Beranda > Fenomena, Islam > Guru kencing berdiri ….

Guru kencing berdiri ….

Maret 13, 2008 thephenomena

Peristiwa-demi peristiwa kelam terus terjadi di negeri ini, kelanjutan artikel Antara Adam Air dan Kejagung yang menyatakan di akhir alinea

“Ibarat pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, tokoh panutan terkena masalah akan membuat struktur masayarakat menjadi lemah. Seyogyanya para tokoh sadar, dirinya dalam sorotan bagi masyarakat kelas bawah, sehingga tingkah dan polah mereka menjadi ukuran struktur masyarakat”

Tidak hanya para tokoh nasional, yang lokal-pun seakan meramaikan bursa guru kencing berdiri ini sebagai satu perbuatan yang tidak boleh di tiru dan mengarah pada kegilaan :

Entah setan apa yang merasuki keluarga ini. Bayangkan, demi harta warisan, seorang mantan guru madrasah tega membunuh ibu kandungnya, Hj Siti Aisyah, 73. Yang lebih mengenaskan, proses pembunuhan terjadi setelah direncanakan melalui rapat keluarga. Pembunuhan terhadap Ny Siti Aisyah terjadi pada Rabu (5/3) menjelang subuh, sekitar pukul 03.00 WIB.

Sesuai pengakuan tersangka kepada penyidik Polsek Mulyorejo, korban saat itu sedang tidur di kamar nomor dua di rumah Jl Mulyorejo Utara RT 5/RW 01 Surabaya. Pada saat bersamaan, H Achmad Syaihu, 48, bersama sang istri, Hj Yahilu Mukorobah (Lulu), 40, mengajak putranya, M Junaedi, 20, membahas rencana pembunuhan tersebut. Penggodokan rencana pembunuhan itu sekitar satu jam. Setelah sepakat, ketiga tersangka tersebut mendatangi kamar korban. Saat menjalankan aksinya, Syaihu yang pertama mengambil inisiatif membekap korban dengan bantal, dibantu oleh Junaedi.

Sedangkan Lulu menyaksikan dari pintu kamar. Namun karena tidak tega melihat, Lulu meninggalkan kamar menuju ke musala. Lulu pun mengambil air wudlu dan mengaji. Sama dengan Lulu, karena tidak tega juga, Syaihu pun kemudian menghentikan aksinya. Namun ia menyuruh Junaedi meneruskan membekap korban. Syaihu kemudian bergegas ke belakang lalu mengambil air wudlu dan menunaikan salat. Junaedi meneruskan aksinya membekap sang nenek. Tak lama, korban tak bernyawa. Buru-buru Junaedi melapor kepada kedua orang tuanya bahwa korban sudah diperdaya. Ketiga tersangka kemudian membersihkan barang bukti. Bantal, kasur, sprei bekas korban lalu dibuang ke langit-langit rumah. Pukul tujuh pagi, Syaihu mengumumkan kepada warga sekitar tentang kematian ibunya.

Kepada warga, Syaihu mengatakan bahwa ibunya meninggal karena komplikasi penyakit. Sementara itu, versi yang diperoleh Surya di tempat kejadian perkara (TKP), Rabu dinihari sekitar pukul 01.00 WIB itu tetangga korban mendengar teriakan minta tolong dari rumah korban. Warga mengira korban jatuh saat dari kamar mandi. Setelah itu teriakan tidak terdengar lagi. Diperkirakan, Hj SitiAisyah, 73, berteriak minta tolong saat dipukul Junaidi menggunakan kayu atau gelas. Bagian mana yang dipukul, belum tidak jelas. Namun versi kerabat korban, jenazah korban saat dibuka, di bagian mata sebelah kanan terlihat lebam. Hidung korban juga mengeluarkan darah.

Di bawah dagu juga terlihat lebam. Di dada korban mengalami hal serupa, sedangkan tulang rusuk bagian kanan patah. Patahnya tulang rusuk ini diperoleh berdasarkan keterangan polisi pemeriksa tersangka. “Jenazah saat saya angkat berbunyi kretek-kretek. Waduh, mungkin patah,” ujar seorang kerabat korban yang enggan disebutkan namanya. Juga terdapat versi lain, bahwa saat Junaidi menghajar korban, Ny Yahilu diduga ikut memegangi korban. Sedang ayahnya, Syaihu, turut melihat. Namun penyidik berkeyakinan, yang menjadi otak pembunuhan adalah Syaihu. Hj Siti Aisyah diperkirakan menemui ajal sekitar pukul 03.00 WIB, namun Syaihu baru memberi tahu ke warga sekitar pukul 07.00 WIB.

Warga Berembuk Menurut keterangan warga, sekitar pukul 05.00 WIB ada suara bisik-bisik di dalam rumah korban. Tetangga sekaligus kerabat korban yang sedang menyapu di halaman rumahnya mendengar lalu mengetuk pintu rumah Syaihu. Namun pintu tak dibuka. Sekitar pukul 05.05 WIB, Syaihu keluar dan disapa oleh kerabatnya tersebut. “Katanya, ibunya (Hj Siti Aisyah) sedang tidur. Jam 07.00 WIB, saat berangkat kerja, saya ditelepon kalau korban meninggal dunia,” ujar seorang warga.

Yusuf, tetangga korban, mengatakan warga sebenarnya sudah menaruh curiga. Pasalnya, sebelum kejadian, korban diketahui dalam kondisi sehat walafiat. Kecurigaan warga semakin bertambah, karena saat memandikan jenazah, di tubuh korban terdapat tanda-tanda penganiayaan. Karena kejanggalan ini, sebelum pemakaman, warga pun berembug dan akhirnya sepakat melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Mulyorejo. Usai pemakaman, petugas reskrim Polsek Mulyorejo langsung menciduk Syaihu. Setelah sekitar satu jam diperiksa, korban pun mengakui perbuatannya. Berturut-turut kemudian, istri dan putra pelaku diciduk oleh petugas di TKP.

Untuk membuktikan tanda-tanda penganiayaan tersebut, pukul lima sore kemarin petugas identifikasi dari Polres Surabaya Timur membongkar makam Hj Siti Aisyah. Kapolsek Mulyorejo AKP Dharmawan mengatakan bahwa dugaan mengenai motif pembunuhan itu adalah masalah warisan. “Penyidikan kami saat ini memang mengarah ke motif pelaku ingin mendapat warisan lebih cepat,” kata Dharmawan. Namun, saat ditanya, tersangka mengaku membunuh karena sakit hati terhadap korban. Syaihu menuturkan, selama ini korban sering meminta uang dan memaki-maki keluarganya.

Sementara itu, Kanitreskrim Polsek Mulyorejo Aiptu Suparmin mengatakan, tersangka bisa terancam pasal berlapis KUHP 340 jo 338 mengenai pembunuhan terencana. k3/mif

Guru Siksa Kepala Sekolah : Pingsan Ditendang, Dibakar Cemburu

SURABAYA – SURYA, Guru seharusnya bisa memberi contoh yang baik untuk masyarakat. Namun demikian, apa yang diperlihatkan oleh Mas, 40, justru berkebalikan dari yang diharapkan.

Di depan umum, guru SMPN 40 Surabaya ini justru tega menendang kepala istrinya LH, 48, hingga sang istri terhuyung-huyung. Belum sampai tubuh LH jatuh ke lantai, Mas menambahinya dengan menjotos pantat LH sehingga tubuh kecil perempuan membentur lantai. Akibatnya, LH langsung pingsan di tempat kejadian, tepatnya di depan ruang guru SDN Kedungdoro VII Surabaya. Orang-orang di ruang guru menyaksikan sendiri adegan penyiksaan tersebut.

Setelah tersadar, LH tak rela atas perlakuan kasar suaminya, yang sudah beberapa tak lagi tinggal bersamanya itu. LH pun melaporkan Mas ke Mapolsekta Tegalsari. Kapolsekta Tegalsari, AKP Bambang Purbo, ketika dikonfirmasi Rabu (12/3), mengakui adanya laporan tersebut.

“Kami kemudian meminta hasil visum korban untuk menambah laporan polisi yang disampaikan itu,” ujar Bambang.

Bambang lantas menjelaskan kronologi kejadian yang berlangsung pada 21 Februari lalu itu. Ia mengatakan, pada sekitar pukul 08.00 WIB pagi hari itu, tersangka Mas menghubungi ponsel Lies. Dalam pembicaraan itu, LH mengaku akan pergi ke kantor Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Surabaya di Jl Jagir sendirian. Satu jam kemudian, di perjalanan, Mas melihat LH pergi bersama rekannya sesama guru, seorang pria bernama Bb. Mas tampaknya dibakar cemburu.

Sekitar pukul 12.00 WIB, saat LH sudah berada di SDN Kedungdoro VII Jl Plemahan, Mas datang menghampiri. Mas langsung menuduh LH berselingkuh. Keduanya pun sempat adu mulut di depan kantor guru SDN Kedungdoro VII.

Mas naik pintam dan langsung menendang kepala LH dengan kaki kanannya. Dia juga memukul pantat LH.

“Setelah laporan, visum dan kronologi kejadian juga kami dapat, anggota mengirimkan surat panggilan pemeriksaan untuk tersangka. Tapi tiga kali kami kirim, tersangka ini tidak datang untuk memenuhi panggilan itu,” jelas Bambang.

Surat pemanggilan itu dialamatkan di tempat tinggal Mas yang saat itu kos sebuah tempat di Jl Dukuh Kupang Timur. Pria yang memiliki tempat tinggal sendiri di Perumahan Candi Loka, Sidoarjo, itu akhirnya dijemput paksa oleh polisi.

Di kantor polisi, Mas dan LH sempat didamaikan. LH diminta untuk menyelesaikan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) itu secara kekeluargaan. Tapi LH menolak mencabut laporannya hingga kasus ini diproses lebih lanjut

Ketika ditemui di Mapolsekta Tegalsari, Rabu (12/3) kemarin, tersangka Mas terlihat tenang. Dia juga mengakui perbuatannya itu, meski menyebut perbuatan itu terjadi spontan begitu saja. “Spontan saja saya tendang dia. Saya kesal, sebelumnya bilang pergi sendirian, eh ternyata sama seorang pria,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah dirinya menyesal, Mas dengan berat mengatakan dia menyesal. Tapi setelah LH menolak menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dan tidak mau mencabut laporan yang dibuatnya, Mas kembali kesal.

“Kalau seperti ini (masuk tahanan-red), saya jadi tidak menyesal memukulnya. Hanya kasihan saja,” ungkapnya tenang.

Saat diingatkan kembali dengan profesinya sebagai guru, yang seharusnya memberi contoh yang baik, Mas hanya tersenyum kecut. Menurutnya, apapun profesinya, dia tetap manusia biasa. “Wajar, kalau punya amarah seperti itu,” imbuhnya sambil menunduk.

Korban LH sendiri ketika Surya mencoba menemuinya di tempat tinggalnya yang terletak di kawasan Putat Gede Baru, Surabaya, menolak merinci dan mengingat-ingat kembali peristiwa tersebut.

“Itu sudah lama. Silakan hubungan pengacara saya, Pak Yudi. Dia yang tahu semuanya, termasuk jadwal sidang perceraian saya yang masih belum jelas ini,” ungkap LH, yang memiliki satu anak selama 12 tahun berumahtangga dengan Mas.

Sementara itu, dari nomor ponsel pengacara yang diberikan korban LH, hingga berita ini ditulis, kontak Surya belum bisa tersambung. LH sendiri mengaku, dirinya sudah menyerahkan permasalahan ini melalui pengacaranya.

“Saya malu dan sudah capek menghadapi ini semua,” tandas LH, yang mengaku sudah pisah rumah dengan Mas sejak pertengahan 2007 lalu.rie/k3

13/03/2008 12:22 WIB
Ustad Cabul Hilang Misterius
Istri dan Anak Hamid Mengungsi
Chaidir Anwar Tanjung – detikcom

Jakarta – Selain melakukan pencabulan terhadap anak tiri dan kandungnya, Abdul Hamid juga ditengarai sering melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anaknya. Kini, di saat Abdul Hamid hilang misterius, istrinya mengungsi ke rumah orangtuanya.

Terhadap kasus-kasus ini, warga meminta polisi segera meringkus Hamid. Permintaan warga ini bertujuan agar istri dan anak-anaknya bisa hidup tenang. Sebab, selama ini mereka selalu di bawah tekanan Hamid.

“Kalau bisa polisi segera menangkap Pak Hamid. Kita kasihan melihat anak dan istrinya yang hidup di bawah tekanan. Istrinya sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga,” kata Yanto (37), yang bertempat tinggal persis di sebelah rumah Hamid.

Dengan belum tertangkapnya Hamid, kata Yanto, sekarang istrinya tidak lagi berani tinggal di rumah. “Sekarang anak-anak dan istrinya tinggal di rumah mertua Pak Hamid. Mereka takut kembali ke rumah, kalau-kalau Pak Hamid kembali. Bisa jadi kan, selama dalam persembunyiannya, Pak Hamid tetap akan melakukan teror kepada anak istrinya,” kata Yanto.

Menurut Yanto, selama ini warga sekitar sudah sering melihat Hamid melakukan tindak kekerasan terhadap keluarganya. Kadang di depan warga Hamid, tidak segan menampar memukul istrinya. Padahal, selama ini Hamid dikenal warga sekitar sebagai ustad.

“Kami sudah lama tahu, Pak Hamid ini sangat kasar terhadap istrinya. Sebenarnya kami sudah ada niat ingin mengadukan ke polisi, karena kami sangat kasihan sekali lihat istrinya. Tapi kadang kami berfikir, itu urusan keluarga mereka,” kata Yanto.

Tidak hanya istrinya yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anaknya juga tidak terlepas dari sikap arogan sang bapaknya sendiri. “Kalau anaknya tidak menuruti perintah bapaknya, kadang diancam dengan golok,” terang Yanto.

Hamid dilaporkan ke polisi oleh istrinya, Ny Daely Amir, karena melakukan pencabulan terhadap dua anaknya. Polisi masih menyelidiki hal ini. Memang Hamid belum terbukti melakukan pencabulan. Namun, bila dia tidak bersalah, mengapa dia menghilang dan kabur? Misteri hilangnya Hamid membubat geger warga, karena dia tiba-tiba menghilang di depan polisi. ( cha / asy )

Kamis, 10 Mei 2007 06:05 WIB

Tersangka penggandaan VCD porno.<!–
()–>

Metrotvnews.com, Kediri: Seorang guru sekolah menengah pertama (SMP) di Kediri, Jawa Timur, ditangkap polisi. Ia ketahuan menggandakan video compact disk (VCD) porno untuk diedarkan. Dan, ternyata penggandaan dilakukan di sekolah di sela-sela memberi pelajaran komputer siswanya. Perbuatan ini terbongkar setelah polisi berhasil menangkap pengedarnya.

Basuki, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gampengrejo, Kediri, sehari-hari menjadi guru komputer di SMPN 1 Mojo. Ia telah mengabdi sebagai pendidik selama 10 tahun. Basuki mengakui telah menggandakan VCD porno di laboratorium komputer milik SMPN 1 Mojo saat jam pelajaran.

Menurut Basuki, penggandaan VCD dilakukan atas pesanan Yulianto, warga Rejomulyo, Kota Kediri. Selanjutnya, Yulianto mengeedarkan dengan harga Rp 5.000 per keping. Basuki sendiri menerima ongkos penggandaan Rp 2.000 per keping. Pihak sekolah tidak mengetahui perbutan Basuki ini. Atas perbuatannya ini, pihak sekolah akan memecat bapak satu anak ini karena telah mencemarkan nama baik sekolah.(BEY)

Walikota Surabaya Prihatin Video Porno Guru SDN Menanggal

Rabu, 19 Desember 2007
suarasurabaya.net| BAMBANG DH Walikota Surabaya mengatakan, gambar-gambar porno itu sudah sangat keterlaluan karena diedarkan di lingkungan sekolah. Dengan temuan gambar-gambar porno itu maka dia akan minta Badan Pengawas Kota (Bawasko) untuk menyelidiki kasus gambar mesum yang dilakukan S dan D Guru SDN Menanggal 601.

TEGUH ARDI SRIANTO reporter Suara Surabaya melaporkan, Selasa (18/12), kata BAMBANG kalau tindakan guru di SDN Menanggal 601 Surabaya itu dianggap salah maka dia akan tegas memberi sanksi.

BAMBANG DWI HARTONO Walikota Surabaya mengatakan kalau sampai peristiwa adegan mesum guru SDN Menanggal 601 Surabaya itu terekam dalam agenda anak didik maka akan mempengaruhi situasi belajar mengajar mereka.

Sementara RUDI WINARKO Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan Surabaya mengatakan dengan kejadian penyebaran gambar-gambar porno itu Diknas sudah minta Kepala Sekolah SDN Menanggal 601 untuk menonatifkaan guru yang berbuat mesum.

Menurut RUDI dia juga menyayangkan sikap Komite Sekolah SDN Menanggal 601 yang tidak segera membawa laporan perbuatan mesum dua guru di sekolah itu ke Diknas Surabaya. Harusnya, kata RUDI, Komite Sekolah lebih dulu melaporkan temuan itu ke Dinas Pendidikan baru ke DPRD Surabaya.

Sampai hari ini kata RUDI Dinas Pendidikan Nasional Surabaya belum mendapat laporan apapun dari Komite Sekolah dan baru tahu dari media massa tentang aksi mesum S dan D, guru SDN Menanggal 601 Surabaya.(bir/ipg)

Categories: Fenomena, Islam