Walau sudah banyak di ulas dan di tulis berkali-kali dan menjadi kenyataan sebelum terjadinya yakni artikel artikel Bacalah Fenomena 22 posted Feb 26, 2007 11:18 pm sebulan lalu , dan sangat mencengankan setelah dimana tgl 22-2-2007 memang hari berduka sebagai mana di lansir oleh artikel Bilakah 22-2-2007 ? posted Feb 19, 2007 10:10 am , salah satu kutipannya adalah :
Bacalah 22/2/2005, jangan lupakan, Secara tegas dapat diambil kesimpulan 22.02.2005 atau 2 tahun lalu merupakan hari berkabung, dengan didahului, longsor, gempa meningkat, masalah pesawat
Dan benar terjadi sebagai hari berkabungan
Longsor : NTT (3.3.2007)
Gempa Meningkat : SUMBAR (6.3.2007)
Pesawat : Garuda - Yogya (7.3.2007)
Maka tahun 2008 ini kembali kita di ingatkan, innalillahi wa inna ilahihi rojiun
22/01/2008 01:23 WIB
Istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid Meninggal Dunia
Ken Yunita - detikcomJakarta - Istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ny Kastian Indriawati meninggal dunia. Menurut tim dokter yang menangani, Kastina meninggal pada Selasa (22/1/200
dini hari pukul 01.00 WIB di RS Jogya International Hospital (JIH).
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal ibu Kastian, istri Hidayat Nurwahid, Ketua MPR,” kata Presiden PKS Tifatul Sembiring kepada detikcom.
Tifatul mengatakan, saat ini jenazah Kastian masih berada di RS Jogja International Hospital (JIH) Yogyakarta. Rencananya akan dibawa ke rumah keluarga di Klaten, Jawa Tengah. ( ken / ken )
22/01/2008 10:03 WIB
Diimami Hidayat, SBY Salatkan Jenazah Ny Kastian
Bagus Kurniawan - detikcomKlaten - Presiden SBY menyempatkan diri menyalatkan jenazah Ny Kastian Indriawati (45), istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Salat diimami Hidayat sendiri.
Usai salat jenazah di rumah duka yang berlokasi di Dusun Kadipaten Lor RT 3 RW 8, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/1/2008), SBY sempat memanjatkan doa.
Dalam doanya, SBY meminta agar keluarga yang ditinggalkan tawakal, tabah menghadapi ujian yang maha berat ini. “Kami berharap tetap ada hari esok yang lebih baik,” kata SBY.
Sebelum salat jenazah, Hidayat sempat menceritakan kronologi sakit yang diderita istrinya hingga ajal menjemput.
Hidayat menuturkan, sepulang menjalankan ibadah haji awal Januari lalu, istrinya menjalani kegiatan yang tidak henti-hentinya. Mulai menerima kunjungan tamu hingga menyiapkan rencana kunjungan mereka ke Ponpes Gontor.
Di ponpes ini, anak sulung dan anak ketiga Hidayat, Inayahzzilati dan Allakhoiri, menuntut ilmu. Saat banjir besar melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur, pondokan kedua putranya itu ikut kebanjiran.
Kamis 17 Januari, kata Hidayat, rencananya mereka akan berkunjung ke Gontor. Dia dan istrinya pun berangkat pada Rabu 16 Januari. Keduanya pulang dulu ke rumah di Yogya.
“Sampai di Yogya, ibu masih belanja untuk keperluan anak-anak dan membersihkan rumah. Setelah itu jatuh sakit kecapaian,” kata Hidayat.
Ny Kastian lalu dibawa ke rumah sakit pada 17 Januari dan menjalani perawatan hingga meninggal pukul 01.00 dinihari tadi. SBY tampak tekun menyimak penjelasan Hidayat.
Setelah sekitar 15 menit di rumah duka, SBY, Ibu Ani dan rombongan meninggalkan lokasi.
Mengapa meninggal tepat tgl 22 ? mengapa tidak hari lain saja ? tentu ketika orang soleh yang meninggal ada yang hikmah tersirat dibalik penantian kondisi pak Harto (hal ini jelas di ungkap oleh artikel Hal yang mengingatkan: Aceh Diguncang Gempa 4,4 SR
Ahh itu terlalu kebetulan …., baiklah kita susun kembali fenomena 22 yang telah terjadi sebelumnya dan kemungkinan itu terjadi kecil sekali perulangannya dan itulah yang dikehendaki oleh Allah sebagai renungan .
Utamanya untuk menginat ajaran Islam Wahyu Diturunkan 22 tahun 2 bulan dan 22 hari
Berikut ini daftar tokoh yang terkena fenomena 22 :
1) Bpk Dien Samsudin Ketua PP Muhammadiyah sebagai korban kecelakaan Garuda yang terangkum dalam artikel bacalah fenomena 22 (posting 26/2/07)
Kamis, 08 Mar 2007,
Sehari, Din Syamsuddin Mengalami Dua Musibah
Pagi Lolos dari Maut, Sore Imami Salat Jenazah Mertua
Selamat dari musibah kecelakaan Garuda yang ditumpanginya, Din Syamsuddin mendapat musibah lain. Ibu mertua yang sangat berjasa mendukung karir dan sekolahnya meninggal dunia.NAUFAL WIDI-A.K UMAM, Jakarta
SEBUAH pesan SMS (short message service) masuk ke telepon genggam Farazandi. “Bagaimana keadaan Papa?” Begitu bunyi pesan dari gurunya. Sontak siswa kelas tiga SMU Al-Azhar Jakarta itu bingung. Kebingungan pun semakin menyelimutinya ketika banyak panggilan masuk menanyakan keadaan ayahnya.
“Saya bingung. Karena setahu saya, Papa baik-baik saja,” ujar anak sulung Din Syamsuddin itu kepada Jawa Pos kemarin.
Inisiatif membalas SMS pun dilakukannya. Dari gurunya itulah, remaja 17 tahun tersebut mendapat berita bahwa pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-400 nomor penerbangan GA-200 rute Jakarta-Jogja tergelincir dan terbakar di Bandara Adisucipto, Jogja. Pesawat itu mengangkut 133 penumpang. Salah satunya ayahnya yang ketua umum PP Muhammadiyah itu.
Farazandi lalu menelepon ke rumah. Namun, suara di ujung telepon justru mengabarkan hal berbeda. “Pembantu bilang kalau nenek meninggal dunia,” katanya.
Farazandi pun bergegas pulang di kompleks Pejaten Elok F2, Warung Buncit, Jakarta Selatan. Benar saja, sebuah tenda terpasang di depan rumah. Beberapa sanak keluarga juga sudah berkumpul. Neneknya, Darnelis binti Thaher, yang biasa dipanggil dengan panggilan “andung” telah berpulang.
Beberapa karangan bunga ucapan belasungkawa tampak terpajang di halaman dan jalan menuju rumahnya. Di antaranya dari Menkes Siti Fadilah Supari, Mendiknas Bambang Sudibyo, dan Pimpinan Komisi VI DPR. Bahkan, karangan bunga dari Presiden SBY dan istri serta Presiden PKS Tifatul Sembiring menyambut pelayat di teras rumah.
Namun, tanda tanya masih menyelimuti benak Farazandi tentang nasib sang ayah. Tapi, dari ibunya, Fira Beranata, dia mendapat kepastian bahwa ayahnya selamat. Dia hanya terluka ringan. “Papa sedang dirawat. Nanti siang kembali ke Jakarta,” katanya.
Farazandi mengaku paling dekat dengan neneknya itu. Bahkan, dialah yang sering menemani saat neneknya sendiri di rumah. “Saya ini cucu pertama yang seperti anak terakhirnya,” katanya.
Fira mengungkapkan, dirinya tidak merasakan firasat apa-apa sebelum dua musibah menimpa keluarganya. Kemarin pagi dia masih menemani suami berangkat ke Jogja untuk bertemu Menlu Australia Alexander Downer di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Anak pertama Darnelis itu menceritakan, dia bahkan membantu mempersiapkan dua kopor berisi pakaian sebagai bekal suami. Rencananya, seusai pertemuan dengan Downer, Din bersama beberapa orang dari PP Muhammadiyah bertolak menuju Padang untuk mengunjungi korban gempa.
Ibunya yang lahir pada 22 Agustus 1936 di Maninjau, Sumatera Barat, itu memang telah sebulan menjalani perawatan di rumah sakit. Baru tiga hari lalu istri Nazroel Bernawi itu pulang dari Rumah Sakit Islam Jakarta. “Ibu mengidap komplikasi ginjal dan paru-paru,” ujarnya.
Malam (Senin malam, Red) sebelum Din berangkat ke Jogja, Fira dan suami sempat ngobrol dengan Darnelis. “Waktu itu Pak Din bilang ke beliau supaya cepat sembuh,” kenangnya. Namun, Selasa pagi keadaannya memburuk. Sekitar pukul 07.30 beliau dibawa ke RS MMC di kawasan Rasuna Said, Kuningan. “Prosesnya cepat. Beliau seperti tidur, tapi tidak bangun lagi,” jelasnya.Meninggalnya sang Ibu, lanjut Fira, hampir bersamaan dengan terbakarnya pesawat Garuda yang ditumpangi suami. Namun, dia tidak mengetahui pasti nasib Din.
“Alhamdulillah, ketika saya menghubungi Bapak, beliau mengabarkan kalau selamat. Beliau juga menyampaikan untuk sabar dan tabah karena ini sudah takdir,” cerita wanita berjilbab itu. Ibunya, lanjutnya, akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir blok AA2 di samping suaminya, Nazroel Bernawi.
Menjelang pukul 14.00, rumah bercat putih itu tampak semakin ramai. Para pelayat berkerumun di depan rumah. Di dalam rumah juga penuh. Mereka menunggu menantu pertama sekaligus yang dibanggakan Darnelis yang tidak lain adalah Din Syamsuddin.
Di antara pelayat tampak Wakil Ketua MPR A.M. Fatwa, Sekjen PAN Zulkifli Hasan, Teguh Juwarno, dan Bambang Harimurti. Dari kalangan artis juga tampak melayat seperti Tarzan, Inneke Koesherawati, Astri Ivo, dan Ustadz Jeffry. Beberapa wartawan juga menunggu sang empunya rumah.
Pukul 14.30 dalam kondisi hujan lebat yang disertai angin, Din tiba. Farazandi menyambut ayahnya dengan pelukan. Matanya tak kuasa mengalirkan air mata. Beberapa pelayat juga menyalami Din untuk mengucapkan belasungkawa.
Din digiring menuju kamar diikuti sang istri untuk berganti kemeja. Usai mengganti baju batiknya dengan baju koko putih, Din langsung memimpin salat jenazah ibu mertuanya.
Dalam sambutan pelepasan jenazah, dengan suara terbata-bata Din mengungkapkan bahwa mertuanya adalah sosok yang selalu mendukung karirnya. Bahkan, ketika hendak mulai studi di Amerika hingga ketika akan mencalonkan diri menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. “Sejak awal kami memang sudah berkomitmen untuk menjadi keluarga yang saling mendukung,” kata Din yang tak kuasa menahan air mata.
Din juga sempat menceritakan pengalamannya di pesawat Garuda yang celaka di Jogja. Saat mendarat, dia merasakan pesawat terempas dengan keras dua kali. Yang pertama ketika pesawat menyentuh landasan dan kedua ketika tergelincir di sawah. Din yang duduk di kursi nomor 7 D -bersebelahan dengan mantan Rektor UGM Prof Dr Koesnadi- di kelas ekonomi sempat tidak sadarkan diri.
“Ketika sadar, pesawat sudah gelap. Teriakan takbir dari penumpang juga bersahutan. Saya lihat ada asap. Saya pikir pesawat ini hanya tunggu waktu untuk meledak,” tuturnya.
Saat itu Din berusaha segera menemukan emergency exit. Tepatnya tiga hingga empat baris ke belakang. Namun, saat itu Din mendengar ada yang berkata, “Ke kanan. Ke kanan”. Ternyata “petunjuk” itu membawanya ke pintu darurat.
“Tahu-tahu di depan saya terdapat pintu darurat yang sangat lapang,” kata Din yang disambut ucapan takbir para pelayat. Din pun akhirnya melompat. “Cukup tinggi karena tidak ada tangga darurat. Untungnya jatuhnya di sawah,” sambungnya.
Ketika itu Din melihat pesawat mulai terbakar. Banyak penumpang tergeletak. Ambulans dan pemadam kebakaran mulai berdatangan. Penduduk juga tampak berdatangan untuk membantu. “Saya segera membuka HP dan menghubungi sopir PP Muhammadiyah untuk minta dijemput,” kata Din yang terluka memar di pelipis dan pipi kiri karena terbentur ketika pesawat mendarat. (*)
Ada yang aneh dengan tgl 26/2/07 yang lalu dimana adalah kisah yang luar biasa dari seorang anak manusia yang meyakini kebenaran akan doanya, maka kembali dua bulan setelah itu kembali Bpk Dien terkena pengingatan Kamis, 26/04/2007 10:05 WIB Gempa Datang Saat Din Syamsuddin Berpidato di Depan SBY dan saat itulah rentetan hikmah yang tertunda dari gempa bengkulu 4-4-2007 lalu di mulai (baca Hal yang mengingatkan: Aceh Diguncang Gempa 4,4 SR)
2) Bpk SBY selaku presiden yang di lantik tepat tepat tgl 22/09/06 di Istana pagaruyung terbakar sehari setelah posting bacalah fenomena 22 di atas ( [Fenomena] ‘Petir’ Allah),
Dan anehnya lagi petir membakar istana, dimana istana itu berkaitan dengan presiden SBY yang lagi-lagi tertanggal 22-september-2006 lalu. Lagi-lagi tgl 22, tentu masih ingat tanda-tanda Tsnunami Aceh 26-des-2004 lalu dimana pula berkaitan dengan Presiden SBY dan tgl 22 (baca Gagak qobil & Tsunami Aceh 26-des-2004)
Kejadian sebelum Tsunami Aceh adalah Rabu, 22/12/2004 17:01 WIB Heli TNI AL yang Jatuh di Nabire, Bagian dari Pengawalan SBY
Perhatikan lagi tgl 22 dan presiden SBY , dan aneh sangat aneh dalam fenomena ‘petir’ tuhan itu, maka presiden kita-pun terlantik di situ tgl 22, Jumat, 22/09/2006 13:53 WIB 2 Hari di Sumbar, SBY Raih 2 Gelar
22/09/2006 13:53 WIB
2 Hari di Sumbar, SBY Raih 2 Gelar
Yonda Sisko - detikcomPadang - Selama dua berkunjung ke Sumatera Barat (Sumbar), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi dua gelar. Kamis (21/9/2006), SBY menerima gelar Doktor Honoris Causa (Dr HC) dalam bidang pertanian berkelanjutan dari Universitas Andalas.
Sementara hari ini, Jumat (22/9/2006) SBY dianugerahi gelar adat Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam dari Kerapatan Adat Kenagarian Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Ibu Ani Yudhoyono juga mendapat gelar adat Puan Puti Ambu Suri dari lembaga yang sama.
SBY dan Rombongan tiba di kabupaten Tanah Datar sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat (22/9/2006). Sebelumnya, usai menerima gelar Doktor (HC) dari Unand, presiden mencanangkan gerakan pemberantasan kemiskinan berbasis nagari (desa) di Nagari Parit Malintang Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman dan meresmikan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi, Kamis (21/9/2006).
Dalam sambutannya di Nagari Parit Malintang, presiden mengatakan pemerintah menganggarkan Rp 52 triliun dalam RAPBN 2007 untuk dana pengentasan kemiskinan di seluruh tanah air. Penyaluran dana tersebut akan disalurkan melalui penciptaan lapangan kerja, membantu pendidikan dan kesehatan.
Presiden juga memberi apresiasi kepada Pemerintah Provinsi (pemprov) Sumbar dengan konsep pengentasan kemiskinan berbasis nagari. Sumbar merupakan daerah pertama di Indonesia yang menerapkan konsep pengentasan kemiskinan melalui unit pemerintahan terendah.
SBY mengikuti prosesi pengukuhan gelar adat Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam di Istana Basa Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Ameh, Kabupaten Tanah Datar hingga menjelang Salat Jumat. Penganugerahan gelar tersebut, selain dihadiri sejumlah tokoh adat Minangkabau juga dihadiri oleh menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik. (yon/asy)
Lagi-lagi Presiden SBY dilantik tgl 22-september-2006 di istana pagaruyung lalu dan ‘petir’ tuhan membakar istana tsb tgl 27-02-2007 dimana terbakarnya itu sehari setelah tulisan artikel Bacalah Fenomena 22 yakni 26-Februari-2007.
3) Pak Harto sebagai mantan presiden RI , yang menangis saat bertemu mahathir yang berkuasa selama 22 tahun (baca [Air Mata Soeharto] Mengapa Soeharto menangis ?)
Saat Pak Harto menangis, maka kini giliran orang soleh-pun harus menangis tepat tgl 22,Selasa, 22/01/2008 03:18 WIB Jenazah Kastian Dibawa Pulang, Anak Menangis Berangkulan
Adakah yang berulang ? sebagaimana kabar yang ditunggu oleh artikel kemarin Hal yang mengingatkan: Aceh Diguncang Gempa 4,4 SR :
Ya … kita nantikan saja saat saat yang berulang kembali terjadi sebagai iktibar peringatan bagi masyarakat agar terhindar dari bahaya
Masih ingat ttg urutan-urutan Jakarta Lumpuh 2-2-2007 yang lalu ? , berikut cuplikan artikel 10 Muharram, Hari yang Mengingatkan yang memuat rangkaian berulang sebelum Jakarta Lumpuh setahun lalu
Setelah Selamat Hari Raya Islam posting Jan 19, 2007 10:41 pm, kemudian muncul Terkena siklus 11 ? posting Jan 28, 2007 2:22 pm Dan akhirnya terbukti lewat itu di simpulkan Menyambut 2-2-2007 kemudian Benarkah akan terjadi 2-2-2007 akhirnya Jakarta Gempa ! Feb 1, 2007 7:41 am lalu Garuda sudah bermasalah Feb 1, 2007 8:50 am, di tegaskan lagi akhirnya [Waspada] Garuda bermasalah lagi … DAN FINAL JAKARTA LUMPUH 2-2-2007
Bagaimana dengan tahun 2008 ini ?
Mengacu pada peristiwa-peristiwa penting 10 muharram di atas yang menunjukkan adanya perulangan, maka saat ini sudah terjadi perulangan itu, yakni tahun lalu 2007 muncul kejadian di India, mengapa harus India ? Terkena siklus 11 ?) Minggu, 28 Jan 2007 Sekolah Ambruk, 11 Siswi Tewas
Jawaban di India ini telah dijelaskan di artikel Menyambut 2-2-2007 yakni :
Siklus 11 DENGAN BERITA Minggu, 28 Jan 2007 Sekolah Ambruk, 11 Siswi Tewas * Mengapa India bermakna ?
Ternyata wapres JK kita kesana (India), Selasa, 30 Jan 2007 Batal Sepanggung dengan Megawati
NEW DELHI - Wakil Presiden Jusuf Kalla memulai acara kunjungan kerja ke India kemarin. Acara pertama dalam kunjungan enam hari itu adalah menghadiri konferensi perdamaian yang digelar Partai Kongres pimpinan Sonia GhandiMengapa Wanita, India dan Indonesia dengan angka 11 diberita atas, ternyata ada berita dibawah ini berikutnya, Selasa, 30 Jan 2007 Sama, Problem Perempuan Indonesia dan India
Ani SBY dan Dubes India Diskusi Pendidikan JAKARTA - Duta Besar India Navrekha Sharma kemarin menemui Ibu Negara Ani Yudhoyono di Istana Negara.
JAWABAN SAMA DIBERITA TSB , BISA JADI SAMA-SAMA MENJADI KORBAN SESUAI MISTERI o|o *
Jadi pada tahun 2007 lalu 10 muharram itu merupakan hikmah bakal terjadinya JAKARTA LUMPUH 2-2-2007 nah bagaimana dengan tahun 2008 ini ?
Kejadian di India tahun lalu sudah berulang lewat [Air Mata Soeharto] Papua Longsor, 11 Tewas, Mengapa harus longsor, mengapa harus papua dan mengapa harus 11, semua terangkum di artikle tsb
Kemudian tahun lalu kejadian di Inggris terjadi, tahun 2007 lalu masalah Inggris sebegai berikut
Mengapa 22 dan Inggris bermakna ?
Ternyata selesah dicek ke tgl 22-juli-2005, terdapat petunjuk pada artikel Adakah ada artinya ? hal yang sama dengan berita Sabtu, 27 Jan 2007 Petaka Beruntun si Burung Besi
Jadi mengapa Ibu Ketua MPR meninggal tepat tgl 22-01-2008 ? hal itu adalah perulangan walau dalam bentuk yang lain sebagai ganti wanita pada kasus India.

