Tak terduga, kini bencana dimana-mana

Mencuplik artikel “Sudah saatnya yang hilang di temukan …” , posting Dec 22, 2007 2:04 am maka pembuktian sudah di lakukan dimana tgl 23-12-2007 tentang ramalan brasil yang tidak terbukti,

Semua telah di tuliskan, semua telah di beri warning …
Doa-doa telah di panjatkan …
Semua telah berulang-ulang ….
Hanya tinggal pembuktian saja … siapakah yang dapat di percaya …

Dan kemudian setelah ramalan berhasil di patahkan, maka Kini tinggal yang tak terduga … posting Dec 24, 2007 5:27 am. dimana dalam artikel itu jelas memuat beberapa point penting

Lalu setelah tak terbukti kemudian apa ? …. sesuai artikel ”Diketahui ’selamat’, yang tidak di duga, meninggal” , tinggal yang tak terduga akan meninggal, bagaimana ?

Telah tertulis lagi yakni dalam artikel “Bacalah dengan terbalik”, ada apa yang terbalik ? Ya… saat ini yang tertawa akan menangis atau kesusahan .

Benarkah yang saat itu ‘tertawa’ akan menangis atau kesusahan ? Hampir bencana di mana -mana khususnya p. Jawa jauh dari yang kemarin 23-12-2007 ketika itu penduduk panik (bengkulu) akan ramalan, namun saat ini sudah selamat, Sedangkan p. Jawa sibuk dengan apa yang yang membuat sibuk, maka giliran p. Jawa yang berduka dan hampir dimana-mana secara tak terduga

Mengapa tak terduga ? lagi enak-enaknya membahas gempa, banjir rob dan gelombang pasang serta menjelang peringatan Tsunami Aceh 26-des, maka hal tak terduga muncul yaitu hujan terus menerus selama dua hari mulai 24, 25 dan 26 dini hari, barulah bencana muncul di mana-mana, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Sejumlah Bencana Alam Mewarnai Peringatan Tiga Tahun Tsunami
Kamis, 27 Desember 2007 01:03 WIB

Banjir merendam hingga atap rumah warga.<!–
()–>

Metrotvnews.com, Karanganyar: Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Pulau Jawa, Sumatra dan Sulawesi, Rabu (26/12) kemarin, sedikitnya telah menewaskan 78 orang. Bencana tersebut terjadi bertepatan saat bangsa Indonesia memperingati tiga tahun bencana tsunami.Di Karanganyar, tanah longsor mengakibatkan puluhan warga yang sedang membersihkan sebuah rumah dari lumpur tewas tertimbun. Hingga kini, puluhan warga masih dinyatakan hilang. Ratusan personel tentara, polisi, dan sukarelawan berusaha membawa perlengkapan evakuasi ke desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilanda banjir.Sementara di Kabupaten Wonogiri, 17 orang diduga tewas akibat tanah longsor melanda pemukiman mereka. Proses evakuasi korban yang tertimbun longsor menemui kesulitan karena hujan deras mengguyur daerah tersebut, hampir selama 12 jam. Sejumlah jalan yang terputus juga mengakibatkan proses evakuasi bertambah sulit.

Hujan deras disertai gelombang pasang dalam beberapa hari terakhir yang melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia, mengakibatkan ribuan penduduk mengungsi akibat banjir. Kemarin, ribuan rumah penduduk di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi, juga hanyut diterjang banjir.

Bencana alam yang melanda sejumlah daerah sepanjang Rabu kemarin, menambah duka bangsa Indonesia yang sedang memperingati tiga tahun bencana tsunami. Tsunami yang melanda sejumlah negara Asia termasuk Indonesia pada 26 Desember 2004 lalu, telah menewaskan sekitar 230.000 orang. Dua pertiga korban tsunami di antaranya berasal dari Aceh dan Nias.(mg/****)

Adakah warning sebelum kejadian ?Jauh -jauh hari telah tertuliskan banyaknya yang jatuh di udara, baca artikel Petir menyambar BMG

Sabtu, 17 November 2007 19:04 WIB

Perangkat pengirim gambar cuaca milik BMG Juanda, Surabaya, rusak akibat disambar petir. <!–
()–>

Metrotvnews.com, Surabaya: Petir menyambar apa saja tanpa pandang bulu. Bahkan, perangkat pengirim gambar cuaca milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) tidak luput dari sambaran. Perangkat pengirim gambar cuaca milik BMG Juanda, Surabaya, rusak akibat disambar petir. Selain ruter, perangkat yang berfungsi untuk pengiriman gambar cuaca, peralatan lain yang terhubung langsung dengan radar di atas tower juga ikut rusak.Petir yang menyambar radar tersebut merusak perangkat lain berupa fis modem yang merupakan satu bagian dengan ruter. Kejadian ini terjadi saat hujan lebat yang disertai petir di kawasan sekitar Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur. Akibat kerusakan tersebut, selama beberapa hari proses pengiriman gambar cuaca ke Stasiun BMG Juanda tidak bisa dilakukan.(DOR)

Sebulan kemudian peristiwa aneh-pun muncul di surabaya/sidoarjo tempat hikmah bencana (baca Dari bencana ke bencana)

Kepala Pusing, Mobil Masuk Sungai


Monday, 17 December 2007
SIDOARJO - SURYA
Diduga karena pengemudi kepalanya pusing dan mengantuk, sebuah Mobil Avanza hitam Nopol N 496 DP, terperosok masuk ke sungai di jalan Tol Km 34.400 Desa Kedensari, Tanggulangin, Minggu (16/12). Tidak ada korban yang serius dalam kejadian terebut. Pengemudi mobil itu, Eko Budi, 44, warga Kalirejo, Malang, hanya luka lecet dan memar di bagian kepalanya. Sementara istrinya, tidak luka, namun tetap mendapat perwatan di RS Delta Surya.
Kasie Patroli Jalan Tol Surabaya - Gempol, Sujono menjelaskan, saat memasuki pintu tol Porong, pengemudi tidak sempat mengambil tiket tol. “Mobil tersebut tidak berhenti tanpa mengambil tiket tol,” jelasnya.Tidak jauh setelah melewati pintu tol, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai pasutri itu oleng, lalu selip dan masuk ke sungai. Kepada petugas, korban mengaku kepalanya pusing hingga tidak dapat mengendalikan kemudi kendaraan. “Dia (pengemudi) mengaku kepalanya pusing dan tiba-tiba masuk sungai,” terang Sujono.
Sejak akan masuk jalan tol, Eko Budi mengaku kepalanya pusing. Oleh istrinya ia diingatkan agar berhenti dan beristirahat sejenak. Namun saran istrinyatidak diindahkan. Akhirnya mobil yang dikemudikannya masuk ke sungai.Petugas bersama warga yang mengetahui kejadian ini segera menolong. Mobil dapat diangkat dari sungai setelah petugas tol mengerahkan mobil derek.
Kanit Laka Satlantas Polres Sidoarjo Iptu Anwar Sujito menambahkan, untuk sementara kejadian tersebut disebabkan korban dalam kondisi tidak fit. “Korban kepalanya pusing dan mengantuk,” katanya. iit

Tidak tanggung-tanggung kemudian sehari setelah itu (dini hari), maka tanpa sebab jelas kapal tangker-pun terbalik

selasa, 18 Desember 2007 10:09 WIB

<!–
()–>

Metrotvnews.com, Surabaya: Kapal motor tanker Kharisma terbalik di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (18/12) dini hari tadi. Seperti dilaporkan langsung oleh reporter Metro TV di Surabaya, Gloria Anastasia, kapal milik PT Pasifik Selatan tersebyt terbalik sesaat setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Dermaga Mirah, Tanjung Perak.Akibatnya, 500 ton BBM dalam perut tanker tumpah dan sempat mencemari perairan. Pihak pengelola Pelabuhan Tanjung Perak telah memasang alat untuk mencegah BBM yang tumpah meluber ke laut bebas. Menurut informasi, kapal langsung miring setelah melepes palung, sekitar 60 meter dari Dermaga Mirah saat hendak mengisi BBM.Diduga kapal terbalik karena alat penyeimbang atau balast tidak berfungsi. Padahal, saat itu ombak cukup besar akibat hujan yang mengguyur wilayah Surabaya sepanjang malam kemarin. Hingga pagi ini kapal Kharisma masih dibiarkan terbalik. Belum ada kegiatan evakuasi. Akibatnya, proses sandar kapal di pelabuhan terganggu.

BBM seberat 500 ton tersebut sebetulnya hendak diangkut ke Teluk Kumai, Kalimantan Barat. Namun, hingga kini PT Pasifik Selatan yang berkantor di Jalan Perak Barat Nomor 157 belum bersedia memberikan informasi apa pun. Pada saat kapal terbalik, sebetulnya ada 11 pekerja di kapal. Namun, semua bisa menyelamatkan diri.(DOR)

Dua kejadian berurutan ini cukup langka terjadi dan lebih-lebih BMG di sambar petir, sehingga tertulislah bahwa kita bersiap untuk ‘menangis’ atau berduka dari artikel Bacalah dengan terbalik posting 22-12-2007 dengan jelas membantas bahwa duka kita bukan lewat ramalan brasil, namun dari artikel Kini tinggal yang tak terduga … posting 24-12-2007.

Sudah cukupkah duka kita ? dan apa kelanjutan berikutnya ?

Dengan jelas peristiwa langka dan aneh muncul yakni “menonton pun ikut berduka pula karena menjadi korban berikutnya

Lihat Banjir, 25 Orang Hanyut


Thursday, 27 December 2007
Magetan - Surya, Peristiwa tragis menimpa 25 warga Magetan, Rabu (26/12) siang. Sedang melihat derasnya arus banjir, mereka malah menjadi korban dan hingga kini belum ditemukan.
Saat kejadian, ke-25 orang itu sedang melihat derasnya air di jembatan Dam Jati di Desa Semen, Kecamatan Untoronadi. Mendadak jembatan ambrol tak kuat menahan beban. Ke-25 orang itu bersama sekitar 18 sepeda motor mereka pun langsung tenggelam dan hanyut di dalam Dam Jati.Sudaryo, Kasi Ketahanan dan Ketertiban (Tantib) pada Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Magetan, mengatakan pihaknya bersama petugas Satuan Koordinator Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) serta aparat kepolisian masih terus mencari para korban. Namun hingga Rabu malam, mereka belum ditemukan. Demikian pula dengan ke-18 sepeda motor.
“Saat melihat air sungai meluap, tiba-tiba jembatan ambrol sehingga mereka jatuh ke dalam sungai dan terseret arus air,” kata Sudaryo.Seorang saksi mata, Asnadi, 35, warga Desa Semen, Kecamatan Untoronadi, mengatakan bahwa para korban saat itu sedang menyaksikan banjir dan luapan air di Dam Jati yang melintasi Kecamatan Untoronadi dan Takeran. Namun tiba-tiba jembatan ambrol dan orang-orang di atasnya tenggelam kemudian hanyut bersama sepeda motornya.
Hal sama diungkapkan warga lainnya, Samikun, 48. Menurutnya, sekumpulan orang itu awalnya terlihat masih bercanda sembari menyaksikan derasnya air. Namun, beberapa saat kemudian tidak terdengar lagi suara mereka, setelah jembatan ambrol.

Jembatan yang runtuh tersebut terbuat dari besi dengan panjang sekitar 200 meter dan lebar empat meter. Jembatan tersebut merupakan peninggalan pemerintahan Belanda. Selain umur jembatan sudah tua, kata Suharyo, dimungkinkan juga banyak besi yang sudah lapuk sehingga saat terjadi air sungai meluap tidak bisa lagi menahan dan mengakibatkan jembatan yang menghubungkan antara Madiun dengan Magetan itu runtuh .

Rabu malam, personel Polres Madiun juga dilibatkan dalam pencarian para korban. Kepolres Madiun AKBP Andi Hartoyo mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pencarian dengan menyisir pinggiran sungai. “Penyisiran ini terus kami lakukan sampai para korban ditemukan,” katanya.
Pihaknya juga meminta warga yang ada di sekitar sungai untuk waspada, karena air semakin naik dan juga meminta pada warga untuk melaporkan kepada pihak kepolisian jika menemukan korban dalam kondisi hidup atau mati.
Ditanya tentang jumlah korban, Kapolres mengatakan hingga saat ini yang berhasil dideteksi hanya lima sepeda motor. Sedangkan Panther yang dilaporkan warga ikut hanyut, menurutnya lolos dari maut.

“Sementara ini keterangan saksi menyatakan lima motor yang jatuh. Mobil Panther kata warga sempat selamat saat kejadian,” kata Andi Hartoyo.
Terkait bencana di Magetan, menurut Kasi Ketahanan dan Ketertiban Kesbanglinmas Magetan, Sudaryo, sedikitnya terdapat empat kecamatan diterjang banjir. Di antaranya Kecamatan Untoronadi, Takeran, Lembeyan, dan Kecamatan Kartoharjo. Dari empat kecamatan itu, ratusan rumah tergenang banjir akibat hujan deras sejak Selasa (25/12) malam hingga Rabu pagi .
Menurut warga setempat, selain karena turunnya hujan deras, banjir juga disebabkan adanya kiriman air dari sungai di Ponorogo dan Madiun yang saat ini sedang meluap. st14

Siapkah para penonton saat ini menjadi korban atau bagaimana menghentikan rangkaian bencana yang masih terus terjadi ?, jelas tertulis pula di artikel Sudah saatnya yang hilang di temukan …

Hanya ada penghalang adanya bencana itu yakni doa iklash kepada Allah semata, namun siapakah yang peduli ?

Upaya yang murah, sederhana tanpa harus rumit alat, biaya bahkan bisa jadi mahluk yang terpuji, maukah ? … nanti tomat (tobat lalu kumat) seperti yang sudah sudah (baca Dari bencana ke bencana)

Berkaca dari kaum bani israil

Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun , maka mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli . Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (al-maa’idah:71)

Langka, tragis, unik, menarik agar di jadikan hikmah bencana berikutnya, apakah itu, baca kejadian di bawah ini

Rabu, 26 Desember 2007 19:05 WIB

Jembatan Damjati di Desa Semen, Kecamatan Nguntorongadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, runtuh<!–
()–>

Metrotvnews.com, Magetan: Jembatan Damjati di Desa Semen, Kecamatan Nguntorongadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, runtuh tak kuat menahan luapan air sungai. Sebanyak 20 warga hilang. Hanyut terbawa air sungai. Hingga Rabu (26/12) sore, belum ada korban yang ditemukan. Derasnya aliran sungai menyulitkan pencarian korban.Dari 20 korban hilang, dua di antaranya telah diketahui identitasnya. Salah seorang di antara adalah Alif, warga Desa Petung Rejo. Serang lagi warga Desa Purworejo. Saat jembatan ambruk, para korban sedang melihat banjir di atas jembatan. “Ada yang mencari kayu yang hanyut,” ungkap Kepala Desa Jati, Suyatmo. Jembatan putus sepanjang sepanjang 50 meter. Akibat ini, jalur Magetan-Madiun terputus.

Banjir bandang juga melanda Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Empat rumah hancur terbawa arus banjir. Tak ada korban dalam musibah ini. Saat ini, warga yang rumahnya rusak terpaksa mengungsi ke rumah saudara dan tetangga. Menjelang malam, banjir belum juga surut. Hujan kembali turun meski gerimis. Warga memperkirakan air akan semakin tinggi pada tengah malam.(BEY)

Berikut kliping berita dari media Jawa Pos

Kamis, 27 Des 2007,
Longsor Maut Kubur Warga Lereng Lawu
Warga dan aparat mengeluarkan jenazah bayi perempuan dari timbunan di Desa Mogol, Tawangmangu, lereng barat Gunung Lawu. Tragedi ini tepat tiga tahun tsunami Aceh.

Di Karanganyar 61 Tewas dan Hilang, di Wonogiri 17 Orang
SOLO - Musibah beruntun menimpa negeri ini. Banjir, air laut pasang, dan tanah longsor kemarin terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Korban berjatuhan di mana-mana. Insiden di eks Karesidenan Surakarta yang paling parah. Paling tidak 75 orang hilang terkubur tanah longsor atau terbawa banjir di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri.

Di Karanganyar, kabupaten yang terletak di sisi barat lereng Gunung Lawu, kondisinya paling menyedihkan. Wilayah tersebut diguyur hujan lebat sejak pukul 07.00. Hujan dan angin kencang tiada hentinya selama lima jam.

Ada enam titik longsor di sini. Longsor di Dusun Ledoksari, Desa Mogol, Kecamatan Tawangmangu, paling banyak memakan korban. Sekitar 36 warga terkubur reruntuhan Bukit Kempong yang berada di belakang kampung. Desa itu hanya tiga kilometer di selatan tempat wisata Tawangmangu.

Lalu longsor di Desa Gempolan, Kecamatan Kerjo, mengakibatkan 4 warga hilang, di Kecamatan Jatiyoso 5 orang hilang, dan di Kecamatan Ngergoyoso 3 orang tewas. Di Kecamatan Jumapolo 8 orang hilang, di Kecamaten Matesih 4 tewas, dan di Kecamatan Jenawi seorang tewas. Semua daerah itu berada di Karanganyar yang terletak di lereng Gunung Lawu. Musibah di berbagai tempat itu rata-rata terjadi pukul 04.00 hingga 04.30.

Diperkirakan masih ada lagi korban hilang atau tewas yang belum terdata. Itu karena sulitnya komunikasi dan tidak lengkapnya data penduduk. Situasi alam yang tak bersahabat membuat tim evakuasi dan tim pendata tak bisa bergerak cepat.

Di Dukuh Mogol, tempat musibah paling banyak menelan korban, terjadi dua kali longsor. Pertama, pukul 02.00. Reruntuhan awal dari Bukit Kempong itu menimpa lima rumah. Tak ada korban tewas. Warga yang mengetahui musibah itu berdatangan memberi bantuan, termasuk membersihkan rumah.

Usai membantu, mereka beristirahat di rumah Mbah Warso. Nah, sekitar pukul 04.00 muncul longsor berikutnya. Reruntuhan itulah yang menimpa para warga yang bergotong royong tadi. Mereka tak bisa menyelamatkan diri karena begitu cepatnya peristiwa itu. Mereka yang melepas lelah sembari ngobrol itu tak mampu berbuat apa-apa. Dalam hitungan menit mereka terkubur hidup-hidup. Total 36 orang hilang, termasuk 16 orang yang beristirahat di rumah Mbah Warso.

Untungnya, sebagian warga yang bergotong royong itu langsung pulang sebelum muncul longsor kedua. Mereka balik ke rumah masing-masing gara-gara listrik padam.

Sulitnya medan membuat proses evakuasi berjalan sangat lamban. Hingga pukul 17.00, baru lima jenazah di Mogol yang bisa diangkat dari reruntuhan longsor itu.

Selain melongsorkan lereng bukit Kempong, hujan deras meruntuhkan lereng bukit di sebelah selatan jalan raya Karanganyar-Tawanmangu, tepatnya di Desa Plumbon, Kecamatan Karangpandan. Tanah merah ribuan meter kubik menimbun badan jalan tersebut.

Lalu lintas macet total. Hal itulah yang menyebabkan proses evakuasi korban di Desa Mogol terhambat. Sebab, alat berat tidak dapat masuk ke lokasi.

Hingga kemarin petang, pencarian korban hanya dilakukan dengan peralatan ala kadarnya. Puluhan anggota TNI dan Polri serta masyarakat setempat bahu-membahu mengevakuasi korban. “Evakuasi dilakukan dengan cara tradisional. Alat berat belum bisa masuk. Saya sudah kerahkan anggota polisi. Rekan-rekan dari TNI juga sudah turun membantu,” kata Kapolwil Surakarta Kombepsol Yotje Mende di lokasi.

Selain di Karanganyar, murka alam memakan sedikitnya 17 orang tewas akibat longsor di Wonogiri. Puluhan rumah hanyut terbawa air, ratusan lainnya rusak berat dan ringan akibat terendam banjir.

Puluhan jembatan putus, sedangkan ratusan hektare lahan pertanian terendam. Korban jiwa jatuh di dua kecamatan, Tirtomoyo dan Manyaran. Di Tirtomoyo, sampai kemarin sore 16 orang tewas akibat tanah longsor. Musibah itu terjadi di tiga lokasi, yaitu Dusun Semangin, Desa Sendang Mulyo serta di Dusun Pagah dan Dusun Sanggrahan, Desa Hargantoro.

Di Semangin, longsoran bukit menyebabkan sedikitnya 24 rumah di RT 2 RW 4 rusak. Tujuh rumah di antaranya tertimbun total. Tujuh warga setempat sampai kemarin sore belum ditemukan. Mereka diyakini tertimbun longsoran.

Di Dusun Pagah dan Sanggrahan, tanah longsor menimbun sedikitnya 9 rumah dan membawa 9 korban jiwa. Dari jumlah korban itu, baru jasad Ernawati dan Kariyem yang ditemukan. “Kejadiannya sekitar pukul 03.00 Mas,” kata seorang warga.

Lokasi bencana di Pagah dan Sanggrahan lebih sulit dijangkau. Pasalnya, material longsoran menimbun total jalan masuk ke dua dusun itu. Alhasil, jalan itu berubah menjadi timbunan lumpur dengan air yang mengalir deras. Lokasi bencana hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Selain di Tirtomoyo, tanah longsor yang membawa korban jiwa terjadi di Dusun Kopen, Desa Bero, Kecamatan Manyaran. Kepala Desa Bero Joko Pramono mengatakan, tanah longsor di Kopen menimbun tiga rumah, yakni milik Sido, Karsowiyono, dan Martowiyono.

Saat bencana terjadi, Karsowiyono dan Martowiyono bersama keluarga bisa menyelamatkan diri. Tapi, Sido ketiban sial. Pria yang semua keluarganya berada di Jakarta itu tertimbun tanah bersama rumah dan harta bendanya. Sampai kemarin petang jasad Sido belum ditemukan. “Tanah yang longsor sekitar 5 hektare,” kata Joko. (aw/ito/jpnn/tof)

Kamis, 27 Des 2007,
Lihat Sapi Hanyut, 25 Orang Hilang

Banjir yang melanda kawasan eks-Karesidenan Madiun, Jawa Timur, kemarin membawa korban. Sekitar 25 orang dinyatakan hilang terbawa arus Kali Madiun di Desa Jati, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Itu terjadi setelah jembatan penghubung Desa Jati dan Semen (Kecamatan Takeran, Magetan) putus karena diterjang air bah.

Dua korban yang sudah teridentifikasi ialah Basuki, 16, warga Desa Purworejo, Kecamatan Kebonsari, dan Alif, 16, warga Dusun Dodol, Desa Petungrejo, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. “Korban yang sudah pasti hilang terbawa arus baru dua. Tapi, menurut saksi mata, jumlahnya lebih dari 25 orang,” terang Kapolres Magetan AKBP Bambang Sunarwibowo saat dikonfirmasi melalui AKP Sunarta, Kapolsek Takeran, di lokasi kejadian.

Peristiwa maut tersebut terjadi sekitar pukul 15.00. Arus air Kali Madiun yang meluap membuat penduduk sekitar penasaran. Di jembatan Jati-Semen tersebut, warga berjajar menyaksikan luapan air sungai.

Di tempat tersebut, ada rumpun bambu yang nyangkut di pilar jembatan bagian tengah. Tiba-tiba sekelompok warga mengetahui ada sapi yang hanyut. Tak urung, penonton berduyun-duyun. Tanpa diduga, tiba-tiba jembatan bergerak, lalu ambrol dan putus setengah.

Akibatnya, warga yang berada di atas jembatan jatuh dan hanyut terbawa arus sungai. “Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Saat itu banyak warga yang duduk di atas jembatan dan terjatuh. Kira-kira sekitar 25 orang, bahkan lebih,” terang Slamet, warga Desa Pojok yang saat itu berada di lokasi.

Diduga, putusnya jembatan yang terbuat dari besi itu disebabkan ambrolnya fondasi jembatan. Selain itu, juga disebabkan derasnya arus sungai serta hantaman pohon bambu yang menyangkut badan jembatan. “Di atas jembatan juga banyak sepeda motor. Jadi, ya ikut tenggelam,” ungkap Slamet.

Hal tersebut dibenarkan Atik Komariah, 20, warga Desa Pucang Anom, Kecamatan Kebonsari. Saat itu, Komariah berboncengan dengan Tika sedang melintasi jembatan. Tiba-tiba, dia merasakan getaran dari badan jembatan. Keduanya langsung turun dan lari menjauhi meski sepeda motornya tertinggal. “Alhamdulillah, saya selamat meski sepeda motor saya hanyut,” kata Atik.

Hingga petang kemarin, belum ada regu penyelamat yang turun tangan mencari korban. Selain jembatan Jati-Semen, satu jembatan utama yang menghubungkan Kebonsari dan Nguntoronadi kemarin juga ditutup. Pasalnya, poros jembatan itu terlihat patah. “Daripada nanti menimbulkan korban, lebih baik ditutup sementara dulu,” ujar Sofian, warga setempat.

Informasi lain menyebutkan, ada lima sepeda motor yang tenggelam. Selain itu, satu unit mobil Izusu Phanter juga hanyut.

Kapolres Madiun AKBP Andhi Hartoyo saat ditemui di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan jumlah korban yang hanyut akibat jembatan Jati (Madiun)-Semen (Magetan) terputus. “Melihat rekaman kamera video dari HP anak buah sesaat sebelum kejadian, bisa lebih dari dua puluh orang yang hanyut.” terang Andhi.

Kepala Desa Rejosari (Kebonsari-Madiun/desa terdekat dari lokasi jembatan putus) Zainal Arifin mengatakan, sebagian besar korban bukan warga sekitar. “Kalau tenggelamnya di sini (Jati), mungkin lokasi penemuannya bisa di Bojonegoro. Tapi, bisa juga di wilayah Madiun karena mayatnya nyangkut,” ungkapnya.

Pada bagian lain, hujan yang mengguyur Malang Raya sejak Selasa (25/12) sekitar pukul 19.00 hingga Rabu (26/12) pukul 15.00 memicu bencana di beberapa kawasan. Di Kota Malang, banjir melanda wilayah tepi Sungai Amprong yang masuk Kelurahan Lesanpuro, Madyopura, dan Kedungkandang.

Di Kabupaten Malang, banjir dan longsor menimpa 20 kecamatan. Sedangkan di Kota Batu, longsor terjadi di 11 titik jalur Batu-Malang-Pujon-Kediri.

Dua korban meninggal dunia akibat terseret arus Sungai Bendo. Korban meninggal dunia adalah Ngatiin, 37, warga Desa Bambang, Kecamatan Wajak; dan Salim, 35, warga Desa Kasri, Kecamatan Bululawang.

Ngatiin hanyut saat buang air besar di Sungai Bendo. Jenazah ditemukan dua km dari lokasi kejadian. Sedangkan Salim terseret arus Sungai Bendo bersama truk yang mengangkut pasir. Jenazahnya ditemukan di Desa Blayu, Wajak.

Kondisi banjir terparah terjadi di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Ada tiga dusun di Desa Sitiarjo, yakni Dusun Palung, Dusun Pulungrejo, dan Dusun Rawateratai, yang terendam air. Menurut Kasubag Sanditel Pemkab Malang Bagiyo Setyono, sekitar 3.000 jiwa dievakuasi karena rumahnya terendam air.

Hingga petang kemarin, ketiga dusun tersebut terisolasi selama 12 jam. Yakni, mulai Rabu pukul 03.00 hingga pukul 15.00. Warga di tiga dusun memilih bertahan di rumahnya yang terendam banjir.

Banjir tersebut datang dari luapan Sungai Palung yang melewati Desa Sitiarjo. Sungai tersebut merupakan muara dari beberapa sungai di Tegalrejo, Sekarbanyu, Klepu, Ringinkembar, dan Harjokuncaran.

“Saat banjir pukul 03.00, saya terbangun dari tidur. Lampu mati. Saya panik dan takut. Kondisi rumah saya sudah terendam air setinggi lutut. Saya membangunkan anggota keluarga dan naik ke langit-langit rumah,” tutur Endarwati, 45, warga Dusun Palung, saat dievakuasi ke rumah warga yang aman dari banjir.

Meski akses terhambat, Satlak PB menyiapkan perahu untuk mengevakuasi warga yang terisolasi banjir. Perahu yang akan digunakan untuk evakuasi diturunkan dari kendaraan dan digotong petugas secara manual menerobos longsoran tanah.

“Yang terpenting, warga harus dievakuasi terlebih dahulu dan ditempatkan di daerah yang lebih aman dari banjir. Yang lain bisa nyusul,” kata Wakil Ketua Satlak PB Kabupaten Malang Letkol Arm. Suko Purwantoro yang juga Dandim 0818, yang ditemui saat menerobos longsoran tanah di lokasi kemarin petang.

Banjir besar kemarin juga melanda Kabupaten Trenggalek, Tulungagung, dan Kabupaten Blitar. Wilayah perkotaan Trenggalek bahkan nyaris tenggelam dan aktivitas warga lumpuh total. Ribuan rumah penduduk dan fasilitas umum terendam air setinggi satu meter.

Banjir di Trenggalek terjadi di lima kecamatan. Arus lalu lintas menuju Kota Trenggalek putus. Pertokoan, gedung sekolah, dan RSUD dr Soedomo tergenang air. Pertokoan memilih tutup. Bahkan, ada dua rumah warga yang ambruk karena tergerus arus banjir tersebut.

Menurut data tim Satlak Penanggulangan Bencana, tercatat ada belasan desa di lima kecamatan yang terkena banjir. Terparah adalah Kecamatan Trenggalek dan Pogalan. Di Kecamatan Trenggalek, terdapat lima desa/kelurahan yang hampir seluruh wilayahnya terendam air. Yakni, Kelurahan Kelutan, Tamanan, Ngantru, Sumbergedong, dan Desa Sambirejo. Sedangkan di Kecamatan Pogalan, ada enam desa yang terendam air, yakni Desa Ngetal, Bendorejo, Gembleb, Kedunglurah, Ngadirenggo, dan Pogalan.

Banjir bandang yang terjadi mulai sekitar pukul 03.00 tersebut berasal dari luapan Sungai Ngasinan. Sungai itu tak mampu menampung air hujan dari beberapa sungai yang ada di wilayah Kabupaten Trenggalek. Di antaranya, kiriman air dari wilayah Nglinggis, Pucanganak, serta Duren, yang semuanya berasal dari Kecamatan Tugu. Itu masih ditambah pasokan air dari wilayah Kecamatan Bendungan maupun Kecamatan Kampak.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, seorang warga tewas karena shock melihat rumahnya tergenang air. Satonah, 50, warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu, meninggal dunia kemarin pagi, begitu rumahnya dimasuki air setinggi 50 sentimeter. Selain itu, dua wanita renta asal Dusun Krajan, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, harus dilarikan ke RSUD dr Soedomo, Trenggalek, karena terjatuh ketika hendak menyelamatkan diri.

Soal kerugian material akibat banjir bandang kali ini, jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Hingga berita ini diperoleh, aliran air yang menggenangi beberapa wilayah tersebut belum juga surut. Pasalnya, debit air di Sungai Ngasinan belum menyusut.

Bersamaan dengan datangnya banjir, di tiga kecamatan lain terjadi tanah longsor di beberapa lokasi, seperti di Desa Srabah, Kecamatan Bendungan, dan di Kecamatan Pule. Akibat tanah longsor itu, arus lalu lintas sempat terganggu. Bencana alam tahunan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Musibah banjir bandang seperti itu merupakan kali kedua yang menimpa Kabupaten Trenggalek. Sebelumnya, banjir terjadi pada 19 April 2006. Jadi, kejadian banjir kemarin membuat wilayah tersebut menjadi langganan terkena banjir di musim penghujan. Datangnya banjir disebabkan hujan yang mengguyur wilayah Trenggalek dan daerah sekitarnya sehari kemarin. Wilayah perkotaan yang berada di daerah terendah dan mirip seperti mangkuk itu menjadi tumpuan luapan air dari Sungai Ngasinan yang membelah kota tersebut. (tim radar/end/zen/el)

Komentar telah ditutup