Dibalik gemerlapnya dunia selalu ada saja yang kurang beruntung, sama persis ketika para pejabat ramai-ramai lihat Film, maka rakyat kecil menjadi ganas Ganasnya alam dan manusia, saat Ayat Ayat Cinta menjadi tren …
Kelanjutan dari artikel yang membahas bunuh diri ( Madiun : Bunuh Diri yang Aneh) selalu saja di iringi dengan kepedihan lain dan fenomena lain masalah keagamaan. Disaat lalu kita menghujat film Fitna, di lain sisi saat film tsb di hujat, maka persoalan di masyarakat semakin runyam (baca Bunuh diri berkelanjutan …)
Sekali lagi bunuh diri hampir tiap hari terjadi, namun seakan seperti pepatah lolongan di tengah hiruk pikuk kebenaran, sepeti saat ini masalah pembubaran ahmadiyah (Ormas Islam Mendesak MK Mendukung Pembubaran Ahmadiyah)
30/04/2008 18:00 Kasus Ahmadiyah
Lagi, Masjid Milik Ahmadiyah DirusakLiputan6.com, Bogor: Baru dua hari silam masjid milik jemaah Ahmadiyah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dibakar, Rabu (30/4), tindakan anarkisme itu terjadi lagi. Kali ini giliran masjid di Kampung Ciarunteun Udik, Kabupaten Bogor, Jabar, dirusak massa. Pascaperusakan, polisi tampak berjaga di masjid yang sudah 30 tahun berdiri tersebut.
Adapun penolakan terhadap Ahmadiyah dipicu penilaian Ahmadiyah menyalahi Islam. Di antaranya tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir [baca: Sesatkah Ahmadiyah?].
Sementara di kawasan lain Jabar, tepatnya di Cianjur Selatan, jemaat Ahmadiyah menjalankan kesehariannya dalam kecemasan. Mereka khawatir menjadi sasaran perusakan seperti tiga tahun lalu. Polisi pun berjaga-jaga di sekitar kampung.
Aksi anarkisme menentang keberadaan Ahmadiyah belakangan ini memang marak. Bahkan, masjid terbesar Ahmadiyah di Kabupaten Sukabumi, dibakar, Senin dini hari silam. Madrasah di samping masjid turut menjadi sasaran amuk massa. Kepala Kepolisian Daerah Jabar Inspektur Jenderal Polisi Susno Duadji menyatakan anarkisme ini tidak terkait kelompok tertentu [baca: Masjid Ahmadiyah di Sukabumi Dibakar].
Anehnya, satu dari lima tersangka, kepala desa setempat malah mengaku berada di lokasi karena disuruh menjaga warganya. Kesaksian warga juga mengindikasikan pelaku pembakaran bukan penduduk sekitar. Terlepas dari siapa pun pelaku anarkisme menentang Ahmadiyah, tentu saja tindakan ini tidak dapat dibenarkan. Kini, penegak hukum ditunggu untuk menyelesaikannya [baca: Kades Bojong Bantah Ikut Merusak Aset Ahmadiyah].(ANS/Asep Didi dan Budi Santoso)
Persoalan ahmadiyah merupakan fenomena interaksi keagamaan, dan lebih jauh lagi masalah kemasyaraatan yang sangat kritis dimana terumpamakan ada saja tiap hari yang bunuh diri seperti di bawah ini
Sehari setelah artikel bunuh diri di jombang (baca Madiun : Bunuh Diri yang Aneh), maka besoknya muncul berita di mojokerto :
Senin, 28 Apr 2008
Nekat Bunuh Diri Tenggak Potas
KUTOREJO – Warga Dusun Jabon Desa Jiyu Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto mendadak gempar. Itu setelah mengetahui Jayami, 40 seorang warganya nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menenggak potas (racun ikan). Tubuh korban yang sopir truk ini ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di dalam kamar rumahnya, kemarin sore sekitar pukul 17.00.
Informasi yang berhasil di himpun koran ini, diduga korban putus asa mengakhiri hidupnya, karena sedang memikirkan konflik keluarga yang menimpa keluarganya. “Akhir-akhir ini memang korban terlihat murung, katanya sedang ada masalah masalah yang membelit keluarganya,” ujar seorang warga.
Peristiwa bunuh diri tersebut kali pertama diketahui oleh istri dan mertua korban. Keduanya terkejut saat melihat tubuh korban terlentang tak benyawa dalam kamar dengan kondisi mulut mengeluarkan busa putih. Tak ayal karena melihat suaminya tak bernyawa keluarga korban pun sontak berteriak histeris. “Seketika itu korban langsung dilarikan ke puskesmas setempat,” katanya.
Hanya saja, usaha tersebut tidak membuahkan hasil, setelah petugas puskesmas menyatakan korban sudah meninggal dunia akibat racun yang meresap ke dalam tubuhnya.
Sementara itu, Kapolsek Kutorejo AKP Sujut mengungkapkan, dari hasil olah TKP (tempat kejadian perkara) korban sengaja mengakhiri hidupnya dengan cara meneggak bubuk potas yang disertai minuman suplemen merek Kratingdaeng dan Hemaviton.
“Dari dalam kamar korban, kami menemukan sebuah botol Kratingdaeng yang baru saja diminum oleh korban,” katanya. Menurutnya, sebelum melakukan aksi bunuh diri, korban masih terlihat oleh warga sedang mencari ikan di sungai dekat rumahnya.
Namun, setelah beranjak dari sungai, tidak ada satupun warga dan keluarga yang mengetahui korban sedang menenggak potas yang dicampur dengan minuman berenergi itu. “Dari hasil visum kami tidak menemukan bekas kekerasan atau penganiayaan ditubuh korban,” imbuh Sujut. (ris/)
Kayak piala adipura bergilir, maka belum sempat keterkejutan akan bunuh diri di mojokerto, maka besoknya muncul bunuh diri di Surabaya :
Selasa, 29 Apr 2008, Tiga Bulan Nganggur, Gantung Diri
Sutrisno, 36, warga Jalan Simo Gunung Barat Tol mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan, kemarin (28/4). Tubuh laki-laki yang bekerja serabutan itu ditemukan tergantung di kamar mandi rumah ibunya, Jalan Banyu Urip Lor Gang Buntu.
Yang mengetahui pertama saudaranya sendiri, Sutikno dan Totok. “Dia ditemukan sudah tidak bernyawa di kamar mandi, sekitar pukul 04.30,” ungkap Kapolsek Sawahan AKP Victor Dean Mackbon.
Vactor menambahkan, berdasarkan keterangan para saksi, korban diduga nekad karena tak tahan menghadapi kerasnya deraan hidup. Dia sudah 3 bulan menganggur dan lama menumpang hidup di rumah mertuanya. Korban meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkat. “Mungkin lantaran lama tak punya anak juga mejadi penyebab korban putus asa,” kata Victor. (sat/ari)
Bagaimana di Sidoarjo ? dalam waktu yang hampir bersamaan mulai tgl 17, 18 dan 19 April 2007 Giliran piala bunuh diri terdapat di sidoarjo :
Senin, 21 Apr 2008
Tiga Tewas Bunuh Diri
SIDOARJO – Tiga kasus bunuh diri terjadi di wilayah Sidoarjo dalam sepekan terakhir. Jalan pintas mengakhiri hidup itu dipilih karena alasan ekonomi dan gangguan kejiwaan.
Seorang ibu muda bernama Citra, 24, mengakhiri hidup dengan cara minum racun potasium pada Kamis (17/4) lalu. Istri Arif Riyanto, warga Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, itu ditemukan tewas sekitar pukul 21.30. Di samping tubuhnya terdapat segelas air bercampur potasium.
Kapolsek Tulangan AKP Sirdi mengatakan, kasus Citra murni bunuh diri. “Ibu satu anak itu meninggal setelah menenggak air campur potas tersebut,” ucap Sirdi. Faktor ekonomi jadi pemicu lain.
Kasus bunuh diri lainnya terjadi pada Jumat (18/4) di Desa Watugolong, Kecamatan Krian. Pelaku sekaligus korban adalah Fahan Suyitno, 33. Lelaki itu ditemukan sekitar pukul 07.00 dalam keadaan tergantung di tiang kayu dapur rumahnya.
Kapolsek Krian AKP Kadarisman menjelaskan, korban mengalami gangguan jiwa. Istri dan anaknya sudah lama meninggalkan dia.
Bunuh diri juga terjadi di Desa Geluran, Kecamatan Taman, pada Jumat lalu. Sutarno, 30, ditemukan menggantung di dapur dengan tali plastik. Diduga, korban bunuh diri karena stres. Korban yang berprofesi sebagai pedagang daging ayam itu sering mengeluh barang dagangannya tidak terjual. “Karena tertekan, stres, dia akhirnya nekat,” kata AKP Sumaryadi, Kapolsek Krian. (riq/roz)
Jadi dalam bulan April-2008 ini saja piala bunuh diri terjadi di sda, sby, mjk dan jbn dan nominasi juara adalah sda, mengapa ?
Inilah sidoarjo tempat lumpur lapindo yang menjadi catatan sejarah manusia betapa ganasnya manusia Indonesia yang terpotret sebagai Fenomena Bayi Berkepala Dua
Ganas ? lihat berita di bawah ini tentang pemenggalan kepala di Indonesia , baru-baru ini
Kepala Reginaldi Ditebas Hingga Putus di Pasar
Jum’at, 18 April 2008 – 13:15 wib
Amir Tejo – Okezone
SURABAYA – Reginaldi Ratu Buysang, warga Gunungsari 4/7, Surabaya, sekira pukul 02.00 dini hari, menemui ajalnya dengan cara mengenaskan. Kepalanya ditebas hingga putus dengan menggunakan celurit oleh orang yang belum dikenali di Pasar Keputran.Ironisnya, kejadian ini disaksikan istrinya Sulistyawati. Ceritanya, seperti biasa pasangan ini kulakan sayuran di Pasar Induk Keputran setiap pagi dinihari. Namun sekira pada pukul 02.00 WIB, Jumat (18/4/2008), sesaat tiba di Pasar Keputran, mendadak pasangan ini didekati orang yang tidak dikenal dari arah sebelah kanan korban.
Mendadak orang tidak dikenal tersebut mengayunkan clurit ke arah leher Reginaldi hingga putus. Padahal saat itu, korban dan istrinya belum beranjak dari kursi sepeda motornya.
“Istrinya berusaha menjaga keseimbangan sepeda motor karena merasa akan jatuh. Tapi ternyata baru sadar jika suaminya sudah tewas,” kata Kapolresta Surabaya Selatan AKBP Lakoni, di Mapolresta Surabaya Selatan.
Saat ini polisi sedang membongkar pelaku pemenggal kepala Reginaldi.(jri)
Selasa, 29 Apr 2008
Anak Penggal Ayah
Aceh -Warga Desa Bugak Krueng, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, Minggu sore lalu dihebohkan peristiwa pembunuhan M. Yusuf bin M. Thalib.
Lelaki berusia 50 tahun itu tewas dengan kepala terpenggal. Tidak itu saja. Bagian tubuh seperti tangan dan kaki terpotong hingga menjadi tujuh bagian.
Yang paling menghebohkan, pelakunya tak lain anak kandung korban sendiri, yakni Iskandar binti M. Yusuf, 30. Penyebabnya juga sepele, korban mengaku tak menyimpan cincin pelaku yang hilang.
Berdasarkan keterangan istri korban, Wardiyah, 50, pembunuhan tersebut dipicu persoalan batu cincin berlafazkan “Allah” dan sebuah liontin.
Pada Jumat (25/4) lalu, Iskandar menitipkan perhiasan itu kepada adiknya, Mahlil. Dua hari berselang, tepatnya Minggu pagi, Iskandar meminta cincin dan liontin yang dititipkan kepada Mahlil. Dia menerangkan bahwa cincin tersebut diserahkan kepada ayah mereka. Namun, saat meminta kepada ayahnya, Iskandar mendapat jawaban yang tidak mengenakkan. Sang ayah mengaku tak tahu perihal batu cincin itu.
Mendengar jawaban itu, Iskandar berang. Setelah makan siang, pertengkaran ayah-anak pun tak terelakkan. Karena pertengkaran mereka tak kunjung reda, Wardiyah keluar rumah. Tak disangka, keputusan Wardiyah meninggalkan rumah berujung maut bagi suaminya.
Wardiyah memang mendengar suara gaduh dari dapur. Tapi, dia tidak menyangka Iskandar tega membunuh ayahnya. Setelah tiga puluh menit berlalu, Wardiyah kembali ke rumah. Dia sempat merasa aneh. Selain tak mendengar suara pertengkaran, dia merasa suasana di rumah sangat hening.
Namun, ketika menengok ke dapur, Wardiyah yang ditemani anak perempuannya histeris saat melihat tubuh suaminya. Sang suami tercinta bersimbah darah dengan kondisi kepala terpenggal. Kaki dan tangannya juga terpisah dari tubuh.
Jeritan Wardiyah menyentak warga desa. Mereka berduyun-duyun datang ke rumah Wardiyah untuk mencari tahu apa yang terjadi. Kehebohan dan perasaan miris menghinggapi warga setelah mendapatkan tubuh M. Yusuf terpotong menjadi tujuh bagian.
Sementara itu, tersangka yang sedari tadi mondar-mandir di sekitar lokasi kejadian langsung diringkus warga dan diserahkan kepada petugas.
Wakapolres Bireuen Kompol Danu Kusworo juga terlihat di lokasi. Dia memimpin proses olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengusut kasus pembunuhan itu. Informasi lain menyebutkan bahwa jiwa Iskandar terganggu.
Jenazah M. Yusuf segera dibawa ke RS dr Fauziah, Bireuen, untuk diotopsi. Kemungkinan tubuh almarhum yang terlepas akan disambung dengan cara dijahit. (bah/ozi/rag/jpnn/ib)
Ibarat makan nasi pasti ada lauknya, bunuh diri terbanyak terjadi karena kasus ekonomi, mengapa orang menjadi gelap mata (bunuh diri) ? Jawaban mudah di tebak yakni “Kepedulian sosial yang rendah akan nasib masyarakat bawah merupakan parameter jurang kaya dan miskin yang terjadi”
Lihat kasus gizi buruk sebagai masalah ekonomi Bayi Mati Akibat Gizi Buruk, Sebuah Pertanda maka inilah potret masyarakat baca berita di bawah :
Selasa, 29 Apr 2008
Lagi, Gizi Buruk Dirawat di Kariadi
SEMARANG – Satu lagi pasien gizi buruk dirawat di RSUP dr Kariadi, Semarang. Pasien tersebut bernama Lestari Ardianti, 7 bulan, warga Babadan, Kelurahan Kemiri, Temanggung. Anak pertama seorang ayah bernama Wagi ini dirawat sejak 24 April lalu karena kelainan paru-paru.
Wagi menjelaskan, sebenarnya dirinya telah membawa Lestari ke puskesmas di kecamatannya. Namun, anaknya kemudian dirujuk ke RS Jojonegoro, Temanggung. Karena kondisi terus melemah, Lestari dirujuk ke RSUP Kariadi. Saat ini kondisinya sudah membaik.
Wagi mengaku, mengobati anaknya dengan modal surat keterangan tidak mampu (SKTM). Surat tersebut diurus di kelurahan hingga kecamatan. Namun, saat di Kabupaten Temanggung, surat tersebut tidak boleh digunakan. Alasannya, Wagi tidak terdaftar.
Saat ini pasien masih dirawat di ruang anak C1 lantai I. Dokter yang merawatnya dr Mexitalia SpA. Mexitalia belum bisa dihubungi saat hendak ditanya tentang penyakit Lestari.
Secara terpisah, kemarin Menteri Kesehatan Prof Dr dr Siti Fadilah Supari SpJp (K) mengunjungi RSUP Kariadi. Kesempatan itu digunakan oleh Menkes untuk berdialog dengan dokter dan karyawan RS tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, Siti menjelaskan, RSUP Kariadi bisa menjadi pusat penelitian. Dengan status itu, jika nanti ditemukan virus baru, pengelola RSUP Kariadi dapat berkonsultasi ke Departemen Kesehatan (Depkes).
Setelah acara tanya jawab, Menkes diminta menandatangani buku berjudul Saatnya Dunia Berubah buah pemikirannya. Dalam acara tersebut, dua penderita jantung yang telah dioperasi, Lina, 18, warga Kemandungan, Tegal; dan Antoko, 11, warga Pedurungan, Semarang, berkesempatan bertemu dengan Menkes. (hid/isk/jpnn/ib)
Terus bertambah masalah ini seperti di bawah ini :
Rabu, 30 Apr 2008
Gizi Buruk Renggut 4 Jiwa
BANJARMASIN – Tampaknya, kasus gizi buruk masih menjadi ancaman serius di Kalsel. Buktinya, hingga kemarin sudah tercatat 43 kasus dan empat di antaranya meninggal dunia.
Rinciannya, di Kota Banjarmasin 12 kasus, Hulu Sungai Utara (HSU) 7 kasus, Kabupaten Banjar 6 kasus, Hulu Sungai Selatan (HSS) 5 kasus, Tapin, Hulu Sungat Tengah (HST), dan Kotabaru masing-masing 3 kasus, Kota Banjarbaru 2 kasus, Tabalong, dan Tanah Bumbu masing-masing 1 kasus.
Korban yang meninggal dunia terdapat di Kabupaten Banjar 3 orang dan di HSU 1 orang. “Memang kasus gizi buruk masih terjadi, namun setiap tahun jumlahnya terus menurun,” kata Kepala Dinas Kesehatan Rosihan Adhani kepada wartawan kemarin (29/4).
Dia mengungkapkan, jajaran dinas kesehatan terus berupaya menekan jumlah kasus yang terjadi. Dia membandingkan, pada 2005 terdapat 103 kasus, 8 di antaranya meninggal. Pada 2006 sebanyak 250 kasus, 22 di antaranya meninggal dunia. Pada 2007 sebanyak 129 kasus dengan 14 orang meninggal. (sga/jpnn/ib)
Sedih, pedih dan merana ibarat sudah sakit tiada di perhatikan :
Sakit, Dikucilkan di Sawah Monday, 28 April 2008 Setelah Luka Junaidi Keluarkan Bau Busuk
Probolinggo-Surya, Penderitaan fisik dan batin benar-benar mendera Junaidi, bocah kelas lima Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD) yang berusia 14 tahun. Ia tak terawat setelah mengalami patah tulang pinggul dan kaki akibat terjatuh tiga bulan lalu.
Bahkan karena luka di bagian tubuhnya yang patah sudah membusuk dan berbau, sejak 2 bulan terakhir Junaidi dikeluarkan dari rumah. Siswa MI Miftahul Huda itu dikucilkan ke sebuah gubuk di tengah sawah di kampungnya di Desa Liprak Kidul, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo.
Akibat penelantaran selama dua bulan terakhir, kondisi Junaidi amat memprihatinkan. Sekujur badannya kurus kering. Ketika Surya menemui Junaidi saat diambil di gubuknya, Minggu (27/4) sore, bau tak sedap tercium. Bau itu berasal dari luka-lukanya yang telah membusuk serta sisa-sisa kotorannya yang masih kurang dibersihkan.
Masa penelantaran Junaidi berakhir pada hari Minggu itu juga ketika ketua LSM Aliansi Masyarakat Peduli Probolinggo (AMPP), H. Luthfi, membawanya ke UGD RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, Probolinggo. Namun, Senin (28/4) usai maghrib kemarin, Junaidi ternyata dipulangkan paksa oleh keluarganya. Junaidi adalah bungsu dari dua bersaudara hasil perkawinan Munayar dan mendiang Warti. Keterangan yang dihimpun Surya menyebutkan, pengasingan terhadap Junaidi terjadi sejak dia terjatuh dari pohon ke dalam jurang sedalam tiga meter, saat bermain sekitar Januari lalu. Akibatnya, Junaidi mengalami patah tulang di sekitar pinggul dan kakinya, serta lecet-lecet. Junaidi yang tak bisa jalan sejak itu, tak segera dibawa berobat dengan alasan tak ada biaya. Junaidi tinggal bersama kakak kandungnya Thalib, yang sehari-hari sebagai buruh tani dan pencari kayu bakar. Sedangkan Munayar telah beristri lagi sejak istrinya, Warti, meninggal beberapa tahun lalu. Awalnya, Junaidi dirawat sendiri dan dipijatkan namun tak sembuh. Ketika luka-luka di bagian tubuhnya yang patah jadi borok dan bahkan membusuk, keluarga Thalib mulai tak kuat dengan baunya. Junaidi lantas diasingkan ke sebuah gubuk di pematang sawah yang berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya di Dusun Nagger, Desa Liprak Kulon.
Selama tinggal di gubuk, Junaidi cuma dikirimi makan sehari sekali. Di gubuk yang ditutup terpal plastik berukuran 2×3 meter itu, Junaidi hanya berbaring.
Di tempat itu, Junaidi melewati kesehariannya sendirian. Kadangkala, ada tetangga yang bersimpati dan Junaidi dikirimi mereka makanan. Kakaknya hanya sesekali menjenguknya ke gubuk itu. Di gubuk itu, Junaidi buang air besar dan kencing di tempat karena dia memang tak bisa bergerak ke mana-mana. Badannya sudah tak terurus. Menurut dokter di UGD RSUD Waluyo Jati yang sempat mendiagnosa awal, Junaidi mengalami kekurangan gizi cukup parah. “Kami sempat beri pertolongan dengan rehidrasi,” kata dr Joko saat ditemui Surya di UGD RSUD Waluyo Jati. Anehnya, Junaidi tidak menyalahkan kakak maupun ayahnya yang menelantarkannya. “Nggak apa-apa, saya pasrah saja. Mungkin, ini memang sudah nasib saya,” kata Junaidi lirih. Sementara itu, ayah Junaidi, Munayar ketika ditemui Surya hanya menjawab datar saat ditanya soal kondisi anak keduanya itu. “Kami ini kan orang miskin. Dari mana uang untuk mengobati dia,” kata Munayar kepada Surya.
Tentang pengasingan Junaidi ke sebuah gubuk, Munayar mengaku hal itu tidak terlalu menjadi beban pikirannya. “Saya bukan tidak sayang terhadap anak. Tapi bagaimana lagi, mau berobat gratis tidak bisa,” ujarnya datar.st4
Lho kemana petinggi kita ? baca Heli Wapres Ngadat, Petunjuk Allah yang Jelas Artinya kemana-mana pak Wapres ini ada saja fenomena alam yang menyertainya, baca ini :
Minggu, 27 Apr 2008
Listrik Padam saat Wapres Beri Sambutan
MAROS – Wakil Presiden HM. Jusuf Kalla menegaskan, balai penelitian tidak boleh menjadi museum. “Artinya apa? Museum hanya bangga ke belakang,” kata Wapres saat melakukan kunjungan ke Balai Penelitian Serealia (Balitsereal) Maros, Sabtu, 26 April.
Wapres yang tiba dari Pangkep bersama rombongan sekitar pukul 13.40 Wita menambahkan, seharusnya balai penelitian melihat ke depan. Balai penelitian, lanjut dia, harus memberikan optimisme kepada masyarakat.
Menurut Wapres, hasil pertanian mesti lebih meningkat bila menggunakan balai penelitian atau teknologi. “Balai penelitian tidak boleh bangga ke belakang, tapi harus optimistis dengan kemajuan ke depan,” sebut Kalla.
Ketika ketua umum DPP Partai Golkar itu sedang berbicara, tiba-tiba listrik padam. Akibatnya, pengeras suara yang digunakan langsung tidak berfungsi. Memang, kejadian itu tidak berlangsung lama. Panitia juga telah mengantisipasi dengan sebuah wireless yang sudah disiapkan sejak awal.
Usai memberikan sambutan singkat, Wapres melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah ruangan. Hal itu membuat panik pengelola Balitsereal. Mereka tampak tidak siap.
“Bagaimana ini, pengelola saja tidak tahu yang mana ruangannya,” kata Kalla saat melakukan sidak, namun diarahkan ke ruangan yang salah.
Sebelumnya, Kalla menanyakan kondisi bangunan Balitsereal. “Bagaimana sawah bisa bersih kalau kantor saja tidak bersih. Jangan kita hanya dikasih lihat yang baiknya saja. Biasanya begitu. Kalau kita datang, yang diperlihatkan yang baik-baik saja. Bagaimana di belakang sana, sudah baik juga?” tanya Kalla.
Mendengar jawaban sudah baik, Kalla mengajak rombongan mengecek langsung. Dia didampingi istrinya, Mufidah Jusuf Kalla, dan Wakil Ketua MPR HM. Aksa Mahmud, Menteri Pertanian Anton Apriyantono bersama Gubernur Syahrul Yasin Limpo, dan Wagub Agus Arifin Nu’mang ikut menemani.
Demikian juga, tampak Bupati Maros Nadjamuddin Aminullah. Rombongan Wapres tidak kurang dari 40 menit di Balitsereal. (m03/jpnn/ib)
Kliping berita :
Tak Jelas Motifnya, Polisi Terjun Bebas dari Lantai 4
indosiar.com, Palembang – Tidak diketahui motifnya seorang anggota polisi dariPolda Sumatera Selatan Selasa (29/04/08) kemarin, nekad mengakhiri hidupnya dengan cara terjun bebas dari lantai 4 sebuah rumah susun di kota Palembang.
Warga Jalan Radial 26 Ilir, Ilir Barat Satu Palembang dikejutkan dengan tewasnya seorang anggota polisi bernama Bripka Hasan Tumbu, warga KM 12 Alang Alang Lebar, Palembang. Saat ditemukan korban mengenakan seragam lengkap olahraga Polda Sumatera Selatan. Saat dilakukan pemeriksaan oleh pihak kepolisian dari Poltabes Palembang, jasad korban dalam kondisi mengenaskan dengan kaki dan tangannya mengalami patah tulang. Diduga korban tewas dengan cara melompat dari lantai 4 rumah susun di Blok 46 dikawasan ini.
Sejumlah saksi menuturkan tidak mengetahui pasti mengapa korban sampai nekad melompat dari lantai gedung. Sementara pihak kepolisian hingga kini belum dapat memastikan motif korban bunuh diri. Selanjutnya jasad korban dibawa ke Rumah Sakit Muhammad Husien Palembang untuk dilakukan visum. Sementara sejumlah saksi dibawa ke Mapoltabes Palembang guna menjalani pemeriksaan. (Dedi Irwansyah/Sup)
Menaiki Tower Setinggi 42 Meter, Pria Stress Coba Bunuh Diri
indosiar.com, Makassar – Di Makassar, Sulawesi Selatan seorang pria Senin (14/04/08) kemarin, mencoba bunuh diri dengan memanjat sebuah tower setinggi 42 meter dikawasan perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Makassar. Aksi pria ini berhasil digagalkan setelah 6 jam dibujuk dengan makanan dan uang.
Aksi nekad pria ini membuat ribuan warga yang bermukim di Blok L Komplek Bumi Tamalanrea Permai Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Ia mencoba bunuh diri dengan memanjat tower sebuah operator seluler.
Beberapa warga mencoba membujuknya turun namun pria ini malah naik lebih tinggi. Situasi ini membuat warga panik termasuk aparat kepolisian yang telah tiba setelah mendapat laporan dari warga setempat. 6 jam berselang pria yang belakangan diketahui Nasir ini sudah mulai kelelahan berada di tower setinggi 42 meter.
Kesempatan ini digunakan petugas untuk menurunkan Nasir dari atas tower tentu saja setelah dibujuk dengan makanan dan uang. Setelah diturunkan, pria yang mengalami gangguan jiwa ini langsung dievakuasi ke rumah sakit jiwa. (Saharudin Ridwan/Sup)
Gadis Bisu Stress, Coba Bunuh Diri Dari Jembatan
indosiar.com, Sukoharjo – Seorang gadis bisu yang diduga mengalami gangguan jiwa membuat heboh masyarakat Solo ketika Rabu (5/3/08) sore nekat memanjat jembatan untuk melakukan bunuh diri.
Jembatan Mojo Baturono Solo mendadak ramai, seorang gadis yang belum diketahui identitasnya mencoba bunuh diri dengan memanjat sisi jembatan. Di bawahnya mengalir Sungai Bengawan Solo yang meluap dengan ketinggian mencapai 20 meter dari atas jembatan.Sejumlah warga dan polisi yang berada di lokasi pun dibuat repot. Pasalnya si gadis berulang kali mencoba melompat ke sungai. Suasana pun berlangsung tegang. Menurut warga Baturono gadis ini tinggal di Kampung Jatiteken, Desa Laban, Kecamatan Mojolaban Sukoharjo.
Setelah beberapa waktu lalu ditemukan warga di pinggir jalan, namun hingga kini nama dan asal gadis ini tidak diketahui karena gadis ini bisu dan tuli. Setelah dibujuk selama 3 jam, gadis bisu ini akhirnya bersedia menghentikan aksinya. Si gadis selanjutnya dibawa ke rumah sakit. (Ganuk Nugroho Adi/Dv).
Selasa, 29 Apr 2008
Tusuk Diri, Tak Tinggalkan Identitas
Polisi Kesulitan, Jasad Belum Diotopsi
JOMBANG – Jasad laki-laki aneh penumpang bus Mira yang bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut dan leher pada Minggu (27/4) siang, hingga Senin (28/4) malam masih berada di Instalasi Kamar Jenazah Bapelkes RSD Jombang. Polisi kesulitan mengungkap identitas pelaku. Sebab, di tubuhnya tidak ditemukan kartu tanda pengenal.“Hingga saat ini belum ada satu orangpun yang mengaku sebagai keluarganya,” kata AKP Irfan, Kasat Reskrim Polres Jombang, tadi malam.
Sejak kejadian berdarah saat bus berhenti di depan Taman Tirta Wisata Desa Keplaksari Kecamatan Peterongan Jombang itu, pihaknya telah menyebarkan beberapa anggota ke beberapa titik keramaian. Seperti terminal dan stasiun.
Pihaknya juga mengontak Polres Mojokerto, Kediri dan Pare untuk mengonfirmasi ciri-ciri korban. Saat kejadian, pelaku yang berkulit coklat muda itu mengenakan t-shirt coklat yang lusuh serta celana jins biru. Tinggi korban sekitar 165 cm, rambut lurus sebahu dan perut membuncit. “Kita telah meminta keterangan saksi kru bis dan penumpang. Namun, tidak ada yang mengetahui identitas korban,” papar Irfan. Hingga kemarin, jasad korban juga belum dilakukan otopsi. Sebilah pisau, disimpan polisi sebagai alat bukti.
Untuk diketahui, pada Minggu (27/4) sekitar pukul 10.30, puluhan penumpang dan kru Bus Mira nopol W 6260 PU jurusan Surabaya-Jogjakarta dikagetkan oleh aksi bunuh diri salah satu penumpang. Ini terjadi sesaat setelah bus keluar dari Terminal Kepuhsari. Pelaku bunuh diri naik bus ketika di dalam terminal.
Pelaku duduk di kursi ekstra di samping kiri sopir, di atas kap mesin. Setelah bus yang dikemudikan Kusno, 42, warga Surabaya itu melaju sekitar 1 km, Sayuti, kernet menanyakan arah tujuan bepergian pelaku. Namun, pelaku menjawab dengan omelan. Salah satu kata yang terlontar dari omelan itu adalah Madiun.
Kusno yang mendengar omelan tersebut langsung memerintahkan pelaku untuk turun dari bus. Dia menduga pelaku mengalami gangguan jiwa. Saat itu, bus berhenti di depan Taman Tirta Wisata. Tiba-tiba saja, pelaku mengambil pisau yang telah dibawa sebelumnya. Pisau itu lantas digunakan untuk menusuk perutnya, beberapa kali. Darah segar muncrat membasahi baju dan kap mesin. Akibat lainnya, gagang pisau berbahan kayu berukuran sekitar 15 meter itu patah. Pelaku yang masih kalap lantas menghujamkan pisau tanpa gagang itu ke leher. Bruk. Pelaku jatuh dengan tubuh bersimbah darah di jalan menuju pintu keluar-masuk penumpang di kiri sopir.
Penumpang lain yang mengetahui aksi bunuh diri langsung semburat keluar dari bus. Begitu pula dengan kru bus. Massa berteriak-teriak meminta bantuan polisi. Hanya berjarak 25 m dari lokasi terdapat Pos Polisi 903 Keplaksasi. Beberapa petugas jaga di Pos Polis tersebut langsung mendekati korban. Sekitar 15 menit, mobil kijang pikap warna putih milik Unit Kecelakaan Satlantas Polres Jombang tiba di lokasi. Jasad pelaku langsung digotong dan dibawa ke kamar jenazah Bapelkes RSD Jombang. (lal)