Beranda > Fenomena, Islam > Pertanda Pertama: Pesawat POLRI Jatuh

Pertanda Pertama: Pesawat POLRI Jatuh

November 3, 2009 thephenomena

Mengikuti tanda-tanda yang di muat di artikel Tanda Bencana Adalah Tiga Huruf posting , Oct 31, 2009 4:39 pm, yang memuat tanda-tanda bencana,

…..

Pada ayat qauniyah (alam semesta), maka tabiat-tabiat manusia sebagai simbol pertandaNya dapat diwakili sebagai kisah orang-orang yang diatas (tiga huruf pertanda), hingga iktibar situ gintung yang terjadi 27-03-2009 kembali ditemukan penguatnya yakni sekali lagi sesuatu yang diatas jatuh (baca Mengapa F-27 TNI-AU Jatuh No A2703 ?). Kebetulan yang unik, seolah menguatkan iktibar situ gintung bahwa yang berbahaya adalah yang diatas, maka iktibar situ gintung dikuatkan dengan jatuhnya pesawat dengan nomor register yang tepat terjadinya situ gintung yakni 2703

Perhatikan bahwa posting artikel Tanda Bencana Adalah Tiga Huruf posting , Oct 31, 2009 4:39 pm adalah sebuah kebetulan TEPAT 3 hari setelah posting tsb, jika memang sudah takdir ketentuan Allah swt, tidak berapa lama kemudian tanda pertama, sebagai iktibar penguat atas artikel tsb “Yang Berbahaya adalah yang Diatas” Sebuah pesawat POLRI Jatuh, Senin, 02/11/2009 15:46 WIB  Pesawat Polri Hilang di Papua

Beberapa pertanyaan yang harus dapat dijawab untuk menyakinkan bahwa itulah tanda pertama, pertanyaan tsb antara lain:

  1. Mengapa harus pesawat POLRI ?
  2. Mengapa harus terjadi tepat tgl 2-11-2009 ?
  3. Mengapa harus terjadi di papua ?

Jawaban: Mengapa harus pesawat POLRI ?

Pesawat POLRI yang jatuh adalah sebuah pengingatan yang jelas setelah semua pesawat/Heli milik angkatan Jatuh di tahun 2009  (Mulai TNI AD, AU & LAUT dan bahkan pesawat latih-pun jatuh). Semua pesawat TNI jatuh merupakan iktibar “Sesuatu yang Kuat & Perkasa” dari artikel Tanda Tanda Sebelum Gempa Padang & Maknanya

TNI-AU :

TNI-AD :

TNI-AL:

Pesawat Latih TNI

Rata-rata korban dari jatuhnya pesawat/heli diatas adalah para perwira (sama dengan jatuhsnya pesawat POLRI saat ini). Setelah itulah ramai diperbincangkan, mengapa pesawat tsb jatuh ? jawaban para pengamat adalah karena USIA & Perawat.

Dalam jatuhnya pesawat tsb merupakan sebuah ibrah bagi bangsa indonesia, maka di akhir tahun 2009 ini-lah jawaban pelengkap muncul, bukan hanya usia & perawatan saja, namun ada peranan Allah swt dalam jatuhnya pesawat tsb, untuk dapat diambil hikmah agar terhindar dari bahaya kedepan. Hal ini pernah pula terjadi ditahun 2004 sebelum tsunami aceh (baca [Gagak] qobil & Tsunami Aceh 26-des-2004)

Pelengkap jatuhnya pesawat dari kesatuan POLRI adalah sebuah uraian kisah tentang jatuhnya pesawat-pesawat/heli TNI-AU-AL-AD. Hal ini pula sebagai penegasan tentang “Tidak hanya usia & perawatan saja, namun ada hikmah yang maha tinggi sebagai bentuk penyelamatan bagi bangsa ini, di masa mendatang”

PAda bahasan diatas dijelaskan bahwa tanda pertama sebagai Pesawat POLRI jatuh adalah kehendakNya untuk memberi tahu manusia sebagai penjelasan, hal ini  merupakan pengingatan yang pernah terjadi sebagai fenomena 22, yang telah terbukti benar, mengutip media JawaPos, Pesawat Cassa M 28 Milik Polri Hilang di Papua

“Sebelumnya, pada 22 Februari 2005, pesawat Cassa-212 milik Polri juga jatuh di pantai dekat Lapangan Terbang Kabupaten Sarmi, Papua. Dalam insiden itu, 15 orang tewas.

Adalah sebuah kebetulan yang nyata dari artikel Tanda Bencana Adalah Tiga Huruf posting , Oct 31, 2009 4:39 pm yang diposting 3 hari sebelum pesawat POLRI tsb jatuh memuat tulisan yang sama dengan jawapos tsb. Adapun tulisan tsb adalah :

Dengan pararelisme antara sebab tiga huruf memasuki tahapan yang menentukan dan tanda bencana tiga huruf ini sudah komplit, semua sudah terjelaskan baik huruf pertama, huruf kedua dan huruf ketiga, berikutnya tinggalah penantian ketika doa-doa terpanjatkan (baca Rahasia Gempa TasikMalaya & Gempa Sumbar)

Ada apakah isi dari artikel dari doa-doa yang dipanjatkan tsb  ? Sebuah kebetulan kalau boleh dibilang kebetulan atas jawaban doa tsb, maka didalam artikel tsb terdapatlah sebuah pengingatan tentang hal serupa (pesawat POLRI 22-2-2005 jatuh), hal tsb tertulis :

Bacalah 22/2/2005, jangan lupakan, Secara tegas dapat diambil kesimpulan 22.02.2005 atau 2 tahun lalu merupakan hari berkabung, dengan didahului, longsor, gempa meningkat, masalah pesawat

Ujung dari bacalah 22/2/2005 yang kembali muncul dalam artikel di koran JawaPos merupakan sebuah bukti sebagai pertanda pertama yang tidak boleh dilupakan

Jawaban: Mengapa harus tepat tgl 2-11-2009 ?

Setelah dituliskan jawaban mengapa harus pesawat POLRI dengan bukti yang kuat sebagai tanda pertama dari jawaban artikelTanda Bencana Adalah Tiga Huruf yang diposting 3 hari sebelum jatuhnya pesawat tsbTanggal pesawat, maka mengapa jatuhnya harus tepat tgl 2-11-2009 ? mengapa tidak hari lain saja ?

Ketepatan tanggal 2-11-2009 adalah sebuah tanggal pengingatan tentang dua bulan sebelumnya yakni 2-9-2009 sebuah gempa besar melanda Tasikalaya (baca Tanda Tanda Sebelum Gempa TasikMalaya). Pertanda dari gempa tsb adalah sebuah pesawat yang nahas (termuat di artikel tsb),

Benarkah sama tanda gempa tasikmalaya persis sama dengan pertanda gempa pangandaran sebagaimana tanda yang ketiga ? Perhatikan pesawat berikut ini yang terjadi 3 atau 4 hari menjelang gempa tasikmalaya……….

Kejadian tersebut merupakan rentetan yang kesekian kalinya dari sebuah tragedi diudara yang lama tidak muncul yaitu sebuah pesawat TNI-AU :

Pesawat Cassa TNI AU Tergelincir
Headline News / Nusantara / Sabtu, 29 Agustus 2009 12:29 WIB

Metrotvnews.com, Maluku: Pesawat Cassa jenis U-212 milik TNI Angkatan Udara tergelincir di Lapangan Terbang Lar Guarhar Dobu, Kepulauan Aru, Maluku, Sabtu (29/8) sekitar pukul 11.30 waktu setempat. Pesawat tergelincir hingga 200 meter dari landasan pacu.

Pesawat mengangkut 15 penumpang dan dua awak: pilot Letnan Marpaung dan copilot Letnan Yudha. Sejauh ini belum diketahui ada korban atau tidak. Yang pasti, roda bagian kiri dan kanan burung besi yang terbang dari Ambon ini hancur.(ICH)

Dengan jelas terjadinya pesawat nahas tersebut adalah tgl 29-agustus-2009, sekali lagi tanggal 29. Dari pesawat POLRI tgl 2 dan menengok kebelakang sebuah pesawat TNI-AU nahas tgl 29 dan gempa tasikmalaya terjadi 2-9, maka tidak berlebihan bahwa di artikel Tanda Bencana Adalah Tiga Huruf yang diposting 3 hari sebelum jatuhnya pesawat tsb, pun memuat simbol 2 dan 9 tsb, yakni

….

Pertanda tiga huruf telah banyak dimuat didalam artikel-artikel sebelumnya, dimulai penantian bencana besar (baca Kejadian Aneh – Aneh Menjelang Bencana Besar) dimana artikel tsb dituliskan tepat Jan 29, 2009 10:56 am, posting yang tidak bisa diubah tgl & jamnya dalam milis the_untold_stories

Tertulis dengan jelas di akhir alinea artikel tsb yakni pertanda sebagai kejadian aneh lahirnya bayi berkepala dua di Aceh & meledaknya Gardu Travo PLN di Tasikmalaya. Kejadian ini berulang lagi ketika mendekati gempa tasikmalaya tgl 2-9-2009 (baca Tanda Tanda Sebelum Gempa TasikMalaya).

….

Gempa yang terjadi hanyalah gempa pengingat sebelum gempa induk yang lebih dahsyat sehingga terjadilah tanggal 2-9-2009 atau dibaca 2 dan 9 sekali lagi 2 dan 9, apakah 2 dan 9 itu ? ingat kisah n. yusuf dan adiknya beserta saudara-saudara hingga n. yusuf di penjara ? (baca Yusuf dan Siklus Sebelas) Artinya induk dari bencana yang lebih dahsyat terjadi sebagaimana kisah yusuf tsb, seorang dizalimi dipanggil oleh lembaga paling ditakuti di negeri ini atas kasus sama persis dengan kejadian di TasikMalaya (baca Hikmah di balik kebetulan )

Hal yang unik dari ketepatan tgl posting dan tgl terjadinya gempa tasikmalaya adalah sebuah pesan yang berulang tentang gardu induk PLN yang terbakar. Kemudian simbol 2 dan 9 itulah sehingga lahirlah sebuah artikel sehari sebelum gempa sumbar/padang yakni Bacalah 29, Jakarta Telah Diperingatkan posting Sep 30, 2009 11:35 am.

Tidak berlebihan jika menjawab mengapa pesawat POLRI jatuh tgl 2-11-2009, kemdian ditarik terakhir pesawat TNI yang nahas terjadi tepat tgl 29, maka hal tsb (pesawat POLRI jatuh) adalah sebuah jawaban penegasan dari artikel tentang simbol 2 dan 9 tsb.

Jawaban: Mengapa harus di papua ?

Bumi papua adalah bumi yang ‘ganas’  bagi penerbangan, selain itu pesawat POLRI yang jatuh dipapua merupakan sebuah ingatan ‘kuburan’ bagi pesawat-pesawat  (tahun 2009)

  1. Pada 20 Februari 2009, pesawat Twin Otter milik maskapai Trigana Air Service tergelincir saat mendarat di Bandara Bioga, Kabupaten Puncak Jaya. Akibatnya, ban depan pesawat patah. Tidak ada korban jiwa
  2. Pada 9 April 2009, pesawat PT Aviastar Mandiri jatuh di bukit Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Enam orang tewas.
  3. Pada 17 April 2009, pesawat Mimika Air jenis Pilatus PK-LTJ jatuh di Gunung Gergaji, Kabupaten Puncak Jaya. Sembilan penumpang dan dua awak pesawat tewas
  4. Pada 11 Mei 2009 , pesawat Hercules 130 B milik TNI-AU celaka di Bandara Wamena. Empat roda belakang terlepas hingga menghantam seorang warga dan satu rumah dekat Bandara Wamena, Kabupaten Jawijaya, Papua
  5. Lalu, pada 14 Juni 2009 pesawat Dornier 328 PK-TXN milik Express tergelincir di Bandara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. Baling-baling kanan patah, tapi tak ada korban jiwa.
  6. Lantas, pada 29 Juni 2009 pesawat Twin Otter PK-BRO DHC 6 milik PT Avia Star hilang saat terbang dari Bandar Dekai, Kabupaten Yahukimo, menuju Bandara Wamena. Beberapa hari kemudian pesawat ditemukan hancur di wilayah Yahukimo dan tiga awaknya tewas.
  7. Musibah terakhir terjadi pada 2 Agustus 2009 saat pesawat Twin Otter milik Merpati hilang dalam penerbangan dari Bandara Sentani menuju Oksibil. Pesawat ditemukan hancur pada 6 Agustus. Sebanyak 15 penumpang dan awaknya tewas.

Betapa berbahayanya medan di papua, hingga jatuhnya pesawat-pesawat tersebut dengan korban jiwa, dimana kecelakaan dengan korban jiwa terakhir sebelum pesawat POLRI terjadi tepat tgl 2-April dan awal dari kecelakaan dengan koran jiwa adalah tgl 9-April (SAAT PEMILU).

Papua meminta korban jiwa, awal terjadi tepat tgl 9  korban jiwa dan akhir terjadinya tgl 2, sebuah simbol sederhana yang mengingatkan pada simbol 2 dan 9. Sebuah simbol sederhana yang terus meneruskan dituliskan di arikel-artikel terdahulu, hingga itulah sebuah siklus pertanda

Gempa yang terjadi hanyalah gempa pengingat sebelum gempa induk yang lebih dahsyat sehingga terjadilah tanggal 2-9-2009 atau dibaca 2 dan 9 sekali lagi 2 dan 9, apakah 2 dan 9 itu ? ingat kisah n. yusuf dan adiknya beserta saudara-saudara hingga n. yusuf di penjara ? (baca Yusuf dan Siklus Sebelas)

Dua dari papua dan sembilan adalah sebuah peringatan sebelum bencana dahsyat yang terjadi seperti contoh

  • Ban Pesawat Hercules TNI AU Lepas, 1 Warga Terluka, PAPUA | SURYA Online – Pesawat Hercules TNI AU mendarat darurat di Bandar Udara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, setelah ban belakang kanannya lepas, Senin (11/5)

Kemudian 9 hari berikutnya (anehnya simbol 9 muncul lagi), bencana paling dahsyat di udara terjadi 11+9=20-mei-2009,  Pesawat Hercules Jatuh Pada Hari Kebangkitan Nasional

Tanggal 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), dan tahun ini adalah Harkitnas ke-101. Pada peringatan Harkitnas 2009 ditandai dengan jatuhnya pesawat Hercules C-130 bernomor A-1325 milik TNI AU di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu pukul 06:25 WIB….Ia menyebutkan korban tewas yang teridentifikasi sebanyak 96 orang terdiri atas 94 penumpang dan dua warga setempat yang rumahnya tertimpa pesawat….”Jadi, korban tewas berjumlah 96 orang, sedangkan korban selamat 15 orang,” katanya

Perulangan yang Nyata

Dengan terjawabnya:

  1. Pesawat POLRI yang jatuh
  2. Tanggal terjadinya tgl 2
  3. Papua tempat jatuhnya

Maka semua sudah berulang sesuai doa-doa di akhir artikel Tanda Bencana Adalah Tiga Huruf yang diposting 3 hari sebelum jatuhnya pesawat tsb.

Dengan pararelisme antara sebab tiga huruf memasuki tahapan yang menentukan dan tanda bencana tiga huruf ini sudah komplit, semua sudah terjelaskan baik huruf pertama, huruf kedua dan huruf ketiga, berikutnya tinggalah penantian ketika doa-doa terpanjatkan (baca Rahasia Gempa TasikMalaya & Gempa Sumbar)

Kliping berita

Berbuat Baik Malah Celaka

Bus CJH Magetan Tabrakan

Seorang CJH Sempat Terlempar dari Jendela

TARIK – Kecelakaan menimpa bus berisi rombongan calon jamaah haji (CJH) kloter 26 asal Magetan di Jl Raya Kramat Tumenggung, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo kemarin. Akibatnya, tujuh penumpang termasuk sopir bus mengalami luka-luka dan dilarikan ke RS Citra Medika, Tarik.

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun Darmo, bus pariwisata Indah Jaya yang mengantar rombongan CJH melaju dengan kecepatan sedang mengikuti mobil Patwal dari Magetan. Sedianya, rombongan bus itu akan menuju ke Asrama Haji Sukolilo (AHS), Surabaya.

Bus dengan nomor tiga berada di urutan kedua dari tujuh rombongan bus CJH. Begitu sampai di lokasi, tepatnya di tikungan sekitar KM 43 Jl Raya Mojokerto-Surabaya, rombongan calon jamaah haji berusaha mendahului sebuah bus Surya Indah yang berhenti di tepi jalan.

Lima kendaraan termasuk mobil patwal yang berada di depan bus berhasil mendahului bus yang berhenti. Namun sial bagi bus yang dikemudikan oleh Mahfud Edi Purnomo, 30. Saat berada di tikungan, tiba-tiba dari arah melintas sebuah dump truck nopol L 8313 UD yang dikemudikan oleh Budi Suroro, 30, warga Desa Sumbersono, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Kencangnya laju kedua kendaraan menyebabkan kedua sopir tidak sempat menghentikannya secara mendadak. Tabrakan pun tidak dapat dihindarkan. ”Saya sudah telanjur berada di tengah jalan, lalu dari depan ada truk yang melaju kencang,” ujar Edi, sopir bus.

Bagian depan sebelah kanan bus rusak berat. Tujuh penumpang termasuk sopir mengalami luka-luka. ”Saya tidak tahu persis kejadiannya, tiba-tiba ada suara bruaakk..!! lalu kaca depan pecah semua,” terang salah seorang CJH, Ngatiyem. Korban luka berat dialami oleh Mursyid Usman, 30, CJH asal Ploso Tinil, Panekan, Magetan dengan luka di bagian kepala, tangan dan kaki. Bahkan, seorang saksi mata, Slamet, 34, warga sekitar mengatakan, korban sempat terlempar dari jendela.

Korban luka ringan diketahui bernama Suken, 45, CJH asal Dusun Ngancar, Desa Panekan, Kecamatan Sidowayah, Magetan; Siti Marfuah, 45, warga Ploso Tinil, Panekan, Magetan; Susmiati, 45, dan Soleh, 49, keduanya warga Punduk Doro, Plausan, Magetan serta petugas Depag Magetan, Hj. Yusie Zaini, 45, asal Jl Jaksa Agung, Magetan. Para korban segera dilarikan ke RS Citra Medika saat itu juga.

”Korban luka berat hanya satu, saat ini masih di-scan terlebih dahulu. Korban mengalami luka di bagian keppala, tangan dan kaki. Sedangkan lainnya hanya mengalami luka ringan saja,” terang kepala UGD rumah sakit, dr Wahida Rachmansyah.

Menurut Koordinator Pelaksana Haji Magetan, Salis Umar, tujuh bus yang ditumpangi 322 calon jamaah haji ini bertolak dari Magetan sekitar pukul 06.00 dan rencananya tiba di Asrama Haji Sukolilo (AHS) sebelum pukul 12.00. ”Rombongan lainnya tetap melanjutkan perjalanan, sedangkan yang luka berat masih dirawat terlebih dahulu,” ujarnya. Musibah kecelakaan ini langsung ditangani anggota Laka Lantas Polres Sidoarjo. (ang/yr)

[ Senin, 02 November 2009 ]

TUBAN - Acara ziarah Wali Sanga jamaah Musala Nurul Jannah, Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Probolinggo, berakhir duka. Kemarin pagi sekitar pukul 08.15 WIB bus Medali Mas Nopol N 7141 UA yang membawa 60 jamaah itu bertabrakan dengan truk gandeng Varia Usaha (VU) bermuatan 35 ton semen di Jalan Tuban-Semarang Km 21-22.

Akibat kecelakaan di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, Tuban, tersebut, delapan korban tewas di lokasi kejadian, lima orang luka berat, dan tujuh luka ringan. Seluruh korban adalah penumpang dan awak bus Medali Mas. Mereka kini dirawat di RSUD dr R Koesma, Tuban. Korban tewas adalah Yunus, 6; Kholifah, 20; Faisol, 17; H Abdul Kalim, 65; Mistiah, 45; Atmuh, 60; Lagimin, 65; dan Nur Fadilah, 30. Sedangkan sopir bus Karnadi, 33, menderita luka.

Ada dua versi penyebab kecelakaan di jalur pantai utara (pantura) Tuban tersebut. Abu Hasan, 42, saksi mata di tempat kejadian perkara (TKP) kepada wartawan koran ini menerangkan, kecelakaan tersebut dipicu meletusnya ban sebelah kanan depan gandengan truk VU Nopol W 9644 VA yang melaju dari arah Semarang menuju ke Tuban.

Saksi yang saat itu berada persis di depan rumahnya dan berjarak sekitar 5 meter dari TKP mengatakan tidak tahu persis berapa ban bak gandengan yang meletus. ”Yang jelas, setelah terdengar bunyi dor, gandengan truk terpelanting dan menghantam bus,” kata dia.

Menurut dia, bagian kanan bak truk gandengan bergesekan keras dengan bodi kanan bus. Akibatnya, bodi kanan bus robek. Saat bodi kanan bus tercabik disertai hentakan keras, sebagian penumpang yang duduk di sisi kanan tergencet. Selebihnya, terlempar dan terbanting ke aspal.

Setelah bergesekan dengan bus, truk gandengan terguling ke kanan. Posisinya melintang, hampir memenuhi badan jalan. Sedangkan bus Medali Mas dalam posisi serong, menghadap ke barat laut. Separo bodi depan bus berada di jalur lawan (utara jalan).

Versi lain dibeberkan Moyan, 44, pengemudi truk tronton Nopol S 8250 UE yang berada di belakang bus Medali Mas. Dia mengungkapkan, sebelum mendekati titik tumbuk, bus rombongan ziarah Wali Sanga tersebut keluar dari marka jalan dan menyongsong truk gandengan VU yang melintas di jalurnya.

Menurut warga Lamongan itu, ban truk gandengan VU baru meletus saat berbenturan dengan bus. ”Saya tahu karena berjalan di belakang bus,” ujarnya. Tabri, 40, pengemudi truk gandengan VU yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan kronologi itu. Dia membantah ban kanan depan gandengan truknya meletus terlebih dulu dan memicu terjadinya kecelakaan maut tersebut.

Saat kecelakaan terjadi, sebagian besar penumpang tertidur. Karena itu, tak seorang pun yang mengetahui persis detik-detik terakhir menjelang busnya terkena musibah.

Kecelakaan maut tersebut menyebabkan yang lalu lintas jalur Tuban-Semarang macet total enam jam. Arus lalu lintas kembali lancar setelah dua kendaraan yang terlibat kecelakaan berhasil ditarik menepi ke bahu jalan.

Wakapolres Tuban Kompol Yandri Irsan yang mengomando evakuasi di TKP menegaskan, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut. Menurut dia, minimal dibutuhkan waktu tiga hari untuk memastikan apa saja yang menjadi pemicu kecelakaan itu. ”Kami juga tidak bisa berasumsi tanpa ada bukti data yang konkret,” tegasnya.

Tim SAR Panca Tunggal (PT) Tuban yang pertama datang ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk evakuasi mendapati tiga korban tewas tergeletak di jalan, persis di belakang bus. Lima korban tewas lainnya tergolek di lantai bus, tertindih kursi dan barang bawaan. Kholifah, 20, dan anaknya, Yunus, 6, tewas di lantai bus dalam posisi berpelukan. Saat musibah terjadi, ibu muda itu diperkirakan secara refleks memeluk buah hatinya untuk melindungi.

Begitu pula Yunus. Dia terlihat memeluk erat ibunya. Evakuasi ibu dan anak itulah yang mengundang haru tim SAR dan masyarakat. Tidak sedikit di antara mereka yang menitikkan air mata. “Saat kami evakuasi, Yunus masih hidup. Namun, sesaat kemudian, dia mengembuskan napas terakhir,” tutur Mikan, koordinator SAR PT.

Abdul Rokim, 32, yang ayahnya, Abdul Kalim, 65, ikut tewas dalam kecelakaan itu mengungkapkan bahwa bus yang ditumpangi rombongan jamaah pengajian di kampungnya berangkat pada Sabtu (31/10) pukul 10.00. Setelah sowan ke Ponpes KH Hamid di Tongas, Pasuruan, bus sempat mogok. Beberapa saat diperbaiki, bus bisa dijalankan ke garasi PO Medali Mas di Jalan Medaeng, Sidoarjo. Setelah berganti bus, perjalanan dilanjutkan ke makam Sunan Ampel di Surabaya, serta ke Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim di Gresik.

Berikutnya, rombongan tersebut berziarah ke makam Sunan Drajad di Lamongan, makam Asmaraqandi di Palang, Tuban, dan makam Sunan Bonang di Tuban. Kemarin bus keluar dari Terminal Wisata Kebonsari Tuban sekitar pukul 08.00. ”Semua berjalan biasa. Tidak ada firasat apa pun,” tuturnya. Kalau tidak terkena musibah, rencananya bus bertolak ke makam Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga di Jawa Tengah. Kemudian, ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon serta ke makam sejumlah aulia di Banten. Ziarah Walisongo menjadi program arisan dalam kelompok pengajian di desa tersebut.

Tabrakan Rombongan Mentan

Rombongan Menteri Pertanian (Mentan) Ir H Suswono MMA mendapat musibah saat kunjungan kerja kemarin (1/11). Iring-iringan mobil rombongan Mentan mengalami kecelakaan karambol di ruas Jalan Raya Slawi-Jatibarang -tepatnya di Desa Dukuhwaru, Kecamatan Dukuhwaru, Tegal- sekitar pukul 12.30.

Di antara sepuluh mobil yang mengangkut rombongan, tiga unit mengalami kecelakaan karambol. Yakni, satu unit mobil Kijang Innova dan dua bus. Musibah itu terjadi saat rombongan Mentan melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Tegal dan hendak ke Brebes. Beruntung, tidak ada korban dalam insiden itu.

Kerusakan terparah akibat tabrakan itu dialami mobil Kijang Innova nomor polisi B 108 RFS yang ditumpangi Abdul Rozak, staf ahli Mentan. Bagian depan dan belakang mobil tersebut rusak. Sementara itu, bus bernomor polisi B 7935 IW yang ditumpangi Mentan Suswono hanya rusak di bagian belakang. Bus lain yang mengangkut rombongan dari Deptan rusak pada bagian depan akibat menabrak Kijang Innova.

Sebelum terjadi musibah itu, iring-iringan mobil melaju dengan kawalan petugas dari Polres Tegal. Mentan Suswono berada di bus yang melaju paling depan setelah mobil Patwal Polres Tegal. Di belakangnya, mobil Innova yang ditumpangi Abdul Rozak dan diikuti bus Deptan serta iring-iringan mobil yang lain.

Menurut informasi yang diperoleh Radar Tegal (Jawa Pos Group), rombongan Mentan melaju dari timur (arah Slawi, Kabupaten Tegal) ke arah Kabupaten Brebes dengan kecepatan sedang. Saat melintas di ruas jalan wilayah Desa Dukuhwaru, iring-iringan mobil bermaksud mendahului truk tangki pengangkut BBM yang melaju pelan.

Pada saat hampir bersamaan, dari arah berlawanan melaju sebuah kendaraan. Demi menghindari tabrakan dengan kendaraan itu, bus yang membawa Mentan urung menyalip truk tangki BBM dan mengurangi kecepatan secara mendadak. Akibatnya, terjadi kecelakaan karambol. Sopir Kijang Innova tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya dan menabrak bagian belakang bus. Selanjutnya, bagian belakang Kijang Innova diseruduk bus Deptan yang melaju di belakangnya.

”Jarak antara Kijang dan bus di depannya hanya sekitar dua meter. Saat tabrakan, bagian belakang bus juga sempat terangkat,” tutur Yuli Wantoro, 30, warga Desa Dukuhwaru yang menyaksikan tabrakan itu.

Mulyono, 32, warga Desa Dukuhwaru lainnya menambahkan bahwa tabrakan berlangsung sangat cepat. Tetapi, tidak ada korban luka. Sesaat setelah tabrakan, empat penumpang Kijang Innova berpindah ke mobil lain yang mengikuti rombongan Mentan. ”Lantas, mereka melanjutkan perjalanan,” katanya.

Petugas dari Polres Tegal langsung bertindak sigap dengan mengamankan lokasi kejadian. Alhasil, tidak sampai terjadi kemacetan. (ds/aan/jpnn/dwi/oki)

Nasib Empat Kru Belum Diketahui

JAYAPURA – Musibah kecelakaan pesawat milik Polri kembali terjadi di Papua. Siang kemarin (2/11) pesawat Cassa M 28 jenis Sky Truck bernomor lambung P-4202 milik Polri yang di-BKO-kan (bawah kendali operasi) ke Polda Papua hilang di kawasan Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.

Hingga tadi malam belum diketahui nasib pesawat yang mengangkut delapan drum bahan bakar minyak (BBM) ini. Begitu pula kondisi empat awak, yaitu Kapten Pilot AKP Yunus, Kopilot Ipda Benediktus, serta mekanik Briptu Saiful dan Briptu Kuswanto.

”Seharusnya pesawat tiba di Mulia pukul 12.40 WIT. Tetapi, sampai saat ini belum juga tiba dan tidak berhasil dikontak,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombespol Agus Rianto ketika dihubungi Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) tadi malam.

Agus Rianto menuturkan, pesawat Sky Truck itu dilaporkan hilang kontak di sekitar Desa Foao dan Desa Mele sekitar 78 mil dari Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.

Sebelumnya, pada 22 Februari 2005, pesawat Cassa-212 milik Polri juga jatuh di pantai dekat Lapangan Terbang Kabupaten Sarmi, Papua. Dalam insiden itu, 15 orang tewas.

Beberapa kecelakaan pesawat juga terjadi di Papua tahun ini. Pada 20 Februari 2009, pesawat Twin Otter milik maskapai Trigana Air Service tergelincir saat mendarat di Bandara Bioga, Kabupaten Puncak Jaya. Akibatnya, ban depan pesawat patah. Tidak ada korban jiwa

Pada 9 April 2009, pesawat PT Aviastar Mandiri jatuh di bukit Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Enam orang tewas. Pada 17 April 2009, pesawat Mimika Air jenis Pilatus PK-LTJ jatuh di Gunung Gergaji, Kabupaten Puncak Jaya. Sembilan penumpang dan dua awak pesawat tewas.

Pada 11 Mei 2009 , pesawat Hercules 130 B milik TNI-AU celaka di Bandara Wamena. Empat roda belakang terlepas hingga menghantam seorang warga dan satu rumah dekat Bandara Wamena, Kabupaten Jawijaya, Papua. Lalu, pada 14 Juni 2009 pesawat Dornier 328 PK-TXN milik Express tergelincir di Bandara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. Baling-baling kanan patah, tapi tak ada korban jiwa.

Lantas, pada 29 Juni 2009 pesawat Twin Otter PK-BRO DHC 6 milik PT Avia Star hilang saat terbang dari Bandar Dekai, Kabupaten Yahukimo, menuju Bandara Wamena. Beberapa hari kemudian pesawat ditemukan hancur di wilayah Yahukimo dan tiga awaknya tewas.

Musibah terakhir terjadi pada 2 Agustus 2009 saat pesawat Twin Otter milik Merpati hilang dalam penerbangan dari Bandara Sentani menuju Oksibil. Pesawat ditemukan hancur pada 6 Agustus. Sebanyak 15 penumpang dan awaknya tewas. (bat/ade/fud/wen/jpnn/dwi)

Categories: Fenomena, Islam