Misteri Aneh Larung Sesaji Gunung KELUD

[Penting]

Sebelum melihat,  membaca atau menonton vidio yang ada di situs  ini, perlu memahami bahwa situs ini bukanlah situs Ramalan, gotak gatik matuk atau Paranormal,detil penjelasan sbb  Beda Paranormal VS Hamba Allah


Ada pelajaran bagus di awal ramadahn ini mirip dengan artikel (Wangsit Lagi, Bencana Lagi ? Fri Jun 9, 2006 10:46 am), kali ini larung lagi, malah suhu naik. Berikut beritanya , lihat tanda ,merah: sumber JawaPos

RADAR KEDIRI    ,  Rabu, 12 Sept 2007,  Suhu Kawah Kelud Naik,   Lebihi Batas Normal, Pengunjung Diminta Waspada
KEDIRI- Awas! Aktivitas Gunung Kelud mulai meningkat. Suhu air kawahnya melebihi batas normal. Menurut Khoirul Huda, petugas Pos Pengamat Gunung Kelud, perubahan aktivitas itu terjadi sejak Senin malam, sekitar pukul 19.00. Tepat sehari setelah prosesi larung sesaji yang digelar di sana pada Minggu pagi. “Suhunya naik menjadi 33 derajat celcius. Normalnya 30 derajat,” ujarnya saat ditemui Radar Kediri di posnya, kemarin. Peningkatan suhu air kawah itu, ungkap Khoirul, diiringi sejumlah peristiwa lain. Yaitu, keluarnya bau belerang yang semakin menyengat dan terjadinya gempa vulkanik hingga 16 kali.

Perubahan ini dirasakan sejumlah pekerja yang sedang menggarap outlet. Yaitu, tempat pembuangan air kawah yang akan dijadikan kolam renang air hangat. Jaraknya sekitar satu kilometer dari kawah. Sekitar pukul 09.00, kemarin pagi, tiba-tiba mereka mengeluh sesak napas. “Mereka (pekerja) datang ke sini (kantor pengamat) untuk melapor,” jelas Khoirul. Para pekerja tersebut memang berasal dari desa setempat, Sugihwaras. Khoirul menduga, sesak napas yang mereka alami merupakan reaksi dari gas yang dihirupnya. “Biasanya dari kawah yang muncul CO2 dan H2S. Tetapi, kita tidak bisa memastikan,” katanya. Untuk menjaga kemungkinan terburuk, dia lantas melapor ke Badan Kesbanglinmas Kabupaten Kediri. Saat itu juga, atas permintaan badan kesbanglinmas, loket masuk kawasan Kelud ditutup sementara sekitar dua jam. Selanjutnya, pengunjung yang masuk ke kawasan wisata dilarang mendekati kawah. “Kami khawatir sewaktu-waktu terjadi letupan gas membahayakan. Jadi, sementara ini, jangan ke kawah dulu,” saran Khoirul. Meski demikian, dia mengatakan bahwa status gunung berapi yang pernah meletus pada 10 Februari 1990 pukul 11.41 itu masih aktif normal. “Kita lihat dulu perkembangannya. Bisa kembali seperti biasanya atau tidak,” lanjut pria berkacamata ini.

Dia menerangkan, meski ada kenaikan suhu, belum bisa dipastikan bahwa gunung akan meletus. Sebab, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. Di antaranya dengan melihat seismik, deformasi, serta unsur kimiawi air kawah. Kenaikan suhu itu sendiri merupakan gejala yang wajar pada gunung berapi aktif seperti Kelud. “Makanya, besok wisatawan tetap boleh masuk. Tetapi, jangan ke kawah. Pekerja juga bisa kembali kerja,” tutur Khoirul. Lebih lanjut dikatakannya, untuk menentukan kenaikan status gunung berapi, harus melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang berada di Bandung.

Pengamat gunung berapi seperti dia hanya bertugas mengumpulkan dan mengirimkan data yang kemudian diolah di Kota Kembang tersebut. “Setelah itu, hasil dari Bandung, naik atau tidaknya status, disampaikan ke Pemkab Kediri untuk menentukan langkah selanjutnya,” jelas Khoirul. Untuk itu, dia meminta masyarakat tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa. Sementara itu, sejumlah pejabat pemkab kemarin langsung meluncur ke lokasi. Mereka mendatangi kantor Khoirul untuk memantau keadaan. Di antaranya adalah Kepala Kantor Pariwisata Mujianto, Kabid Linmas Bakesbanglinmas Dedy Sadria, Plt Kepala Dinas Kimpraswil Moh. Mir’an, dan Kabag Humas Pemkab Sigit Rahardjo. Saat ditemui di rest area, Sigit mengaku, kedatangan mereka karena dilatarbelakangi kepanikan warga Desa Sugihwaras. “Kebetulan kami ada di Ngancar, ada evaluasi acara kemarin (larung sesaji, Red),” katanya. Dia menegaskan, kondisi Gunung Kelud baik-baik saja. Hanya ada kenaikan suhu. Bahkan, wisatawan tetap boleh berkunjung. “Tetapi, memang jangan sampai ke kawah. Kalau ke gardu pandang tidak apa-apa,” tuturnya. (dea)

Sedangkan berita untuk larungnya adalah

 ……. semoga yang melarung tambah sadar, bahwa perbuatan mereka sia-sia belaka

larung_sesaji_gunung_kelud RADAR KEDIRI , Senin, 10 Sept 2007,  Melihat Prosesi Larung Sesaji di Kawah Gunung Kelud (1)Bangun Dini Hari, Tidurnya di Bak Pikap
Prosesi larung sesaji kembali digelar oleh Pemkab Kediri. Walaupun pengunjung yang datang tidak seramai tahun lalu, tapi antusiasme masyarakat tidak berkurang. Termasuk para peserta pawa.

PUSPITORINI DIAN H., Kediri

Pawai larung sesaji itu benar-benar menarik minat masyarakat. Tidak hanya orang tua, anak-anak pun rela berjejal di sekitar lokasi. Perhatian mereka, sebagian, tertuju pada dua gadis cantik di urutan ketiga dalam pawai. Dua gadis itu ditandu beberapa pemuda yang berdandan ala prajurit. Laiknya selebritis, berbagai jenis kamera sibuk dijepretkan. Baik ponsel maupun kamera dari jenis tercanggih. Sang gadis yang berdandan ala putri kerajaan itu pun tersenyum manis. Tetapi, siapa sangka, perjuangan panjang harus dilalui Ringgit dan Patrick, nama dua gadis itu. Seperti diakui Ringgit, gadis asal Kras ini harus rela mengurangi waktu tidurnya.

“Bangun jam dua (pukul 02.00, Red), masalahnya jam tiga (pukul 03.00, Red) harus berangkat ke sini (Gunung Kelud, Red),” terang Ringgit. Bisa dibayangkan, dinginnya hawa di pegunungan harus dirasakan oleh Ringgit dan enam anggota rombongan lainnya. Mereka memang harus datang pagi-pagi. Karena baik Ringgit maupun Patrick harus didandani lebih awal. Belum lagi, mereka harus menempuh perjalanan dari Kras-tempat rombongan menginap-menuju aula parkir yang ada di puncak gunung yang menjadi lokasi berkumpul sementara para pengisi acara dengan naik pikap. Berbagi dengan peralatan karawitan milik Kantor Pariwisata lainnya.

“Dingin sekali, dikuat-kuatin aja,” aku Ringgit saat ditanya rasanya menempuh perjalanan sepagi itu. Bahkan, karena dingin yang menusuk tulang itu membuat Ringgit memilih tidak mandi. Hal sama juga dilakukan oleh Patrick. Siswi SMAN 1 Kediri ini juga memilih langsung didandani. Tentu saja, setelah cuci muka. “Dingin mbak,” ujarnya. Bila rombongan Ringgit dan Patrick memilih datang dini hari, rombongan dari SMAN Plosoklaten memilih menginap di aula yang ada di lokasi parkir wisata Gunung Kelud. Bersama 36 siswa lainnya dan guru, mereka telah mendatangi lokasi larung sesaji sejak Sabtu. “Datang tiga sore, terus gladi resik,” jelas Anik Fitria. Siswa kelas X SMAN 1 Plosoklaten dan teman-temannya menjadi pengiring putri kerajaan dan berada di barisan sembilan.

Tetapi, selama menunggu dirias, Anik mengaku tidak bisa tidur. Maklum saja, menginap di puncak gunung menjadi pengalaman pertama baginya. Untuk menghilangkannya, pukul dua dini hari, dara 15 tahun ini memilih berjalan menuju kawah. “Dengan pembimbing. Jadi lumayan hangat,” imbuhnya. Paginya, seperti pengisi acara lainnya, Anik memilih tidak mandi. Tetapi, ada alasan lainnya mengapa Anik dan peserta lain tidak mandi. Ternyata air yang ada di kamar mandi tidak lagi mengalir. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas. Hanya satu ember. Tidak hanya air yang terbatas, tidak ada ruang ganti baju membuat para pengisi acara juga ekstra berpikir keras saat harus berganti baju. Akhirnya, mereka harus rela berganti pakaian di balik lembaran kain. Bergantian dengan teman-temannya. Persiapan lainnya juga harus dilakukan oleh para sesepuh Desa Sugihwaras. Sebanyak 17 uba rampe (sesajian) harus mereka siapkan. Di antaranya tumpeng setinggi satu meter lengkap dengan lauk-pauknya. Selain itu harus disediakan bubur tujuh warna dan buah-buahan berwarna merah dan hijau. “Cuma enam orang yang menyiapkan sehari penuh,” jelas Pj Kades Sugihwaras Susiadi.

Hanya khusus memasak lodho, Susiadi mengaku harus wanita tua yang melakukan. Sayangnya, Susiadi tak bisa menyebut alasannya. “Tradisinya seperti itu,” dalihnya. Untuk menyiapkan berbagai sesajian itu, Susiadi mengaku harus mengeluarkan dana hingga Rp 1,5 juta. Meski butuh waktu sehari semalam, Susiadi mengaku tidak banyak mengalami kesulitan saat menyiapkan sesaji. Termasuk menyiapkan tumpeng. “Hanya menempelkan adonan beras dan ketan saja yang susah,” jelasnya. Memang, tidak seperti tumpeng biasa, kali ini mereka harus menggunakan kerangka. Dibutuhkan enam kilo beras dan tiga kilo beras ketan untuk membuat tumpeng ini. Tetapi, kelelahan dan perjuangan para pengisi acara ini terbayar ketika acara larung sesaji berjalan lancar. Sejak diberangkatkan Bupati Kediri Sutrisno, sesajian akhirnya sukses dilarung ke kawah Gunung Kelud. Namun, tidak seperti tahun sebelumnya, tidak semua pengunjung mengikuti prosesi larung sesaji ini. (bersambung)

Bayi Rakasa Kelud ‘Berulah’ Di Tgl Kembar 2-2-2014


Waspada kepada yang kembar, terjadi setelah sekian lama bayi raksasa kelud ‘tidur’, Tepat tgl 2-2-2014, maka status, Minggu, 02/02/2014 14:47 WIB Statusnya Dinaikkan Jadi Waspada, Gunung Kelud Ditutup untuk Wisatawan

anak-kelud-Kediri – Status Gunung Kelud di Kabupaten Kediri dinaikkan dari Normal menjadi Waspada. Obyek wisata itu kini disterilkan dari wisatawan dengan jarak 2 kilometer. “Sesuai rekomendasi PVMBG kita tutup,” kata kepala Pos Pengamantan Gunung Kelud Khoirul Huda kepada wartawan, Minggu (2/2/2014). Akibat peningkatan status ini, pukul 09.40 WIB pagi tadi seluruh wisatawan yang sedang berkunjung di obyek wisata Gunung Kelud diimbau untuk segera meninggalkan obyek wisata, Gunung Kelud Waspada, Bupati Kediri Minta Jajaran Siaga DAN Muncul Gelembung di Sekitar Anak Gunung Kelud

Bayi Rakasa Kelud Meletus 11 (Kembar)  Hari Setelah ‘Berulah’ Tgl 2-2-2014


Waspada kepada yang kembar, akhirnya terjadi sebagai selang 11 hari dari anak raksasa kelud berulah,  Gunung Kelud Meletus (erupsi) tepat tgl 13 Februari 2014, Kamis, 13/02/2014 23:20 WIB, Gunung Kelud Berstatus Awas, Radius 10 Km dari Puncak Dikosongkan

Jakarta – Status Gunung Kelud naik menjadi Awas (level IV). Warga dilarang tinggal dalam radius 10 kilometer dari puncak gunung berapi yang terletak di Jawa Timur ini. “Kenaikan Status AWAS adalah status peringatan tertinggi dari gunung berapi berdasarkan ancamannya. Radius ditetapkan 10 km dari puncak kawah Gunung Kelud tidak ada aktifitas masyarakat,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui surat elektroniknya, Kamis (13/2/2014). Penetapan status ini berlaku sejak pukul 21.15 WIB karena ada peningkatan aktifitas vulkanis. Sedikitnya 200 ribu orang tinggal dalam radius 10 Km dari puncak. “Ada sekitar 200.000 jiwa lebih masyarakat dari 36 desa yang tinggal di dalam radius 10 km,” ujar Sutopo. Belum ada informasi proses evakuasi yang akan dilakukan. Pada Senin (10/2) lalu, status Gunung Kelud adalah siaga (level III). Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat tidak mendekati puncak kawah Gunung Kelud.

Kemudian tidak berapa lama, meletus, Gunung Kelud Erupsi, Warga Dievakuasi Menuju Pos Pengungsian hingga sampai saat ini letusan berkali-kali

  1. Dentuman Gunung Kelud Terdengar Hingga Jateng
  2. Jumat, 14/02/2014 00:21 WIB, Letusan Gunung Kelud Masih Terus Belangsung, Hujan Kerikil Radius 15 KM
  3. Letusan Gunung Kelud Bikin Kaca Rumah di Pati Jateng Bergetar
  4. Hujan Kerikil Gunung Kelud Sampai Pare Jatim
  5. Getaran Dentuman Gunung Kelud Bikin Rumah di Kediri Ambruk
  6. Gemuruh Genung Kelud Terdengar Hingga Bali
  7. Hujan Abu Gunung Kelud Sampai ke Yogyakarta

Anak Raksasa Kelud Meletus Sebagai Tanda Lonceng Alam Semesta


Tepat tgl 2-2-2014 ditanggal kembar status naik jadi waspada, maka 11 hari setelahnya, status naik jadi AWAS dan meletus, seolah hendak mengatakan tentang 11 hari ini, mengapa kelud meletus tidak menunggu esok hari (jumat) tepat valentine day ?, mengapa tepat tgl 13-februari-2014 ?. Inila sebelas yang telah diberikan pada 11-2-2014 (baca Kejadian Aneh Sebelum Dokter Meninggal Karena Asap Genset).

Perhatikan dengan seksama sinabung yang membawa korban, menunggu tgl 1-februari-2014, mengapa harus tgl tsb, itulah sebuah rentetan peristiwa yang tergambar dibawah, Kejadian Aneh Sebelum Dokter Meninggal Karena Asap Genset: yaitu 33 hari (nilai kembar) setelah sebuah RS jatuh, maka itulah awan panas sinabung membawa korban.

asap_genset_11_2_2014Ada apakah perubahan Gunung Kelud tepat tgl 2-2-2014 dan kemudian meletus juga selang 11 hari setelah perubahan status itu ?

kelud_meletus_13_2_2014_abuTiada lain gunung kelud menyebutkan dengan tegas tentang nilai kembar 2-2 bukankah kembar dan 11 juga kembar ?, sebuah ingatan akan 22-11-2006 ketika lumpur lapindo yang meledak hingga muncul lafal Allah swt (baca Antara Lumpur Lapindo dan Gunung Kelud). Kesemua itu menunjukkan kebenaran dari artikel Inilah Bukti Kiamat Sudah Dekat yang menunjukkan hak itu