig, produk yang dilempar ke pasaran dengan empat macam rasa, antara lain Anggur Merah Bali dan Jeruk Pontianak serta Jambu Biji, itu, satu bulannya mencapai 40 juta sachet. Sementara, penyerapan pasar terbanyak di Jawa, Indonesia bagian Timur, dan Sumatera.

Mbah Marijan Melakukan Ritual


Mbah Marijan Pimpin Labuhan Alit di Gunung Merapi26/08/2006 13:36 WIB Mbah Marijan Pimpin Labuhan Merapi Bagus Kurniawan – detikcom, Sleman – Juru kunci Gunung Merapi, RP Suraksohargo yang lebih dikenal Mbah Marijan memimpin prosesi labuhan alit di Gerbang Srimanganti atau Pos 2 Merapi. Upacara labuhan alit yang jatuh setiap tanggal 30 Rejeb penanggalan Jawa 1939 itu dilakukan untuk memperingati jumenengan dalem atau naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Upacara adat Labuhan Merapi hari ini, Sabtu (26/8/2006) di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan Sleman yang juga menjadi kediaman juru kunci Merapi, Mbah Marijan. Prosesi ini digelar sehari setelah dilakukan upacara labuhan di Parangkusumo Bantul.

Sebelum dilakukan prosesi, pada hari Jumat kemarin telah dilakukan upacara serah terima ubarampe labuhan dari utusan kraton kepada pejabat Kabupaten Sleman di Kecamatan Cangkringan. Dari kecamatan, barang-barang yang akan dilabuh ini pada sore harinya akan diserahkan kepada kepada juru kunci Merapi, untuk disemayamkan. Baru pada hari Sabtu pagi, prosesi labuhan dimulai dipimpin Mbah Marijan bersama beberapa abdi dalem kraton lainnya. Ratusan warga turut hadir memadati halaman rumah Mbah Marijan untuk menyaksikan prosesi tahunan ini.

Sebelum prosesi arak-arakan dimulai, warga yang ingin ngalap berkah sudah ada yang mendaki lebih dulu melalui jalur pendakian bagian selatan. Menjelang subuh sudah banyak warga yang berkumpul di pendopo Srimanganti tempat prosesi labuhan dimulai yakni di Pos 2 di wilayah Kendhit yang merupakan batas hutan vegetasi Merapi. Sejak pagi hingga acara berlangsung langit cerah dengan suhu udara sekitar 20 derajat Celcius. Menjelang dilaksanakan upacara labuhan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi, Merapi tampak jelas, meski beberapa hari sebelumnya gunung itu selalu tertutup kabut. Beberapa barang yang dilabuh sebanyakplay_vidio_youtube 8 macam meliputi, kain sinjang cangkring, semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, selendang cindhe, kain kampuh poleng, minyak wangi, kemenyan ratus, uang kepeng dan beberapa sesaji diantaranya nasi ingkung lengkap danlain-lain. Semua ubarampe labuhan dibawa oleh para abdi dalem. Mbah Marijan langsung memimpin sendiri jalannya prosesi sebagai pembuka jalan. Turut mendampingi selama berlangsung prosesi hingga menuju tempat acara di Pos 2 beberapa anggota Tim SAR DIY dan relawan lainnya.

Setelah berjalan mendaki selama lebih kurang 2 jam, rombongan tiba di tempat upacara. Ratusan orang yang sudah datang lebih dulu maupun yang datang bersamaan rombongan Mbah Marijan langsung duduk di sekitar tempat prosesi. Setelah dilakukan wilangan atau pengecekan satu-persatu barang yang akan dilabuh. Setelah dinyatakan lengkap semua ubarampe labuhan kemudian di tempat yang telah disediakan. Bersamaan dengan dibakarnya kemenyan dilakukan doa bersama memohon keselamatan. Usai dilakukan doa bersama barang-barang yang dilabuh kemudian diperebutkan warga yang ingin ngalap berkah. Ubarampe yang dilabuh itu sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan terutama kepada Sultan, negara Indonesia, Kraton Yogyakarta beserta warga Yogyakarta seluruhnya diberi keselamatan di jauhkan dari berbagai bencana terutama pasca erupsi Merapi tahun ini maupun berbagai bencana dan musibah lainnya.

Labuhan itu juga sebagai persembahan kepada penguasa Gunung Merapi yang dipimpin Eyang Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoro yang kesemuanya sebagai penguasa di Gunung Merapi.
(jon)

Mbah Marijan Di Temui Para Tokoh & Mendapat Award Jawapos


mbah_marijan_dan_jkKamis, 07 Juni 2007, Kearifan Mbah Marijan, Oleh M. Mas’ud Said, Otonomi Award 2007
Berbeda dengan perhelatan tahun-tahun sebelumnya, pada Otonomi Award 2007 ini, JPIP akan menampilkan Mbah Marijan sebagai salah satu pembaca nomine peraih Otonomi Award yang memiliki prestasi dalam pelestarian lingkungan pada pelaksanaan otonomi daerah. Penampilan Mbah Marijan, walaupun tidak langsung (karena direkam), akan menjadi daya tarik tersendiri. Setelah tahun lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir, seakan-akan rating malam Otonomi Award sudah mencapai puncaknya, bahasa Jawanya hampir notok.

Menyadari keadaan dan sesuai dengan falsafah “selalu ada yang baru”, Tim JPIP mengundang DR Datuk Mahathir Muhammad, mantan perdana menteri (PM) Malaysia, yang berhasil meletakkan dasar kesejahteraan bangsanya dengan kemandirian sebagai esensi otda. Karena alasan kesehatan, Mahathir berhalangan hadir. Akhirnya, salah seorang top figur yang “ditampilkan” malam otonomi 2007 adalah tokoh lokal bernama Marijan.

Makna Hakiki Otda

Tulisan ini ingin mendalami keyakinan bahwa justru pada situasi seperti saat ini, saat tokoh formal tak kunjung menjadi teladan, kehadiran sosok yang arif dari lokal -seperti Mbah Marijan- begitu penting dalam pelaksanaan otonomi daerah. Mengapa? Sebab, semua tujuan otonomi di dunia ini adalah kesejahteraan dan kemajuan lokal. Juga tidak ada otonomi tanpa kemandirian dan kemajuan. Kemajuan apa pun tak akan punya makna tanpa perlindungan lingkungan dan keberpihakan pada masyarakat lokal. Untuk hal itu, orang boleh belajar banyak dari Mbah Marijan.

Tidak disangsikan lagi, salah satu tolok ukur mengapa suatu daerah dapat meraih penghargaan ialah bagaimana pimpinan, tokoh masyarakat, termasuk masyarakat dunia usaha dan rakyat, bisa merajut kemajuan berbasis kemandirian, kesejahteraan, keadilan, dan kearifan lokal. Semakin hari kita menemukan kompleksitas pemerintahan dalam konteks otonomi daerah. Harus diakui, hingga enam tahun pelaksanaannya, otda belum bisa memberikan manfaat kepada masyarakat banyak. Beberapa sigi mengindikasikan bahwa otda yang diberikan selama ini belum mengembangkan hak-hak adat, kekayaan adat masyarakat, dan keadilan. Otonomi kita, kata sebagian mereka, hanya membuat raja-raja kecil berserta para tengkulak. Beberapa tahun terakhir, banyak bupati dan wali kota bertanya-tanya, mengapa mereka tak kunjung mendapatkan penghargaan otonomi, padahal APBD mereka besar, investasi mereka tergolong tinggi, dan pembanguan fisik sangat maju pesat. Mereka lupa bahwa tidak semua investasi berguna bagi rakyat. Adakalanya demi investasi, tanah-tanah publik, fasilitas umum, dan tanah rakyat dikorbankan. Sengketa tanah antara negara dan rakyat tidak saja terjadi pada zaman Soeharto, sekarang juga malah merebak.

Ide mengundang Mbah Marijan dalam malam penganugerahan Otonomi Award boleh dibilang cerdas. Terlebih kalau hal itu dikaitkan dengan data hasil sigi beberapa media yang menunjukkan betapa harapan masyarakat akan hadirnya tokoh-tokoh daerah yang bersih dan berwibawa masih jauh dari harapan. Sebagaimana dikeluhkan banyak kalangan, dapat dikatakan, citra para politikus, pejabat, polisi, hakim kita akhir-akhir ini turun di mata rakyat. Mereka suka lupa akan janjinya, dianggap lebih mementingkan diri dan keluarga daripada memperjuangkn kemaslahatan umum.

Kapasitas Mbah Marijan mencintai masyarakat dan komunitasnya, berupa alam dan kecintaan kepada hewan, jiwa manusia, dan lingkungan sekitarnya, termasuk gundukan batu yang ada di sekelilingnya, sensitivitas akan lingkungan, adalah esensi yang justru harus dimiliki pelaksana pemerintahan dalam era otonomi daerah. Di negara paternalistis seperti Indonesia, terutama jika masyarakat mulai bosan dengan pidato pejabat, biasanya tokoh lokal seperti Mbah Marijan akan menjadi alternatif panutan. Di negara lain pun, para tokoh moral seperti Dalai Lama dari pegunungan Tibet dan atau Mother Theresia di Eropa, Mahatma Gandhi dari India, dan tokoh spiritual lainnya selalu menjadi alternatif contoh masyarakat. Bukan pejabat resmi pemerintah. Dilihat dari ilmu komunikasi, kehadiran Mbah Marijan akan mendongkrak moralitas Otonomi Award dengan citra yang dimiliki Mbah Marijan. Yaitu, pengabdiannya kepada lingkungan. Dengan kata lain, otda harus memiliki moral, kurang lebih seperti yang diperjuangkan Mbah Marijan. Sebagaimana diketahui, Mbah Marijan bukanlah tokoh kalangan petinggi dari Istana, bukan pula pimpinan elite partai politik yang sering berjanji membela rakyat kecil. Orang yang rendah hati tersebut bukan juga seorang lulusan sekolah formal dengan gelar berjajar-jajar. Mengapa diundang? Alasannya kurang lebih ialah bahwa dia tokoh yang belum memiliki cacat politik.

Moralitas Otonomi Daerah

Dengan totalitas dalam menjaga lingkungan, bahkan Mbah Marijan memerlukan diri untuk minta maaf dengan jalan bersemedi kepada penguasa gunung (Allah SWT) saat ada ranting tanaman yang patah oleh ulah penduduk atau batu pasir yang menangis dikeruk untuk kepentingan ekonomi manusia melebihi takarannya. Selama lebih dari 40 tahun, dia menyatu dengan alam Merapi dan mengetahui dengan benar napas lokalitas Merapi. Menurut saya, salah satu catatan yang perlu dipelajari para pejabat ialah pesan moral beliau yang dikutip media Juni 1996 bahwa “manusia yang menyuarakan kebaikan akan mendapatkan perlakuan yang baik”. Pernyataan itu pas untuk pejabat dan bupati/wali kota peraih Otonomi Award. Seiring dengan gejala lemahnya kepercayaan rakyat kepada elite (the decline of public trust in elites) dan menguatnya kebutuhan adopsi kearifan lokal (local wisdom), sebetulnya mengangkat sosok Mbah Marijan dalam acara penting sangat membantu menaikkan citra otda. Insya Allah.


M. Mas’ud Said PhD, dosen ilmu pemerintrahan UMM dan ketua DPP Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI). Email: masudsaid@…

abu_mbah_marijan15-April-2007 ANTARA News :: Wapres Hadirkan Mbah Marijan Yogyakarta (ANTARA News) – Tidak seperti umumnya pertemuan politik, penutupan acara Rapat Konsultasi Nasional Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar di Yogyakarta, Minggu sore, justru dilakukan dengan menghadirkan tokoh kharismatik Mbah Marijan. Kehadiran Mbah Marijan sempat membuat pengurus DPD Partai Golkar se-Indonesia terkejut. Mbah Marijan hadir dalam acara penutupan bukan karena ia telah masuk ke partai berlambang pohon beringin tersebut, namun atas undangan Ketua Umum DPP Parta Golkar Jusuf Kalla serta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Menurut Jusuf Kalla, kehadiran Mbah Marijan merupakan kehormatan bagi Partai Golkar, karena Mbah Marijan telah memberikan ketauladanan, disiplin, serta amanah dalam menjalankan tugasnya. “Mbah Marijan tegas dan mampu mengambil keputusan dengan segala risikonya,” kata Jusuf Kalla


16/04/07 08:50 Mbah Marijan “Masuk” Golkar
mbah-marijan_jadi_lakonYogyakarta (ANTARA News) – Mbah Marijan ikut-ikutan berpolitik?. Mbah Marijan masuk Partai Golkar?. “Luar biasa”, mungkin itu kata yang pas. Dan kenyataannya memang mbah Marijan, si “pawang” Gunung Merapi, benar-benar “masuk” Partai Golkar. Namun bukan sebagai anggota, tetapi justru mendapatkan kehormatan untuk memberi “khotbah” kepada para pimpinan Partai Golkar. “Untuk menutup Rapat Konsultasi Nasional DPP Partai Golkar ini, saya minta Mbah Marijan yang menutupnya dan memberikan pidatonya,” kata Ketua Umum DPP Partai Golkar, Jusuf Kalla. Menurut Jusuf Kalla kehadiran Mbah Marijan merupakan kehormatan bagi Partai Golkar, karena Mbah Marijan telah memberikan ketauladanan, disiplin, serta amanah dalam menjalankan tugasnya. “Mbah Marijan tegas dan mampu mengambil keputusan dengan segala risikonya,” kata Jusuf Kalla.

Mbah Marijan yang datang dengan pakaian kebesarannya, beskap kain surjan warna hijau tua lengkap dengan keris terselip di punggungnya. Dengan sikap tetap bersahaja khas “Kawulo Dalem”, Mbah Marijan memberikan khotbahnya, dengan menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. Yang tak kalah hebatnya, pidato Mbah Marijan justru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Pokoknya Mbah Marijan pidato saja, nanti saya yang menterjemahkan. Opo tumon,” kata Sri Sultan HB X menggunakan bahasa Jawa sambil meminta Mbah Marijan berpidato. Di hadapan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla serta seluruh Ketua DPD se Indonesia, Mbah Marijan tanpa canggung berpidato.

“Yang terpenting dengan niat bismillah, saya jalankan tugas yang dibebankan oleh Sri Sultan HB IX,” kata Mbah Marijan, yang mengaku memulai tugasnya sebagai “juru kunci” Gunung Merapi sejak 1974. Selama menjalankan tugas, tambahnya, harus dijalaninya dengan keiklasan. Bahkan, tambah Mbah Marijan, ketika ia diminta membintangi iklan sebuah produk jamu, seluruh honornya diserahkannya untuk pembangunan masjid dan keperluan sosial kemasyarakatan lainnya. Sifat iklas, disiplin, kuat memegang amanah dan berjiwa sosial yang tinggi dari Mbah Marijan inilah yang ingin “ditularkan” kepada kader-kader Partai Golkar. Tak salah jika Jusuf Kalla meminta para kadernya untuk bisa meniru ketauladanan dari Mbah Marijan.

“Beliau (Mbah Marijan) disiplin dan betul-betul memegang amanah dalam menjalankan tugasnya. Bukan berarti kita tidak mampu, tetapi Mbah Marijan telah memberikan ketauladanan,” kata Jusuf Kalla. Bagi Mbah Marijan, kehadirannya di tengah-tengah pimpinan Partai Golkar menjadi sebuah catatan tersendiri. Keiklasan, ketauladanan dan sikap amanah Mbah Marijan telah membawanya “menembus batas” sekat duniawi. (*)


Selasa, 02/10/2007 21:41 WIB Sutiyoso Temui Mbah Maridjan di Lereng Merapi

mbah_marijan_tewas_202/10/2007 21:41 WIB Sutiyoso Temui Mbah Maridjan di Lereng Merapi, Bagus Kurniawan – detikcom, Sleman – Sehari setelah menggelar deklarasi sebagai Calon Presiden (Capres) 2009, Sutiyoso melawat ke Yogyakarta. Pria yang sering disapa Bang Yos ini menemui juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan di kediamannya Dusun Kinahrejo Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan Sleman.

Dalam safari politiknya di Yogyakarta ini, Bang Yos meminta dukungan resmi Mbah Maridjan untuk maju mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2009 nanti. Dalam pertemuan yang dibungkus dalam acara buka bersama dengan warga dusun Kinahrejo itu, Sutiyoso datang bersama dengan bos Sido Muncul, Irwan Hidayat. Sutiyoso yang datang mengenakan kemeja batik itu langsung disambut Mbah Maridjan di depan rumah. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, Bang Yos dipersilakan masuk ke dalam rumah Mbah Maridjan. Keduanya sempat terlibat dalam obrolan dengan menggunakan Bahasa Jawa. Awalnya Sutiyoso menanyakan kabar Mbah Maridjan, serta bertanya seputar keadaan lingkungan Mbah Maridjan. Di sini saya bersama dengan keluarga, anak saya ada di sini, semua saudara saya di sini,” kata Mbah Maridjan. Mbah Maridjan juga menerangkan kepada Sutiyoso tentang kondisi rumah, gambar karikatur Mbah Maridjan serta foto-foto Sultan. Setelah itu, Mbah Maridjan meminta Sutiyoso untuk mengisi buku tamu yang tersedia di ruang tamu.

“Nanti saya minta ngisi buku tamu di situ, biar nanti yang pada datang ke sini kenal,” tutur dia. Kepada Mbah Maridjan, Sutiyoso mengaku senang bertemu dengannya. Oleh karena itu, dia berharap Mbah Maridjan bersedia memenuhi undangan untuk datang ke Jakarta. Dengan sopan dan bahasa Jawa bercampur Bahasa Indonesia, Mbah Maridjan menyatakan dirinya bila tidak ada perintah dari Ngraso Dalem Sri Sultan tidak akan ke mana-mana. Sebab dirinya hanya sebagai orang kecil saja. “Saya tidak mau orang kecil mengaku jadi orang besar, orang kerdil mengaku jadi orang tinggi,” terang Mbah Marijan. Mendengar statemen Mbah Maridjan, Sutiyoso memberikan pujian. “Anda hebat, ajaran Anda luar biasa,” puji purnawirawan letnan jenderal yang saat ini masih menjabat Gubernur DKI Jakarta itu. (bgs/asy)

Semboyan Iklan Kuku Bima “Rosa”


mbah_marijan_shooting_kuku_bima_rosaRADAR SEMARANG Rabu, 20 Des 2006, mbah Marijan Menjadi Lakon Sido Muncul Santuni 1.000 Anak Yatim
KARTASURA- Acara pemberian >Bantuan PT Sido Muncul Kepada Anak Yatim Piatu di Solo< — yang dipusatkan di Panti Asuhan Mardhatillah, Kartasura — berlangsung supermeriah. Kemeriahan itu bisa dilihat dari hadirnya 1.000 anak yatim. Ribuan anak yatim itu merupakan perwakilan dari 15 panti asuhan di Solo, Sragen, Sukoharjo, dan Karanganyar. Acara tersebut juga dihadiri Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat, para bintang iklan produk PT Sido Muncul seperti Anna Maria, Dony Kusuma, Ikang Fawzi, Renald Kasali dan juru kunci gunung Merapi Mbah Marijan.

Kehadiran para artis ibukota tersebut membuat para anak panti dan juga warga sekitar, antusias. Maklum, selama ini mereka hanya bisa melihat wajah para artis itu lewat layar kaca. Jadi, begitu rombongan turun dari mobil, anak-anak tersebut langsung berebut berjabat tangan dan foto bersama. Tak ketinggalan Mbah Marijan, tokoh yang memopulerkan istilah >rosa rosa< juga menjadi incaran warga yang ingin melihat langsung sosok “Presiden Gunung Merapi” itu. Akibat serbuan warga itu, membuat tokoh dari Desa Kinahrejo tersebut kewalahan. Meski demikian, dengan sabar Mbah Marijan menyalami para ibu dan tamu yang hadir sembari tetap mengembangkan senyum. Bahkan begitu naik ke atas panggung, serempak para tamu undangan langsung menyerukan slogan yang khas dari Mbah Marijan dengan penuh semangat. Melihat sambutan seperti itu, yang bersangkutan malah mengajukan protes

“Sanes rosa-rosa (Bukan rosa-rosa), tapi pakai u, rusa rusa,” protes Mbah Marijan yang langsung disambut gelak tawa tamu undangan yang memadati halaman panti asuhan Mardhatillah. Meski agak molor, namun acara yang dipandu salah satu bintang produk Kuku Bima Energi, Dony Kusuma berjalan meriah. Anak-anak panti terlihat begitu antusias mengikuti game dan hiburan yang diberikan bintang tamu. Bantuan senilai Rp 100 juta tersebut diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat dan diterima Ketua Panti Asuhan Mardhatillah Siti Taurat. Sedang penyerahan bantuan untuk masing-masing panti asuhan diberikan secara berurutan dari bintang iklan maupun dari tim marketing PT Sido Muncul kepada masing-masing perwakilan panti asuhan. Para perwakilan pun tak mau buang kesempatan, hampir semua artis yang ada disalami.

Ditemui di sela-sela acara, Public Relation Manager PT Sido Muncul Nanik R Sunarso mengatakan kegiatan tersebut merupakan kali ke-9 digelar PT Sido Muncul. Pemberian bantuan sendiri sudah dilakukan di delapan kota di Indonesia lainnya. “Dalam rentang waktu tiga bulan terakhir ini, kami telah melakukan kegiatan serupa di kota lainnya, seperti di Makasar, Banjarmasin, Bandung, Surabaya, Tangerang, Jakarta, Medan, dan Palembang dan kali ini di Solo,” terang Nanik. Dia menambahkan, kegiatan tersebut memang menjadi agenda PT Sido Muncul. Ssedang dana bantuan sendiri diambil dari dana iklan yang ada. Sebelumnya, PT Sido Muncul telah mengalokasikan dana untuk membantu anak-anak yang kurang mampu melalui beberapa yayasan dan panti asuhan.

Irwan Hidayat sendiri, dalam sambutannya mengatakan berharap bantuan dari Tolak Angin dan Kuku Bima Energi yang diberikan dapat membantu anak-anak yang kurang mampu, khusunya dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Meski nilai bantuan ini masih jauh dari kebutuhan, kami berharap dapat meringankan beban panti asuhan,” ujar Irwan.(mg3)


RADAR JOGJA Jumat, 06 Apr 2007, Tambah Vega ”Ngatini” dan M Rachman

iklan_kuku_bima_pitaloka_donyMbah Marijan Syuting Lagi di Kaliadem

SLEMAN – Seorang tokoh masyarakat, tiga selebritis dan dua jawara tinju kemarin dipertemukan di lereng Gunung Merapi. Lima orang yang namanya sudah populer di masyarakat itu bertatap muka dan ngobrol di kawasan wisata Bebeng, Kaliadem, Cangkringan. Mereka adalah Juru Kunci Gunung Merapi Mas Panewu Surakso Hargo atau Mbah Marijan, Doni Kesuma, Rieke Dyah “Oneng” Pitaloka, Vega “Ngatini” yang kerap tampil di tayangan Empat Mata, Chris John dan M Rachman. Dua nama terakhir adalah petinju yang sedang ngetop di atas ring tingkat nasional maupun internasional.

Lantas, untuk apa mereka dipertemukan? Kehadiran mereka di kawasan wisata berhawa sejuk itu untuk syuting iklan Kuku Bima Energi Sido Muncul. “Ini hari kedua pengambilan gambar,” terang Dirut Sido Muncul Irwan Hidayat kepada wartawan di sela-sela shooting, kemarin.Iklan tersebut berdurasi 20 detik yang lokasinya mengambil tempat persis di atas jurang sisi utara. Irwan mengatakan, pengambilan gambar kemarin merupakan pengambilan gambar keempat terhadap Mbah Marijan yang khas dengan kemeja batik dan kopiah warna hitam. Sebelumnya, Mbah Marijan bersama Chris John pernah syuting di lokasi sama. Pengambilan gambar berikutnya saat pelepasan karyawan pada mudik Lebaran lalu di Candi Prambanan. Irwan mengatakan, pada pembuatan iklan kali ini terdapat dua nama baru. Yakni Vega “Ngatini” dan M Rachman. Saat ditanya mengapa Sido Muncul masih memakai Mbah Marijan untuk iklan, Irwan menjawab simpel. “Mbah Marijan dengan rosa-rosanya membuat penjualan Kuku Bima melonjak empat kali lipat,” terangnya. Sementara itu, kehadiran Mbah Marijan, Doni Kesuma, Rieke, Vega, Chris John dan M Rachman mengundang perhatian masyarakat yang sedang berkunjung ke Kaliadem. Mereka ikut menyaksikan pengambilan gambar di bawah awan yang menggantung di langit, mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Bahkan, tak sedikit mereka yang berebut salaman dan mengajak foto bareng bersama Doni, Rieke dan Vega usai pengambilan gambar. (uki)

[ 28 Nov 2007 ], MBAH MARIJAN JURU KUNCI MERAPI RESMIKAN PERLUASAN PABRIK KUKU BIMA ENERGI SIDO MUNCUL


marijan_dan_kode_66 Jumat (23/11), bertempat di Ungaran, Semarang diadakan peresmian perluasan pabrik Kuku Bima Energi. Pabrik ini diresmikan oleh Juru Kunci Merapi yang juga bintang iklan Kuku Bima Energi, Mbah Marijan dengan didampingi oleh Direktur Utama PT Sido Muncul, Irwan Hidayat serta para bintang iklan Kuku Bima Energi lainnya seperti Rieke Diah Pitaloka, Donny Kesuma, Vega Darwanthi, Ade Rai, Chris John, M. Rachman dan Trio Macan.Tampak hadir dalam kesempatan ini adalah seluruh jaringan distribusi Sido Muncul yang merupakan ujung tombak penjualan produk-produk Sido Muncul yang pada hari sebelumnya diadakan acara silaturahmi dengan keluarga besar Sido Muncul.

Prosesi peresmian perluasan pabrik diawali dengan musik Sinten Remen pimpinan Djaduk Ferianto dan diteruskan dengan Monolog Butet Kerta Radjasa serta hiburan dari para bintang seperti Vega Darwanthi dan Trio Macan.

Perluasan plant produksi Kuku Bima Energi berlokasi di area pabrik PT Sido Muncul Jl. Soekarno Hatta KM 28 Desa Bergas Klepu Ungaran, Kab Semarang. Unit baru ini dibangun dengan luas 5.000 m2 dengan luas bangunannya 10.000 m2 . Pada bangunan baru ini dilengkapi sarana yang lebih modern yakni menggunakan high speed machine / mesin berkecepatan tinggi dan mampu melakukan reject terhadap kemasan yang tidak memenui standar, mesin pencampur menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi sehingga menjamin homogenitas produk, mesin pengering menggunakan drying conveyor yaitu pengeringan dengan pengkondisian kelembaban sehingga cukup memerlukan termperatur rendah yang dapat menjamin zat aktif tidak akan rusak, packing sekunder menggunakan mesin yang mampu melakukan kontrol jumlah dengan kecepatan yang tinggi secara otomatis dan sistem racking di semua gudang dapat menjamin pengaturan FIFO dan mempermudah pengelompokan bahan. Bangunan terintegrasi, dari gudang bahan sampai produk jadi, ada dalam satu lokasi sehingga menjamin proses yang berkesinambungan dimana tiap ruang dikondisikan (kelembaban dan suhunya) sesuai persyaratan proses produksi yang dilakukan.

Dengan adanya perluasan pabrik baru ini Kuku Bima Energi ini bisa diproduksi hingga 400 ton / bulan atau 100 juta sachet / shift per bulan, 5 kali lipat dari hasil produksi sebelumnya.

Irwan Hidayat – Direktur Utama PT Sido Muncul mengatakan sangat bersyukur dengan diresmikannya perluasan pabrik baru Kuku Bima Energi. ”Kami sangat berterima kasih kepada para bintang iklan kami terutama Rieke Diah Pitaloka dan Donny Kesuma yang sejak awal bergabung dengan kami untuk memasarkan produk Kuku Bima Energi turun ke pasar-pasar bersama kami. Juga kepada bintang iklan lainnya seperti Wynne Prakusya, Ade Rai, Chris John, M. Rachman, Vega ”Ngatini” Darwanthi, Trio Macan dengan personelnya Lia, Dian dan Eva, Mbah Marijan dan seluruh bintang iklan Kuku Bima Energi lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Juga kepada seluruh karyawan dari bagian Produksi, R & D dan seluruh staf yang ikut menjadikan Kuku Bima Energi dengan posisi seperti saat ini. Dan yang tak kalah pentingnya juga karena peranan rekan media yang membantu program-program khusus kehumasan kami”.

Kuku Bima Energi pelopor minuman energi rasa, sejak diluncurkan 23 April 2004 lalu langsung mendapatkan sambutan yang baik dari para konsumen bahkan sudah bisa menempati peringkat dua bahkan satu di beberapa daerah untuk kategori minuman energi.

”Selama 18 tahun minuman energi selalu berwarna kuning, kami adalah yang pertama mengeluarkan minuman energi dengan berbagai rasa selain original, ada rasa anggur, jambu, jeruk, kopi dan teh. Karena permintaan pasar yang terus meningkat inilah maka kami putuskan untuk memperluas pabrik Kuku Bima energi”, tambah Irwan.

Diharapkan dengan diresmikannya pabrik baru Kuku Bima Energi ini dapat mengantisipasi permintaan pasar sehingga perluasan pabrik dan modernisasi pabrik sesuai keadaan saat ini perlu dijalankan.(PRDept/22/XI/07)


ROSA-ROSA, sebuah idiom yang kebetulan, benarkah kebetulan dengan mila ROSA di artikel ‘Gagak’ Allah sebelum Gempa Yogya, sekali benarkah kebetulan atau ada yang mengatur ? (baca Tidak Ada yang Kebetulan)

Kode Mbah Marijan Sudah Dituliskan Sebelumnya


Sebuah keanehan muncul dari rentang waktu gempa yogya 21-agustus-2010 dan letusan merapi tgl 26-oktober-2010, tercatat itulah 66 hari dari rentang waktu itu. Sekali lagi 66 hari setelah gempa yogya yang memecahkan empat umpak keraton yogyakarta, maka enam puluh enam hari itulah beliau meninggal dunia. Apakah ada yang aneh dengan 66 itu ?marijan_dan_kode_66

Itulah bentukan dari nama beliau, MARIJAN, dimana tersusun alfabet dari huruf itu adalah M=13, A=1, R=18, I=9, J=10, A=1, N=14, kesemua itu berjumlah 66.

Nilai 66 hari adalah sebuah rentang waktu yang mudah di-ingat sebagai nilai kembar yang pernah tertulis sebelumnya, jauh kedua peristiwa itu terjadi. Tulisan 66 itu dapat dijumpai pada ulasan Tanda Tanda Sebelum Gempa Yogya atau artikel Sebelum Gempa Yogya 27-mei-2006. Dengan jelas kode 66 itu mengarah pada sosok sang juru kunci, beliaunya adalah mbah marijan, cuplikan tulisan itu (posting 20-november-2009), sebelum mbah marijan tewas akibat luncuran awan panas merapi …. 66 adalah sebuah makna yang dalam, terbentuk dari 1+2+3+…+11=66, yang merupakan kebalikan dari 99. Jika A=1, B=2 … MERAPI=62, sehingga 62+66=128 yang merupakan bentuk sederhana 1+2+8=11 (SEBELAS)

 

Ada apa dengan SEBELAS ? Klik Penjelasan berikutnya

Halaman 1

Berikutnya Halaman Ke 2: …

sebelumnya

Apa yang Terjadi Setelah itu Semua ?

berikutnya
Iklan