Arsip

Arsip untuk September, 2008

Korban BLT

September 21, 2008 thephenomena 1 comment

Artikel yang sambung menyambung seakan tiada henti mengular bagai kejadian peristiwa berantai yang tiada pernah putus sebagai perjalanan kehidupan. Baru saja artikel BLT (Bantuan Langsung Tewas) di mana posting tgl Sep 20, 2008 10:25 am pagi hari, maka selang beberapa saat kemudian korban BLT benar terjadi sesuai judul artikel itu

Usai Ambil BLT, Menantu dan Mertua Tewas Ditabrak KA

Brebes, CyberNews. Dua orang tewas setelah sepeda motor yang ditumpanginya ditabrak Kereta Api Barang Cepat nomor Loko 201168, di perlintasan tanpa palang pintu Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Sabtu (20/9) siang. Mereka tewas seketika di lokasi kejadian dengan kondisi mengenaskan.

Korban adalah Sarpat (38) anak menantu dan Carmo (60) mertua, keduanya warga Dukuh Banjarmlati, Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba. Sedangkan sepeda motor yang dikendarainya rigsek.

Informasi Suara Merdeka CyberNews di lapangan menyebutkan, kejadian itu berawal ketika korban yang mengedarai sepeda motor Honda Grand AA-4629-HC hendak pulang dari mencairkan bantuan langsung tunai (BLT) di Kantor Pos Kecamatan Bulakamba. Saat akan melintasi perlitasan tanpa palang pintu, korban tidak tahu jika dari arah timur (Brebes) melaju KA Barang. Lantaran jaraknya sangat dekat, tabrakan tak bisa dihindari.

Sepeda motor yang dikemudikan Sarpat ditabrak di bagian tengah. Akibatnya, kedua korban
dan kendaraannya terseret hingga 10 meter. “Saat itu, sepeda motor korban melintas dari arah utara ke selatan. Mungkin tak tahu ada KA mau lewat, korban tetap melintas. Tiba-tiba, dari arah timur melaju KA dengan kecepatan tinggi,” kata Sudina (30), tetangga korban.

Waidah (30), istri Sarpat menuturkan, siang itu suaminya pamit mau mengantarkan orang tuanya mengambil BLT di Kantor Pos. Mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 10.30. Satu jam kemudian
didengar ada orang tertabrak KA. Setelah bertanya ke tetangga, ternyata adalah suami dan orang tuanya.

“Suami saya sebelumnya sudah ambil BLT. Namun, pamit keluar lagi mengantar bapak yang baru pulang dari berdagang untuk mengambil BLT. Setelah itu, geger ada orang ditabrak kereta. Ternyata, korbannya suami dan bapak saya,” tuturnya.

Sementara itu, jenazah kedua korban langsung dibawa warga ke rumah duka yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kecelakaan. Bahkan, visum oleh petugas medis Puskesmas juga dilakukan di rumah duka. Setelah itu, kedua jenazah langsung dimakamkan pihak keluarga di pemakaman umum desa setempat.

Kapolsek Bulakamba AKP Sobari mengatakan, kecelakaan itu terjadi diduga akibat ketidak hati-hatian korban saat melintas di perlintasan tanpa palang pintu.”Ini murni akibat korban kurang waspada saat menyeberang perlintasan KA,” katanya.

Kapolres Brebes AKBP Firli yang berkunjung ke rumah duka mengimbau masyarakat untuk waspada saat melintas di setiap perlintasan tanpa palang pintu.”Kami minta warga waspada. Setiap ada
lintasan rel harus berhenti untuk memastikan tidak ada KA yang lewat,” tandasnya.

Perhatikan berita itu di salah satu media lain mengutip “Bapak saya, niatnya pergi mengambil BLT. Tapi pulangnya ditabrak kereta api,” kata Ruminah, saat ditemui di samping mayat bapaknya kemarin.” Sehingga tidak berlebihan bahwa tewasnya bapak mbak Ruminah adalah penegasan atas artikel  “Bantuan Langsung Tewas” yang sangat kebetulan di posting beberapa saat sebelum kejadian

Ada apakah artikel tsb sehingga memerlukan penegasan korban BLT lagi dan bahkan berselang hanya beberapa saat saja setelah artikel di posting ? Kepentingan apakah sehingga kebetulan itu terjadi ? Lihat & cermati benar-benar isi dari artikel tsb :

……….

Baru saja tulisan tsb di posting Sep 17, 2008 8:05 am, maka hari berikutnya muncul berita tentang BLT Peluru Nyasar, Kok Jadi Begini Apa Salahmu Nak

………

Peristiwa mengenaskan tsb yang mengubah headline news dari zakat maut, menjadi berita peluru nyasar

……….

Begitulah kisah peluru nyasar yang erat kaitannya dengan artikel Zakat Maut & Manusia Berkepala Dua dimana dengan jelas “Penguasa (pemberi zakat) tidak sadar dengan kebijakan bagi-bagi zakat (semacam BLT) justru menjerumuskan penerima zakat (rakyat) sekiranya pemberian itu tidak meningkatkan taraf hidup masyarakat kecuali hanya untuk konsumtif saja.”

Setelah menerima BLT, maka Supatmi; Besuk Suami, Malah Kehilangan Putri Tercinta lihat lagi bahwa BLT tidak menghentikan suami ny supatmi untuk mencuri kayu hutan

………….

BLT tidak mengubah seseorang menjadi nyaman dalam kehidupannya, BLT tidak mengubah taraf hidup masyarakat, justru BLT menjerumuskan kehidupan lewat konsumerisme sebagaimana Bpk Suli yang tidak mampu menghentikan kegiatan mencuri kayu di hutan dengan alasan ekonomi ……………..

Sekiranya BLT itu di lakukan sebagai proyek padat karya, maka energi, tenaga Bpk Suli akan terserap sehingga melupakan niat untuk mencuri kayu di hutan karena saking sibuk & terkuras tenaga beliau, namun justru karena BLT adalah langsung tunai, maka masih tersedia ruang niat untuk melakukan pencurian kayu tsb.

Akhirnya karena BLT itulah anak Ny. supatmi tewas sehingga tidak berlebihan jika BLT adalah Bantuan Langsung Tewas “Oleh karena itu, setelah menerima BLT sebesar Rp 400.000, Supatmi memutuskan berangkat menuju LP. ”Supatmi ingin menjenguk suaminya yang tidak bisa menjalankan puasa bersama keluarga,” kata salah satu tetangga Suli.

Ya sebuah pesan penting untuk para penguasa tentang pentingnya meningkatkan etos kerja daripada peningkatan daya beli yakni “Penguasa (pemberi zakat) tidak sadar dengan kebijakan bagi-bagi zakat (semacam BLT) justru menjerumuskan penerima zakat (rakyat) sekiranya pemberian itu tidak meningkatkan taraf hidup masyarakat kecuali hanya untuk konsumtif saja.”

Kebijakan BLT yang shortcut untuk mengatasi masalah sesaat, namun ber-efek luar biasa untuk menjerumuskan ide-ide kreatif masyarakat bawah dan mendidik masyarakat bawah sebagai tangan dibawah dari pada tangan di atas (berbalik dengan ajaran Islam”

Hadits Riwayat Abu Hurairah: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, jika salah seorang di antara kalian berangkat pagi untuk mencari kayu yang ia panggul di atas punggungnya, lalu ia menyedekahkannya dan tidak memerlukan pemberian manusia; maka itu adalah lebih baik daripada ia meminta kepada seseorang, baik orang lain itu memberinya ataupun tidak. Karena, tangan yang di atas (yang memberi) lebih utama daripada tangan yang di bawah (yang menerima). Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung”.

Apakah penguasa sadar akan kekeliruan ttg konsep BLT itu ? … jawabnya cukup mudah dan terlihat di artikel BLT (Bantuan Langsung Tewas) yakni ttg pesawat Cina yang nahas …

Seakan menjadi penegasan bahwa urutan peristiwa-peristiwa itu sudah cocok & benar … tinggalah penentuan akan peringatan itu, saat semua orang menjadi tidak percaya akan penantian atas peringatan itu …

Aneh & Ajaib tentang penegasan itu, maka tibalah peristiwa langka ini yang menyangkut CINA yakni Sabtu, 20/09/2008 16:28 WIB China Airlines Alami Turbulensi Korban Luka-luka 11 Orang, 6 Dilarikan ke RS

Dimanakah dia terkena turbulensi ?

Dua jam setelah terbang dari Taipei, pesawat Boeing tipe 747-400 yang mereka tumpangi diempas jetstream (angin kencang) pada ruang hampa udara di ketinggian 35 ribu kaki (10,6 km) di atas daratan Sulawesi Utara dan Filipina. Kondisi yang di dunia penerbangan umum disebut turbulensi itu menimbulkan guncangan hebat di pesawat. Kontan seluruh penumpang dilanda kepanikan luar biasa. Pramugari yang mencoba menenangkan penumpang dan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terpental dan tersungkur.

Di atas p. Sulawesi yang mengingatkan Adam Air jatuh tak berbekas 1-1-2007 lalu. Lho apa hubungannya Adam Air dengan BLT ? Hal ini termuat sebagai kesimpulan dari artikel Di Balik Jatuhnya Adam Air

Kita tunggu saja siklus 11 ini apakah dapat membuat manusia indonesia terhindar dari manusia berkepala dua atau tidak ? selayaknya pilot & copilot adam air yang terekam dalam pembicaraan :

Ada suara peringatan ‘Altitude Deviation’.
K : NAV
P : Jangan dibelokkan! Ini heading kita
K : Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan!
Berikutnya, terdengar suara berdebam-debam keras terekam pada 06:59:05 UTC atau pukul 13.59 WIB.(nwk/nwk)
—————— versi yang ada di video
Suara ‘Bank angle’ dan alarm peringatan masih terdengar
P : Taro NAV lagi !
K : NAV! Ok,Capt?
P : Jangan dibelokin nih… Kita..!! (suara Pilot meninggi)
K : Captain, captain, captain…(terdengar panik)
Terdengar suara kretek..kretek..
K : Aduh Capt, Capt, Capt….
P : Iya, iya…!
Cockpit: Allahu Akbar. Allahu Akbar.Allahu Akbar. Allahu Akbar.Mayday….. Argh..Allahu Akbar..Mayday.Mayday..Allahu Akbar.
Terdengar suara kretek-kretek yang makin keras. “Argh..Allaaaaahu Akbaar..!”.
Dan terdengar suara bergemuruh hingga rekaman pun berhenti.(nwk/nwk)

Artinya negara ini sudah salah jalan, namun tidak terasa, saat akan jatuh barulah terasa bahwa arahnya salah, mengapa ? karena banyak penumpangnya (penduduknya) yang berkepala dua (baca [Misteri Kematian Soeharto] Ada apa di balik Kematian Soeharto?)

Sekali lagi kasus BLT & kasus lainnya menunjukkan arah negara yang salah dalam mendidik masyarakat, namun penguasa tidak sadar & tidak terasa, baru mereka sadar ketika negara akan jatuh (bangkrut) sebagaimana hikmah atas Zakat Maut & Manusia Berkepala Dua

……….
Bagaimana Indonesia tanpa sumber daya alam di papua ? Akankah Indonesia bangkrut ?

Begitulah perulangan-perulangan yang terjadi untuk mengingatkan bangsa Indonesia akan bahayanya Manusia berkepala Dua, jika lapisan bawah terkena zakat maut, maka tinggalah manusia berkepala dua di pusat-pusat kekuasaan atau penguasa

Korban-korban BLT

Mertua dan Menantu Tewas Disambar KA

BULAKAMBA-Kecelakaan di perlintasan tak berpalang pintu kembali terjadi di Dukuh Banjarmelati Desa Bangsri Kecamatan Bulakamba, Sabtu (20/9). Mertua dan menantunya Sarmo, 70 dan Sarpat, 40, tewas mengenaskan setelah sepeda motor yang ditumpangi disambar KA yang melaju dari arah timur sekitar pukul 11.00.

Tubuh kedua warga RT 01 RW 08 itu terlempar hingga jarak sekitar 25 meter. Kontan warga yang tahu kejadian itu langsung membawa tubuh kedua korban itu ke rumahnya.

Sebelumnya tak ada yang menyangka, usai mengambil Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kantor Pos Kecamatan Bulakamba, nyawa kedua orang tersebut harus melayang. Anak korban Ruminah menuturkan bahwa bapaknya saat berangkat mengambil uang BLT dengan menantunya, kondisinya sehat-sehat saja.

Saat pergipun tidak ada firastat yang aneh, apalagi bapaknya tengah menjalani puasa. Kondisi yang sama dialami korban Sarpat. Dan inilah pertemuan terakhir kalinya. “Bapak saya, niatnya pergi mengambil BLT. Tapi pulangnya ditabrak kereta api,” kata Ruminah, saat ditemui di samping mayat bapaknya kemarin.

Saat pertama dibuka wajah para korban itu penuh darah, namun sudah mengering. Kondisi tubuh ke dua korban itu pada bagian kepala mengalami pecah. Begitu pada bagian kakinya mengalami patah. Istri almarhum Sarpat tampak shock dengan kejadian itu. Apalagi suaminya meninggalkan dua orang anak yang masih kecil-kecil.

Sebelumnya Kapolres Brebes AKBP Drs Firli MSi didampingi Kapolsek Bulakamba AKP Sobari, berkesempatan datang ke rumah korban dan menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Sedang kasusnya sendiri sekarang masih dalam penyelidikan intensif. (din/jpnn/ida)

Kamis, 31 Juli 2008 10:05 WIB
SEORANG WARGA GRESIK MENINGGAL HABIS TERIMA BLT

Markamin, 70 tahun, warga Desa Madu Mulyo Rejo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, akhirnya meninggal<!–
()–>

Metrotvnews.com, Gresik: Markamin, 70 tahun, warga Desa Madu Mulyo Rejo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, akhirnya meninggal. Ia sempat dirawat di rumah sakit selama empat jam. Korban termasuk salah satu dari 3.700 warga sangat miskin di desanya. Anak almarhum dan sejumlah kerabat mengatakan, Markamin yang sakit-sakitan tampak gembira saat akan menerima bantuan langsung tunai (BLT).

Menantu korban, Mulyadi, menuturkan, Markamin kerap mengeluh sakit perut dan asmanya sering kambuh selama 2 bulan terakhir. Saat pencairan BLT berlangsung, Selasa lalu, Markamin memaksa berangkat sendiri ke loket Kantor Pos yang berjarak 10 kilometer dari rumahnya dengan naik ojek. Tidak lama mengantre Markamin terjatuh pingsan. Warga langsung mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Namun, setelah ia memaksa pulang menjelang subuh, Rabu (30/7) kemarin, Markamin meninggal.(DOR)

Hansip Lelah Antre BLT Meninggal

JAKARTA – Ujang Hasan (65), Hansip, di Kampung Tipar Timur RT 012/04 Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara meninggal karena kelelahan antre mengambil dana BLT.

Sebelumnya, ia sempat jatuh pingsan saat menunggu antrean BLT di kantor Pos Giro Semper Timur, Sabtu (24/05) lalu, akhirnya meninggal dunia, Senin (26/05) Pukul 21.20 WIB.

Lelaki setengah baya ini diduga kelelahan dan belum sarapan saat mengantri di Kantor Pos. Kakek 8 cucu tersebut terjatuh pingsan dan di bopong kerabatnya langsung dibawa pulang.

Seharian korban tak mampu bangun dari pembaringan karena kondisi badan sangat lemah. “Pak Ujang akhirnya meninggal dunia, sejak kelelahan dan capek usai antri BLT,” ujar Jumadi (35), tetangga korban. Sedangkan Ujang Hasan rneninggalkan seorang istri, lima anak dengan 8 cucunya.

Masturoh (60), istri korban hanya bisa pasrah dan menerima semua ini sebagai takdirk ehendak Illahi. Rencananya hari ini dimakamkan di TPU Budi Dharma, Kecamatan Cilincing. (fit).

Mobil Rombongan Pengambil BLT Terbalik, 1 Tewas

SUBANG, RABU – Mobil Kijang bak terbuka yang mengangkut rombongan pengambil dana bantuan langsung tunai atau BLT terbalik di jalur pantura Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (9/7).

Satu penumpang tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut. Seluruh korban adalah rumah tangga sasaran program BLT warga Desa Ciasem Tengah yang akan mencairkan bantuan di PT Pos Indonesia Kecamatan Ciasem.

Pascakejadian tersebut, korban luka dilarikan ke Klinik Pengobatan Sang Hyang Sri dan sebagian ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Subang. Mayoritas korban mengalami luka di bagian kepala, punggung, dan lengan atas.

Ade, salah satu korban selamat, mengatakan, mobil terbalik ketika hendak menghindari kendaraan lain yang menyeberang tiba-tiba. “Sopir sempat membanting ke kanan, tetapi dari arah berlawanan datang truk tronton. Sopir membanting lagi ke kiri tetapi mobil malah oleng,” ujarnya.

Ref Berita :

Berita Utama

[ Minggu, 21 September 2008 ]

Delapan di Antara 358 Penumpang Terluka, Umumnya Tulang Patah

DENPASAR – Ketenangan Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, siang kemarin (20/9) berubah menjadi kepanikan luar biasa. Penyebabnya adalah kedatangan pesawat jumbo jenis Boeing 747-400 milik maskapai penerbangan China Airlines yang mengirimkan sinyal darurat.

Sinyal itu memastikan bahwa pendaratan bukan seperti biasa dilakukan pesawat maskapai terbesar di Taiwan yang sebagian besar penumpangnya wisatawan itu. Seluruh staf bandara bersiaga. Petugas medis, keamanan, dan pemadam kebakaran juga langsung bersiaga. Tepat pukul 14.05, pesawat berwarna putih terlihat mendarat mulus di ujung bandara dan beberapa menit kemudian parkir apron gate 7.

Saat pintu pesawat dibuka, bukan senyum dan lambaian tangan yang tampak. Namun, deretan penumpang terluka serta wajah-wajah panik. Maklum saja, 358 orang (19 di antaranya kru) di dalam pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan CI 687 itu baru saja melewati masa-masa paling menegangkan dalam hidup mereka.

Dua jam setelah terbang dari Taipei, pesawat Boeing tipe 747-400 yang mereka tumpangi diempas jetstream (angin kencang) pada ruang hampa udara di ketinggian 35 ribu kaki (10,6 km) di atas daratan Sulawesi Utara dan Filipina. Kondisi yang di dunia penerbangan umum disebut turbulensi itu menimbulkan guncangan hebat di pesawat. Kontan seluruh penumpang dilanda kepanikan luar biasa. Pramugari yang mencoba menenangkan penumpang dan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terpental dan tersungkur.

Untungnya guncangan itu tidak berlangsung lama. Pilot kembali bisa mengendalikan pesawat sehingga bisa lolos dari guncangan akibat fenomena alam itu. Pesawat masih bisa terbang dalam kondisi normal dan tiba dengan selamat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Radar Bali (Jawa Pos Group) melaporkan, beberapa menit setelah roda pesawat menjejak di landasan, tim medis langsung menolong para penumpang dan melarikan yang terluka ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Total ada 29 penumpang yang langsung diangkut dengan ambulans nopol B 2374 LQ dan DK 1804 DI, serta beberapa kendaraan lain.

Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Dewa Ketut Oka yang memantau tim di RS Sanglah menyatakan, dalam insiden pesawat China Airlines tidak ada korban meninggal. Guncangan di pesawat itu melukai 13 awak dan penumpang. Sampai tadi malam, delapan penumpang dipastikan menjalani perawatan inap di paviliun Amerta Wing Internasional RS Sanglah. Lima sisanya menjalani rawat jalan karena hanya terluka ringan. “Dari delapan tersebut tiga adalah pramugari dan petugas pesawat, sementara yang lain adalah penumpang. Umumnya mereka menderita patah tulang,” rinci Ketut Oka.

Dari data RS Sanglah, delapan penumpang pesawat yang terluka cukup parah itu adalah tiga pramugari warga Taiwan, yakni Cheng Yung Mei, 38, Sarah Lin, 32, dan Hsu Shin Chin, 26. Berikutnya korban penumpang asal Taiwan, yakni Huang Yung Te, 61, Jesson Lao, 52, Huang Hui Min, 32. Serta satu warga Tiongkok Chang Yung An alias Jong Die, 28.

Dari hasil observasi di bagian bedah RS Sanglah, empat dari delapan korban menderita patah tulang, paling parah dialami Huang Hui Min. Penumpang warga negara Taiwan itu patah tulang di bagian tulang belakang, dada, dan punggung. “Sementara yang lain hanya patah tulang di beberapa organ tubuhnya, seperti leher, lengan, dan sesak napas,” jelasnya.

Meski terbang ke Indonesia, sampai tadi malam baru seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Dwi Hartati yang terdaftar sebagai penumpang China Airlines. Dwi termasuk korban terluka akibat turbulensi. Namun, dia hanya menjalani rawat jalan di salah satu rumah sakit dekat Bandara Ngurah Rai.

Nama Dwi Hartati diperoleh dari daftar korban yang dirilis Humas PT Persero Angkasa Pura I Ngurah Rai kemarin. “Ada satu WNI, dia ikut terluka,” M. Dimiyati, humas PT Angkasa Pura (AP) I, Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Dimiyati juga mengaku belum bisa merinci titik koordinat turbulensi yang menimpa pesawat China Airlines. Pasalnya, pilot tidak melaporkan peristiwa alam itu kepada pihak Bandara Ngurah Rai. “Kita justru mendapat laporan dari Gapura operation lewat ground handling China Airlines. Nanti mungkin ada pilot report-nya ke kita,” katanya

Menurut Dimiyati, turbulensi adalah fenomena alam yang kerap terjadi dan menimpa dunia penerbangan. Setelah menerima pilot report dari China Airlines, pihaknya akan meminta pilot penerbangan lain mewaspadai jalur yang dimaksud. “Untuk korban, bisa saja terjadi ketika mereka berjalan di pesawat atau di toilet dan bisa juga karena tidak menggunakan safety bel,” tambahnya.

Meski jatuh korban akibat turbulensi, pihak bandara tidak meng-grounding dan memeriksa pesawat. Bahkan, sekitar pukul 17.00 Wita pesawat buatan AS itu kembali terbang ke Taipei. “Dari pengecekan awal kondisi pesawat terlihat mulus, tidak ada kerusakan. Jadi, kita tidak melarang pesawat itu terbang lagi, ” ujar Dimiyati.

Momok Turbulensi

Fenomena turbulensi memang menjadi momok para pilot. Pengamat penerbangan Sri Subekti mengatakan, kondisi yang dialami pesawat China Airlines bisa disebabkan turbulensi atau gerak puntir udara karena adanya proses sirkulasi udara di awan.

Dia menjelaskan, di dalam awan tersebut terdapat dua aliran, yakni yang naik berupa uap air dan yang turun berupa air. Secara sederhana, bisa disebutkan bahwa pesawat menabrak awan. ”Biasanya, kalau berada di dalam awan tersebut dan merasakan aliran udara itu, itu yang membuat pesawat bergetar,” katanya tadi malam.

Sri mengungkapkan, awan tersebut memang bisa membahayakan. Menurut dia, dalam ketinggian tertentu, awan tersebut bisa menyebabkan pesawat patah. Namun, dengan kemajuan teknologi, dampak turbulensi bisa dihindari, bahkan diminimalkan. ”Turbulensi kini bisa dideteksi dengan radar sehingga pesawat tidak terbang terlalu tinggi,” ungkap mantan pilot Garuda itu.

Ketika terjadi turbulensi, lanjut dia, pesawat bisa bergerak turun atau naik secara tiba-tiba. ”Makanya, kalau penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman, dia bisa terpental,” jelasnya.

Dalam sejarah penerbangan modern, sejak dioperasikannya jet pada 1950-an, tidak pernah tercatat ada kecelakaan fatal (fatal-accident) pesawat komersial akibat jetstream atau turbulensi pada ketinggian jelajah di atas 30.000 kaki. Turbulensi, bagaimanapun ekstremnya, tidak pernah ”menjatuhkan” pesawat terbang.

Di kalangan maskapai penerbangan yang membuka rute internasional, reputasi China Airlines dalam hal keselamatan kurang meyakinkan. Maskapai yang dimiliki China Aviation Development Foundation, perusahaan BUMN Tiongkok itu dalam catatan asosiasi penerbangan internasional memiliki rekor insiden buruk. Sejak 1970, maskapai penerbangan yang berdiri pada 1959 itu mengalami rata-rata 3,21 kali kecelakaan per satu juta penerbangan. Di pasar domestik, China Airlines bersaing ketat dengan Eva Air.

Penerbangan ke Bali sebetulnya juga baru dibuka empat bulan lalu. Frekuensi penerbangan juga masih sedikit, satu sampai tiga kali per minggu, tergantung okupansi pesawat.(para/gup/jpnn/fal/kim)

Categories: Fenomena, Islam