Fenomena Alam Semesta

Kumpulan Fenomena Alam Sebagai Bahasa Universal Untuk Menyelamatkan Bumi Dari Kehancuran

Fenomena Meteor Jatuh & Tsunami Aceh

Adalah sebuah fenomena unik ketika sebelum terjadi Tsunami Aceh 26-desember-2006, maka sebuah meteor jatuh & meledak keras di Jakarta, seolah hendak mengatakan dari ‘kedatangan’ meteor tepat tgl 19/desember/2006, tsb tentang bencana tersebut (baca Tanda Tanda Sebelum Tsunami Aceh )

Meteor jatuh dengan ledakan keras sebagai pertanda bencana besar juga terjadi pada tahun 2007, dimana tgl 23-Februari-2007 terjadi meteor jatuh dan ledakan keras, pada akhirnya terjadilah bencana beruntun (baca Tanda Tanda Sebelum Bencana Beruntun)

Meteor jatuh tersebut sebagai pertanda bencana besar juga terjadi pada tahun 2009, yakni tgl 11-maret-2009 di Jakarta, kemudian muncul bencana situ gintung (baca Tanda Tanda Sebelum Bencana Situ Gintung)

Dari penejelasan tsb diatas, TIDAK SEMUA ledakan meteor adalah sebuah pertanda bencana besar, harus ditemukan pendukung & situasi saat itu, karena fungsi ledakan tsb tiada lain kecuali hanya sebagai penarik perhatian manusia saja untuk memahami kejadian-kejadian sebelum & sesudah meteor tsb. Selengkapnya baca .:: Tanda Tanda Sebelum Bencana Besar Terjadi ::.


Meteor Jatuh dan Meledak adalah Biasa dan Alamiah

Meteor Jatuh & meledak sering terjadi ….

Meteor jatuh dan meledak adalah hal biasa dan alamiah, namun ada beberapa kasus meteor jatuh ini adalah ‘kiriman’ dari sang Maha Kuasa atas ‘kepedulian’ terhadap bencana yang akan menimpa manusia secara keseluruhan. Bahkan jaman dinosaurus, justru meteor inilah yang membawa berkah bagi manusia setelah jaman raksasa musnah (baca Melihat peranan Allah dalam Bencana ) hujan meteor sehingga mahluk raksasasa tsb musnah

Meteor jatuh merupakan titik ingat manusia yang berperanan sebagai penarik perhatian manusia, kemudian fenomena berikutnya diikuti dengan jatuhnya dua helikopter TNI beruturan (…. [KLIK DISINI UNTUK BACA LEBIH LANJUT: Tanda Tanda Sebelum Tsunami Aceh ])

Sekali lagi meteor adalah hal yang alamiah !, Lalu apa hubungannya dengan Tsunami Aceh yang dibahas sebelumnya !. PASTI DAn PASTI ANDA TERKEJUT bahwa sebelum Tsunami Aceh-pun ada ledakan meteor, berikut ini beritanya, baca artikel yang benar benar melukiskan tiga hari itu Fenomena 3 hari yang menentukan Dimana termuat pula masalah meteor jatuh sebelum Tsunami Aceh

Minggu, 19/12/2004 10:08 WIB Dikabarkan Ada Ledakan dari Meteor, Polisi Masih Mengecek

Arifin Asydhad – detikcom Jakarta – Ledakan keras dikabarkan terdengar di wilayah barat Jakarta dan Tangerang, Minggui (19/12/2004) pagi. Ledakan itu diduga dari jatuhnya meteor. Namun, sumber ledakan masih belum jelas. Polisi juga masih mengecek.

Isu jatuhnya meteor ini menjadi perbincangan masyarakat luas. Kabar ini awalnya berhembus dari Radio Elshinta dan Metro TV, yang menyiarkan ada warga yang melihat benda aneh yang jatuh di daerah barat Jakarta dan Tangerang. Jatuhnya benda itu kemudian menimbulkan ledakan. Kejadiannya sekitar pukul 07.30 WIB…..

Minggu, 19/12/2004 14:11 WIB Polres Tangerang: Tidak Ada Meteor Jatuh

Maryadi – detikcom Jakarta – Polres Tangerang memastikan tidak ada informasi mengenai jatuhnya sebuah meteor di kawasan Tangerang. Polisi juga sudah mengecek seluruh wilayah Tangerang dan belum ada laporan mengenai jatuhnya meteor ttersebut.

“Tidak ada informasi itu. Itu berita bohong. Kami udah cek semuanya ternyata tidak ada informasi itu,” kata Kasat Serse Polres Metro Tangerang Ajun Komisaris Polisi (AKP) Kustanto saat dihubungi detikcom di Jakarta, Minggu (19/12/2004)….

Minggu, 19/12/2004 22:15 WIB Ledakan yang Didengar Warga Jakarta Meteor Besar

Arif Shodiq Pujiharto – detikcom Jakarta – Sejumlah warga Jakarta dan sekitarnya mengaku mendengar ledakan dan kilatan benda di langit, Minggu (19/12/2004) pagi. Benda itu tergolong meteor besar atau fireball (bola api), khususnya yang menimbulkan ledakan dinamakan “bolide”.

Hal itu diungkapkan Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN Bandung Dr. Thomas Djamaluddin dalam emailnya yang diterima detikcom, Minggu (19/12/2004) malam.

Benda tersebut bukan pecahan roket atau satelit yang jatuh. Karena hari ini tidak ada pecahan roket atau satelit yang jatuh.

Dari dua jenis meteoroid penghasil fireball: asal asteroid dan asal komet, yang mempunyai sifat seperti teramati adalah jenis yang berasal dari komet yang lebih rapuh. Kecepatan tinggi dan struktur yang rapuh menyebabkan fireball meledak di atmosfer dan tidak bersisa.

Meteor yang teramati pagi hari dari arah timur mendapat kecepatan tinggi dari kecepatan meteoroid dan kecepatan relatif gerak orbit bumi sehingga kecepatan saat menembus atamosfer bisa mencapai 40.000 km/jam. Ledakan sebagai sonic boom biasanya terjadi pada ketinggian 20-50 km. Hal ini pula yang menyebabkan radar Angkatan Udara RI tidak mendeteksinya.

Sebenarnya, kejadian fireball bisa mencapai ribuan per hari. Namun sebagian besar tidak teramati karena terjadi di tengah lautan, di wilayah tidak berpenghuni, saat siang hari sehingga tidak tampak cahayanya, atau saat sebagian besar orang tidur.

Fireball bersifat sporadik, sehingga kemungkinan berulang di satu tempat kecil sekali. Ledakan meteor tidak berdampak apa pun pada penduduk di bumi.

Fireball berkecepatan rendah dari golongan asteroid yang biasanya menyisakan batuan meteorit mungkin berbahaya bila kejatuhan. Ada beberapa kasus rumah kejatuhan meteorit di luar Indonesia, tetapi sangat jarang. ( rif )

Benarlah ledakan meteor besar dan merupakan salah satu fenomena sebelum Tsunami Aceh untuk menarik perhatian manusia bahwa bencana besar akan datang. Jelas sekali lagi tertulis di artikel Fenomena ‘Petir’ Allah

Dengan gamblang di jelaskan bahwa TIDAK SEMUA LEDAKAN, METEOR itu pertanda bencana, namun jika di temukan faktor pendukung lain …. anda mau bilang apa ?

Bagaimana menentukan lokasinya ? Hal yang paling berat untuk menemukan lokasinya, namun jelas pula tertulis bahwa hal itu tertulis di indonesia Timur lewat artikel Aneh-aneh di Indonesia Timur posting Sat Feb 24, 2007 4:20 pm.

Mengapa Indonesia Timur ? tidak lain ada peristiwa Saat ini ledakan keras di NTT masih misteri : Jumat, 23/02/2007 18:43 WIB Ledakan Hebat Terdengar di Langit Flores, Tanah Terasa Bergetar

Ya … NTT meledak secara aneh (bandingkan dengan kejadian sebelum gempa bengkulu tgl 12-september-2007 lalu yang di dahului oleh ledakan pula Aneh BMG meledak , siapa yang mengatur ? ). Bandingkan lagi dengan kejadian sebelum Tsunami Aceh 2004 lalu juga ada ledakan aneh

….. Ya … ledakan aneh adalah hal yang patut di curigai, namun tidak semua ledakan aneh menunjukkan ’sesuatu’

Mengapa mereka setelah selamat tidak mencatat kejadian kejadian sebelum Tsunami Aceh sebagai satu peringatan atas tanda-tanda kebesaran Allah ?, mereka malah beralibi bencana yang lumrah dan tiada Allah mengirimkan pertandaNYa … benarkah ?

Mulai gempa nabire 26/11/04, pesawat Nabrak kuburan dengan korban jamiah NU 30/11/04, kemudian ledakan meteor di Jakarta 19/12/04 dan heli TNI-AL 22/12/04 dan heli di jatuhkan lagi 23/12/04 barulah tiga hari setelah itu bencana besar Tsunami Aceh terjadi 26/12/04!, lebih detil baca  Tanda Tanda Sebelum Tsunami Aceh

Penjelasan ilmiah atas ledakan meteor aneh di Jakarta ada dalam artikel di bawah ini :


Ledakan Meteor Aneh di Jakarta

Misteri Meteor dan Ledakan di Atas Jakarta

ADA suatu pagi yang cerah, Ahad (19/12), beberapa warga di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Serang dikejutkan dengan melintasnya benda langit yang cukup terang. Sekira 20 orang menyaksikan fenomena yang berlangsung singkat itu. Sebuah radio swasta di Jakarta sempat mewawancarai beberapa saksi mata. Tampaknya pandangan manusia ke arah horizon barat yang cerah dan kebanyakan manusia ingin menghirup kecerahan cuaca pagi pada hari libur menyebabkan banyak yang berkesempatan menyaksikan pemandangan langit pagi di sekitarnya.

Penuturan Bowo selain menyaksikan fenomena itu di Cirakas juga mendengar ledakan sebanyak dua kali mengiringi fenomena tersebut. Lantas Sujianto saat berada di kebun di Depok melihat sebuah benda putih seukuran bola tenis dengan ekor melesat dari arah timur ke barat, namun ia tidak mendengar suara ledakan.

Berita adanya ledakan di atas Kota Jakarta dan sekitarnya pada masa sekarang sangat sensitif bagi warga Jakarta sebagai Ibu Kota Negara RI. Secara tak sadar peristiwa ledakan cepat terkait dengan aksi teror. Pemburu berita dan informasi tak pelak mencari konfirmasi ke beberapa instansi pemerintah, puluhan penelefon ke kompleks Observatorium Bosscha berlangsung dalam tempo sejam setelah peristiwa itu berlalu. Keingintahuan ada apa dengan Jakarta sangat kuat. Berbagai pertanyaan diajukan, di antaranya ada apa dengan ledakan pagi hari di atas kota Jakarta? Apakah fenomena itu membahayakan bagi manusia? Kepanikan sejenak berlangsung, adakah meteor jatuh di Jakarta ?

Petugas bandar udara (bandara) Soekarno-Hatta (Kapolsus Bandara dan Direktur Operasional Teknik PT Angkasa Pura II) kebetulan tidak menyaksikan fenomena tersebut, begitu pula tidak mendengar suara ledakan. Polisi juga menerima laporan tentang adanya ledakan dan memeriksa, apakah ada ledakan di wilayah tugasnya, di jalan tol dan sebagainya, tapi tak menemukannya.

Belum atau tidak ada laporan warga yang menemukan serpihan batu meteor (meteorite) dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Bila ada batu meteorite yang relatif besar tersebut masih panas dan bila menimpa atap suaranya akan sangat keras dan mengejutkan. Apabila menimpa manusia bisa melukai hingga mematikan. Namun hingga saat ini tidak terdengar ada laporan dari peristiwa tersebut.

**

APA sebenarnya benda angkasa yang disaksikan masyarakat di sekitar Jabotabek tersebut? Beberapa informasi yang sempat didengar penulis:

  1. Objek di langit dengan ukuran sebesar bola tenis, bukan sosok sebuah pesawat terbang.
  2. Objek berwarna putih dan ada ekor (mungkin tidak terlalu panjang).
  3. Pengamatan berlangsung pada sekira pukul 7.30 WIB.
  4. Bergerak dari arah timur ke barat.
  5. Ada ledakan setelah benda itu lewat (tidak ada penjelasan berapa lama ledakan berlangsung dari penampakan benda langit tersebut, beberapa menit, beberapa detik dan seterusnya).

Fenomena langit itu disaksikan sekira 20 orang yang melaporkan (melalui sebuah siaran radio swasta di Jakarta) melihat kejadian tersebut. Dilihat dari banyaknya pelapor, kemungkinan besar fenomena langit itu termasuk spektakuler dan jarang terjadi, menarik perhatian kebanyakan orang, dalam lokasi langit yang cerah dan mudah disaksikan manusia. Fenomena itu disaksikan saat langit terang dan sudah dihangati Matahari.

Pagi yang agak cerah tampaknya sebagian orang memulai aktivitas santai hari Ahad. Fenomena yang berlalu begitu cepat tidak mudah didiskripsikan dengan rinci oleh pengamat. Juga tidak memberi kesempatan untuk memberitahu ke rekan lainnya untuk menyaksikan fenomena tersebut. Bahkan petugas Bandara Soekarno-Hatta yang diharapkan berpeluang besar bisa mengonfirmasi fenomena langit itu ternyata tidak sempat menyaksikannya.

Kemungkinan benda itu adalah sampah satelit atau sampah antariksa lainnya, atau mungkin sebuah rudal udara ke darat atau fenomena meteor? Bila objek tersebut merupakan serpihan sampah satelit, gerakannya kemungkinan lebih lambat dan lebih lama menyala, mempunyai ukuran lebih kecil, dan kemungkinan tidak menampakkan ekor. Wajar bila kemungkinan benda langit yang berkelebat cepat itu merupakan sampah satelit bisa dikesampingkan. Begitu pula fenomena kemungkinan sebuah rudal udara ke darat, juga bisa dikesampingkan, karena radar angkatan udara tidak mendeteksi adanya wahana peluncur rudal maupun rudal, dan tidak ada bagian yang rusak karena sasaran rudal.

**

FENOMENA yang berlangsung sangat cepat mempunyai ciri fenomena meteor. Umumnya berlangsung dalam tempo 1 sampai 3 detik. Meteor biasanya mempunyai ekor. Ekor meteor merupakan jejak yang ditinggalkan akibat zat yang mudah menguap tertinggal akibat panasnya, dan berakhir ketika seluruh batu meteoroid melebur dan menguap menjadi gas karena panas yang sangat tinggi.

Terlihat sebagai kepala meteor yang cukup besar, dibanding dengan ekornya. Meteor merupakan fenomena masuknya meteoroid (batu ruang angkasa berukuran mikrometer hingga beberapa meter hingga berukuran besar kurang dari 1 km di sekitar Bumi). Walaupun setiap hari sekira 100 ton material meteoroid memasuki angkasa Bumi, namun ukurannya sebesar debu sampai sebutir pasir. Peristiwa meteor oleh debu dan pasir praktis tidak menakutkan manusia.

Umumnya fenomena meteor yang ditimbulkannya hanya tampak pada malam hari yang cerah tanpa cahaya Bulan. Namun beberapa asteroid yang berdiameter 1.5 km dapat menabrak Bumi dalam kurun waktu sekali dalam seratus atau seribu tahun. Lebih dari 150 kawah berdiameter 200 km bekas tabrakan dengan asteroid diidentifikasi di planet Bumi.

Asteroid dalam tatasurya yang relatif bisa dekat dan berpotensi menabrak Bumi dan berukuran lebih besar 1 km kemungkinan akan terdeteksi dan diidentifikasi elemen orbitnya misalnya melalui teropong LINIEAR (Lincoln Near-Earth Asteroid Research), Spacewatch, LONEOS (Lowell Observatory Near-Earth Object Search), JSGA (Japanese Space Guard Association), CSS (Catalina Sky Survey), NEAT (Near Earth Asteroid Tracking) dan lainnya.

Objek-objek dengan radius 1 km tersebut mempunyai skala terang di batas ambang toleransi kecerlangan langit ideal yaitu V = 23, sukar dicapai dengan kondisi langit di atas Observatorium Bosscha yang beberapa puluh kali lebih terang akibat polusi cahaya. Setiap tahun sekira 50 objek seukuran lebih dari 1 km menghampiri Bumi. Jalur orbit Bumi mengelilingi Matahari pada jarak 7.5 juta km atau sekira 1/7 kali jarak Bumi-Mars yang paling dekat seperti yang dicapai pada oposisi Mars 29 Agustus 2003 yang lalu. Sekira 300 objek diketahui menghampiri Bumi pada jarak tersebut dan perlu diwaspadai, karena gangguan orbit bisa melempar objek itu hingga bertabrakan dengan planet Bumi.

Bagaimana dengan objek yang lebih kecil dari 1 km? Belum banyak pengetahuan manusia tentang objek tersebut dan tentu saja bila ada objek berdiameter besar walaupun kurang dari 1 km, kemudian menyelinap dan memasuki angkasa Bumi, meteor besar dengan ledakannya akan membuat kepanikan manusia.

Selain itu situs IMO (International Meteor Organization) memberi informasi tentang meteor yang periodik atau daerah langit yang sedang aktif, artinya banyak fenomena meteor, masuknya meteoroid ke Bumi. Laporan meteor sporadik dan fireball sangat sedikit, fenomena angkasa Bumi yang sangat eksklusif.

Ukuran di langit sebesar bola tenis (sekira sepertiga diameter sudut bundaran bulan purnama) memberi petunjuk, yaitu ukuran gas plasma yang terbentuk oleh meteor mempunyai ukuran diameter sekira 1 km. Meteoroid padat berukuran jauh lebih kecil bisa jadi berdiameter 10 hingga 100 kali lebih kecil. Umumnya ketika energi kinetik meteoroid berubah jadi panas melalui gesekan. Bila panas sudah mencapai titik lebur maka secara tiba-tiba seluruh meteoroid berubah menjadi gas. Tapi bila ada sebagian yang belum terbakar menjadi gas, material itu akan melanjutkan perjalanan biasanya hanya berselang beberapa detik, kemudian sisa material itu juga akan habis menjadi gas. Gas meteor tersebut selama ini tidak membahayakan penghuni planet Bumi.

**

PENAMPAKAN pada pagi hari memberi informasi, meteor tersebut merupakan meteor yang terang. Dalam klasifikasi meteor astronomi meteor itu disebut dengan fireball atau bolide. Pengamatan meteor pagi sangat sukar direkam, karena kesiapan manusia hanya mengandalkan mata dan telinga atas peristiwa yang terjadi sekejap. Meteor radar hanya mengkonfirmasi adanya meteor dan aktivitas meteor periodik, namun tak bisa memberi tahu adanya meteor sporadik.

Kemampuan mendiskripsikan dan membuat sketsa akan sangat membantu untuk menyingkap dengan lebih jelas tentang peristiwa tersebut. Seperti halnya jatuhnya meteorite Ochansk di Rusia pada tanggal 30 Agustus 1887 atau meteorite Sikhote-Alin yang jatuh di utara Wladiwostok, Siberia pada 12 Februari 1947 sempat diabadikan dalam bentuk sketsa pemandangan fireball dan horizon.

Ledakan yang dilaporkan itu memberi dugaan kuat, meteor tersebut merupakan fireball (bola api) atau bolide. Sebagian pengamat lainnya tidak mendengar ledakan tersebut, sehingga timbul kecurigaan antara ledakan dengan fenomena bolide apakah ada keterkaitannya? Adanya ledakan mengingatkan peristiwa di Tunguska di Siberia pada tanggal 30 Juni 1908. Sebuah meteor pagi hari seukuran bundaran Matahari melintas dari selatan utara dengan disertai ledakan yang sangat dahsyat. Meteor itu merebahkan pohon-pohon dalam radius 65 km.

Bila ledakan di atas Jakarta dianggap ada, maka kemungkinan ledakan berasal dari meteor. Mungkin berasal dari mekanisme gelombang tekanan udara yang ditimbulkan meteoroid yang bergerak cepat. Mungkin juga panas yang sangat tinggi bisa membuat tekanan gas yang terkungkung dalam material meteoroid mempunyai tekanan yang sangat tinggi dalam tempo yang sangat singkat, dan bila tekanan tersebut melebihi ikatan material maka akan terjadi letupan besar. ***

Dr. Moedji Raharto, taf Akademik Observatorium Bosscha. Departemen Astronomi FMIPA ITB.

About these ads

Information

This entry was posted on Januari 2, 2008 by in Fenomena, Islam.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: