Beranda > Fenomena, Islam > Bayi Mati Akibat Gizi Buruk, Sebuah Pertanda

Bayi Mati Akibat Gizi Buruk, Sebuah Pertanda

April 2, 2008 thephenomena

Sebenarnya kasus gizi buruk adalah hal lumrah di indonesia karena tergolong negara yang tidak kaya, sehingga kemiskinan dimana-mana yang berakibat pada rendahnya tingkat daya beli yang pada akhirnya tidak mampu membeli makanan bergizi yang layak, walau menurut data menkes gizi buruk sudah menurun

09/03/2008 15:34 WIB
Menkes: Jumlah Balita dengan Gizi Buruk Menurun
Rafiqa Qurrata A – detikcom

Jakarta – Pemberitaan yang menyebut jumlah balita dengan gizi buruk semakin meningkat dibantah Menkes Siti Fadilah Supari. Menurutnya, yang terjadi adalah sebaliknya, semakin menurun.

“Angka gizi buruk yang dulu dengan yang sekarang sebetulnya sekarang ini sudah menurun. Pada 2004 jumlah balita gizi kurang dan gizi buruk totalnya 5,1 juta jiwa. Pada 2007 jumlahnya menurun menjadi 4,1 juta jiwa,” ujar Siti dalam keterangan pers di kediamannya, Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/3/2009).

Dijelaskan dia, pada 2005 ada 4,4 juta balita dengan gizi buruk. Sedangkan pada 2006, jumlah balita dengan gizi kurang sebanyak 3,3 juta. Balita (risiko) gizi buruk sejumlah 944 ribu, sehingga totalnya adalah 4,2 juta jiwa.

Pada 2007, lanjut perempuan berkacamata ini, dari 4,1 juta jiwa balita dengan gizi buruk, 3,38 juta jiwa mengalami gizi kurang, dan balita (risiko) gizi buruk sebanyak 755 ribu.

Menurut Siti, angka kematian bayi juga makin menurun. Pada 2004, angka kematian bayi di Indonesia adalah 30,8 bayi per seribu kelahiran hidup. Pada 2005 ada 29,4 bayi meninggal per seribu kelahiran hidup.

Setahun kemudian, yakni pada 2006 ada 28,1 bayi meninggal per seribu kelahiran hidup. Lantas pada 2007 ada 26,9 bayi meninggal per seribu kelahiran hidup. Targetnya, untuk 2009 angka bayi meninggal turun, setidaknya jadi 26 bayi.

“Gizi buruk memang masih terjadi di inodensia. Untuk mengubahnya tidak semudah membalik telapak tangan,” tambah Siti. ( nvt / ana )

Seakan ingin mengingatkan bu menkes, maka kematian kasus gizi buruk ini semakin ramai terjadi, tengok saja kasus yang menggemparkan :

Reporter : Lina Herlina

MAKASSAR–MI: Kisah tragis keluarga miskin terjadi di Makassar. Daeng Besse, 36, yang sedang mengandung tujuh bulan dan anaknya, Fahril, 4, Jumat (29/2), meninggal dunia diduga akibat kelaparan.

Walaupun berita ttg Gizi buruk penyebab kematian di bantah oleh Dinkes, fakta menunjukkan adanya masalah gizi buruk:

01/03/2008 15:47 WIB
Ibu Hamil Meninggal Kelaparan
Anak Keempat Basse Positif Gizi Buruk, Dinkes Bantah
Gunawan Mashar – detikcom

Makassar – Aco (4), anak keempat almarhumah Ny Basse (27), dinyatakan positif terkena gizi buruk. Namun Dinkes Makassar berbeda pendapat.

Diagnosa Aco terkena gizi buruk dikeluarkan Rumah Sakit Haji Suparman yang kini merawatnya.

“Dari hasil pemeriksaan positif gizi buruk,” ujar Kepala perawat RS Haji Suparman di RS Haji, Jl Daeng Ngepe, Makassar, Sabtu (1/3/2008).

Suparman menyatakan, tanda-tanda Aco menderita gizi buruk terlihat dari badannya yang kurus dan perutnya yang buncit.

“Berat badan Aco hanya 9 kilogram, padahal anak seusia dia harusnya 15 kilogram,” jelas Suparman.

Menurut Suparman, kondisi terakhir Aco sejak masuk ke rumah sakit pada Jumat 29 Februari 2008 kerap menangis dan mengeluh suhu badannya meningkat. Sejak masuk perawatan, Aco tidak berhenti diare. Diare baru berhenti Sabtu pagi. Aco juga suka muntah-muntah.Berbeda dengan Suparman, Kadinkes Makassar dr Nur Isbat menyatakan, Aco hanya kekurangan asupan gizi.

“Diare menyebabkan cairan tubuhnya berkurang dan akhirnya lemah. Tapi bukan gizi buruk,” kata Nur Isbat.Sejak dirawat di RS Haji sejak Jumat 29 Februari 2008, Aco banyak dijenguk warga sekitar. Aco dirawat di ruang perawatan anak di lantai 2 kamar 1 kelas II. Awalnya Aco dirawat di bangsal rumah sakit. Namun, karena banyak yang menjenguk, Aco dipindahkan ke kelas II.

Tidak sampai sebulan, maka kejadian yang sama berulang yakni :

01/04/2008 12:43 Gizi Buruk
Kemiskinan Kembali Memakan Korban
Liputan6.com, Makassar: Kemiskinan kembali memakan korban. Seorang perempuan yang merupakan istri tukang becak di Kelurahan Bunga Eja, Makassar, Sulawesi Selatan, meninggal dunia setelah terserang diare dua hari. Selain diare, korban Darniati juga menderita gizi buruk.

Sang suami, Salim, mengaku tidak mampu membawa istrinya berobat ke rumah saki hingga ajal menjemput. Salim mengungkapkan, selama ini kehidupan keluarganya jauh dari cukup. Untuk bertahan hidup, keluarga miskin ini terkadang harus meminjam uang kepada tetangganya.

Bukan hanya sang istri yang mengidap penyakit gizi buruk. Dua anak salim, Halim dan Dendi, juga terlihat kurus kering. Beruntung keduanya dapat diselamatkan oleh Dinas Kesehatan setempat. Halim dan Dendi kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Tepat sebulan yang lalu kasus serupa juga terjadi. Daeng Basse, ibu yang hamil tujuh bulan meninggal bersama anaknya usia 10 tahun karena menderita gizi buruk. Istri dan anak tukang becak ini juga meninggal setelah terserang diare dan tidak makan tiga hari.(JUM/Iwan Taruna dan Rizal Randa)

Sebenarnya kejadian bayi gizi buruk adalah hal yang lumrah terjadi pada negara dengan kategori tidak kaya, namun yang lebih parah, maka di tengah maraknya kasus kelaparan, maka di sisi lain kuato jamaah haji ramai-ramai ludes :

Selasa, 11 Mar 2008
Kuota Haji 2010 Habis

JOMBANG – Umat Islam di Jombang yang ingin menunaikan ibadah haji, harus sabar hingga empat tahun ke depan. Hal ini disebabkan kuota haji Jawa Timur untuk pemberangkatan tahun 2010 mendatang sudah habis dan terisi penuh ribuan pendaftar. Namun pengambilan surat pendaftaran pergi haji (SPPH) tetap dilayani untuk tahun 2011 mendatang.
Selasa, 11 Mar 2008
Kuota Haji Habis hingga 2010

MADIUN – Warga Kota Madiun yang akan mendaftarkan haji saat ini tampaknya harus bersabar. Pasalnya, baru bisa berangkat ke tanah suci pada 2011 mendatang. Ini setelah kuota haji Jawa Timur hingga tahun 2010 ludes atau penuh pendaftar.

Ironi dan tragis kasus gizi buruk seolah di pertegas dengan kasus gizi buruk di surabaya (kota nomor 2 terbesar di Indonesia)

Rabu, 02 Apr 2008,
Bayi Gizi Buruk Itu Meninggal Dunia

Kurang Energi, Tak mampu Cerma Makanan
Dalam dua bulan terakhir, setidaknya tiga balita gizi buruk meninggal dunia. Yang terakhir, Rafa Azzura, yang meninggal Senin malam lalu. Di RSD dr Mohammad Soewandi saja, sejak Januari lalu merawat 47 bayi gizi buruk. Diperkirakan, tahun ini meningkat.

AGUNG PUTU-NUR AINI-TITIK ANDRIYANI

TENDA panjang sekitar lima meter memayungi gang kecil di Jalan Gading Karya, kawasan Kedung Cowek, Kenjeran. Di rumah tepat tenda itu berdiri, beberapa tamu duduk di ruang depan berukuran sekitar 3 x 2 meter. Nyonya rumah, Wempy, dengan raut wajah duka menerima mereka.

“Saya tidak mengira Rafa meninggal. Sebab, kondisinya tampak semakin baik,” kata ibu dua anak kembar itu. Rafa, bayi laki-laki sepuluh bulan tersebut memang lahir kembar. Saudaranya, Raka Attilia, juga menderita gizi buruk.

Ibu 21 tahun itu kemudian bercerita detik-detik akhir hidup Rafa. Pukul 18.00 Senin itu, dia memberikan nutrisi tambahan. Cairan tersebut pemberian RSD dr Mohammad Soewandhie. Tapi, baru menyuapi satu sendok, napas Rafa tersengal-sengal. Makin lama intensitas napasnya makin jarang.

Wempy pun segera memanggil tenaga medis. Alat bantu pernapasan sempat dipasangkan pada bayi itu. Namun, bayi kelahiran 28 Mei 2007 itu tak tertolong. Sekitar pukul 18.30, Rafa mengembuskan napas terakhir. Wempy terkejut. Sebab, dia melihat gerak tubuh Rafa mulai lincah. “Sejak awal ke rumah sakit, Rafa sudah mendapat nutrisi tambahan rutin selain diinfus. Tubuh Rafa mulai tampak gemuk,” katanya.

Kota Surabaya dengan penduduk yang relatif mampu dan pula rumah si ibu yang boleh di kategorikan cukup sebagai koran surya memberikan opininya :

Jika dilihat sepintas, sulit menyimpulkan bahwa keluarga Hari ini miskin. Selain tinggal di rumah layak huni, mereka juga memiliki sepeda motor, pesawat televisi, dan ponsel. Namun, uang belanja yang diberikan Hari kepada istrinya hanya Rp 400.000/bulan.
Dengan hasil jerih payah Hari sebagai tukang bangunan ini memang Ny Wiempa tak mungkin bisa memenuhi kebutuhan hidup dua bayinya secara layak. Itu sebabnya, ia membelikan susu yang harganya relatif murah, tidak sesuai yang disarankan dokter.

Sebanarnya berita meninggalnya bayi di atas tidak menjadi hal yang istimewa, namun setelah dicek bahwa bayi tsb adalah bayi kembar dengan kelahiran tgl 28-mei-2007, maka hal itu patut menjadi perhatian kita, terutama berkaitan dengan banyaknya anak-anak yang meninggal di surabaya seperti artikel dalam artikel Ganasnya alam dan manusia, saat Ayat Ayat Cinta menjadi tren …

Sekali lagi ketika penantian pertanda dari Allah semakin dekat yang di kutip artikel Setelah Chapter 11 , Gempa mulai ramai … maka kembali gempa dengan kekuatan yang cukup melanda lagi :

02/04/2008 16:02 WIB
Gempa 6,1 SR Guncang Bengkulu
Melly Febrida – detikcom

Jakarta – Gempa 6,1 skala Richter (SR) mengguncang Bengkulu. Gempa dengan kedalaman 31 km ini terjadi pada pukul 15.48 WIB, Rabu (2/4/2008).

Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), lokasi gempa di 4.26 LS – 102.64 BT. Gempa ini terjadi di wilayah 67 km tenggara Bengkulu. ( mly / nrl )

Lho apa hubungannya gizi buruk dengan sebuah gempa ?

Perhatikan penantian pertanda dari artikel Setelah Chapter 11 , Gempa mulai ramai … yang membahas anak-anak yang banyak menjadi korban, maka untuk dapat mencegah korban lebih banyak, diperlukan antisipasi terutama latihan-latihan menghadapi bahaya gempa.

Hubungan gizi buruk diatas adalah sebuah pertanda bahwa ditengah kehidupan modern atapun ibadah yang kuat (kuota haji habis), maka hubungan dengan sesama manusia yang kurang tercermin sebagai suatu persaudaraan sehingga lahirlah kasus gizi buruk, alias banyak yang tidak peduli dengan arus non-stream

Perhatikan dengan kasus kegempaan yang meningkat di tengah ramainya atau maraknya film AAC dan Film Fitna, tidak ada yang membahas masalah kegempaan yang meningkat sama dengan kasus gizi buruk tadi

Perhatikan bayi kembar tsb yang lahir 28-mei-2007 merupakan jawaban dari pertanyaan artikel Setelah Chapter 11 , Gempa mulai ramai …

Akhir kata sebagai penutup, memang tulisan-tulisan tsb jika belum terjadi akan menjadi bahan kebingungan sebagaimana salah satu pertanyaan anggota milis saat itu, yakni satu pertanyaan salah satu anggota milis SuSaNTo AjiANo dalam artikel Re: [the_untold_stories] Re: MARIA EVA DAN ADAM AIR yang di posting tahun 2007 laluJan 8, 2007 4:56 am
…. Benarkah yang kembar dan berpasangan perlu diwaspadai (diperhatikan dan hati-hati)?
Begitu………….. Mohon perncarahannya dong Bung Dwi Dkk……………
Salam,
SA
Perhatikan dengan benar pertanyaan tsb, sehingga akhirnya terjawab lewat 2-2-2007 Jakarta Lumpuh(baca ” [Peringatan] Jakarta Banjir Besar Sebelum Terjadinya “), kemudian NTT longsor (baca Mile Stone 3:3:2007 telah terbukti)

Mengapa tulisan-tulisan tsb menjadi kenyataan ? sekali lagi bukan ramalan/paranormal namun tulisan tulisan yang menjadi kenyataan merupakan kisah pencarian yang tertuang dalam tulisan “ [Visi] yang jelas : sebuah asa dari pencarian tuhan“.

Perhatikan lagi sebuah pertanda dari banyaknya bayi-bayi yang bermasalah pada kasus langka lagi yakni Rabu, 02/04/2008 14:40 WIB Bayi 22 Bulan Kandung Bayi di Yogyakarta

Bayi tsb di atas beberapa waktu lalu terjadi di padang

11/12/2007 12:35 WIB
Astaga! 2 Janin Ditemukan dalam Tubuh Bayi Berumur 1 Tahun
Yonda Sisko – detikcom

Padang – Peristiwa yang cukup aneh bagi masyarakat umum terjadi di Padang, Sumatera Barat. Dua janin ditemukan dalam tubuh Wulandari, bayi yang berusia 1 tahun.

Artinya hampir banyak anak-anak dan bayi-bayi bermasalah merupakan perulangan akan kejadian bencana yang tertunda di bulan desember-januari 2007 lalu  Sudah saatnya yang hilang di temukan … ) .

Kliping berita

02/04/2008 14:40 WIB
Bayi 22 Bulan Kandung Bayi di Yogyakarta
Bagus Kurniawan – detikcom

Yogyakarta – Bayi berumur 22 bulan mengandung seorang bayi. Bayi dengan fenomena yang sering disebut fetus in fetu itu kini dirawat di RS Dr Sardjito Yogyakarta.

Dalam waktu dekat, bayi malang tersebut akan segera dioperasi. Sebelumnya, tim dokter RS Dr Sardjito akan melakukan operasi pada hari ini, Rabu (2/4/2008), namun batal. Rencananya operasi akan dilakukan pada Kamis 3 April di Gedung Bedah Sentral Terpadu (GBST) RSU Dr Sardjito.

“Suhu bayi mengalami peningkatan hingga mencapai 40 derajat. Operasi kami tunda, tunggu sampai kondisinya normal,” kata salah satu tim dokter, dr Rochadi SpB di RSU Dr Sardjito, Jl Kesehatan Yogyakarta, Rabu (2/4/2008).

Menurut dia, kasus fetus in fetu ini merupakan kasus ketiga di RSU Dr Sardjito. Kasus ini terjadi karena proses pemisahan janin kembar yang tidak sempurna.

“Mereka itu sebenarnya kembar. Sedang penyebabnya adalah kelainan genetik. Seharusnya kelainan ini bisa iketahui sejak dalam kandungan ibu dengan USG,” katanya.

Menurut Rohadi, bila ditemukan kasus fetus in fetu lebih baik cepat dilakukan operasi. Bila tidak, janin bayi yang tidak berkembang tumor dan mengganggu kesehatan bayi. Kasus fetus ini fetu sangat jarang terjadi di dunia. Perbandingannya 1 banding 200 ribu kelahiran bayi. Sudah pasti bayi yang dikandung itu mati,” katanya.

Bayi di pontianak :

Bayi Dijemur Paman sampai Tewas

Rabu, 2 April 2008 | 11:30 WIB

PONTIANAK- Polisi berhasil menanggkap Mu (42), Senin lalu. Berdasarkan penyelidikan polisi, Mu telah menjemur dan menganiaya keponakannya sendiri, Sukardi (15 bulan) hingga tewas.

Sukardi meninggal dunia pada Selasa (25/3) lalu di Dusun Sukaharja, Kecamatan Kubu Padi, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.

Kepala Kepolisian Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Ajun Komisaris Polisi Jaka Budi Prasetya ketika dihubungi mengatakan, Mu tertangkap hari Senin ini (31/3) setelah pihak kepolisian menerima laporan warga yang mencurigai kematian korban yang tidak lazim.

Pada sekujur tubuh korban banyak ditemukan lebam atau tanda membiru akibat pukulan benda tumpul. “Berdasarkan laporan tersebut kami mengambil tindakan, dengan mengamankan tersangka di Polsek Sungai Ambawang untuk diminta keterangan atas dugaan pembunuhan tersebut,” katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan pengakuan tetangga tersangka, korban bersama adiknya yang masih berumur tiga bulan dititipkan ibunya sejak tiga bulan lalu. Ibu korban bekerja ke Malaysia dengan meninggalkan uang sebesar Rp100 ribu dan 40 kilogram beras untuk kedua anaknya.

“Tetapi bukannya perawatan yang selayaknya diberikan seorang paman yang didapat oleh kedua anak itu. Melainkan pukulan-pukulan menggunakan sapu lidi yang mendarat ke tubuh mungil korban oleh tersangka ketika ia marah,” kata Jaka.

Ia menjelaskan, tidak hanya mendapat pukulan dengan sapu lidi, korban juga sering dijemur oleh pamannya. Terakhir korban dijemur di panas terik matahari hingga mengalami sakit, dan akhirnya meninggal dunia.

“Hingga kini kita masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka. Sementara adik korban hingga kini masih dirawat di rumah tetangga terdekat untuk pemulihan, kemungkinan adik korban akan dititipkan di yayasan peduli anak,” katanya.

Tersangka Mu akan dikenakan Pasal 338 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman penjara maksimal lima belas tahun.

Selain itu tersangka bisa dikenakan sanksi menurut Undang-undang No. 23 tahun 2007 tentang Perlindungan Anak. Serta Undang-undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan ancaman hukuman penjara maksimal tiga tahun.

Jika terbukti bersalah tersangka diganjar dengan hukuman penjara masimal 10 tahun penjara, denda Rp30 juta

Dan bayi lagi di padang :

02/04/2008 16:16 WIB
Bayi 22 bulam di RS M Djamil Padang Positif Flu Burung
Yonda Sisko – detikcom

Padang – Satu dari tiga pasien suspect flu burung yang dirawat di Rumah Sakit M. Djamil Padang dipastikan positif H5N1. Pasien tersebut adalah Alifa Konza, bayi berusia 22 bulan

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat (Sumbar), Rosnini Savitri, di Kantor Dinkes Sumbar, jalan Perintis Kemerdekaan, Rabu (3/4/2008). Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala RS. M. Djamil Suchyar Iskandar dan Kepala Dinas Peternakan Sumbar, Edwardi.

“Dua pasien lainnya, Etriani dan Asyifa masih belum diketahui hasil tes sampel darahnya karena masih belum dikirim dari Jakarta,” ujarnya.

Dikatakan Rosnini, selain memeriksa sampel darah ketiga pasien, Dinas Kesehatan Sumbar juga sudah mengirimkan tim untuk mengambil sampel darah semua pihak yang diketahui pernah kontak dengan pasien. Meraka antara lain keluarga, tetangga, dan perawat yang ikut menangani pasien. Hasilnya, dari 180 sampel darah yang diperiksa semuanya negatif H5N1.

Lebih lanjut, Rosnini mengatakan, pihaknya berharap warga Sumbar untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus flu burung. Dalam 3 tahun terakhir, terdapat 59 kasus suspect flu burung yang dirawat di RS M Djamil dengan 4 orang positif dan 1 di antaranya meninggal dunia.

Alifa Konza, merupakan pasien suspect flu burung pertama yang dirawat RS Djamil sepanjang 2008 ini. Selanjutnya Etriani (29 tahun), perawat Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi dan terakhir Asyifa (21 bulan) yang masuk RS. Djamil pada Selasa 2 April. ( yon / djo )

Rabu, 02 Apr 2008,
Bayi Gizi Buruk Itu Meninggal Dunia


Kurang Energi, Tak mampu Cerma Makanan
Dalam dua bulan terakhir, setidaknya tiga balita gizi buruk meninggal dunia. Yang terakhir, Rafa Azzura, yang meninggal Senin malam lalu. Di RSD dr Mohammad Soewandi saja, sejak Januari lalu merawat 47 bayi gizi buruk. Diperkirakan, tahun ini meningkat.

AGUNG PUTU-NUR AINI-TITIK ANDRIYANI

TENDA panjang sekitar lima meter memayungi gang kecil di Jalan Gading Karya, kawasan Kedung Cowek, Kenjeran. Di rumah tepat tenda itu berdiri, beberapa tamu duduk di ruang depan berukuran sekitar 3 x 2 meter. Nyonya rumah, Wempy, dengan raut wajah duka menerima mereka.

“Saya tidak mengira Rafa meninggal. Sebab, kondisinya tampak semakin baik,” kata ibu dua anak kembar itu. Rafa, bayi laki-laki sepuluh bulan tersebut memang lahir kembar. Saudaranya, Raka Attilia, juga menderita gizi buruk.

Ibu 21 tahun itu kemudian bercerita detik-detik akhir hidup Rafa. Pukul 18.00 Senin itu, dia memberikan nutrisi tambahan. Cairan tersebut pemberian RSD dr Mohammad Soewandhie. Tapi, baru menyuapi satu sendok, napas Rafa tersengal-sengal. Makin lama intensitas napasnya makin jarang.

Wempy pun segera memanggil tenaga medis. Alat bantu pernapasan sempat dipasangkan pada bayi itu. Namun, bayi kelahiran 28 Mei 2007 itu tak tertolong. Sekitar pukul 18.30, Rafa mengembuskan napas terakhir. Wempy terkejut. Sebab, dia melihat gerak tubuh Rafa mulai lincah. “Sejak awal ke rumah sakit, Rafa sudah mendapat nutrisi tambahan rutin selain diinfus. Tubuh Rafa mulai tampak gemuk,” katanya.

Bayi itu juga mulai jarang mencret. Bahkan, pada Senin pagi, Rafa sudah tidak mencret sama sekali. “Selama sehari penuh, Rafa hanya buang air dua kali. Itu pun tidak mencret,” kata Wempy. “Makanya, kami sekeluarga sudah sangat gembira melihat perkembangan Rafa,” lanjutnya.

Ibu berambut panjang itu juga melihat bayinya berangsur-angsur gemuk, tubuhnya keset. Hanya, ketika dicubit, tubuh Rafa tak segera kembali seperti semula. “Saat itu kami seneng sekaligus curiga,” katanya.

Rafa mengalami muntah dan mencret terus menerus sejak Jumat. Sabtu malam, kedua orang tuanya membawanya ke RSD dr Muhammad Soewandi. Kondisinya sangat memprihatinkan. Berat badannya hanya 3,3 kilogram. Sehingga, terlihat tinggal tulang saja. Bayi seusianya paling tidak punya berat badan 7 kg – 8 kg. “Padahal, saya sudah sering ganti susu dan sering memberi vitamin,” terang Whempy.

Rafa dan Raka terlahir dengan berat badan rendah, yakni hanya 2,3 kg. Karena itu, sejak hari pertama kelahiran hingga sepuluh hari sesudahnya, keduanya harus dirawat di inkubator. Ini agar keduanya tidak kehilangan panas tubuh.

Hingga berusia sepuluh bulan, berat badan keduanya hanya 3,3 kg. Aktivitasnya pun masih seperti bayi. “Usia segini bayi lainnya sudah bisa mengangkat kepalanya. Tapi, ini nggak bisa juga,” kata Wempy.

Menurut dokter yang menanganinya saat itu, Rafa dan Raka mengalami kurang darah. Hal itu terlihat pada warna tubuhnya yang pucat. Wempy mengaku rutin memberikan ASI kepada kedua buah hatinya itu. Bahkan, dia juga menambah susu kaleng. “Namun, setiap kali diberi makan dan susu, Rafa selalu mengeluarkan lagi lewat berak dan pipis,” tuturnya.

Kalaupun porsi susunya ditambah, pipis dan beraknya pun bertambah. Bahkan, gumpalan susunya tampak jelas pada tinjanya. Saat itu, nafsu makan Rafa begitu tinggi. Tapi, tiap kali diberi makan dalam porsi banyak, selalu dikeluarkannya.

“Saya sudah membawa ke mana-mana. Kata dokter daya serap Rafa kurang. Jadi, berapa pun banyaknya makanan dan minuman yang diberikan, dia akan mengeluarkannya lagi,” kata ibu muda berkulit kuning itu.

Diakui oleh istri Hari Setiawan itu, dia jarang membawa bayinya ke Puskesmas. Karena itu, dia tidak pernah mendapatkan makanan tambahan dari Puskesmas. “Saya hanya bawa ke bidan,” katanya. “Bidan hanya menganjurkan makanan yang mesti dimakan,” lanjut dia.

Kondisi Rafa pun tak banyak perubahan. Tetap sakit-sakitan. Kondisi tersebut memusingkan keluarganya. Sebab, Hari, hanya bekerja sebagai tukang bangunan yang tiap hari diupah Rp 20.000. “Itu pun kalau ada proyek. Kayak sekarang gini ya sepi,” kata Wempy.

Penghasilan tersebut tak cukup untuk memenuhi gizi kedua anaknya, maupun dirinya. Apalagi, ketika Rafa sakit. “Tapi, bagaimana lagi. Masak sakit dibiarkan. Akhirnya untuk biaya-biaya itu saya pinjam orang tua,” katanya.

Kondisnya orang tua Wempy sebetulnya tak jauh beda. Rejoni, ayah Wempy, bekerja di bengkel sepeda onthel. Sedangkan ibunya, sebagai penjual sayur.

Kasubbag Rekam Medis RSU dr Mohammad Soewandhie, Indriyati, mengatakan, umumnya pasien gizi buruk dibawa ke rumah sakit karena sakit-sakitan. “Biasanya diare berkepanjangan, panas, dan muntah-muntah,” katanya.

Rafa, kata dia, mengalami gizi buruk marasmus. Yakni, kekurangan energi karena tidak mendapatkan karbohidrat cukup. Akibatnya, alat pencernaan Rafa tidak mampu mencerna makanan secara maksimal. “Untuk kasus seperti ini, jika bayi terus minta makan dan minum jangan serta merta dituruti,” tuturnya.

Wakil wali Kota Surabaya Arif Afandi memprediksi penderita gizi buruk tahun ini bakal naik. Hal itu antara lain karena program dari World Food Programme, lembaga PBB yang menangani gizi ditiadakan, kekurangan kader posyandu, dan melambungnya harga kebutuhan pokok.

Tingkat penyebaran gizi buruk di Surabata merata di semua kawasan. “Dari 31 kecamatan, yang tidak termasuk kawasan merah ada 12 kecamatan,” katanya. Yakni, Pakal, Sambikerep, Wiyung, Karang Pilang, Dukuh Kupang, Gayungan, Wonocolo, Tenggilis, Gunung Anyar, Gubeng, Bubutan, dan Sukomanunggal. “Kawasan-kawasan itu angka gizi buruknya di bawah satu persen,” katanya. Sedangkan sisa 19 kecamatan lebih dari satu persen. Daerah-daerah itu disebut kawasan merah.

Penderita gizi buruk umumnya tinggal di kantong-kantong kemiskinan. “Mayoritas juga terjadi pada keluarga dengan jumlah anak banyak,” imbuhnya. Termasuk, keluarga dengan tingkat kesadaran rendah untuk membawa anaknya ke posyandu.

Pada 2007 jumlah penderita gizi buruk menurun.”Anehnya, yang datang ke rumah sakit naik. Mestinya, jika prevalensi turun, jumlah anak yang dibawa ke rumah sakit juga turun. Ini yang perlu kita selidiki,” ujarnya.

Banyak persoalan terjadi di lapangan. “Surabaya ini kekurangan kader posyandu. Padahal, peran kader posyandu itu penting dalam mengawasi asupan gizi balita,” katanya. Saat ini ada 14 ribu kader posyandu di metropolis. Dari jumlah itu, yang mendapatkan insentif dari pemkot baru 8.000 orang. Itu pun hanya Rp 25 ribu per bulan. “Sisanya belum mendapat insentif,” jelasnya.

Idealnya, kata Arif, satu posyandu punya lima kader. Kenyataannya, satu posyandu baru ada tiga kader. “Dengan begitu, praktis kami tidak bisa hanya mengandalkan peran posyandu. Saya sudah koordinasikan supaya Dinkes maupun rumah sakit turut aktif menangani,” jelas dia.

Sejatinya, jumlah posyandu di Surabaya cukup. Hanya, beberapa posyandu punya terlalu berat. Idealnya, satu posyandu menangani 100 balita. Kenyatannya, satu posyandu ada yang menangani sekitar 300 balita. “Pendistribusian posyandu memang merata. Menjadi tidak merata karena daerah dengan kantong kemiskinan tinggi butuh lebih banyak posyandu,” ujarnya.

Karena itu, pemkot bakal memfokuskan penanganan terhadap kasus gizi buruk. “Kita akan memprogram kembali kegiatan penanganan terhadap kasus ini. Juga mengajukan penambahan anggaran dalam PAK (perubahan anggaran keuangan, Red),” terangnya.

Penambahan anggaran memang sangat dibutuhkan. Sebab, saat ini bantuan yang diberikan kepada balita untuk asupan dan konsumsi hanya Rp 17 ribu per anak. “Itu masih jauh dari ideal,” ujarnya. (cfu)

Bayi Kembar Menderita Gizi Buruk Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Tuesday, 01 April 2008
SURABAYA – SURYA -Sangat ironis. Ternyata jumlah penderita gizi buruk di Kota Pahlawan, yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia ini, terus meningkat. Berdasarkan data pasien yang masuk ke RSUD Dr Soewandhie, selama bulan Maret ini ada 27 pasien gizi buruk. Dua di antaranya meninggal dunia. Sedangkan pada bulan Januari hanya ada 11 kasus. Kemudian Februari sembilan kasus. Jumlah ini belum termasuk penderita gizi buruk yang dirawat di puskesmas atau rumah sakit lainnya.Kepala Sub Bidang Rekam Medik RSUD Dr Soewandhie, Indriyati mengatakan, peningkatan penderita gizi buruk ini karena penyakit penyerta diderita pasien kambuh. Di antaranya diare mulai dari tingkat ringan hingga akut, meningitis, demam berdarah, kejang, panas tinggi, infeski, radang paru-paru, dan anemia berat.

“Kondisi makanan dan lingkungan yang tidak sehat, membuat penyakit penyertanya itu muncul dan memerlukan perawatan seperti di sini,” kata Indriyati ketika ditemui di kantornya, Senin (31/3).
Kasus paling gres menimpa Rava Azura, 10 bulan. Balita yang tinggal Jalan Gading Karya ini sejak Sabtu (30/3) malam, harus dirawat di RSUD Dr Soewandhie. Padahal seminggu sebelumnya Rava baru selesai menjalani perawatan di RSU Dr Soetomo.

Ibu kandung Rava, Wiempi, 21, mengaku bila anaknya menderita gizi buruk. Bahkan saudara kembarnya Rava, Raka Atila, 10 bulan, juga menderita gizi buruk. “Kemarin Raka juga bersamaan dengan Rava menjalani rawat inap di RSU Dr Soetomo,” jelas Wiempi.
Untuk menangani kasus gizi buruk ini, lanjut Indriyati, pihaknya lebih dahulu menyembuhkan penyakit penyertanya. Kemudian untuk diagnosa gizi buruknya, melalui observasi dan pemantauan oleh pihak puskesmas-puskesmas setempat.ri

Tatkala Raka Tangisi Rava, Korban Gizi Buruk Tinggal Kulit dan Tulang


Wednesday, 02 April 2008
Surabaya – Surya -Tatapan mata Raka Atila (10 bulan) kosong. Ada mendung menggantung di wajahnya, saat memandangi saudara kembarnya, Rava Azura, tergolek tak bernyawa. Belum tentu ia bisa bertahan hidup. Tapi, itulah yang harus dialami Raka. Saudara kembarnya, Rava, mengembuskan napas terakhir setelah dirawat sehari semalam di RSU Dr Soewandhie, Surabaya, Selasa (1/4) sekitar pukul 18.30 WIB.
Putra pasangan Hari, 22, dan Ny Wiempi, 21, itu meninggal karena gizi buruk. Kondisi fisik mengenaskan. Tubuh bayi seberat 3,3 kilogram itu seolah tinggal kulit dan tulang, kurus kering. Kepala terlihat lebih besar dan matanya cekung. Kulitnya juga pucat.Keadaan Rava yang masih hidup bahkan terlihat lebih buruk. Untuk menopang kepala saja ia tak mampu. Saat ditemui di rumahnya kemarin, ia hanya terbaring loyo di gendongan ibunya. Rambutnya pun jarang, bahkan cenderung botak.
Dijumpai di rumahnya di Jl Gading Karya II/16, Selasa (1/4), orangtua bayi kembar terlihat sangat terpukul atas peristiwa yang dialami. Raut muka Ny Wiempi terlihat kusut, sedangkan Hari lebih suka membisu.

“Saya tidak menyangka, dia harus meninggal di rumah sakit. Padahal, selama dirawat, tubuhnya terlihat lebih segar dan lebih gemuk,” ungkap Ny Wiempi didampingi suaminya, Hari, dan ibunya, Harier, 44.

Kepala Sub Bidang Rekam Medik RSUD dr Soewandhi Surabaya Indriati menyatakan, “Dia masuk ke rumah sakit pada Minggu (30/3) malam karena menderita diare dan marasmus.”
Namun, bayi itu hanya bertahan sehari semalam. “Beratnya hanya 3,3 kilogram dan saat masuk rumah sudah dalam kondisi parah, sehingga kondisi kesehatannya tak berangsur pulih tapi drop (menurun) sampai akhirnya meninggal dunia,” tambah Indriati.

Ny Wiempi mengatakan, “Saya lihat Raka sangat terpukul atas kepergian Rava,” ungkapnya. Ditambahkan oleh Harier, “Selain menangis, Raka juga terus-menerus menatap tempat tidur Rava yang kosong.”
Ny Wiempi yang bertubuh subur menyatakan, saat hamil, ia tak tahu apa yang harus dikonsumsinya. “Saya makan seadanya. Saat hamil, saya jatuh tiga kali. Mungkin itu penyebab anak saya seperti ini,” ungkapnya.

Menurur Harier, cara makan Ny Wiempi memang tidak memenuhi empat sehat lima sempurna. “Dia tidak suka makan daging dan sayur-sayuran. Sehingga, nutrisi untuk bayinya sangat kurang,” ungkapnya.
Akibatnya, Rava dan Raka hanya bisa minum ASI hingga berusia dua bulan. Selajutnya, bayi kembar ini mengonsumsi susu formula. Selama hidup dari susu pabrikan inilah, si kembar mulai kerap terkena penyakit diare.

Bahkan, ketika tiba saatnya mengonsumsi makanan tambahan, pencernaan mereka tidak berfungsi dengan baik. “Setiap makanan masuk, selalu keluar lagi melalui dubur dengan kondisi sama ketika dimakan. Sama sekali tidak dicerna,” ungkap Wiempi.
Dokter, kata Ny Wiempi, menyatakan bahwa anaknya itu mengalami kekurangan gizi. Diare adalah salah satu penyakit penyerta. Diagnosa dokter di RSU dr Soewandhie menyebutkan, selain diare, Rava juga menderita gizi buruk jenis marasmus atau kekurangan karbohidrat.

Jika dilihat sepintas, sulit menyimpulkan bahwa keluarga Hari ini miskin. Selain tinggal di rumah layak huni, mereka juga memiliki sepeda motor, pesawat televisi, dan ponsel. Namun, uang belanja yang diberikan Hari kepada istrinya hanya Rp 400.000/bulan.
Dengan hasil jerih payah Hari sebagai tukang bangunan ini memang Ny Wiempa tak mungkin bisa memenuhi kebutuhan hidup dua bayinya secara layak. Itu sebabnya, ia membelikan susu yang harganya relatif murah, tidak sesuai yang disarankan dokter.

Meninggalnya Rava menambah panjang daftar balita gizi buruk yang dirawat RSU dr Soewandhi. Sebelumnya, balita Bayu Nur Cahyo (13 bulan), warga Kedung Mangu, meninggal pada 17 Maret karena gizi buruk dan diare akut.

Gizi buruk juga merenggut nyawa Arief, 6, warga Kedinding Lor Gg 2/144, pada 24 Maret 2008. Selain kurang gizi, Arief juga didiagnosa mengalami penyakit penyerta meningitis dan kejang.
Dengan demikian, dari 27 penderita gizi buruk yang dirawat di RSU dr Soewandhi per Maret 2008, tiga meninggal dunia.
Selama Januari-Maret 2008, RS swasta ini merawat 47 pasien gizi buruk, dengan rincian Januari (11 anak), Februari 2008 (9), dan Maret (27). rie

Pemkot Hanya Bantu Rp 48

Di balik gemerlap Kota Surabaya, di sekeliling gedung menjulang, permukiman mewah, dan berseliwerannya Mercedez Benz serta Jaguar, ternyata banyak warga yang untuk makan saja susah setengah mati.
Di antara ribuan anjing, kucing, dan burung piaraan yang biaya perawatannya puluhan ribu rupiah per hari per ekor, ternyata ada ribuan balita gizi buruk.
Bahkan, prevalensi balita gizi buruk kota metropolis ini sekarang diperkirakan meningkat dibandingkan tahun lalu. Pada 2007, jumlahnya 4.683 balita atau 1,96 persen dari jumlah total balita.
Sedangkan pada 2008, berdasar data di Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappekot) Surabaya terdapat 2.239 balita gizi buruk. Jumlah terbanyak terdapat di Kecamatan Tandes 225 balita, Kenjeran 209, dan Tegalsari 167 balita.
Ironisnya, tingginya angka ini tidak diimbangi dengan anggaran untuk pengentasannya. APBD Kota Surabaya 2008 hanya menganggarkan Rp 7,5 miliar untuk pengentasan balita gizi buruk.
Dari jumlah itu, Rp 4,1 miliar di antaranya untuk pemberian asupan gizi terhadap balita, untuk transportasi kader Posyandu sebesar Rp 2,5 miliar dan sisanya untuk pendampingan.
Dengan anggaran ini, berarti setiap balita hanya dijatah sekitar Rp 17.000/orang/tahun (atau Rp 48/orang/hari), karena jumlah balita per tahun rata-rata sebanyak 233.429 orang. Padahal, harga satu kaleng susu 350 gram rata-rata Rp 46.000.
Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi saat dikonfirmasi tidak membantah kondisi itu. Menurut Arif, tingginya angka balita gizi buruk ini banyak dipengaruhi tingkat kemiskinan dan kesadaran yang rendah dari orang tua. Ini ditunjukkan dari banyaknya balita gizi buruk yang berada di wilayah kantong-kantong kemiskinan.
Selain itu, pencabutan program World Food Program (WFP) dan tingginya harga kebutuhan pokok juga mempengaruhi tingginya angka gizi buruk ini di Surabaya
Untuk itu, menurut Arif, perlu adanya revisi program dan anggaran.
“Saat ini, yang bisa dilakukan hanya pemindahan-pemindahan pos sebelum pengajuan perubahan anggaran keuangan (PAK) Agustus 2008. Rencananya, kami akan tambahkan di PAK,” kata Arif, Selasa (1/4).
Selain itu, lanjut alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini, pihaknya akan berusaha untuk mengalihkan dana Community Social Responsibility (CSR) dari pengusaha-pengusaha Kota Surabaya untuk mendukung program ini.
Arif juga menyatakan perlunya revitalisasi posyandu dan penambahan tenaga kader. Saat ini, Kota Surabaya memiliki 2.796 posyandu dengan jumlah kader 14.000 orang . Dari jumlah kader itu, hanya 8.000 yang menerima insentif Rp 25.000/bulan. Sedangkan sisanya sifatnya sukarela. Jumlah inipun dirasa tidak ideal karena hanya beberapa posyandu yang memiliki liam atau enam kader. “Masih banyak posyandu yang hanya memiliki dua atau tiga kader saja. Kedepannya ini harus diperbaiki,” tukasnya. k1/uca

Jumlah Balita Gizi Buruk di Surabaya
=Surabaya Pusat: 400
=Surabaya Selatan: 456
=Surabaya Barat: 398
=Surabaya Utara: 626
=Surabaya Timur: 359

Daftar keganasan lanjutan

Rabu, 02 Apr 2008
Salon-Rumah Kos Ludes

SIDOARJO – Api melalap habis sebuah rumah dan sebuah salon kecantikan di Jl Jenggolo Gang 3, Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo, kemarin. Seorang bocah, Nian, 3, terluka karena lengannya tersambar kobaran api.

Api diketahui berkobar sekitar pukul 15.00. Warga sekitar berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya. Namun, si jago merah terus mengamuk. Dalam waktu sekitar 30 menit, api mampu menghanguskan rumah milik Mintarsih yang digunakan untuk indekos. Berikutnya, salon milik Elisabeth, 36, juga ludes.

Kapolsek Kota AKP Dwi Yuliati mengatakan, api berasal dari rumah Mintarsih. Diduga, api muncul karena hubungan arus pendek (korsleting) listrik.

Elisabeth mengaku sedih atas kebakaran itu. Apalagi, Nian, putrinya, juga terluka. “Waktu itu dia tidur. Terus saya angkat, tapi tersambar api,” kata Elisabeth. Dua mobil PMK tiba di lokasi. Petugas PMK yang dibantu warga berhasil memadamkan api sekitar 30 menit kemudian. (riq/roz) Rabu, 02 Apr 2008
Tragis, Polisi Tembak Istri

Tepat di Kepala, Korban Tewas
PULANG PISAU – Daftar anggota Polri yang menembak istri makin panjang. Kali ini berlangsung di Kalteng, tepatnya di Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), Senin (31/3) siang.

Bripka Henoch, 25, menembak kepala istrinya, Ny Sutri, 23, di ruang tengah rumah mertuanya di Jalan Masyumi Layar RT VIII Kompleks Pelabuhan Cukai, sekitar pukul 11.30 WIB.

Peluru ditembakkan Kanit Patroli Polsek Kahayan Hilir itu dari jarak satu meter. Korban yang juga guru honor di SMAN-1 Kahayan Hilir itu tewas seketika. Peluru berasal dari revolver kaliber 38 spec standar Polri.

Atas kejadian itu, Christian, 1,3 tahun, harus rela kehilangan ibunya. Motif penembakan dilatarbelakangi cekcok mulut uang hasil jual beli tanah sebesar Rp 6,5 juta di Jalan Tajahan Antang. Pembelinya adalah H Ibam, warga setempat.

Briptu Henoch segera ditahan kepolisian. Pelaku lalu menjalani pemeriksaan di Unit P3D Polres Pan Pulpis.

Kronologi bermula ketika Briptu Henoch pulang kerja sekitar pukul 08.45 WIB. Pelaku kemudian melepas baju dinasnya. Bintara itu lalu menonton televisi di ruang tengah sembari menunggu anaknya.

Tidak lama berselang, pasangan suami-istri (pasutri) itu membahas masalah uang hasil penjualan tanah. Terjadi beda pendapat seputar penggunaan uang tersebut. Ny Sutri menyatakan niatnya membeli mesin jahit untuk buka usaha.

Namun tidak demikian dengan Henoch. Dia menghendaki uang itu digunakan untuk kepentingan lain. Keduanya terlibat perang mulut. Tidak terima dengan sikap istrinya, pelaku mengambil pistol, kemudian mengacungkannya ke arah korban sembari berkata, “Kamu jangan macam-macam ya.”

Pistol tersebut pun menyalak dan tepat mengenai kepala korban. Seketika korban tergeletak bersimbah darah. Melihat kondisi tersebut, pelaku langsung membopong tubuh istrinya sembari berteriak meminta tolong.

Teriakan itu mengundang perhatian Kepala Sat Pol PP Bambang Mantikei Usup, PNS Dinas Perhubungan Pulpis Surif Sunarto, dan staf honorer Setda Pulpis Tambuyan.

Korban selanjutnya dilarikan ke IGD RSUD Pulpis menggunakan mobil Patroli Sat Pol PP serta Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Pulpis.

Sayang, upaya tim medis gagal karena korban sudah mengembuskan napas terakhir. Untuk kepentingan penyidikan, petugas medis melakukan visum et refertum (VER).

Pelaku langsung diamankan di Mapolres Pulpis. Briptu Henoch mengatakan, dia tidak sengaja menembak istrinya. “Ya Tuhan. Saya tidak sengaja, saat itu saya hanya ingin bercanda, tapi ternyata pistol meletus mengenai kepala,” katanya seraya menutupi muka dengan kedua belah tangan yang bersimbah darah.

Kapolres Pan Pulpis AKBP Abdul Hasyim SH saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Senin (31/3), membenarkan bahwa salah seorang anggotanya telah menembak istrinya sendiri. “Kronologi kejadian karena kelalaian anggota. Saat bercanda dengan istrinya, dia mengacungkan senpi yang akhirnya meletus mengenai kepala korban.” (ink/opa/jpnn/ib)

Rabu, 02 Apr 2008
Anak Habisi Nyawa Ayah

ACEH – Gara-gara minta uang tidak diberi, Mansur Demak Simajuntak, 29, tega menghabisi nyawa ayahnya, Hotman Simajuntak, 50. Sang anak membunuh ayahnya dengan sebilah parang. Korban yang mengalami empat luka tewas di tempat kejadian perkara (TKP).

Pembunuhan sadis itu terjadi di Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), sekitar 25 kilometer arah selatan dari Kota Agara, Senin (31/3) siang.

Saat itu, korban sedang bekerja di sawah bersama istrinya, Nurmin Boru Sihombing, di desa tersebut. Tiba-tiba tersangka yang memegang sebilah parang mendatangi korban. Tersangka yang juga anak kandung korban itu datang untuk meminta uang.

Namun, korban tidak bisa memenuhi permintaan tersangka. Terjadilah percekcokan mulut. Lalu, tersangka emosi dan langsung menusukkan parang yang dipegangnya ke arah punggung korban sekali.

Setelah korban pingsan, tersangka dengan membabi buta menikam hingga berulang-ulang ke bagian dada korban yang sudah terkapar dan tidak berdaya. Akibatnya, korban tewas di tempat kejadian perkara.

Setelah membunuh ayahnya, korban melarikan diri. Istri korban yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa berteriak minta tolong. Dia tak bisa berbuat apa-apa.

Kapolres Agara AKBP Tursilo SH kemarin (1/4) mengatakan, setelah mendapat laporan mengenai pembunuhan itu, jajarannya segera turun ke tempat kejadian perkara. Dalam waktu tak begitu lama, tersangka bisa diringkus.

“Saat ditangkap, tersangka tidak memberikan perlawanan. Tersangka kini sudah diamankan di mapolres. Barang bukti parang dan baju korban juga sudah diamankan,” ujarnya.

Disinggung motif di balik pembunuhan itu, Tursilo mengatakan tersangka kesal gara-gara minta uang kepada korban, namun tidak dikasih. Menurut Tursilo, korban mengalami kurang lebih empat luka tusuk di sekujur tubuhnya. Paling parah di bagian ulu hati dan pinggang.

“Saat pemeriksaan tersangka, dia sadar dan tidak. Maka, kami melakukan penyidikan secara pelan-pelan,” ujar Tursilo. (fah/jpnn/ib)

Rabu, 02 Apr 2008,
Tewas Tertabrak KA

PERLINTASAN kereta api (KA) di pertigaan Jl Pagesangan memakan korban kemarin. Moh. Iksan, 36, tewas seketika setelah tubuhnya ditabrak KA Logawa jurusan Surabaya-Yogyakarta.

Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 10.20. Menurut saksi mata, pagi itu Iksan sliweran menggunakan motor Suzuki Shogun di jalur rel kereta. “Kalau dihitung setidaknya empat kali dia mondar mandir,” terang seseorang penjaga warung tak jauh dari lintasan KA tersebut.

Terakhir, katanya, Moh Iksan melaju dari arah timur ke barat lintasan. Anehnya, Moh. Iksan seolah tak peduli meski petugas perlintasan memberi aba-aba agar tidak melewati perlintasan itu. Dia tetap saja nyelonong. Akhirnya tertabrak,” katanya. Iksan tewas seketika. Warga Simo Margorejo itu mengalami luka serius di bagian kepala. (ded)

Rabu, 02 Apr 2008,
Wisma Dolly Terbakar, Seorang Tamu Tewas


SURABAYA – Gusrianto barangkali tak pernah menyangka bahwa kunjungannya ke Dolly menjadi pelesir terakhir yang dia lakukan. ABK yang kapalnya tengah sandar di Pelabuhan Gresik itu tewas kemarin (1/4). Dia menjadi korban kebakaran di Srikandi 39, salah satu wisma di lokalisasi legendaris tersebut, pukul 05.00.

Wanita terakhir yang dikencani Gusrianto adalah Ningsih. “Dia booking saya delapan jam,” kata pelacur berumur 24 tahun itu. Menurut Ningsih, Gusrianto ngamar pukul 01.00. ABK asal Padang yang tinggal di Kebon Bawang, Jakarta Utara, tersebut datang ke wisma bersama Yovan, kawannya. “Gusrianto memilih saya, Yovan sama Yeni,” ujar Ningsih.

Setelah deal dengan harga Rp 80 ribu per satu setengah jam, mereka berkencan. Yovan dan Yeni di lantai 1, Ningsih dan tamunya di lantai II. Wisma tersebut memang terdiri atas dua lantai dengan 15 kamar tidur. Tiap kamar berukuran sekitar 3 x 1,5 meter.

Petaka terjadi setelah subuh. Pasangan itu terbangun sekitar pukul 05.00 akibat teriakan banyak orang. “Saya melihat asap sudah mengepul,” ujar Ningsih. Lampu tiba-tiba padam. Dalam keadaan gelap dan hanya memakai handuk, Ningsih dan Gusrianto menghambur keluar. Karena melompati tangga, kaki Ningsih sampai lecet. Jerit para wanita penghuni wisma ikut mewarnai kepanikan menjelang fajar tersebut.

Dalam kepanikan, Gusrianto berupaya mencari Yovan. Karibnya itu ketemu. Namun, saat api membesar, Gusrianto ingat bahwa HP Nokia N85 seharga Rp 4,6 juta tertinggal di kamar. Meski dicegah banyak orang, Gusrianto nekat masuk kembali dan tak pernah lagi kembali.

“Saya bingung, mau bilang apa ke keluarganya,” kata Yovan, kawan Gusrianto. Menurut Yovan, kapal mereka berangkat dari Jakarta pada Senin (31/3). Setiba di Surabaya, mereka pelesir. Salah satunya, ke WTC membeli HP untuk istri Gusrianto. Para ABK itu akhirnya sepakat mengakhiri masa senang-senang ke Dolly.

Wisma Srikandi 39 dimiliki Kristin dan Oni. Sehari-hari, bisnis prostitusi itu diawasi seseorang bernama Jono. Wisma tersebut akhirnya gosong setelah terbakar sekitar dua jam. Sembilan mobil PMK yang terdiri atas 5 unit PMK Pasar Turi, 2 PMK Wiyung, dan 2 PMK Karang Pilang memadamkan api.

Menurut Kasatreskrim Polres Surabaya Selatan AKP Yimmy Kurniawan, kebakaran itu diduga akibat korsleting listrik. “Tapi, kami masih menunggu hasil resmi tim labfor,” katanya. Tim tersebut tiba pukul 14.00 dan melakukan olah TKP. “Kami menemukan adanya kipas angin yang terbakar,” terang salah seorang petugas labfor. (ded/dos)

Categories: Fenomena, Islam