Bunuh diri berkelanjutan …
Bunuh diri dalam kasus di artikel Visi yang Jelas: Ikon Ibu Kota Terbakar terus terjadi, dan semakin ramai, berikut ini kasus bunuh diri berkelanjutan :
Senin, 21 Apr 2008
Tiga Tewas Bunuh DiriSIDOARJO – Tiga kasus bunuh diri terjadi di wilayah Sidoarjo dalam sepekan terakhir. Jalan pintas mengakhiri hidup itu dipilih karena alasan ekonomi dan gangguan kejiwaan.
Seorang ibu muda bernama Citra, 24, mengakhiri hidup dengan cara minum racun potasium pada Kamis (17/4) lalu. Istri Arif Riyanto, warga Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, itu ditemukan tewas sekitar pukul 21.30. Di samping tubuhnya terdapat segelas air bercampur potasium.
Kapolsek Tulangan AKP Sirdi mengatakan, kasus Citra murni bunuh diri. “Ibu satu anak itu meninggal setelah menenggak air campur potas tersebut,” ucap Sirdi. Faktor ekonomi jadi pemicu lain.
Kasus bunuh diri lainnya terjadi pada Jumat (18/4) di Desa Watugolong, Kecamatan Krian. Pelaku sekaligus korban adalah Fahan Suyitno, 33. Lelaki itu ditemukan sekitar pukul 07.00 dalam keadaan tergantung di tiang kayu dapur rumahnya.
Kapolsek Krian AKP Kadarisman menjelaskan, korban mengalami gangguan jiwa. Istri dan anaknya sudah lama meninggalkan dia.
Bunuh diri juga terjadi di Desa Geluran, Kecamatan Taman, pada Jumat lalu. Sutarno, 30, ditemukan menggantung di dapur dengan tali plastik. Diduga, korban bunuh diri karena stres. Korban yang berprofesi sebagai pedagang daging ayam itu sering mengeluh barang dagangannya tidak terjual. “Karena tertekan, stres, dia akhirnya nekat,” kata AKP Sumaryadi, Kapolsek Krian. (riq/roz)
Ada yang aneh ttg bunuh diri tsb yakni selain berkelanjutan dimna di mulai tgl 17-April, 18-April di sidoarjo, maka sebelumnya-pun di malang terjadi pula bunuh diri berkelanjutan, dimana terjadi tgl 14 -April
Senin, 14 April 2008 16:43 WIBReporter : Bagus SuryoJAKARTA – MI : –>MALANG–MI: Dua orang tewas akibat bunuh diri di tempat kejadian perkara berbeda di Kabupaten dan Kota Malang, Jawa Timur, Senin (14/4). Motif mereka mengakhiri hidup akibat depresi.Di Kabupaten dan Kota Malang, bunuh diri dilakukan Jainal Abidin, 23, warga Dusun Bedali, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi. “Korban berasal dari keluarga miskin,” kata Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Gondanglegi Ajun Komisaris Fatkhur Rohman kepada Media Indonesia.Menurut Indari, 19, istri Jainal kejadian diperkirakan sekitar pukul 03.00 WIB saat suaminya meningalkan kamar. Sekitar pukul 05.30 korban ditemukan dengan leher terjerat tali dan mengantung pada pohon di belakang rumah mereka.
Fatkhur mengatakan, enam bulan terakhir Jainal sudah dua kali mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal karena kepergok keluarganya. Diduga lelaki itu bunuh diri akibat masalah ekonomi, karena di dompetnya ditemukan sejumlah tagihan utang.
Selama ini tukang becak tersebut tinggal bersama mertua. Ia meninggalkan seorang istri dan anak berumur tiga hari.
Sementara itu, kasus bunuh diri di Kota Malang dilakukan Paulus Sri Widodo, 47, warga Jalan Binor Gang 8 D/14 Kelurahan Bunul, Kecamatan Blimbing. Kasus bunuh diri ini juga mengakibatkan ibunya, Rohayah, 73, juga meninggal dan seorang lainnya, Dewi Alfiah, 25, kritis dan harus dirawat di Rumah Sakit Lavalette.
Menurut keterangan warga di sekitar tempat kejadian perkara, mayat keduanya ditemukan pukul 09.30 WIB. Yang pertama kali ditemukan adalah jenazah Paulus Sri Widodo, 47, yang sehari-hari bekerja sebagai guru olahraga di SMP Nasional Kota Malang.
Dia mengakhiri hidup dengan cara minum potasium. Motif tersebut duduga karena korban depresi setelah menderita batuk kronis menahun yang tidak sembuh-sembuh. Paulus tewas seketika di kamar tidurnya.
Sementara itu, Rohayah, 73, ibu korban yang belum mengetahui putranya meninggal saat memasak di dapur minum air dengan menggunakan gelas bekas potasium yang dikonsumsi Paulus.
Setelah minum, Rohayah mengeluh airnya tidak enak, sehingga cucunya, Dewi, mencicipi air minum dari gelas yang sama. Akibatnya, Rohayah tewas, sedangkan Dewi kritis.
Kepala Kepolisian Sektor Blimbing Kota Malang Ajun Komisaris Abdul Hadi mengatakan masih menyelidiki kasus bunuh diri itu. “Kami menemukan tujuh otasium dan kini kami tengah meminta keterangan saksi,” ujarnya.(BN/OL-01)
Menurut versi resmi pemerintah, angka bunuh diri di Indonesia cukup tinggi yakni 50.000 orang tiap tahun, angka fantastis dari sebuah peradaban manusia yang mayoritas muslim …. Apakah ada yang salah ?
Senin, 08 Oktober 2007 @ 17:07:34
BUNUH DIRI DI INDONESIA CUKUP TINGGI, 41% GANTUNG DIRI*** Masih ingat kasus anak sekolah yang bunuh diri gara-gara terlambat bayar uang sekolah karena tidak mampu? Atau seseorang gantung diri karena miskin dan tak mampu membeli obat sehingga sakitnya tak kunjung sembuh?
Tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50 ribu orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya.
Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya. Jumlah ini belum ditambah tingkat kematian akibat dari pemakaian obat terlarang (overdosis) yang jumlahnya mencapai 50 ribu orang tiap tahun.
Hal itu diungkapkan Guru Besar FK Usakti A Prayitno di sela acara puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia di Jakarta, Senin.
Ia menyebutkan sejumlah faktor penyebab nekatnya orang melakukan bunuh diri. Saat ini 40 juta orang menganggur di Indonesia, belum tingkat kemiskinan yang terus bertambah, mahalna biaya sekolah, kesehatan dan biaya hidup, penggusuran, kesenjangan kaya miskin dan pasien gangguan mental terutama depresi yang tidak tertangani secara optimal.
“Dengan demikian faktor bunuh diri di Indonesia sudah cukup lengkap,” tandas Prayitno.
41 peren gantung diri:
Posisi Indonesia sendiri hampir mendekati negara-negara bunuh diri, seperti Jepang, dengan tingkat bunuh diri mencapai lebih dari 30 ribu orang per tahun dan China yang mencapai 250 ribu per tahun.Berdasarkan data forensik FKUI/RSCM 1995-2004 terdapat 771 oran laki-laki bunuh diri dan 348 perempuan bunuh diri.
Dari jumlah tersebut, 41% melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri, dengan menggunakan insektisida 23% dan overdosis mencapai 356 orang.
Ditambahkan, faktor psikologi yang mendorong orang bunuh diri adalah dukungan sosial kurang, baru kehilangan pekerjaan, kemiskinan, huru-hara psikologi, konflik berat pengunsi dan sebagainya.
Guna mencegah tingkat bunuh diri, seharusnya perlu ditingkatkan identifikasi dini dan terapi yang tepat serta harga obat yang murah untuk pasien dengan gangguan mental merupakan strategi penting.
Selain itu perlu melatih personel kesehatan primer untuk merawat pasien depresi. Di samping perlunya peranan media massa perihal berita bunuh diri yang dibatasi karena dapat ditiru oleh pihak lain.
“Perlu juga pembatasan akses untuk pestisida, racun dan senjata api,” tandas Praytino.
Ia mengatakan dokter sendiri sulit mengenali tanda-tanda orang depresi yang akan bunuh diri. Menurutnya, 70% orang bunuh diri sebetulnya pernah berobat ke dokter, minimal dokter umum.
Bunuh diri merupakan masalah yang kompleks, karena tidak diakibatkan oleh penyebab atau alasan tunggal. Tindakan tersebut adalah akibat dari interaksi yang kompleks dari faktor biologik, genetik, psikologik, sosial budaya dan lingkungan.
Karena itu, tambah Prayitno, sulit menjelaskan mengenai penyebab beberapa orang untuk memutuskan bunuh diri, sedangkan dalam kondisi yang sama bahkan lebih buruk, ada orang yang justru tidak melakukan bunuh diri.
Data Depkes menyebutkan bahwa terdapat beberapa daerah dengan tingkat bunuh diri tinggi, yakni di Bali pada periode Januari hingga 22 September 2005 yang mencapai 115 kasus, dan kasus serupa selama 2004 tercatat 121 kali pelaku bunuh diri terdiri dari pria 82 orang dan perempuan 33 orang.
Sedangkan pelaku bunuh diri dari kelompok anak-anak usia 7-15 tahun tercatat ada 8 orang, usia lanjut juga 8 orang.
Sedangkan angka bunuh diri di Jakarta sepanjang 1995-2004 mencapai 5,8 per 100 ribu penduduk. Mayoritas dilakukan oleh kaum pria. Dari 1.119 korban bunuh diri, 41% di antaranya gantung diri, 23% dengan minum racun dan 256 sisanya overdosis.
Pada 2004 di Wonogiri tercatat 20 kasus bunuh diri dengan korbannya rata-rata berusia 51-75 tahun. Pada kesempatan yang sama, dalam pidato yang dibacakan Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Depkes Krisno Tirtawijaya, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan perlunya dilakukan suatu harmoni berbagai sektor dalam faktor pengendalian sakit jiwa.
Menurut Menkes, agar masyarakat sehat jiwanya adalah pemerintah dan masyarakat harus memperhitungkan aspek biologi, fisik, mental dan aspek sosial budaya. (Tlc/OL-03)
Bunuh diri betulan seperti yang di lansir oleh BKKNB 41% efektif lewat gantung diri, pilihan lain lewat obat racun atau pembunuhan paksa … Sedangkan bunuh diri tanggung sering kali gagal sebagaimana berita di bawah ini :
17/04/2008 06:01 Percobaan Bunuh Diri
Depresi, Memanjat Tower 42 MeterLiputan6.com, Makassar: Seorang lelaki berusia 45 tahun mencoba bunuh diri dengan memanjat tiang tower salah satu perusahaan telekomunikasi setinggi 42 meter di Perumahan Bumi Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, baru-baru ini. Tak jelas motif kenekatan tersebut. Namun diduga pelaku bernama Mansyur mengalami depresi akibat masalah rumah tangga.
Meski berulang kali dibujuk, Mansyur tetap tak mau turun. Polisi lalu memanggil tim SAR Kota Makassar untuk mengevakuasi Mansyur. Saat proses evakuasi berlangsung, Mansyur justru memanjat lebih tinggi hingga nyaris mencapai puncak. Petugas akhirnya berhasil membujuknya. Agar tak berontak, petugas mengikat Mansyur dengan tali dan tangan diborgol.(JUM/Iwan Tarun dan Rizal Randa)
Lalu apa yang menarik dri kasus bunuh diri berkelanjutan ? baca di bawah ini :
Gejala Bunuh Diri Setelah Bunuh Anak
Oleh H. ROSIHAN ANWAR
BELAKANGAN ini banyak diberitakan tentang ibu yang nekat membunuh anak kandungnya, kemudian membunuh dirinya sendiri. Di Pekalongan, misalnya, dua anak balita berumur 3 tahun dan 4 bulan ditemukan tewas dalam bak kamar mandi. Mereka diduga dibenamkan oleh ibu kandung mereka yang masih berusia 25 tahun. Di Bekasi, tanggal 14 Maret, seorang ibu berusia 35 tahun membenamkan kedua anaknya (2 tahun dan 4 bulan) ke dalam bak mandi. Di Malang, seorang ibu juga ditemukan bunuh diri setelah membunuh keempat anak kandungnya. Peristiwa ini sangat memilukan hati kita.
Apa sebabnya? Jawabannya tergantung dari siapa yang memberi keterangan. Kriminolog, sosiolog, atau psikolog. Sudut pandang mereka akan berbeda-beda. Kriminolog bisa saja mengatakan, kekerasan itu dipicu tekanan ekonomi. Dari sudut ilmu jiwa, karena stres. Bukan itu saja. Tingkat pendidikan yang rendah pun membuat kepribadian orang tidak stabil. Apakah kejadian itu sudah bersifat umum di negeri kita atau merupakan gejala sosial? Belum bisa disebut begitu. Memang banyak cara yang dilakukan para pakar dan orang terpelajar untuk menerangkan gejala bunuh diri dan bunuh anak itu.
Lalu sikap apa yang harus kita tegakkan terhadap bunuh diri dan bunuh anak itu? Menurut seorang sosiolog, semua itu merupakan suatu peringatan kepada pemerintah. Yang dimaksud adalah kemiskinan yang telah sampai pada tingkat yang sangat membahayakan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah perlu segera bertindak memperbaiki ekonomi secara menyeluruh. Di lain pihak, diperlukan adanya kesetiakawanan sosial untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup.
Tetapi bisakah hal itu dikerjakan oleh pemerintah dan masyarakat kita yang dewasa ini tampak simpang siur? Tampaknya tidak ada kemampuan di pihak pemerintah. Juga masyarakat lebih bersikap nafsi-nafsi, mengurus kepentingan diri sendiri dahulu dan masa bodoh dengan orang lain. Kalau begitu, payah dong keadaan negeri kita tercinta ini? Memang payah.
Jika demikian, kita bisa putus asa dibuatnya. Tidak ada harapan. Lama-lama, jangan-jangan kita sendiri kena stres, gangguan jiwa, lalu jadi nekat, kemudian membunuh diri. Bagaimana ini bisa terjadi?
Saya hanya bisa menjawab, bukan hanya kita di Indonesia yang mengalami kasus bunuh diri dan bunuh anak. Tetapi di negeri-negeri lain juga ada hal yang serupa. Satu di antaranya ialah di India, yang jumlah penduduknya lima kali lebih besar daripada Indonesia. Saya membaca buku Planet India karangan Mira Kamdar yang terbit tahun 2007. Di situ terdapat cerita tentang bunuh diri dan bunuh anak dengan skala yang besar.
Kasus di India
Mira Kamdar adalah pengarang perempuan yang mendapat anugerah karena buku memoar yang ditulisnya mengenai keluarga India Motiba`s Tatoos. Dia yang kini tinggal di New York bersama suami dan kedua putranya, bertindak sebagai komentator tentang India untuk televisi CNN, BBC, dan NPR. Mira kerap mengunjungi India utnuk mengumpulkan bahan bagi buku dan komentarnya. Pada bulan April 2006 pers India ramai memberitakan tentang bunuh diri oleh petani-petani di Vidarbha, di bagian timur negara bagian Maharashtra. Temannya, seorang wartawan di Bombay, Dilip D`Souza, mengajaknya pergi meninjau daerah itu.
Mira menulis, 70% penduduk India hidup di daerah-daerah pertanian. Terdapat 120 juta keluarga petani di India. Ada enam ratus ribu desa di India. Seraya elite terpelajar di kota dan tuan tanah kaya kini menikmati kemajuan ekonomi India, berjuta-juta keluarga tani India sedang berjuang untuk hidup. Pemerintah telah menghentikan subsidi kepada petani. Musim kering, tiada hujan, permukaan air kali turun, sumur kering. Dalam upaya bertahan hidup, para petani meminjam uang dari chetty, tukang mindering yang memberi kredit dengan suku bunga sangat tinggi. Pinjaman digunakan untuk membeli bibit, pestisida, dan pupuk.
Ketika panen gagal, para petani tidak bisa membayar utang. Juga tidak punya lagi bahan makanan. Nasib mereka suram. Satu-satunya kemampuan yang tersisa untuk menyelesaikan nasib ialah dengan bunuh diri. Sejak tahun 1997 lebih dari 25.000 petani India bunuh diri. Negara bagian yang paling hebat kena krisis ialah Andhra Pradesh, Kartanaka, Kerala, dan Maharashtra. Ironinya, ialah ketika para petani di negara-negara bagian itu bunuh diri secara massal, pada saat yang sama kemajuan ekonomi luar biasa dialami di kota-kotanya, seperti di Hyderabad, Bangalore, Trivandrum, dan Mumbai.
Di India, kedudukan perempuan sama sekali tidak terpandang. Dalam masyarakat tradisionalnya, kaum perempuan dianggap sebagai beban bagi keluarga. Bila dia menikah, tidak saja orang tuanyayang harus memberi mahar berjumlah besar, tetapi juga putrinya berpindah menjadi milik keluarga suami. Besarnya uang mahar kerap mendorong keluarga pengantin perempuan membikin utang yang hampir tak terpikulkan. Tidak heran kalau di banyak keluarga berlaku “kebiasaan” membunuh bayi perempuan untuk mengelakkan kelak membayar uang mahar. Orang India ingin memajukan dan memperbaiki keadaan ekoominya. Hanya satu jalan yang dia lihat terbuka, yaitu elakkan mempunyai anak perempuan. Di India, aborsi adalah ilegal. Mira Kamdar menginformasikan bahwa antara 50 dan 60 juta perempuan dan gadis di India hilang tak tentu rimbanya. Istilahnya, “missing” (hlm. 251). Dalam bahasa terbuka, ini berarti dibunuh. Bukankah keadaan di India cukup dahsyat pula dalam skala angka-angka? Itulah duka cerita atau tragedi yang menimpa rakyat di Indonesia dan India. Wahai, elite dan oligarki Indonesia, pikirkanlah hal ini dan tanyakanlah apa yang telah kamu perbuat untuk menolong mereka yang malang itu.***
Tertulis kesamaan Indonesia dan India dalam kasus bunuh dir tersebut, apakah india tsb ? baca artikel “PKS di bom Molotov dan Pak Hidayat Nur Wahid Kawin Lagi” dimana dengan jelas memuat artikel hubungan Indonesia dan India !!!
Lihat alinea terakhir dari artikel Jangan Lupakan Fenomena 22 : Istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid Wafat Apakah itu ?
Jadi mengapa Ibu Ketua MPR meninggal tepat tgl 22-01-2008 ? hal itu adalah perulangan walau dalam bentuk yang lain sebagai ganti wanita pada kasus India.
Lho apa hubungannya dengan tgl 22-01-2008 lalu ? Lihatlah Bunuh diri terjadi :
Putus Cinta, Gadis SMA Bunuh Diri?
Lompat dari Jembatan Kali Gandong Magetan
MAGETAN – Diduga putus cinta, Desy Rosiyanti nekat bunuh diri. Siswa kelas 10 SMA Bonaventura Kota Madiun itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di bawah jembatan Kali Gandong depan Pasar Baru Magetan, kemarin (22/1).
Sedangkan mobil-pun terjun bebas dari lt 8, (baca Misteri Bunuh Diri dan Angka 8)
Selasa, 22/01/2008 14:10 WIB, Heryawan Antar Bos WN Jepang Meeting di Menara Jamsostek
Heryawan mengantar bosnya, Takayuchi Shimomura, untuk meeting di Menara Jamsostek. Setelah mendrop sang bos, Heryawan lalu parkir dan akhirnya jatuh dari lantai 8.
Sekali lagi lihat saat ini dimana masalah Cinta sebagaimana gadis magetan bunuh diri tepat 22.01.2008 bertepatan dengan hari meninggalnya istri pak Nur Wahid, maka saat ini percintaan menjadi buah bibir lewat film AAC (baca Ganasnya alam dan manusia, saat Ayat Ayat Cinta menjadi tren …) yang di pamungkasi dengan pak Nur Kawin lagi selaku tokoh Ketua MPR , maka kasus itu di barengi dengan banyaknya bunuh diri seperti di yang diungkap artikel awal yakni tgl 14,15,16,17,18-April adalah hari panen bunuh diri
Artinya dibalik pembahasan mengapa orang nekat bunuh diri, maka diperlukan perhatian lebih terhadap masalah ini utamanya tokoh yang memiliki pandangan islam yang luas sebagaimana pak Nur Wahid, harus berbicara ttg bunuh diri, presiden dan wapres harus pula bicara …. bagaimana lagi peradaban di bangun jika bunuh diri ini terabaikan ?
Ingat 50.000 orang pertahun bunuh diri, angka yang melebihi jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang hanya 30.000 per tahun, baca di bawah ini :
Minggu, 20 April 2008 | 10:55 WIB, Jumlah Korban Kecelakaan Lalin Jauh di Atas Flu Burung
Laporan Wartawan Kompas, Suhartono
JAKARTA, MINGGU – Keselamatan berkendara di Indonesia, masih teramat rendah. Sebuah data menunjukkan, kecelakaan jalan raya di Tanah Air telah menelan 30.000 korban per tahun, jauh di atas korban flu burung di Indonesia, yakni 100 orang. Komparasi ini diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan pengarahan pada pencanangan Pekan Nasional II Keselamatan Transportasi Jalan di Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (20/4) pagi.
“Oleh sebab itu, untuk mengatasi dan mengurangi tingkat kecelakaan kenderaan bermotor yang tinggi ini, diperlukan langkah bersama seluruh instansi pemerintah terkait, dengan cara kombinasi pula seperti menambah dan memperbaiki sarana dan prasarana jalan, memperbaiki dan menegakkan aturan hukum oleh aparat serta penegakan disiplin berlalu lintas. Tanpa itu, sia-sia upaya mencegahan dan penurunan angka kecelakaan di jalan raya,” ujar Wapres.
Sebelumnya Wapres mengatakan, tingginya angka kecelakaan di Indonesia disebabkan kombinasi berbagai faktor. Antara lain, pertambahan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan jumlah penambahan ruas jalan, lemahnya penegakan hukum dan penerapan aturan terkait penggunaan dan keamanan kendaraan di jalan serta masih kendornya kedisiplinan masyarakat pengguna jalan.
Dalam acara ini hadir Ny Mufidah Jusuf Kalla dan sejumlah menteri di antaranya Menteri Perhubungan Jusman Sjafii Djamal, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soeparno dan sejumlah menteri lainnya.
Pada kesempatan terpisah, Menhub menjelaskan, berdasarkan data yang diterima Bank Pembangunan Asia (ADB) dari riset tahun 2004, selain tingkat kematian mencapai 30.000 korban per tahun, nilai kerugian materi pun mencapai Rp 40 triliun atau 2,91 persen dari gross product bruto atau pendapatan kotor netto.
Lebih jauh, dampak lain berdasarkan riset Pemerintah, korban kematian pengguna kendaraan bermotor menyebabkan turunnya tingkat kesejehteraan keluarga masyarakat produktif Indonesia sampai sebesar 62,5 persen. “Oleh sebab itu, target pemerintah dalam cetak biru 2008-2012 akan menekan angka kecelakaan kendaraan bermotor, sampai 20 persen dari setiap 100.000 penduduk,” ujar Jusman.
Seusai sambutan dan pencanangan, Wapres Kalla meninjau sejumlah stand dan simulasi keselamatan jalan serta penanganan korban pasca kecelakaan. Sebelum berpidato Wapres Kalla pun sempat diberi helm berwarana merah putih bertuliskan “Wakil Presiden RI”. Saat helm itu akan digunakan, tampak helm itu kesempitan. Namun, Wapres memaksakan helm itu masuk ke kepalanya, dan saat helm dibuka, rambut Wapres terlihat berantakan.
Apakah menunggu alam menegur kita ? , Senyampang bunuh dir terus berkelanjutan, maka alam-pun mulai gerah dengan polah manusia yang tiada peduli dengan sesamanya ….
Senin, 21 Apr 2008
Gunung Egon Kembali Meletus
Semburkan Debu Setinggi 2.000 Meter, Gemuruh hingga 10 Kilometer
MAUMERE – Gunung Egon kembali meletus kemarin pukul 07.50. Letusan kali ini tergolong besar karena gemuruhnya terdengar hingga radius 10 kilometer. Ketinggian debu mencapai 2.000 meter dari puncak gunung.Warga yang mendengar letusan panik dan berhamburan keluar rumah. Debu letusan kali ini jatuh di wilayah Desa Wairterang dan Nangatobong yang terletak di sebelah timur Gunung Egon.
Ketua Pos Pemantau Gunung Egon Yoseph Suryanto kepada koran ini mengatakan, saat terjadi letusan angin bergerak ke timur laut sehingga wilayah yang mendapat kiriman debu adalah Desa Nangatobong dan Desa Wairterang. Yoseph menambahkan, letusan tersebut tergolong letusan freatik, namun skalanya cukup besar. “Gemuruhnya kami tangkap dengan jelas di pos pemantau yang jaraknya tujuh kilometer. Diperkirakan suaranya mencapai 10 kilometer,” katanya.
Dia mengatakan, saat gunung meletus, cuaca cukup cerah sehingga bisa dilakukan pengamatan secara visual. Material yang dimuntahkan, jelas Yoseph, hanya debu.
Dia menambahkan, warga di sekitar Pos Pemantau Egon sempat berhamburan keluar rumah ketika mendengar gemuruh. “Mereka lari keluar rumah. Ada juga yang datang di pos. Namun, kami minta mereka tetap tenang sambil menunggu informasi lebih lanjut terkait aktivitas gunung,” katanya.
Kondisi yang sama dialami warga Desa Egon, Desa Nangatobong, dan Desa Wairterang. Sutoyo, warga Ahuwair Desa Nangatobong, mengatakan, warga di dusun tersebut mendengar sangat jelas bunyi gemuruh. “Bunyinya sekitar 10 menit sehingga warga ketakutan dan berhamburan keluar rumah,” katanya. Warga yang saat itu bersiap-siap mengikuti misa lari keluar rumah dan mengamati gunung dari kejauhan.
Selang beberapa saat, lanjut Sutoyo, Dusun Ahuwair mulai dihujani debu gunung. Kondisi yang sama terjadi di beberapa dusun di Desa Nangatobong dan Desa Wairterang. Menurut Yoseph, pihaknya terus mengamati aktivitas Gunung Egon. Untuk sementara, lanjutnya, statusnya masih siaga. Seperti letusan pertama Selasa lalu, letusan kemarin juga tidak disertai tanda-tanda sebelumnya.
Letusan pertama Selasa (15/4) pukul 22.00 pekan lalu itu bisa didengar hingga radius 30 kilometer. Ketinggian debu mencapai 4.000 meter dari permukaan gunung. Letusan itu disusul puluhan kali letusan asap. Baru Minggu kemarin terjadi letusan freatik dengan skala cukup besar yang mengeluarkan debu dan gemuruh. (ito/jpnn/ib)



