Fenomena Alam Semesta

Kumpulan Fenomena Alam Sebagai Bahasa Universal Untuk Menyelamatkan Bumi Dari Kehancuran

Siapa Pengatur Skenario Rusuh Tarakan dan Rusuh Ampera ?

PENGANTAR TULISAN


Tulisan ini merupakan sebuah seri dari  Misi Penyelamatan Manusia Dari Bencana di Bumi, dimana kejadian besar yang menjadi perhatian banyak publik  merupakan sarana untuk lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Berpijak dari itu, peristiwa besar juga merupakan sebuah kunci untuk menguak rahasia alam semesta.

Salah satu yang telah terbukti adalah pada kisah gempa yogya 27 mei 2006 lalu (bagi yang belum pernah membaca,silahkan dicek Inilah Kisah Nyata Pembawa Peringatan Sebelum Gempa Yogya 27-mei-2006) , rahasia itu dapat terkuak, tentunya dengan berdoa iklash kepada Allah swt semata, rahasia itu diberika kepada siapa yang dikehendakiNya.

Berkaca dari yang terdahulu, sebuah kejadian yang kadang tidak masuk akal saat itu, sesungguhnya disitulah terdapat jejak ekspresi ketuhanan. Misalnya Qobil dengan gagaknya (baca Gagak qobil & Tsunami Aceh 26-des-2004), N Sholeh dengan Unta, N.  Musa dengan tongkat dan sapi, N Muhammad dengan hajar aswad dll. Semuanya merupakan jejak Ekspresi Ketuhanan yang merupakan sebuah pelajaran universal tanpa harus lekang dan di telan masa. Masa kini dapat dilihat dalam Tanda Tanda Sebelum Bencana Besar Terjadi

Siapa Pengatur Skenario Rusuh Tarakan dan Rusuh Ampera ?


Semua berawal dari waspada dengan tanggal yang mudah di-ingat, dalam hal ini adalah tanggal kembar, agar dengan tanggal kembar ini manusia dapat mengingatinya akan sebuah peristiwa besar. Hal ini telah dibuktikan tahun 2006 dan 2007 lalu (baca Kejadian Aneh Aneh Tahun 2007) yang memuat waspada dengan yang kembar sebagai KEJADIAN ANEH YANG PERLU DIPERHATIKAN untuk menarik perhatian manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, berikut bukti kewaspadaan tsb

Lafal Allah dalam Ledakan Pertamina di Lumpur Lapindo Sidoarjo

Setelah ledakan lapindo yang tertanggal 22 bulan 11 tahun 2006, maka sebuah inspirasi muncul akan bahaya kedepan terhadap sesuatu yang kembar, karena bayi berkepala dua yang meninggal pula tgl 22 agustus 2006 dan ledakan lapindo tertanggal 22 november 2006. Sebuah inspirasi muncul yang disebabkan keprihatinan masalah ini, berikut doa tersebut, perhatikan posting yang tidak dapat diubah (http://groups.yahoo.com/neo/groups/the_untold_stories/files)

doa_22Isi dari doa itulah sebuah pengharapan untuk orang orang yang terpinggirkan agar diberi kemudahan didalam mengambil hikmah pelajaran, daripada orang orang yang banyak akal.

Sebelumnya jauh hari dari doa 22 itu, peringatan akan bencana demi bencana terjadi didalam sebuah ingatakan akan kewaspdaan terhadap tanggal tanggal yang kembar, lihat email yang mencatat tanggal penyimpanan cek disini, :

waspada_terhadap_kembarTsunami terhebat yakni Gempa danTsunami Jepang Telah di Tuliskan Sebelumnya  tgl KEMBAR 11 3 2011 yang terkait dengan waspada kembar dari tgl terjadinya dengan tsunami aceh 26 12 2004 (baca Inilah Bukti Kiamat Sudah Dekat) Tsunami Aceh, minggu 26-desember-2004, setelah itu terjadi tsunami jepang tgl 11-3-2011, sebuah rentang 2266 hari dari waktu terjadi antara dua tsunami tersebut.

Apakah ada yang tahu simbol 22 dan 66 yang telah terjadi ?

Inilah simbol 22 yang banyak dibahas, dimana lafal Allah sebagai pencipta semua mahluk muncul dalam lafaz arab, tertanggal 22-11-2006 yang lalu dalam Api ledakan di lumpur lapindo. Sebuah 22 lain muncul pada gempa & tsunami jepang tgl 11 maret 2011 dengan ledakan kilang pertamina berhari-hari 2 april 2011, seperti gambar berikut ini

gempa_jepang_ledakan_pertamina

Jika simbol 22 sudah muncul dalam bentuk lafaz Allah swt, maka, apakah arti simbol 66 ?

Simbol 66 adalah sebuah makna penting dalam penghambaan diri kepada Allah swt tanpa melakukan sekutu dengan Dia.(baca Kejadian Aneh-Aneh Sebelum Mbah Marijan Meninggal)

Siapa Pengatur Skenario Rusuh Tarakan dan Rusuh Ampera ?


Rusuh tarakan yang telah terjadi sampai berlarut larut, dimulai 26-9-2010, sampai berhari-hari seperti diberitakan oleh media , Rusuh Tarakan Berlanjut, Lima Nyawa Jadi Tumbal

tarakan-rusuh-kantor-walikota-dirusak_

TARAKAN – Suasana Kota Tarakan, Kalimantan Timur, kemarin (29/9) masih mencekam. Bentrok antarwarga masih terjadi. Akibatnya, dua orang tewas kemarin. Maka, sejak Senin (27/9) hingga kemarin sudah lima warga yang tewas dan puluhan orang lain mengalami luka-luka dalam bentrokan fisik tersebut. Selain itu, ribuan warga yang khawatir terkena imbas bentrokan tersebut memilih meninggalkan rumah masing-masing. Mereka mengungsi ke kantor-kantor polisi maupun markas TNI. Mereka diangkut mobil-mobil aparat menuju lokasi yang aman. Sementara itu, upaya damai dilakukan oleh berbagai pihak. Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak bersama Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Tan Aspan, Ketua DPRD Kaltim Mukmin Faisyal H.P., dan Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Nga­dino menghelat rapat koordinasi di ruang VIP Bandara Juwata, Tarakan. Pertemuan damai itu tentu saja juga dihadiri tokoh adat dan tokoh masyarakat serta pihak-pihak yang bertikai. Dalam pertemuan tersebut, Awang mengatakan, bentrokan yang terjadi pada 27-29 November itu merupakan “hari kelabu” bagi Kalimantan Timur.

“Meskipun pernah terjadi (bentrokan), semua bisa diselesaikan secara hukum. Tidak sebesar (Tarakan) itu,” kata Awang. Gubernur menegaskan, bentrokan di Tarakan sebenarnya bukan pertikaian antarsuku, melainkan tindak kriminal murni. Dengan begitu, penyelesaian kasus itu harus ditempuh melalui jalur hukum. “Dengan begitu, tidak ada istilah menang atau kalah. Dua-duanya menang karena rakyat kembali berdamai,” tutur dia. Untuk itu, Awang meminta kelompok warga yang bertikai melucuti senjata mereka dan menyerahkannya kepada polisi. Sementara itu, kemarin jumlah pasukan keamanan di Tarakan terus bertambah. Hampir seluruh aparat kepolisian dari polres-polres di wilayah utara diterjunkan ke Tarakan. Antara lain, personel Polres Bulungan, Nunukan, Malinau, dan Berau. Juga ada bantuan pasukan dari Batalyon Infanteri Yonif 613 Raja Alam, Brigade Infanteri (Brigif) Bulungan Cakti, Brimob Polda Kaltim, Brimob Kelapa Dua Mabes Polri, dan Pasukan Khas (Paskhas) TNI-AU dari Makassar. Seluruh aparat TNI di Tarakan, baik AD, AU, AL, maupun Lanud, ikut membantu mengamankan kondisi Tarakan. Kepada wartawan Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Awang mengatakan akan sangat berupaya mengembalikan kondisi Tarakan agar cepat normal lagi. “Mudah-mudahan rapat pimpinan bersama tokoh masyarakat di Tarakan kali ini membuahkan hasil konkret,” ucap Awang.

Minta Tokoh Adat Turun Tangan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta para tokoh adat dan agama turun ke lapangan untuk menyelesaikan masalah di Tarakan, Kaltim. Langkah terpadu harus dilakukan oleh aparat beserta kepala daerah dan tokoh masyarakat. Tujuannya, mencegah meluasnya kekerasan agar tidak menjadi tragedi seperti di Sampit, Kalteng, satu dekade silam. Presiden mengatakan, kasus kekerasan seperti di Tarakan tidak boleh hanya diserahkan kepada kepolisian dan TNI. “Karena itu berangkat dari masyarakat, saya berharap gubernur, bupati, wali kota, serta tokoh agama dan adat turun ke lapangan, menyadarkan semuanya. Janganlah terus dikembangkan kekerasan seperti itu,” ucap SBY di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. Pejabat setempat, terang SBY, juga harus melakukan langkah cepat dan nyata. Berdasar pengalaman, konflik etnis di Sampit sepuluh tahun lalu, papar dia, terjadi karena penanganan yang kurang cepat. “Sama, bermula dari perselisihan atau perkelahian antara satu dua orang dari komunitas yang berbeda. Kemudian, meluas, membesar sampai terjadi konflik horizontal yang luas, mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit,” tutur dia.

SBY mengatakan, konflik Tarakan tidak bisa dianggap sebagai peristiwa biasa. Aparat juga tidak boleh menganggap remeh masalah itu, seperti saat kasus Sampit bermula sepuluh tahun lalu. Seperti diketahui, waktu terjadi kasus Sampit, SBY menjabat Menko Polhukam. Presiden pun meminta pihak yang bertikai segera mengakhiri perselisihan. “Saya juga mengimbau saudara-saudara kita dari dua komunitas atau suku yang terlibat perselisihan mengakhiri (konflik) dan yang bersalah diberi sanksi. Marilah kita cegah kekerasan-kekerasan yang tidak perlu karena hanya akan merugikan kita semua,” ujar SBY. Terpisah, Kapolri Jenderal Bam­bang Hendarso Danuri menyatakan telah melakukan sejumlah upaya pengamanan untuk konflik Tarakan. Sejak kemarin malam, bantuan pengamanan dari Brimob sudah disiapkan. Markas Komando Brimob di Kelapa Dua telah melaporkan upaya pengamanan kepada presiden. “Tadi (kemarin, Red) pukul dua pagi sudah lapor kepada presiden,” terang Bambang menjelang rapat Tim Pengawas Century kemarin. Selain Brimob, satu pasukan dari Batalyon Deops TNI sudah diperintahkan bergeser ke Tarakan. Kapolri menyatakan, pengiriman itu merupakan hasil koordinasi Polri dengan TNI soal langkah pengamanan atas potensi berlanjutnya konflik Tarakan. “Tokoh masyarakat dan adat di sana diminta menahan diri. Tidak perlu ada kekerasan lagi,” ucap dia. Kapolri menyatakan, upaya pertama adalah melakukan evakuasi. Menurut dia, langkah itu merupakan upaya pencegahan agar konflik tidak berkepanjangan. Dia mengingatkan bahwa siapa pun bisa memanfaatkan konflik itu agar penduduk terus terprovokasi. “Sudah ada deteksi dini supaya semua sistem jalan,” papar dia. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, konflik di Tarakan murni bersifat kriminal. Dia meminta polisi segera mencari dan menghukum para pelakunya. “Karena membunuh, pasti itu kesalahan. Itu harus dihukum,” ujar Kalla setelah menghadiri Temu Nasional Pengusaha KAHMI di Hotel Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, kemarin. Dia menyampaikan, persoalan tersebut harus segera diselesaikan agar tidak semakin luas. Apalagi, sumber masalahnya merupakan konflik antarpribadi. “Itu kan masalah pribadi yang dibuat konflik oleh perorangan,” ucap dia. Karena itu, tegas mantan Wapres tersebut, tindakan hukum yang tegas merupakan salah satu langkah penyelesaian yang baik dan adil. Upaya itu juga efektif untuk menenangkan masyarakat. “Saya harap semua menyadari. Jangan sampai masalah tersebut melebar, menjadi masalah kedaerahan, masalah suku, dan sebagainya,” imbuh dia. Adakah potensi konflik di Tarakan terus meningkat seperti Poso? “Agak beda. Di Poso, ada masalah politik dan agama. Itu (konflik Tarakan, Red) tidak. Tidak ada masalah politik, tidak ada masalah agama,” terang dia. Kalla berpesan, tidak boleh lagi ada yang membeda-bedakan bangsa di suatu daerah. “Baik penduduk asli maupun yang datang belakangan, tentu semua bersama-sama membangun daerah. Tidak menjadikan itu sebagai suatu masalah,” tegasnya. Kalla menambahkan, PMI sudah turun untuk memberikan bantuan kesehatan di lokasi konflik. Mereka mulai menyiapkan ambulans sampai membikin dapur umum bagi pengungsi. “Termasuk, mengambil peran bersama pejabat daerah untuk mencegah (konflik) itu terjadi (meluas, Red),” ucap Kalla.

Bentrok Lagi, Dua Tewas

Sementara itu, bentrokan kembali terjadi di Tarakan kemarin. Bentrokan tersebut merenggut dua korban jiwa. Dalam bentrokan di kawasan Jl Yos Sudarso itu, polisi yang berjaga-jaga tak bisa berbuat banyak. Dengan tambahan dua korban tersebut, berarti sampai tadi malam sudah lima orang yang tewas gara-gara konflik itu. Seorang tewas Minggu malam (26/9), dua korban meninggal Selasa malam (28/9), lalu dua orang lagi tewas kemarin pagi. Dua korban terakhir diketahui bernama Iwan, 31, dan Unding, 30. Mereka dibawa mobil polisi ke RSUD Tarakan.

Bentrokan kemarin terjadi sekitar pukul 08.00 Wita. Saat itu Tarakan gerimis. Massa Bugis Letta yang mengenakan ikat pita berwarna putih datang dan berhadap-hadapan dengan massa suku Tidung yang memakai pita kuning. Aparat yang berjaga-jaga ternyata tak bisa berbuat banyak sampai akhirnya dua massa tersebut bentrok dan timbul korban jiwa. Salah seorang di antara tiga warga yang tewas sebelumnya adalah Abdullah. Diduga, dia meninggal karena dianiaya warga yang kemudian menyulut bentrokan Tarakan hingga kemarin. Dua korban lagi adalah Pugut dan Mursidul Armin. Mereka tewas menyusul pembakaran enam rumah warga Selasa malam lalu. Dua di antara enam rumah itu milik Syarifudin dan Nurdin. Empat rumah lain milik Haji Sani. Pugut dan Mursidul ditemukan tak bernyawa di rumah Haji Sani. (jpnn/sof/bay/pri/c11/ari)

Pada bahasan lain, disebutkan pula, betapa mencekamnya peristiwa itu, Tarakan Masih Mencekam, Aktivitas Warga Lumpuh, Toko dan Pusat Perbelanjaan Tutup, Sekolah Diliburkan

[ Rabu, 29 September 2010 ]

TARAKAN – Tarakan masih mencekam kemarin (28/9). Aktivitas warga lumpuh. Toko-toko dan pusat perbelanjaan tutup. Sekolah pun diliburkan. Jalanan di Tarakan tampak lengang.Konsentrasi massa masih terlihat di beberapa titik. Polisi dan aparat keamanan masih bersiaga di tiap sudut kota. Warga takut karena isu yang beredar menyebutkan bahwa masih ada sweeping dan pembakaran rumah. Wali Kota Tarakan H Udin Hianggio menyatakan, pemkot bersama aparat keamanan tidak akan diam. Kemarin kepolisian melakukan upaya preventif dengan menyita senjata tajam yang digunakan tidak pada tempatnya. “Saya terus berupaya mendekati kelompok-kelompok masyarakat. Intinya, kami minta semua menahan diri,” katanya. Kapolres Tarakan AKBP Dharu Siswanto saat dikonfirmasi menyebutkan, Polres Tarakan dan Brimob Polda Kaltim memang merazia senjata tajam (sajam). Itu merupakan langkah preventif untuk mencegah sweeping oleh kelompok masyarakat. “Jumlah sajam yang disita belum diketahui. Tapi, kami imbau warga untuk tak membawa sajam yang tidak pada tempatnya,” katanya.

Dikatakan, beberapa titik yang dinilai rawan konflik adalah Kelurahan Mamburungan, Juata Permai, Pasar Beringin, dan wilayah kota. Untuk memperkuat pengamanan, Polres Tarakan dibantu personel Polres Bulungan, Polres Nunukan, Brimob Malinau, dan Polda Kaltim.Kepada warga, Kapolres berpesan agar tidak mudah memercayai isu yang beredar, baik dari mulut ke mulut maupun SMS. “Kami harap, masyarakat mencermati kondisi keamanan,” ujarnya.Ditanya soal pembunuhan yang memicu kemarahan warga, Kapolres menyatakan sudah menahan beberapa orang. “Mudah-mudahan segera terungkap,” tegasnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan juga mengimbau warga Tarakan untuk tak terprovokasi insiden di Juata Laut Senin lalu tersebut. “Warga jangan terpancing informasi yang belum diketahui kebenarannya,” kata Ketua MUI Tarakan Syamsi Sarman. MUI Tarakan juga berharap, aparat keamanan bertindak cepat dalam menyelesaikan permasalahan antarsuku di Bumi Paguntaka tersebut. “Semoga kasus ini tidak meluas,” harapnya. Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pun mengimbau masyarakat untuk tidak mudah dihasut. “Saya mendapat laporan bahwa semua pihak yang berkaitan sudah turun, termasuk tokoh masyarakat di sana. Ini menggembirakan. Kami berharap, masalah itu bisa diselesaikan dengan damai,” katanya. Menurut dia, pihaknya sudah melaporkan kerusuhan tersebut kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi. “Agar persoalannya tidak melebar. Saya berharap, masalah ini bisa diselesaikan dengan damai,” kata Awang kemarin. Ditanya tentang anggapan bahwa kerusuhan itu terjadi karena aparat keamanan di sana kurang sigap, Awang mengakui telah mendengar tudingan itu sejak lama. Namun, dia menyatakan, “Tidak perlu saling menyalahkan. Sistem keamanan di sana tentu akan dimaksimalkan.” (tim/jpnn/c13/soe)

Tidak berapa lama kemudian rusuh berganti menjadi rusuh di ampera, Bentrok di Depan PN Jakarta Selatan, Tiga Tewas
Libatkan Dua Kelompok, Pakai Senjata Tajam dan Senpi

[ Kamis, 30 September 2010 ]

bentrok_ampera

JAKARTA – Suasana di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, kemarin (29/9), berubah bak medan pertempuran. Dua kelompok massa terlibat saling bentrok. Di antara mereka ada yang bersenjata tajam. Bahkan ada yang sampai memuntahkan peluru dari senjata api. Pertemuan dua kelompok yang saling bertikai tersebut terkait dengan sidang kasus Blowfish yang hari itu disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Gedung pengadilan tersebut terletak di Jalan Ampera Raya. Awalnya, di PN Jaksel sedang dilangsungkan sidang kasus yang melibatkan mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji. Itu merupakan sidang perdana bagi jenderal berbintang tiga tersebut. Sidang Susno berakhir pukul 12.30. Menurut agenda, setelah sidang kasus Susno, dilangsungkan sidang kasus Blowfish. Yakni, kasus perkelahian antara petugas keamanan Diskotek Blowfish di Jalan Gatot Subroto dan kelompok pengunjung (selengkapnya tentang kasus ini baca berita Karena Tak Bisa Masuk Diskotek).

Menjelang dimulainya sidang kasus Blowfish, puluhan orang terlihat bergerombol di halaman depan PN Jaksel. Namun, tiba-tiba, dari arah Cilandak, datang sekelompok orang yang menyerang kelompok yang berada di depan gedung pengadilan tersebut. Mereka yang datang menyerang itu menumpang tiga Kopaja 608 (bus) jurusan Blok M-Tanah Abang. Mereka menyerang dengan senjata api (pistol), ketapel, serta panah. Kejadian tiba-tiba tersebut membuat suasana di depan pengadilan menjadi ramai. Kelompok massa yang berada di PN membalas serangan itu dengan parang dan senjata tajam lainnya. Petugas kepolisian yang sebelumnya menjaga sidang Susno langsung mensterilkan Jalan Ampera. Kendaraan yang datang dari arah Kemang dan hendak menuju Cilandak atau Ragunan dipaksa untuk balik arah. Sementara itu, kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang sudah berada di Jalan Ampera berusaha segera keluar dari jalan tersebut. Jalanan yang sudah lengang membuat perang terbuka tak terelakkan. Kelompok yang berada di pengadilan berusaha berlindung dari tembakan kelompok yang menumpang Kopaja. Saat suara tembakan tak terdengar lagi, mereka balas bergerak. ”Peluru mereka habis. Peluru habis,” ujar salah seorang anggota kelompok mengajak rekannya untuk balik menyerang sembari mengacungkan parang.

Tembakan peringatan yang sempat dikeluarkan polisi tak serta-merta menghentikan keributan. Upaya petugas untuk melerai pun tak banyak membuahkan hasil. Bentrokan mulai reda setelah personel tambahan dari Polda Metro Jaya datang dan membuat barikade untuk memisahkan dua kelompok. Nus Key, seorang pemuda yang mengaku dari Maluku Utara, mengungkapkan, dirinya bersama teman-temanya sedang menunggu sidang kasus Blowfish. ”Tiba-tiba, mereka datang. Diduga dari kelompok Flores. Begitu turun, langsung menyerang, cabut pistol, dan parang. Anak-anak ditembakin,” tuturnya kepada wartawan. Dia tidak bisa memastikan dari mana kelompok yang telah menyerang kelompoknya tersebut. ”Yang pasti, mereka yang bermasalah dengan saya di Blowfish,” imbuhnya.

Menurut Key, kekuatan kelompok penyerang lebih banyak dibanding pihaknya. Dia menyebut jumlah 50 orang yang berada di pengadilan. ”Polisi seharusnya bertindak. Mereka punya senjata api. Jadi, harus ditangkap. Kami bereaksi karena ada anak-anak yang mati. Artinya, kami beraksi untuk membela diri,” terangnya. Dalam peristiwa tersebut, menurut polisi, tiga orang tewas. Mereka adalah Fredy Merkuri, Syaifudin, dan Agustinus Tomazoa. Syaifudin ditemukan tewas di depan kantor Medco dalam kondisi tangan kanan putus dan wajah nyaris sulit dikenali. Dia diduga sebagai sopir Kopaja yang membawa rombongan penyerang. Agustinus ditemukan tewas di dalam kantor Law Office Ray Tofik Chandra. Sementara itu, lokasi tewasnya Fredy tidak diketahui. Seorang korban lainnya berkondisi kritis karena terkena tembakan. Dia adalah Jaya Kusuma Madang yang dirawat di RS Pondok Indah. Bukan hanya pihak yang bertikai, tiga polisi juga menjadi korban. Termasuk, Kapolres Jaksel Kombes Pol Gatot Eddy Pramono. Dia terserempet peluru di lutut kirinya. Dua polisi lainnya adalah Briptu Gerhana (luka tembak di kaki) dan AKP Lambua (luka tembak di telapak tangan). Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar yang ikut terjun di lokasi bentrokan menuturkan, pihaknya masih menyelidiki motif di balik penyerangan itu. Dia mengungkapkan, petugas memperoleh barang bukti berupa delapan selongsong proyektil dari senjata api yang ditembakkan. “Kami masih terus mendata guna menyelidiki kejadian ini,” katanya. “Kami juga perlu memastikan kelompok-kelompok ini dari mana. Akan kami dalami,” tambah Kapolres Jaksel Gatot Eddy Pramono. Informasi yang diperoleh koran ini, peristiwa bentrok kemarin terkait dengan insiden dalam persidangan kasus Blowfish yang digelar pekan lalu (22/9). Ketika itu, terdakwa diserang kelompok pendukung korban. Terdakwa Bernadus Malela saat keluar dari ruang tahanan menuju ruang sidang mendapat pukulan dari massa pendukung korban. Terdakwa lainnya, Karnoslolo, juga sempat diincar. Namun, massa dapat dibubarkan petugas dengan tembakan peringatan.

Bentrokan di Jalan Ampera kemarin mendapat perhatian dari Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Timur Pradopo. Dia ikut turun meninjau lokasi bentrokan. Dia membantah kecolongan dengan terjadinya insiden tersebut. “Kejadiannya di jalan, sementara kami konsentrasi di sidang pengadilan,” ujarnya. Namun, Timur mengatakan, aparatnya berhasil melokalisasi area bentrokan. Kemudian, petugas menyisir dan menolong korban. Jenderal bintang dua itu mengungkapkan, pihaknya tetap melakukan pengamanan seperti biasa pada persidangan-persidangan mendatang. Namun, pihaknya juga memberikan pengamanan lebih di luar area sidang. “Kami akan terus lakukan sidang lanjutan, artinya di tempat yang sama, dan kami tidak ragu-ragu untuk segera menye­lesaikan kasus ini,” paparnya. Sementara itu, Humas PN Jaksel Ida Bagus Dwiyantara menga­takan, pihaknya tengah mempertimbangkan memindahkan lokasi persidangan kasus Blowfish. “Tapi, baru wacana dan akan dikonsultasikan. Sebaiknya memang di kantor polisi,” kata Ida Bagus. Gara-gara kerusuhan itu, sidang kasus Blowfish kemarin ditunda. Pihaknya, lanjut Ida Bagus, juga akan membuat laporan ke ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sekaligus meminta persetujuan pemindahan lokasi sidang kasus Blowfish. “Kami akan koordinasikan juga dengan pihak keamanan.” (fal/ibl/jpnn/c5/c2/kum)

Persoalan yang menjadi dasar rusuh ampera ini tiada lain masalah sepele, yaitu Gara-Gara Tak Bisa Masuk Diskotek Blowfish

rusuh_amperaGara-Gara Tak Bisa Masuk Diskotek Blowfish
BENTROKAN di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin siang (29/9) terkait dengan sidang kasus Blowfish. Kasus itu terjadi pada 4 April lalu di Diskotek Blowfish, City Plaza, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Ketika itu, seorang pengunjung bernama Albert tidak bisa masuk area Blowfish karena tidak memesan tempat lebih dulu. Penolakan itu membuat Albert tersinggung yang berlanjut pada perselisihan dengan anggota keamanan diskotek. Adu jotos antara Albert yang dibantu beberapa temannya dan anggota keamanan diskotek pun tak dapat dihindarkan. Keesokannya, kelompok Albert melancarkan serangan balasan. Petugas keamanan diskotek sempat kewalahan dan akhirnya meminta bantuan orang-orang dari luar tempat hiburan itu. Perkelahian makin besar. Bentrokan tersebut mengakibatkan tewasnya M. Sholeh. Teman Albert itu terkena tusukan senjata tajam. Selain Sholeh, perkelahian menewaskan Yopi Inggratubun yang meninggal setelah dirawat dua minggu di RS Medistra. Yopi juga kawan Albert. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar mengungkapkan, perkelahian itu berlatar belakang kekesalan petugas keamanan diskotek yang sebelumnya dipukul calon pengunjung yang tidak bisa masuk diskotek. Dalam insiden di Blowfish itu, polisi menahan empat pemuda yang diduga mengeroyok Sholeh. Selain itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, balok, minuman keras, pisau, besi, serta beberapa senjata tajam lainnya. Meski sudah diajukan ke sidang, kasus itu belum memuaskan pihak korban. Buktinya, saat sidang dilangsungkan di PN Jaksel 22 September lalu, pendukung korban mengeroyok terdakwa Bernadus Malela saat keluar ruang tahanan menuju ruang sidang. Akibatnya, wajah Bernadus berdarah dan menderita lebam karena terkena bogem mentah. Hal serupa hampir dialami terdakwa Karnoslolo, namun petugas berhasil mencegah. (fal/c5/ari)

Siapa Pengatur Skenario Rusuh Tarakan dan Rusuh Ampera ?


Sebuah pertanyaan mengenai siapa pengatur skenario dari dua rusuh tersebut ? tiada lain hal itu terjawab dari beberapa aktor yang terlibat sebagai atribut dari kejadian itu. Dimulai dari rusuh tarakan, tersebutlah dua faktor yaitu Suku Tidung dan Suku Bugis di Tarakan, Kaltim. Salah satu korban yang menonjol dapat diungkap dari berita ini, Jenazah Korban Rusuh Tarakan Tiba di Makassar‎ tiada lain tempat tersebut sebelumnya terjadi pemberitaan dalam masalah ke-udara-an yaitu Mengapa Tiga Teknisi Sukhoi Tewas di RI ? Persoalan rusuh tarakan, membawa kita pada ingatan tempat makassar yang berupa tewasnya tiga teknisi sukhoi rusia.

Setelah rusuh tarakan, berlanjut pada rusuh ampera di Jakarta, dimana kejadian itu bermula dari kasus di bulan april-2010. Perhatikan dengan benar tgl 4-4-2010 itulah kasus rusuh ampera berawal, dan kini muncul dengan kejadian yang rusuh yang merupakan rangkaian dari rusuh tarakan. Tgl 4-4-2010 kasus itu, maka 6 hari berikutnya terjadilah tgl 10-4-2010 pesawat presiden polandia jatuh di rusia (ingat teknisi sukhoi rusia yang tewas di makassar), kemudian 10 hari dari kerusuhan itu, maka kerusuhan yang lebih besar terjadi di priok tgl 14-4-2010. Artinya, baik rusuh tarakan maupun rusuh ampera adalah sebuah titik acuan untuk melihat kejadian di bulan April-2010, dimana terjadi dua rusuh besar yaitu rusuh priok dan rusuh batam.

priok(rusuh tanjung priok)
  1. Kejadian tgl 14-4-2010:  Tragedi Tanjung Priok, Bagian dari Bab Bencana yang Hilang
  2. Kejadian tgl 22-4-2010: Batam Rusuh: Bagian Dari Skenario Besar

Setelah dua rusuh di bulan April-2010 itu terjadi, maka tiba-tiba saja tgl 29-april-2010: Meteor Jatuh Di Jakarta, Sebuah Tanda Yang Jelas Hal ini berarti bahwa dibulan april-2010 lalu, kerusuhan demi kerusuhan terjadi, kemudian diturunkan sebuah meteor yang cukup langka, menimpa ibukota, maka dengan jelas dan gamblang, tiada lain kita semua harus berhati-hati pada sebuah peristiwa besar di dunia yang tergambarkan 10-april-2010 lalu lewat JATUHNYA pesawat presiden polandia di rusia (ingat teknisi sukhoi yang tewas di makassar, ingat lagi dengan rusuh tarakan yang melibatkan suku tertentu yang pada akhrinya menuju pada satu titik makassar itu sendiri).

meteor_jatuh

Sekali lagi, ingat bendera polandia itu adalah terbalik dengan indonesia, (baca Pesawat Akrobat Terbalik Namun Justru Jatuh, Jawaban Keniscayaan). DAN pada peringatan HUT RI 17-agustus-2010 yang lalu, terjadi insiden pengibaran bendera terbalik di papua, dan kini papua telah di landa gempa besar tepat peringatan G 30 S PKI yang bertepatan pula dengan peringatan satu tahun gempa padang (baca Peringatan Setahun Gempa Padang, Ditandai Terjadinya Gempa Papua dan Aceh, Mengapa ?)

[UPDATE TULISAN] Tulisan ini dibuat tgl 30 september 2010,  yang menyebutkan masalah papua, maka 4 hari setelah itu, papua terjadi banjir besar tgl 4-oktober-2010

banjir_bandang_wasiorTidak hanya wasior, tercatat 4 bencana setelah tulisan ini dibuat, yaitu:

  1. Tepat tgl 2-10-2010, Empat KA secara sekaligus bertabrakan (baca KA Argo Bromo Tabrak Senja Utama, Sudah Ada Firasat Sebelumnya)
  2. Dua hari setelah Empat KA saling bertabrakan, maka tepat tgl 4 oktober 2010, Terjadi Banjir Bandang Wasior (baca Kejadian Aneh – Aneh Jelang Bencana Banjir Bandang Wasior)
  3. Munculnya Halo Matahari di mana-mana khususnya di kota padang sebagai penarik perhatian akan bencana besar yang terjadi dalam waktu dekat (baca Halo Matahari di Padang, Apakah Pertanda Gempa Besar ?)
  4. Setelah banjir bandang Wasior, maka 21 hari berikutnya terjadilah gempa dan tsunami mentawai tepat tgl 25 oktober 2010 (baca Kejadian Aneh-Aneh Sebelum Gempa & Tsunami Mentawai)
  5. Setelah itu, titik utama dari bencana demi bencana adalah meletusnya Gunung Merapi Sedahsyat-dahsyatnya hingga tokoh yang dikagumi para pejabat dan negara ikut menjadi korban. Dua puluh (22) hari setelah 4 -oktober 2010 terjadilah tgl 26 oktober 2010, Merapi Meletus (baca Kejadian Aneh-Aneh Sebelum Mbah Marijan Meninggal)

Titik Utama ini sebenarnya telah diperingatkan akan terjadinya bahwa manusia sudah kelewatan sikap dan perbuatannya, hingga suatu masa

Dengan demikian terjawab sudah, siapa pengatur skenario rusuh tarakan dan ampera ?

Tiada lain itulah skenario bahasa alam semesta yang universal untuk mengingati bagi kita semua, terhadap kejadian yang pernah terjadi pada bulan april-2010 lalu, dimana atribut demi atribut telah dimunculkan, keanehan demi keanehan telah pula tampak, tiada lain itulah skenario dari sebuah keniscayaan, sebagai bagian dari keberadaan sang pencipta, maka tersebutlah Tiang Masjid Bergeser Sendiri, Sebuah Penegasan Akan Keniscayaan

[UPDATE TULISAN] Keniscayaan dan Keberadaan sang pencipta yang dimaksud di-sini akhrinya terbukti dengan adanya keanehan 4 KA saling bertabrakan, banjir bandang wasior, gempa dan tsunami mentawai serta merapi meletus sejadi-jadinya.

KA Argo Bromo Tabrak Senja Utama

Argo_Bromo_Anggrek_vs_Senja_Utama_(KA Argo Angrek Lawan Senja Utama 
dini hari 03.00 2/10/2010 
di Petarukan)

NUSANTARA – JATENG, Sabtu, 02 Oktober 2010 , 11:37:00,,

JAKARTA - Tragis. Dua tabrakan kereta api terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, Sabtu (2/10) dinihari tadi. Pertama terjadi di Petarukan Pemalang, dan kedua terjadi di stasiun Purwosari Solo. Kedua peristiwa naas itu memakan korban jiwa. Di Petarukan Pemalang, diperkirakan 34 orang tewas, dan puluhan orang lainnya luka parah. Sementara di Solo, 1 orang tewas dan empat orang luka.Di Petarukan,  KA Eksekutif  Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta Surabaya menyeruduk KA Senja Utama jurusan Semarang Jawa Tengah. Lokasi kecelakaan terjadi sekitar 500 meter sebelum stasiun Petarukan, Pemalang Jawa Tengah, Sabtu dinihari tadi. Akibat benturan itu, gerbong KA Argo Bromo ringsek, nyaris tak berbentuk lagi.Hingga berita ini diturunkan, evakuasi korban masih berlangsung.

Banjir Bandang Wasior 4-oktober-2010

Banjir bandang wasior yang terjadi di papua barat, sampai sejauh ini Senin, 11/10/2010 10:29 WIB Korban Tewas di Wasior jadi 147 Orang. Korban infrastruktur adalah  Senin, 11/10/2010 10:26 WIB 80 Persen Wasior Hancur Akibat Banjir. Banjir Wasior 2010 adalah bencana banjir bandang yang terjadi pada 4 Oktober 2010 di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat.

banjir_bandang_wasior

Banjir bandang terjadi,  hujan tiada henti yang terjadi sejak Sabtu, 2 Oktober 2010 hingga Minggu, 3 Oktober 2010 menyebabkan Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy meluap. Akhirnya terjadilah 4-oktober-2010 pagi hari, korban mulai berjatuhan, Bencana Alam Wasior Banjir, Puluhan Rumah Hanyut

Gempa & Tsunami Mentawai 25 oktober 2010

gempa_mentawai_25_oktober_2010(Gempa dan Tsunami Mentawai, 
25 oktober 2010, 415 Tewas, 296 Hilang)

Gempa Mentawai Pusat Gempa Dekat Kawasan Berselancar,JAKARTA, KOMPAS.com — Program manajer lembaga non-pemerintah Australia, Surfaid, untuk Kepulauan Mentawai, Tom Plummer, membenarkan bahwa kapal mereka hilang setelah gempa melanda kawasan Kepulauan Mentawai dan sekitarnya. “(Kapal) itu dekat dengan pusat gempa. Kami benar-benar khawatir,” katanya, seperti diberitakan Sydney Morning Herald, Selasa (26/10/2010).

Merapi Meletus Dahsyat 26 oktober 2010

Mbah Maridjan Meninggal

wedhus-(sumber gambar internet)

Breaking News / Sosbud / Rabu, 27 Oktober 2010 09:51 WIB,Metrotvnews.com, Yogyakarta: Satu dari 14 korban terakhir yang dibawa ke Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta memiliki ciri-ciri fisik yang mirip dengan Ki Surakso Hargo alias Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Jenazah-jenazah tersebut sebagian besar ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan.

Kinahrejo_3(sumber gambar internet)

Mereka menjadi korban akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Secara fisik, ciri-ciri sarung, batik dan peci dari salah satu mayat cocok dengan yang dipakai Mbah Maridjan. Hal ini dibenarkan oleh Ketua Humas Rumah Sakit Dokter Sardjito Dokter Kresno Heru Nugroho. Jenazah itu ditemukan di rumah Mbah Maridjan. Pihak rumah sakit juga mendapatkan informasi dari Keraton Yogyakarta salah satu ciri Mbah Maridjan adalah ibu jarinya bengkok. Setelah ditelisik, cocok. Mbah Maridjan adalah abdi dalem keraton. Namun demikian, kata Kresno, untuk memastikan bahwa yang meninggal tersebut Mbah Maridjan pihak rumah sakit sedang melakukan uji DNA. DNA itu akan dicocokan dengan keluarganya, baik istri maupun anak-anaknya. “Tunggu saja sampai identifikasi DNA selesai,” kata Kresno. Menurut Kresno, seluruh keluarga Mbah Maridjan, baik anak maupun istrinya, selamat.

Kinahrejo_2(sumber gambar internet)

Ikhwal kematian Mbah Maridjan juga dibenarkan oleh salah satu menantunya, Bambang. “Saya sudah melihat sendiri,” kata Bambang. Menurut Bambang, pakaian yang dipakai, baik batik, sarung maupun kopyah mirip yang digunakan mertuanya sehari-hari. “Beliau sujud di atas sajadah. Sujud di kamar di rumah,” kata Bambang. Bambang menjelaskan, terakhir kali Mbah Maridjan bilang kepada pihak keluarga, “Ngantiyo piye saya tidak akan turun (Meskipun meletus saya tidak akan turun).” (DOR)

About these ads

Information

This entry was posted on September 30, 2010 by in Berita, Fenomena, Islam.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: