Banyaknya kasus kasus yang berkembang di masyarakat, namun tiada di respon oleh para tokoh, pemimpin sebagaimana maraknya kasus bunuh diri yang semakin sering di masyarakat :
Di lain sisi para pemangku pendidikan-pun seolah tiada mengerti beban para murid yang melaksanakan ujian nasional, tengok 2 kejadian berita di bawah ini yakni di Gresik dan Madiun:
Kamis, 08 Mei 2008 13:18 WIBSiswa SMP 2 Geger Madiun Meninggal Usai Ikuti UN
MADIUN–MI: Arin Tianin warga RT 23 RW 04 Desa Ngelandung, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jatim, meninggal sekitar pukul 10.10 WIB, Kamis, seusai mengikuti Ujian Nasional (UN) di sekolahnya SMPN 2 Geger.
Seusai mengerjakan soal mata pelajaran IPA, seluruh siswa istirahat dengan duduk-duduk di teras kelas. Tiba-tiba Arin pingsan dan dibantu rekan-rekannya, salah satunya saksi, Luluk, korban langsung dibawa ke ruang UKS.
Beberapa guru, memeriksa kondisi Arin, dan menyatakan sudah meninggal. “Siswa tersebut (Arin) mengalami lemah jantung, dibuktikan dengan tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga,” kata Suwarno, guru SMP tersebut.
Peristiwa ini tidak menganggu UN di SMPN 2 geger, tetap berlangsung sesuai jadual.
Kapolsek Geger AKP Sarwono, menjelaskan, saat ini masih dilakukan pemeriksaan penyebab utama kematian Arin. Polisi tengah meminta keterangan beberapa saksi hingga silsilah penyakit yang diidap almarhum. (Ant/OL-06) …. Kapan-lagi
Ngotot Unas, Meninggal
Thursday, 08 May 2008
Ingin Segera Lulus SMPGRESIK-SURYA-Pelaksanaan ujian nasional (Unas) SMP 2007/2008 membawa korban. Meski dalam kondisi sakit, Dyah Ayu Wulandari, 15, siswa kelas 3 SMP PGRI 2 Gresik nekat mengikuti Unas.
Kondisi Ayu pun bertambah parah. Setelah sempat dirawat di rumah sakit, siswi ini pun meninggal dunia di RS Bunder Gresik, Rabu (7/5) sekitar pukul 04.00 WIB dini hari.
Seminggu sebelum Unas berlangsung (Ayu panggilan akrab siswi ini) sudah sakit. Anak bungsu dari 9 bersaudara ini mengaku badannya panas dan tenggorokannya sakit. Kendati begitu, Ayu menolak dibawa ke dokter saat keluarganya meminta dia berobat.Diduga kuat, Ayu menolak permintaan keluarganya pergi berobat agar bisa tetap mengikuti Unas bersama teman-temannya.
“Ibunya berkali-kali membujuknya untuk ke dokter, namun dia tetap menolak dan ingin ikut Unas,” kata Ny Tri Murti, 39, salah satu kerabat Ayu ditemui Surya di rumahnya, Jl RA Kartini Gang XVI, Rabu (7/5) malam.
Ayu pun nekat mengikuti Unas saat ujian hari pertama berlangsung, Senin (5/6) lalu. Dengan diantar Ny Ari Murti, ibunya, Ayu masuk ujian dan mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, Bahasa Indonesia. Ayu pun mengerjakan soal ujian itu hingga waktu ujian usai.Menurut Ny Tri Murti, saat dalam kondisi sakit, Ayu tinggal di rumahnya di Jl RA Kartini Gang XVI. Sebab, jarak sekolah dengan rumah itu lebih dekat jika dibandingkan dengan Ayu harus pulang pergi dari rumah kontrakan orang tuanya di Perum Alam Bukit Raya (ABR) di Jl Dr Wahidin Sudirohusodo.
Beberapa kali Ny Tri Murti sempat membujuk agar Ayu bersedia berobat ke dokter untuk memeriksakan penyakitnya tersebut. Karena terus dibujuk, Ayu pun luluh. Senin (5/5) malam, Ayu bersedia dibawa ke Puskesmas Alun-Alun di Jl KH Wachid Hasyim. Ayu pun mendapatkan sejumlah obat untuk menurunkan panas badannya yang naik turun itu.
Meski begitu, kondisi Ayu tak kunjung membaik. Saat tinggal di rumah Ny Tri Murti, Ayu hanya tergolek di atas tempat tidur sambil sesekali merintih akibat badannya panas. Melihat kondisi Ayu, Ny Tri Murti sempat mengatakan `apakah nanti Ayu bisa lulus ujian, sementara saat ujian berlangsung Ayu tidak belajar karena sakit`.
“Yu wong tidak belajar gitu apa bisa nanti lulus,” tanya Ny Tri Murti kepada Ayu. Ayu yang mendengar hanya diam menerima pertanyaan itu.
Melihat kondisi Ayu yang sempat menolak dibawa ke dokter meski sakit, Ny Tri Murti menyatakan sepertinya sepupunya itu ngotot melakukan hal itu karena keinginan yang kuat untuk tetap bisa mengikuti Unas. “Kayaknya yang ada di pikirannya, jangan sampai dia tidak ikut ujian gara-gara sudah sakit,” jelas Ny Tri Murti.
Dugaan Ny Tri Murti, apa yang dilakukan sepupunya itu karena keinginan untuk memenuhi harapan orang tuanya agar bisa lulus SMP dan kembali melanjutkan sekolah di SMA. “Maklum, Ayu kan anak terakhir. Dan dia satu-satunya anak perempuan di keluarganya, “ jelas Ny Tri Murti.
Hari kedua Unas, Selasa (6/5) Ayu pun tetap ngotot mengikuti ujian. Saat itu kondisi Ayu masih belum stabil. Beberapa kali kondisi badannya panas namun terkadang panasnya turun.
Tapi pada Selasa (6/5) malam, keluarganya pun memutuskan membawa lagi Ayu ke sebuah klinik di Jl Panglima Sudirman. Dokter lantas menyatakan Ayu harus dirujuk ke RS Bunder untuk menjalani rawat inap. “Saat masuk pertama kali ke RS Bunder, diagnosa sementara, Ayu dinyatakan terkena gejala Demam Berdarah (DB),” ujar seorang kerabat lainnya.
Saat itu Ayu seakan menyerah, setelah semula sempat menolak dirawat di RS. “ Yo wis Ma, saiki aku ngamar ae (Ya Sudah Bu, Sekarang Saya Dirawat Saja, Red), “ kata Ny Tri Murti menirukan ucapan Ayu ke ibunya.
Ayu lantas dirawat di RS Bunder. Namun keinginan kuat untuk tetap mengikuti Unas seakan membara di dadanya. Karena itulah, saat guru wali kelas Ayu di SMP PGRI 2 menjenguknya, Ayu sempat berusaha memegang pulpen.
“Namun untuk memegang bulpen saja tidak kuat saat itu, “ tambah Ny Tri Murti. Ayu pun menghembuskan napas terakhirnya Rabu (7/5) kemarin sekitar pukul 04.00 WIB. Dan sekitar pukul 12.15 WIB, jenazah Ayu dimakamkan di pemakaman Islam Tubanan, beberapa ratus meter dekat Jl RA Kartini Gang XVI.
Kepala sekolah SMP PGRI 2 H Supardi mengatakan, dirinya sempat curiga dengan kondisi Ayu saat masuk Unas hari pertama. Sebab saat itu Supardi melihat wajah Ayu tampak pucat ketika duduk di bangkunya. “ Saya dekati dia dan sempat saya raba keningnya. Terus saya tanya, apakah kamu sakit? Dia menjawab tidak,” kata Supardi, Rabu (7/5).
Menurut Supardi, pihak sekolah sebenarnya telah mengumpulkan wali murid yang anaknya akan mengikuti Unas pada Sabtu (3/6) lalu. saat itu Supardi menjelaskan, jika kondisi anak agak kurang memungkinkan, sekolah meminta orang tua siswa itu mengantarnya ketika Unas berlangsung.
“Makanya, Ayu saat hari pertama Unas diantar oleh ibunya,” jelas Supardi.Supardi tak menampik ketika Surya menanyakan apakah sakit Ayu tiba-tiba kambuh karena yang bersangkutan terlalu memikirkan Unas. “Mungkin saja begitu. Kalau orang sakit, apa yang tengah dihadapinya, tentu akan terus menjadi pikiran,” kata Supardi.
Pihak sekolah sebenarnya juga telah mengetahui Ayu sakit-sakitan. Saat sebelum Unas, Ayu juga diketahui kerap meminta izin tidak masuk sekolah karena sakit.
“Kata keluarganya, dia punya asma,” papar Supardi.Keterangan Supardi pun diamini Ny Tri Murti. Menurutnya, Ayu sejak SD diketahui telah menderita asma. Sehari-hari, Ayu jarang makan. Untuk makanan pengganti, Ayu lebih suka makan buah-buahan.
Dengan meninggalnya Ayu, kini peserta Unas di SMP PGRI 2 berkurang jumlahnya. Semula sebanyak 29 siswa SMP PGRI 2 mengikuti Unas tersebut. Rinciannya sebanyak 10 peserta siswa putri dan sisanya siswa laki-laki. “ Kami sudah melaporkan ini ke ketua Sub Rayon, Pak Nadlif yang juga Kepala sekolah SMPN 1 Gresik, “ tegasnya.Kepala Diknas Gresik, Chusaini Mustaz membenarkan ada seorang peserta Unas tidak bisa melanjutkan ujian karena meninggal dunia. “ Secara otomatis ya gugur. Meski begitu, Lembar Jawaban Unas yang kemarin sudah dikerjakannya tetap kami kirim ke bagian koreksi, “ tegas Chusaini, Rabu (7/5).
Meninggalnya salah satu peserta Unas ini menambah jumlah peserta Unas di Gresik yang gagal Unas karena meninggal dunia. Sebelumnya, di antara 91 peserta Unas yang mangkir, diantaranya karena 5 orang meninggal dunia. Namun kelima siswa itu meninggal sebelum sempat mengerjakan soal Unas.st3