Beranda > Fenomena, Islam > Gempa Ujung Kulon, Mereka Tidak Pernah Percaya

Gempa Ujung Kulon, Mereka Tidak Pernah Percaya

Oktober 17, 2009 thephenomena

Gempa penegas pertama telah terjadi di Ujung Kulon yang terasa hingga Jakarta, Jumat, 16/10/2009 16:54 WIB Jakarta Gempa Lagi bahkan gempa inipun terasa ke istana kepresiden,

Gempa, Pegawai Istana dan Paspampres Berlarian

Jakarta – Gempa 6,4 SR yang berpusat di Ujungkulon terasa getarannya di Istana Presiden. Goncangan gempa membuat pegawai Istana, Sekretariat Negara, dan Paspampres yang bertugas di Istana berlarian berkumpul di lapangan parkir.

Pantauan detikcom di Istana, pada saat terjadi gempa, Jumat (16/10/2009), sejumlah pegawai bersiap untuk pulang. Saat gempa mengguncang mereka kontan lari ke lapangan parkir.

“Eh..gempa…gempa..,” teriak sejumlah pegawai Istana sambil berlarian.

Wartawan yang berada di pressroom pun tidak ketinggalan berhamburan ke luar ruangan dan berkumpul di lapangan terbuka.

Saat gempa, lampu-lampu di Istana tampak berayun-ayun. Kaca-kaca juga bergetar.

Jurubicara Presiden Andi Mallaranggeng yang kebetulan sedang berjalan ke luar Istana tidak terlalu merasakan goyangan gempa. “Mungkin karena lagi jalan saya tidak terlalu terasa,” ujarnya. (Rez/Rez)

Alkisah gempa Jakarta ini telah tertulis dalam artikel Misteri Ledakan Bone posting Oct 10, 2009 a3:44 pm dan artikel Gempa Sumbar dan Al-Qur’an Oct 9, 2009 8:54 am . Artikell pertama (Gempa Sumbar dan Al-Qur’an) menyebutkan bantahan tentang gempa sumbar akibat kemewahan, berikut tulisannya :

…..

Secara pembahasan ayat al-quran, gempa tsb memang cocok, namun ketika artinya di kaitkan dengan orang-orang sumbar pada ayat 17:16

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan , kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (17:16)

Maka tuduhan orang sumbar sudah berkehidupan mewah, sungguh jauh dari kenyataan, justru kemewahan banyak di jumpai di jantung indonesia yakni Jakarta, mengapa harus sumbar ?

Tertulis di artikel tsb adalah sebuah wacana, jika ayat gempa sumbar yang banyak ramai dibicarakan mengenai kemewahan, justru kemewahan itu ada di jantung ibu kota : JAKARTA

Kemudian di artikel berikutnya yakni Misteri Ledakan Bone tertulis agar mencermati fenomena tiga hari yang menentukan , tertulis

FENOMENA TIGA HARI YANG MENENTUKAN

Ledakan BONE yang diduga meteor jatuh, menurut catatan nomer 1 diatas, hal tsb dapat merupakan sebuah siklus 3 hari yang menentukan

…………

Tercatat fenomena tiga hari yang menentukan adalah tgl 11-10-2009, setelah ledakan bone terjadi tgl 08-10-2009. Ada apakah tgl 11-10-2009 ? sebagaimana dituliskan dalam artikel tsb :

Ledakan di BONE 8-oktober-2009,…….sebagai 11-oktober-2009, atau sebelas hari setelah gempa sumbar 30-09-2009

Apakah ledakan BONE berakibat pada nomer 1, nomer 2 atau nomer 3 seperti yang dituliskan di atas ? wallahu’alam, jika Allah menghendaki terjadi, maka terjadilah.

Mengingat kejadian gempa yogya 27-mei-2006 lalu yang didahului sebuah KA berjalan mundur tgl 11-mei-2006, (baca ['Gagak'] Allah sebelum Gempa Yogya) beriktibar sebagai :

…..

Sebagaimana bencana bencana besar di Indonesia, Allah senantiasa mengirimkan pertandaNya untuk menyelamatkan umat manusia. Bentuk penyelamatan ini berupa komunikasi yang universal (semua orang melihat dan mencatat) dengan berbagai bentuk, mulai helikopter di jatuhkan (Gagak qobil & Tsunami Aceh 26-des-2004), Kapal Terbakar (Fenomena ‘Kapal’ Tuhan) , Petir menyambar (Fenomena ‘Petir’ Allah)

Berbagai bentuk merupakan ‘jelmaan’ sebuah pelajaran jaman dahulu yang diberikan oleh Allah kepad hamba (qobil) yang berdosa setelah membunuh saudaranya. Allah menyuruh gagak (”Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya . Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. ” al-maidah:31)

Dalam bentuk yang lain-pun , kembali Allah mengirimkan ‘gagak’-Nya sebelum gempa yogya 27-mei-2006 lalu, kejadian langka dan menarik perhatian semua orang Indonesia dan bahkan kejadian itu merupakan kejadian langka di seluruh dunia ini.

…..

Sebelum gempa terjadi, maka Allah menyuruh seorang wanita bernama Mila Rosa, 11/05/2006 lalu atau 16 hari menjelang gempa yogya, seorang kurang waras untuk membajak kereta yang tengah berhenti di stasiun bangil saat akan menuju malang.

“Kereta itu berjalan mundur dari ketinggian ke arah daratan, bayangkan dengan kejadian G. Merapi di ketinggian yang akhirnye terjadi adalah gempa yogya di daratan “

Kereta BBM itu berhenti karena untuk menambah kepala, karena jalan naik ke malang, jika dengan hanya satu kepala, maka di pastikan tidak kuat.

Masinis turun dari KA dan ‘istirahat’ sebentar di stasiun dan tidak berapa lama, naik-lah si Mila Rosa itu ” KA ini, berangkat pukul 22.00 Kamis (11/5), berangkat dari Surabaya tujuan Malang. Setiba di Bangil, berhenti sejenak dan melanjutkan ke Wonokerto. Karena tidak kuat membawa beban, KA kembali ke Bangil dan akan dilansir di dipo. Dua masinis kereta Durahman dan Tri Iswitoyo turun dan memeriksa kondisi KA. Saat itulah kereta dijalankan mundur ke arah Surabaya dan dalam waktu 50 menit tiba di Sidotopo, Surabaya” sumber (Kompas: Wanita Gila Bajak Kereta Pengangkut Solar)

Begitulah ‘gagak’ Allah yang senantiasa menarik hati manusia agar mencermati kejadian-kejadian langka tanpa ada unsur meramal, kecuali sikap tunduk dan patuh kepada Allah semata. Kini ‘gagak’ Allah yang lain kembali muncul sebagaimana yang dinantikan di artikel Misteri Ledakan Bone tentang tiga hari yang menentukan setelah ledakan bone. Tgl 11-10-2009 adalah hari dimana seorang bocah korban Tsunami Aceh & Nias MEMBUNUH ibu angkatnya di Jakarta

Bocah SD Bunuh Ibu Angkat, Tak Tahan Diperlakukan Kasar

Jakarta – Surya - Diangkat Anak Setelah Jadi Korban Tsunami Aceh-Nias. Seorang bocah berusia 10 tahun, Mur alias Mossi, mengaku membunuh ibu angkatnya, Ny Etty Rochyati, 55, dengan martil dan pisau. Dia lalu membuang mayat Etty di parit di belakang rumahnya di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur. Mayat itu ditemukan Selasa (13/10) pagi.

Kepada polisi, Mossi yang masih kelas I Sekolah Dasar (SD) itu mengaku membunuh ibu angkatnya karena kesal akibat sering dimarahi. Ia juga mengaku kerap mendapatkan perlakuan kasar.

Mossi telah ditahan di Polres Jakarta Timur. Sejak Rabu (14/10), statusnya sudah resmi menjadi tersangka tunggal dalam kasus pembunuhan itu. “Statusnya kini jadi tersangka tunggal,” kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Hasanuddin, Rabu (14/10). Ditambahkan, polisi belum menemukan adanya keterlibatan orang lain dalam kasus ini.

Mossi adalah anak angkat Ny Etty yang merupakan istri Amir Hamzah, dosen farmasi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Mossi berasal dari Nias. Ia adalah anak korban gempa dan tsunami Aceh dan Nias 2004 lalu. Orangtua kandung Mossi dan sebagian besar keluarganya meninggal dalam bencana alam yang sangat dahsyat tersebut.

Anggota TNI AD yang ditugaskan di Nias menemukannya tiga tahun lalu kemudian membawanya ke Jakarta. Namun Mossi kemudian kabur dari rumah itu dan menetap bersama keluarga Amir Hamzah. Mossi diangkat anak oleh Amir-Etty sejak dua tahun lalu. Oleh keluarga Amir-Etty, Mossi lalu disekolahkan dan saat ini duduk di kelas satu SDN 13 Bulaksereh, Cibubur.

Sebelumnya, pada Senin (12/10) malam, Etty Rochyati yang juga guru kesehatan di RSPAD dilaporkan hilang oleh suaminya, Amir Hamzah, 57. Dalam laporannya disebutkan Etty hilang sejak Minggu (11/10) pagi. Pada saat bersamaan, Mossi juga menghilang.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pada Minggu (11/10) sekitar pukul 06.30 Amir mengantar anak pertamanya, Iskandar Zulkarnaen alias Zul, 28, ke Cawang, Jakarta Timur, untuk naik bus tujuan Bandung. Zul dan kedua adiknya, Taufik, 25, dan Adjat, 22, tinggal di Bandung. Zul menjalankan bisnis air minum kemasan, sementara Taufik kuliah di ITB, sedangkan Adjat kuliah di UPI.
Ketika pulang dari Cawang, Amir tak menemukan sang istri maupun Mossi di rumah. Dia pun bertanya ke para tetangga, namun tak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Karena curiga, Amir pun lapor polisi.

Pada Selasa (13/10) pagi, setelah mendapatkan laporan, polisi memeriksa rumah Amir yang terletak di Jalan Sembung No 137, RT1/7 KPAD, Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, dan menemukan jenazah Etty di parit belakang rumahnya.

Ketika jenazah ditemukan, polisi melihat tiga titik luka akibat benda tumpul di kepala belakang korban. Selain itu, ada sebilah pisau menancap di pinggang kiri tanpa noda darah. Diduga pisau ditikamkan setelah korban meninggal. Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jaktim untuk diotopsi.

Tentang keberadaan Mossi, sejumlah warga mengatakan sempat melihat Mossi tidur berpindah-pindah di emperan rumah warga, setelah pembunuhan itu. Saat berjalan, Mossi seperti kebingungan. Warga lalu menitipkan dia ke seorang guru mengaji sampai akhirnya dibawa ke Polsek Metro Ciracas pada Selasa (13/10), setelah sempat mengaku sudah membunuh ibu angkatnya.

Kapolsektro Ciracas Kompol Ngadiya mengatakan, Mossi mengaku memukul kepala Etty dengan balok kayu dan martil saat ibu angkatnya itu menonton TV. ”Itu dia lakukan saat Amir dan Zulkarnaen meninggalkan rumah. Setelah itu dia menyeret mayat korban ke parit kecil di belakang rumah,” katanya.

Mossi juga mengaku menikam punggung Etty dengan pisau. Setelah pembunuhan itu, dia bersembunyi di sejumlah tempat di sekitar KPAD Cibubur.
Ketika memberikan pengakuan itu, polisi belum sepenuhnya percaya, apalagi Mossi anak yang baru berusia 10 tahun. Menurut Ngadiya, anak itu dalam kondisi trauma dan ketakukan.

Perlakuan Kasar
Mossi kini diamankan di Polres Jakarta Timur. Dalam penanganan kasus ini, polisi juga melibatkan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Seto Mulyadi.
Menurut pemerhati anak ini, mengapa Mossi membunuh, salah satu alasannya dia mengaku kangen pada ibu dan kampung halamannya. “Dia korban tsunami Nias, dia ingin pulang ke Nias,” kata Seto Mulyadi, Rabu (14/10).

Menurut lelaki yang akrab disapa Kak Seto ini, selama dirinya berbincang dengan Mossi, bocah itu menunjukkan perilaku yang wajar. “Dia melakukan perbuatan itu karena kemarahan yang memuncak dan tidak tahan lagi, karena rindu ingin pulang ke Nias,” terangnya.

“Dia sebatang kara. Ingin pulang ke Nias tetapi tidak ada biayanya,” katanya.
Selain karena persoalan emosional ingin pulang ke Nias, bocah korban tsunami ini juga mengaku sering mendapat perlakukan kasar dari ibu angkatnya, Etti Rochyati, seperti dihina, dikambinghitamkan, dan kekerasan fisik lainnya.

“Karena sudah tidak tahan mendapat tekanan dan penghinaan, dia terpaksa melakukan pembunuhan. Apalagi dia mengalami stres yang menumpuk akibat tsunami dulu. Terlebih dalam usia 10-12 tahun, dia masih sangat labil. Sudah menjadi yatim piatu karena tsunami, terus mendapat orangtua angkat yang keras. Terakumulasilah semua penderitanya,” kata Kak Seto.
”Dia sebenarnya anak yang cukup cerdas, ini hanya problem emosional, dia membutuhkan kasih sayang,” kata Kak Seto yang menjenguk Mossi selama 30 menit di ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jaktim.

Namun Amir Hamzah membantah istri dan keluarganya telah memperlakukan Mossi secara kasar. “Tidak ada itu, kami memperlakukannya seperti anak-anak yang lain,” ujar Amir Hamzah di rumahnya, Komplek Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (14/10).

Amir menceritakan, pasca tsunami Aceh-Nias, Mossi luntang-luntung sebatang kara di kampung halamannya di Nias. Anggota TNI AD yang ditugaskan di sana menemukannya tiga tahun lalu kemudian membawanya ke Jakarta. “Saat ditemukan, dia dalam keadaan linglung. Bahkan namanya saja tidak tahu,” ujarnya.

Setiba di Jakarta, bocah itu lalu diberi nama Mossi. Semula dia diasuh seorang anggota TNI. Mossi mengaku mendapat perlakuan kasar di keluarga itu sehingga kabur dan menetap bersama keluarga Amir Hamzah.
Amir Hamzah menyerahkan kasus pembunuhan ini kepada polisi. “Jika ada penyidikan, biarkan sesuai hukum,” ungkapnya.
“Kami sudah ikhlaskan kepergian Etty Rochyati. Kalau dengan menuntut yang macam-macam, maka akan membangkitkan luka dan sedih yang mendalam,” kata Amir Hamzah.

Sementara itu, meskipun status Mossi sudah tersangka, polisi masih mencari kepastian umur pelaku untuk menetapkan pasal yang dikenakan kepadanya. Kalau sudah 12 tahun, maka akan diproses sesuai UU Pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Jika Mossi sudah berusia 12 tahun ke atas, maka ancaman untuknya adalah Pasal 44 ayat 3 dengan ancaman 20 tahun penjara. Jika usianya 10 tahun, maka pengadilan akan digelar diversi. “Kalau di bawah umur, akan diserahkan ke negara atau keluarga,” ungkap Kapolres.

Saat diangkat oleh orangtua pertama pada 2005, umurnya dikatakan sudah 7 tahun. Dengan demikian maka usianya saat ini diperkirakan sudah 11 tahun. Namun kepastian soal umurnya ini masih akan menunggu hasil pemeriksaan pihak kepolisian lebih lanjut.

Sedangkan menurut Kak Seto Mulyadi, Mossi harus tetap menjalani proses hukum melalui Pengadilan Anak. Tapi tentunya ada hal khusus yang mesti diberikan pada bocah korban gempa dan tsunami Nias ini. Yang utama bagaimana nanti hukuman pada Mossi.
“UU Pengadilan Anak, tetap diajukan ke pengadilan dan dipidanakan. Dalam pemeriksaan ada pendamping, demikian juga dalam penahanan. Dan nanti keputusan yang edukatif,” jelas Seto Mulyadi. warkot/kcm/oz/dt

Alkisah 2 hari kemudian, sebuah sms dari Jakarta yang mirip dari artikel Tanda Tanda Sebelum Gempa TasikMalaya berupa permintaan dokumen datang lagi (padahal telah dikirim sebelumnya), hingga besoknya dikirim seolah menjadi ‘tuhan-tuhan kecil‘ yang harus dan wajib di turuti dan ditaati.

Doa-doa dipanjatkan atas itu semua sebagai rasa kezaliman pada diri sendiri sebagaimana doa n.yunus saat berada di perut ikan paus

laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu min al-dzaalimiin (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim). [ Al-Anbiya': 87]

Doa yang sepanjang hari dipanjatkan atas itu semua, maka ketika bergucang lagi asal panggilan dari ‘tuhan-tuhan kecil‘ tsb, maka iktibar terjadi

Jakarta – Gempa cukup dahsyat mengguncang kawasan Jakarta. Getaran gempa ini dirasakan juga di Bandung dan Bogor. Diperkirakan getaran banyak dirasakan di banyak kota di Jawa.

Gempa ini terjadi pukul 16.52 WIB, Jumat (16/10/2009). “Di Bandung sangat terasa. Sekitar 30 detik,” kata Iwan, warga Bandung.

Getaran gempa juga dirasakan di Bogor. “Goncangannya sangat keras,” ujar Hilya, salah seorang warga di Bogor.

(asy/nrl)

Sebuah iktibar yang jelas dari ‘tuhan tuhan kecil‘ tsb sebagai penegasan atas ketaatan hanya pada Allah semata, tanpa terpengaruh oleh ‘tuhan-tuhan kecil‘, sebagai kelanjutan dari Gempa Sumbar dan Al-Qur’an yakni sebuah ayat al-quran terjadi 16:52

Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah keta’atan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah? (16:52)

Tepat terjadinya gempa ujung kulon inilah sebagai iktibar dari artikel Misteri Ledakan Bone posting Oct 10, 2009 3:44 pm, tertuang di akhir alinea

….

Misteri ledakan BONE adalah efek dari sebuah kisah perjalanan mencari malaikat (baca Perjalanan Mencari “Malaikat”) di daerah padhangan, bojonegoro, akhir ramadhan 2009 lalu (mendekati 1 minggu sebelum lebaran). Padhangan adalah padhang-an, sebuah penegasan dari padhang dan an.

Gempa ujung kulon adalah gempa penegas pertama sebagaimana penegasan padhang-an, dimana adanya gempa penegas adalah telah telah tertulis di artikel Misteri Ledakan Bone

…..

Ketiga kejadian tersebut akhirnya di tegaskan dengan ledakan BONE di Indonesia timur yang berarti sebelum Induk Gempa terjadi, maka tersusunlah gempa pengingat (baca Tanda Tanda Sebelum Gempa TasikMalaya) kemudian gempa penjelas (baca Tanda Tanda Sebelum Gempa Padang & Maknanya) disusul dengan gempa penegas sebelum induk gempa terjadi. Gempa penegas inilah sebagai iktibar ledakan BONE.

Categories: Fenomena, Islam